← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twenty Six

Boleh?

POV: Rangga

Pesannya masuk Kamis pagi, dua belas Juni, jam sepuluh lewat tujuh.

Mas di proyek? Aku antar makan siang. Nggak usah nolak.

Aku membaca kata aku di pesan itu tiga kali. Sejak bulan Maret, sejak lantai dapur dan kue yang tidak dipotong, kata itu mulai muncul di pesan-pesannya. Sesekali. Tanpa pengumuman. Seperti tamu yang masuk lewat pintu samping dan langsung duduk seolah sudah lama tinggal di sana.

Aku membalas.

Proyek Senopati. Gerbang samping, bukan depan. Jam 12.00. Helm tidak perlu dibawa, saya siapkan. Sepatu tertutup wajib.

Tiga menit kemudian:

Siap, Pak Pengawas.

Di sampingku, Ojan membaca pesan itu dari atas bahuku dan mendengus begitu keras sampai kacamata pengamannya berembun.

“Lo bales pesan cewek kayak SOP K3, Ngga.”

“Itu informasi penting. Proyek bukan tempat main.”

“Sepatu tertutup wajib.” Ojan menggeleng pelan, seperti dokter yang menatap hasil rontgen yang buruk. “Gue nggak ngerti kenapa cewek-cewek suka sama lo. Gue nulis puisi di aplikasi kencan, nggak ada yang bales. Lo nulis gerbang samping, bukan depan, dibales siap, Pak Pengawas.”

“Lo nulis puisi?”

“Haiku,” katanya muram. “Tentang seblak.”


Gedung parkir di Senopati sudah hampir selesai. Delapan bulan sejak aku pertama kali menempelkan alat ukur ke kolom C-7, dua lantai baru sudah berdiri di atas atap lamanya. Lantai tujuh sudah diaspal dan diberi garis parkir. Lantai delapan, yang paling atas, baru dicor bulan lalu. Pelatnya masih abu-abu pucat, pagar pengaman sementaranya masih dari pipa besi bercat oranye.

Raina datang jam dua belas kurang dua menit, membawa tas kain besar dan memakai sepatu kets putih yang bersih sekali, terlalu bersih untuk proyek.

Pak Rohim membukakan gerbang samping dan menatapnya, lalu menatapku, lalu tersenyum dengan cara yang tidak pernah kulihat selama delapan bulan dia menjaga gerbang ini.

“Ini Mbak yang atapnya bocor itu, Mas? Yang malam badai?”

“Iya, Pak,” kata Raina. “Makasih terpalnya, Pak.”

“Sama-sama, Mbak.” Pak Rohim mengangguk ramah. Lalu, dengan wajah yang sama ramahnya: “Terpalnya dibalikin, ya, Mbak. Itu inventaris.”

Aku menyerahkan helm putih cadanganku. Dia memakainya terbalik. Aku membetulkannya, lalu mengencangkan talinya di bawah dagu. Jariku menyentuh rahangnya sebentar waktu memasang kaitan. Kulitnya hangat. Aku memastikan talinya pas, tidak terlalu ketat, dua jari di bawah dagu, sesuai standar keselamatan.

Aku butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk memastikannya.

“Cieeeee!”

Dari lantai dua, empat pekerja yang sedang memasang bekisting tangga menatap ke bawah dengan wajah berbinar. Raina menunduk, dan pipinya memerah di bawah pinggiran helm.

Pak Darto, mandor proyek, muncul dari balik kolom dengan wajah galak dan tangan di pinggang. Aku menunggu dia memarahi mereka.

“Cie-nya yang kompak!” teriaknya ke lantai dua. “Satu, dua, tiga!”

“CIEEEEEE!”

Pak Darto mengangguk puas, mengacungkan jempol padaku, dan kembali ke balik kolom.


Aku membawanya ke lantai empat dulu.

Kolom C-7 sekarang dua kali lebih tebal dari bulan Oktober. Kami membungkusnya dengan selimut beton baru, tulangan baru, cetakan baru, cara yang dalam bahasa kami disebut jacketing. Garis retak rambut di permukaan lamanya sudah tidak terlihat. Sudah diinjeksi epoksi sebelum dibungkus, ditutup, diperkuat.

“Ini kolom yang retak itu?” Raina menyentuh permukaannya dengan ujung jari, hati-hati, seperti menyentuh kue yang belum dingin.

“Ini kolomnya. Retaknya di dalam sekarang.”

“Masih ada?”

“Masih.” Aku menempelkan telapak tangan di sampingnya. “Retak itu nggak hilang. Cuma sekarang kolomnya kuat buat nahan.”

Dia diam, memandangi kolom itu.

“Dulu aku kira retak rambut itu tanda gedungnya mau rusak,” kataku. “Ternyata bukan. Itu tanda gedungnya masih bergerak. Masih hidup. Beton yang nggak pernah retak sama sekali itu justru yang harus dicurigai.” Aku menurunkan tangan. “Asal dicatat.”

Raina menoleh padaku. Matanya, di bawah pinggiran helm putih, kelihatan seperti sedang menahan sesuatu yang bukan tawa.

“Dan ditanya,” katanya.

“Apa?”

“Asal dicatat,” ulangnya pelan. “Dan ditanya.”

Aku tidak menjawab. Aku menuliskannya di buku saku, di halaman kedua yang sejak bulan Maret masih kosong. Kalimat pertama di halaman itu. Bukan dalam kolom. Bukan daftar.

Asal dicatat. Dan ditanya.


Atap lantai delapan panas sekali jam dua belas siang. Matahari Juni jatuh tegak lurus ke pelat beton yang masih baru, dan dari tepinya, di balik pagar pipa oranye, Jakarta terbentang ke segala arah: atap seng, jalan layang, gedung-gedung kaca yang memantulkan langit putih.

Kami duduk di bayangan tangki air sementara, di atas dua ember cat terbalik yang Pak Rohim siapkan tanpa diminta. Raina membuka tas kainnya. Nasi bakar isi cakalang, dua bungkus. Sambal terasi dalam wadah kecil. Dan satu roti isi keju yang dibungkus kertas minyak, dengan kertas kecil di atasnya.

R.

Aku memandangi huruf itu. Raina memandangi lantai.

Ada banyak hal yang belum kami bicarakan. Kami tidak pernah membicarakan bangku di gang belakang, bahu yang kaku, dan lima belas menit pura-pura tidur. Kami tidak pernah membicarakan selembar kertas kuning dengan empat belas nomor, dan nomor terakhir yang kosong. Kami tidak membicarakan atap baru Remah yang selesai kupasang tanggal dua puluh tiga Mei, hari ulang tahunnya, karena aku tidak tahu harus memberi apa lagi selain sesuatu yang bisa kuhitung bebannya. Pak Darto dan dua anak buahnya ikut membantu di hari Minggu, dibayar dengan roti sobek tak terbatas. Seng baru, rangka baja ringan, kemiringan yang benar, talang yang cukup lebar untuk hujan Jakarta. Seminggu kemudian, hujan deras turun tengah malam, dan Raina mengirim foto lantai dapur Remah yang kering dengan satu kalimat: Nggak ada ember. Lalu, lima menit kemudian: Aku nangis, tapi bukan karena bocor.

Kami makan nasi bakar dan membicarakan cakalang.

Lalu angin bertiup dari arah selatan, membawa debu semen dan bau aspal panas, dan menarik sejumput rambut Raina keluar dari bawah helm. Rambut itu melintang di pipinya, menempel di sudut bibir yang terkena sambal.

Dia mengusapnya dengan punggung tangan. Meleset. Rambut itu masih di sana.

Nomor tiga belas, pikirku. Ngusap pipi yang salah.

Aku tertawa. Dia menoleh dan menatapku, bingung, dengan rambut masih di pipinya, dan aku mengulurkan tangan dan menyelipkan rambut itu kembali ke bawah pinggiran helm.

Tanganku tidak langsung turun.

Ujung jariku masih di pelipisnya, di batas antara kulit dan tali helm. Dia tidak bergerak. Matahari jatuh di wajahnya dari celah bayangan tangki air, dan aku melihatnya dengan jelas untuk pertama kalinya dalam enam bulan, tanpa tepung, tanpa air hujan, tanpa lampu dapur yang kuning. Matanya bulat dan cokelat terang di bawah sinar matahari, dengan bulu mata yang pendek dan lurus. Ada bintik kecil di tulang pipi kirinya, di tempat tepung biasa menempel, yang belum pernah kulihat karena selalu tertutup tepung. Bibirnya sedikit terbuka. Ada sedikit sambal di sudutnya.

Dia cantik. Aku sudah mencatatnya berkali-kali sejak Januari, seperti mencatat cuaca. Siang itu, di atap lantai delapan, aku berhenti berpura-pura itu cuaca.

“Aku boleh...”

Kata itu keluar sebelum aku memutuskannya. Aku. Bukan saya. Pertama kalinya. Aku mendengarnya keluar dari mulutku sendiri, dan aku tidak tahu harus melanjutkannya dengan apa. Aku boleh apa? Aku boleh menciummu? Terlalu panjang. Terlalu banyak kata untuk sesuatu yang seharusnya tidak butuh kata.

Jadi aku berhenti, dan hanya menyisakan yang perlu.

“Boleh?”

Raina menatapku lama. Lalu sudut bibirnya, yang ada sambalnya, bergerak.

“Dari tadi,” katanya.


Aku menciumnya.

Pelan. Singkat. Seperti menyentuh permukaan beton yang baru dicor untuk memastikan sudah cukup keras. Bibirnya hangat dan terasa sedikit pedas, sambal terasi dan cakalang, dan aku tidak pernah tahu sambal bisa terasa seperti itu.

Lalu helm kami beradu.

Tok.

Bunyi plastik keras yang berbenturan, keras sekali di atap yang sepi. Kami berdua mundur bersamaan. Raina memegangi helmnya yang miring dengan dua tangan, matanya membulat, lalu dia tertawa. Tertawa sampai membungkuk di atas ember cat, sampai helmnya jatuh ke pangkuan.

Aku juga tertawa. Tawa sumbang yang sudah lama tidak kupakai, yang ternyata masih ada.

Dari arah tangga, terdengar suara Ojan, keras dan bergetar.

“DICATAT!”

Aku menoleh. Ojan berdiri di ujung atap, di belakang tripod theodolite, alat ukur sudut seharga empat puluh juta milik kantor, matanya menempel di lensanya, diarahkan tepat ke kami.

“Jan, itu buat ngukur elevasi.”

“Gue lagi ngukur elevasi perasaan, Ngga!” Dia mengangkat kepala dari lensa, dan matanya basah. “Nanti gue lapor Kementerian!”

Lalu dia berlari turun ke tangga, meninggalkan theodolite empat puluh juta itu berdiri sendirian di atap.

Raina masih tertawa kecil, memegangi helm di pangkuan. Lalu tawanya mereda, dan dia menatapku dari samping.

“Mas tadi bilang aku.”

“Iya.”

“Pertama kali.”

“Iya.”

Dia mengangguk pelan, seperti sedang mencicipi adonan dan memutuskan bahwa takarannya sudah benar.

“Bagus,” katanya.


Sesudahnya, kami duduk lagi di atas ember cat terbalik. Raina memangku helmnya. Aku memegang buku saku di tangan tanpa membukanya.

“Raina.” Aku menatap Jakarta di balik pagar pipa oranye. “Aturan nomor satu.”

Aku tahu dia tahu yang mana. Perjanjian di kantong kertas di papan gabus. Nggak saling jadi pelarian.

Dia tidak langsung menjawab. Dia memutar helm di pangkuannya pelan-pelan, satu putaran penuh.

“Pelarian itu,” katanya akhirnya, “kalau kita lari dari sesuatu.”

Dia meletakkan helm di lantai beton dan menatapku.

“Aku nggak lagi lari dari apa-apa, Mas. Aku lagi jalan ke sesuatu.”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dicatat. Jadi aku tidak mencatat apa-apa. Aku hanya mengambil tangannya, tangan kecil dengan bekas luka bakar di punggungnya, dan memegangnya sampai Pak Darto berteriak dari bawah bahwa truk molen sudah datang dan pengawasnya tolong turun dulu, Mas, nanti pacarannya dilanjut.

Raina tidak melepaskan tanganku sampai anak tangga pertama. Di sana dia melepasnya untuk memegang pegangan tangga, karena tadi pagi aku sudah menjelaskan bahwa di proyek, tiga titik tumpu itu wajib. Dia mengingatnya. Dia mematuhinya. Dan aku menyadari, sambil menuruni delapan lantai di belakangnya, bahwa aku sudah lama tidak dipatuhi dengan cara yang membuatku ingin tertawa.


Malam itu aku tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun. Aku membuka laporan hasil uji tekan beton lantai delapan, dan angka-angkanya berbaris rapi di depanku, dan aku membaca baris yang sama empat kali tanpa tahu isinya. Setiap kali aku memejamkan mata, aku mendengar bunyi tok dua helm plastik yang beradu, dan tawa yang menyusul sesudahnya.

Jam sepuluh lewat empat belas, aku masih membaca baris yang sama di tempat tidur kos ketika HP-ku bergetar.

Satu pesan.

Dari nomor yang sudah delapan tahun tersimpan di HP-ku. Nama kontaknya belum kuganti. Aku tidak pernah sanggup menggantinya.

Cit ❤

Aku di Jakarta minggu depan. Boleh ketemu?

Aku duduk tegak. Laporan uji tekan jatuh dari pangkuanku ke lantai.

Kata itu. Boleh.

Kata yang siang tadi jadi milik kami, di atap lantai delapan, di antara sambal terasi dan helm yang beradu. Kata yang kuucapkan dengan aku untuk pertama kalinya. Malam ini kata itu datang dari nomor yang delapan tahun kusimpan dengan nama Cit dan hati merah kecil.

Di layar kunci, di bawahnya, notifikasi lama itu masih ada. Enam bulan. Ngga, aku tahu aku nggak berhak minta apa-apa, tapi aku—

Aku menatap nama kontak itu lama sekali. Cit ❤.

Aku belum menggantinya.

Kenapa aku belum menggantinya?