← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twenty Two

Aku Apa-Apa

POV: Citra

Ibu menemukanku di tepi kolam lele jam lima pagi, hari ketiga aku tidak menyentuh makanan.

Aku tidak sedang melakukan apa-apa. Aku hanya duduk di bangku kayu dengan lutut ditekuk, memakai jaket Bapak yang kebesaran, menatap air kolam yang masih gelap. Juragan muncul sesekali ke permukaan, mengira aku membawa pelet. Aku tidak membawa apa-apa.

Ibu berdiri di belakangku lama. Aku tahu dia di sana dari bunyi sandal jepitnya di tanah basah.

Lalu dia bicara. Ibu, yang tidak pernah bertanya.

“Ibu udah daftarin kamu ke Bu Hesti. Kamis, jam sepuluh.”

Aku menoleh. “Bu Hesti siapa?”

“Psikolog.” Ibu membetulkan kerudung instannya. “Anaknya Bu Darmi.”

Aku menatap Ibu dengan ngeri.

Bu Darmi. Bu Darmi yang tahu segala hal tentang semua orang di desa. Bu Darmi yang di los sayur bertanya kapan nikah, Nduk dan masnya mana. Bu Darmi yang, menurut legenda desa, pernah tahu seseorang hamil sebelum orang itu sendiri tahu.

“Bu,” kataku. “Anaknya Bu Darmi?”

“Hesti nggak kayak ibunya,” kata Ibu dengan tegas. “Dia disumpah. Ibu udah tanya.”

“Ibu tanya apa?”

“Ibu tanya, Hes, kalau Citra cerita, ibumu bakal tahu nggak? Dia bilang nggak. Dia bilang dia bahkan nggak cerita ke ibunya dia makan siang apa.” Ibu berbalik ke rumah, lalu berhenti dan menoleh. “Sarapan dulu. Ibu goreng tempe.”

Aku makan dua potong tempe pagi itu. Bukan karena lapar. Karena Ibu sudah bertanya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun, dan aku tidak tahu cara lain untuk bilang terima kasih.


Ruang praktik Bu Hesti ada di lantai dua sebuah ruko di dekat Lapangan Pancasila, di atas toko kacamata. Ruangannya kecil, dicat hijau pucat, dengan dua kursi berlengan yang saling berhadapan agak menyerong, sebuah meja rendah, dan sekotak tisu yang diletakkan dengan posisi yang sangat strategis, persis di tengah antara dua kursi. Tidak lebih dekat ke salah satunya.

Bu Hesti kira-kira empat puluh tahun. Rambut pendek, kardigan cokelat, kacamata bulat. Wajahnya sama sekali tidak mirip Bu Darmi, dan aku lega luar biasa karenanya.

Dia menjelaskan banyak hal di awal. Kerahasiaan. Batasnya. Apa yang akan dia catat, dan apa yang tidak. Bahwa aku boleh berhenti kapan saja, boleh tidak menjawab, boleh diam.

“Satu lagi,” katanya. “Ibu saya nggak akan tahu apa-apa. Saya serius. Saya bahkan nggak bilang ke Ibu saya kalau saya potong rambut. Dia tahu sendiri waktu lihat.”

Aku tertawa, sedikit. Dia tersenyum, sedikit. Lalu dia bersandar dan menunggu.

Dan aku melakukan apa yang selalu kulakukan. Apa yang sudah kulakukan tujuh tahun di ruang rapat, di depan direksi, di depan Pak Bonar, di depan Rangga.

“Saya baik-baik aja, Bu, sebenarnya,” kataku, dengan senyum yang sudah sangat terlatih. “Ibu saya cuma khawatir. Saya baru resign, baru pindah dari Jakarta. Wajar kalau masih adaptasi. Saya rasa saya cuma butuh istirahat dan—”

“Citra.”

Aku berhenti.

Bu Hesti tidak menulis apa-apa di bukunya. Dia hanya menatapku, dengan mata yang tenang di balik kacamata bulat.

“Kamu udah bilang baik-baik aja tiga kali dalam satu menit,” katanya. “Kamu juga bilang wajar dua kali, dan cuma dua kali.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Coba,” kata Bu Hesti, pelan, “sekali ini aja, jangan bilang nggak apa-apa.”

Ruangan itu sunyi. Dari bawah, dari toko kacamata, terdengar bunyi lonceng pintu. Seseorang masuk, seseorang keluar.

Aku menatap kotak tisu di tengah meja.

Aku sudah mengucapkan kalimat itu ribuan kali. Di tangga darurat. Di mobil yang wangi martabak. Di sofa, di depan bapak-bapak yang tercebur kolam ikan. Kalimat yang paling gampang di dunia. Tiga kata. Lidahku sudah bergerak untuk mengucapkannya sekali lagi.

Lalu aku mendengar diriku berkata, dengan suara yang pecah:

“Aku... apa-apa, Bu.”

Satu kata hilang. Satu kata kecil, nggak, dan seluruh kalimat itu berubah arti.

Aku menutup wajah dengan dua tangan.

Bu Hesti tidak bilang jangan nangis. Dia tidak menyodorkan tisu. Dia hanya menunggu. Kotak tisu itu tetap di tempatnya, di tengah, tidak lebih dekat ke siapa pun. Aku boleh mengambilnya kalau aku mau. Tidak ada yang akan mengambilkannya untukku.

Setelah lama sekali, aku mengambilnya sendiri.

“Kalimat itu,” kata Bu Hesti setelah aku selesai mengelap wajah, “biasanya kamu bilang ke siapa?”

“Ke semua orang.”

“Yang paling sering?”

Aku memilin tisu di tangan sampai jadi tali kecil. “Pacar saya. Mantan.”

“Dia percaya?”

“Selalu.” Suaraku hampir tidak keluar. “Delapan tahun, Bu. Tiap kali saya bilang nggak apa-apa, dia percaya. Dia nggak pernah ngecek. Dia nggak pernah nanya dua kali.”

Bu Hesti diam, menunggu.

“Itu yang paling susah,” kataku. “Bukan karena dia bodoh. Dia orang paling pinter yang saya kenal. Dia percaya karena dia milih buat percaya. Dan saya pakai itu buat sembunyi.”


Aku tidak menceritakan semuanya hari itu. Hanya kalimat-kalimat pendek, satu per satu, dengan jeda panjang di antaranya.

“Saya selingkuh.”

Bu Hesti tidak mengubah wajahnya.

“Sama orang kantor. Dia udah tunangan, saya nggak tahu. Cuma sekali. Sekali ciuman.” Aku menarik napas. “Pacar saya delapan tahun. Dia mau ngelamar sehari sesudahnya. Saya nggak tahu.”

“Dia tahu dari mana?”

“Ada rekamannya. Dashcam. Tunangan orang itu yang kirim.” Aku menatap tisu yang sudah lembek di tanganku. “Terus saya buang rekamannya. Ke selokan. Di depan dia. Di depan matanya.”

Bu Hesti diam sebentar. “Kenapa kamu buang?”

Tidak ada yang pernah menanyakan itu. Rangga tidak bertanya. Bapak tidak bertanya. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menanyakannya pada diriku.

“Karena...” Aku berhenti. “Karena kalau rekamannya nggak ada, ceritanya nggak ada. Saya pikir begitu. Saya bisa cerita versi saya sendiri. Dengan cara saya sendiri.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang saya pantas dapet semua ini.” Suaraku mengeras sedikit, seperti orang yang membela sesuatu. “Saya pantas sendirian. Saya pantas nggak dimaafin. Saya pantas tiap malam kebangun jam—”

Aku berhenti sebelum menyebut angkanya.

Bu Hesti mencondongkan badan sedikit ke depan. Untuk pertama kalinya selama sesi itu, dia mengambil pulpen, tapi tidak menulis apa-apa. Hanya memegangnya.

“Citra,” katanya. “Menghukum diri itu cara lain buat menghindar.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu sibuk menghukum diri sendiri,” lanjutnya, “kamu merasa sudah melakukan sesuatu. Kamu merasa sudah membayar. Padahal kamu cuma sedang duduk di kamar, sendirian, di tempat yang aman, dan nggak ngelakuin hal yang jauh lebih susah.”

“Apa?”

“Bertanggung jawab.” Dia meletakkan pulpennya lagi. “Itu beda. Menghukum diri itu soal kamu. Bertanggung jawab itu soal orang-orang yang kamu sakiti.”

Aku pulang dari ruko itu naik angkot kuning, dengan kepala bersandar ke kaca jendela, dan kalimat itu berputar terus di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa dimatikan.

Soal kamu. Soal orang-orang yang kamu sakiti.

Tiga bulan terakhir, setiap air mata yang kukeluarkan, untuk siapa sebenarnya?


Bagas pulang di akhir Maret, libur seminggu sebelum ujian tengah semester. Dia membawa laptop, setumpuk fotokopian jurnal, dan pertanyaan yang tidak pernah habis.

“Mbak ke psikolog?” Dia menatapku di meja makan dengan mulut penuh nasi. “Anaknya Bu Darmi?”

“Kok kamu tahu?”

“Satu desa tahu, Mbak. Bu Darmi bangga banget anaknya dapet pasien dari Jakarta.” Dia menelan. “Tapi dia nggak tahu Mbak cerita apa. Dia cuma tahu Mbak dateng. Dia kesel banget.”

Bapak, dari ujung meja, mendengus ke dalam tehnya.

Malam itu, Bagas duduk di teras dengan laptop di pangkuan dan menunjukkan sesuatu di HP-nya padaku. Pesan WhatsApp dari Rangga, masuk jam sebelas malam sebelumnya. Sebuah foto kertas bergaris dengan gambar penampang kolom yang digambar tangan, panah-panah kecil, angka-angka, dan tulisan tegak yang kukenal: Gas, cek lagi tulangan geser. Jaraknya kelebaran. Nanti kolomnya nangis.

“Mbak.” Bagas menatapku, untuk pertama kalinya sejak dia pulang, dengan wajah yang serius. “Aku harus berhenti nggak? Nanya-nanya ke Mas Rangga?”

Dulu aku akan bilang ya. Dulu aku akan menyuruhnya berhenti, supaya tidak ada lagi jembatan kecil antara hidupku yang sekarang dan hidup Rangga. Supaya aku bisa mengendalikan siapa yang tahu apa.

“Lanjutin aja, Gas,” kataku. “Dia dosen terbaikmu.”

Bagas menatapku lama.

“Mbak kok jadi bijak?” tanyanya curiga. “Mbak ikut pengajian?”

“Psikolog, Gas.”

“Oh.” Dia mengangguk-angguk. “Anaknya Bu Darmi hebat juga, ya.”


Kopi Lereng adalah kedai kecil di jalan menuju Kopeng, di lereng Merbabu, dua puluh menit naik motor dari rumah. Aku lewat di depannya setiap kali mengantar Ibu ke rumah Bude di desa sebelah. Di kaca depannya, sejak minggu kedua aku pulang, tertempel kertas HVS dengan tulisan spidol yang miring-miring:

DICARI: orang yang bisa bikin orang Jakarta mau beli kopi kita. Gaji kecil. Kopi gratis. Tanya Bu Lastri.

Hari Senin di awal April, aku masuk.

Bu Lastri lima puluh tahunan, bertubuh kecil, berkerudung cokelat, dengan suara yang tiga kali lebih besar dari badannya. Dia sedang menawar harga karung goni dengan seorang pedagang di depan meja kasir, dan dia menang dengan telak dalam dua menit. Lalu dia menoleh padaku.

“Mau apa?”

“Saya mau tanya soal lowongan, Bu.”

Dia memandangiku dari atas sampai bawah. Kemeja, celana bahan, sepatu yang terlalu bagus untuk jalan berbatu di lereng gunung.

“Dari Jakarta?”

“Iya, Bu.”

“Kerja apa di sana?”

“Marketing. Brand. Camilan.”

“Hmm.” Dia menuang secangkir kopi dari teko tanah liat dan menyodorkannya padaku tanpa bertanya. “Gaji separuh dari Jakarta. Paling bagus separuh. Kerjaan dobel, soalnya saya nggak punya siapa-siapa lagi selain anak saya yang kerjanya cuma sangrai. Kopinya enak.” Dia melipat tangan. “Mau?”

Aku menyesap kopinya. Pahit, sedikit asam, dengan rasa yang tertinggal lama di lidah. Seperti tanah sehabis hujan di kebun Bapak.

“Mau, Bu.”

Dari pintu belakang, seorang laki-laki muda berkaus hitam melongok keluar dengan wajah belepotan jelaga dan sebuah wajan sangrai di tangan. Dia melambai padaku dengan wajan itu, ramah, seperti melambai pada orang yang sudah lama dia kenal.

“Itu Seno,” kata Bu Lastri. “Anak saya. Kerjanya sangrai. Jangan diajak ngomong kalau lagi sangrai, nanti kopinya gosong.”


Di akhir sesi ketiga, Bu Hesti memberiku pekerjaan rumah.

“Tulis surat,” katanya. “Buat dia. Tulis semuanya. Yang mau kamu bilang, yang nggak sempat kamu bilang, yang nggak berani kamu bilang.”

“Terus dikirim?”

“Jangan dikirim.” Dia menatapku dari balik kacamata bulat. “Surat ini buat kamu. Bukan buat dia. Kalau suatu hari kamu mau ngomong sama dia, itu urusan lain. Itu pakai kata-kata yang lain.”

Malam itu, di meja kecil di kamarku, di bawah tamborin penyok yang tergantung di paku bekas kalender, aku membuka buku tulis baru. Aku mengambil pulpen. Aku menulis satu kata, lalu satu tanda baca.

Ngga,

Lalu aku berhenti.

Aku duduk di sana dengan pulpen di atas kertas selama satu jam. Kartu kecil di bingkai cermin, Makan selagi, memantul samar di kaca jendela. Di luar, jangkrik. Di dapur, Ibu mencuci piring terakhir.

Satu jam, dan aku tidak bisa menulis apa pun setelah koma itu.

Jam di HP-ku berganti. 23.06. 23.07.

Aku tidak menoleh ke HP. Aku menatap koma itu, kecil dan bengkok di ujung nama yang sudah delapan tahun kutulis tanpa berpikir, dan untuk pertama kalinya, jam itu lewat tanpa membangunkan apa pun di dalam diriku.

Karena aku memang belum tidur.