Chapter Thirty Four
Remah
POV: Raina
“MBAK. MBAK. MBAK.”
Tegar masuk lewat pintu belakang jam enam pagi, hari Minggu, tiga Agustus, dengan rambut belum disisir, sandal jepit yang berbeda warna kiri dan kanan, dan HP yang dia acungkan tinggi-tinggi seperti piala.
Mbak Sum tidak mengangkat kepala dari adonan. “Gas belum habis.”
“BUKAN GAS, MBAK SUM.” Tegar menyodorkan HP-nya ke depan wajahku. “Mbak. Baca. Sekarang.”
Latar putih polos. Tulisan hitam.
Saya Citra Anindya. Ini pernyataan saya.
Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak hari Kamis, sejak perempuan itu berdiri di dapurku dan memakan roti isi keju sambil bercerita tentang kartu yang basah di saku blazernya. Tapi tahu bahwa sesuatu akan terjadi tidak sama dengan membacanya.
Aku membacanya berdiri, dengan tangan bertepung, sampai kalimat terakhir.
Remah tidak menjual roti pelakor. Remah menjual roti.
Tegar menatapku dengan mata merah. “Lima ratus ribu, Mbak. Semalem. Lima ratus ribu orang.”
Mbak Sum, di belakang kami, berhenti menguleni. Dia mengelap tangan di celemek, berjalan ke arah kami, mengambil HP itu dari tangan Tegar, dan membacanya sendiri. Bibirnya bergerak sedikit waktu membaca. Lalu dia mengembalikan HP itu, kembali ke adonannya, dan berkata tanpa menoleh:
“Berani juga dia.”
Itu kalimat terpanjang yang pernah Mbak Sum ucapkan tentang orang yang tidak dia sukai.
Jam sebelas siang, utas Tiara Hartawan hilang.
Jam dua, dia mengunggah sesuatu yang lain. Latar hitam, tulisan putih, terlalu banyak kata maaf dan terlalu sedikit kata yang lain. Tapi ada satu kalimat di tengahnya yang dibaca Tegar keras-keras dengan suara pembawa berita, berdiri di atas kursi plastik di depan etalase.
“Foto-foto yang saya unggah saya dapatkan dari sepupu saya sendiri, yang mengatakan bahwa dia mengambilnya untuk membuktikan bahwa dia dijebak.”
Tegar turun dari kursi pelan-pelan.
“Mbak,” katanya. “Yang di atas motor itu. Yang foto Mbak sama Mas Rangga di depan pintu. Itu dia sendiri.”
Aku ingat orang di atas motor itu, di depan warung kelontong yang sudah tutup, HP terangkat setinggi dada. Kupikir dia ojol yang sedang membaca peta.
Aku ingat foto dari seberang jalan, tanggal delapan Maret, dua orang di lantai dapur. Hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya. Dia datang ke sini hari itu. Dia berdiri di seberang jalan, di samping gerobak gorengan, dan memotret kue pengantin yang tidak pernah dia lihat dimakan oleh orang lain.
Aku tidak merasakan apa-apa tentang Leon lagi. Aku sudah lama tidak merasakan apa-apa tentang Leon. Tapi siang itu aku merasakan sesuatu yang dingin dan kecil, seperti butiran garam yang tertinggal di ujung lidah. Kasihan, mungkin. Untuk laki-laki yang tertawa di saat yang tepat, dan berdiri di seberang jalan di hari pernikahannya sendiri.
Ulasannya mulai berbalik hari Minggu sore.
Bintang lima. Saya ke sini karena utas itu. Saya pulang karena rotinya.
Bintang lima. Roti tawarnya lembut, croissant-nya renyah, kasirnya galak tapi lucu.
Bintang lima. Maaf ya, Mbak. Kemarin saya ikut kasih bintang satu padahal belum pernah ke sini. Sekarang udah. Saya malu.
Hari Senin pagi, ada antrean di depan Remah. Antrean sungguhan, dari pintu sampai ke depan bengkel motor di ujung jalan. Orang-orang yang belum pernah datang sebelumnya, dengan HP di tangan, membaca papan menu dengan saksama. Seorang ibu dari Bekasi menyetir dua jam hanya untuk membeli roti tawar. Dua mahasiswi dari Depok membeli satu roti sobek dan memotretnya dari dua puluh sudut.
Banyak dari mereka meninggalkan sesuatu di meja kasir. Kertas kecil. Sobekan dari buku catatan. Tisu dengan tulisan pulpen.
Maaf, Mbak.
Semangat ya, Mbak Raina.
Kemarin saya ikut nge-share utasnya. Maaf.
Tegar mengumpulkan semuanya. Dia berjalan ke gang belakang dengan segenggam kertas, berdiri di depan dinding yang ditempeli lima puluh ulasan bintang satu dan roti sobek yang sudah keras, lalu mulai mencabutnya satu per satu.
Dia tidak membuang yang lama. Dia memasukkannya ke kantong plastik dan menyimpannya di gudang tepung. Buat arsip, katanya.
Lalu dia menempelkan kertas-kertas yang baru. Rapi, berderet seperti pameran foto. Di antara setiap kertas, roti sobek yang masih hangat.
Di atasnya, spidol hijau, huruf kapital: WALL OF MAAF (DITERIMA SEBAGIAN).
Mbak Sum berdiri di depan dinding itu lama, dengan tangan di pinggang. Lalu dia menoleh padaku, dan wajahnya melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam tiga tahun dia bekerja di Remah. Alisnya naik sedikit. Sudut bibirnya turun sedikit. Matanya menatapku dengan cara yang hanya bisa diterjemahkan menjadi satu kalimat.
Sudah kubilang.
Aku tidak tahu apa yang sudah dia bilang. Tapi aku tahu dia benar.
Senin sore, telepon Remah berbunyi. Seorang perempuan dengan suara yang terlalu ramah memperkenalkan diri sebagai manajer pengadaan baru di PT Gemilang Rasa Nusantara.
“Mbak Raina, kami ingin menyampaikan permohonan maaf atas pemutusan kontrak bulan lalu. Ada miskomunikasi internal. Kami ingin melanjutkan kerja sama mulai Jumat ini, kalau Mbak berkenan, dengan nilai kontrak yang kami naikkan dua puluh persen sebagai—”
“Terima kasih, Bu.”
“Jadi Mbak setuju?”
Aku memandangi dinding di gang belakang lewat pintu dapur yang terbuka. Kertas-kertas kecil berisi maaf dari orang-orang yang tidak kukenal. Roti sobek yang masih hangat.
“Nggak, Bu,” kataku. “Remah nggak butuh kontrak dari kantor yang butuh rekaman buat percaya.”
Hening di ujung telepon.
“Selamat sore, Bu.”
Aku menutup telepon. Tanganku gemetar sedikit. Dua tahun, delapan puluh kotak setiap Jumat. Aku baru saja menolaknya.
Dari balik etalase, Tegar menatapku dengan mulut terbuka. Lalu dia mengeluarkan HP-nya. Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu dia sedang mengetik di grup dengan dua emoji sirene.
Ibu datang jam empat. Bersama Ayah.
Mereka berdiri di depan etalase, di ujung antrean, menunggu giliran seperti pelanggan lain. Aku melihat mereka dari balik meja kasir. Ibu dengan kerudung yang dipakai terburu-buru, Ayah dengan kantong plastik berisi jeruk.
Waktu giliran mereka tiba, Ibu tidak memesan roti. Dia hanya berdiri di depan meja kasir dan menatapku.
“Perempuan itu ke rumah,” katanya pelan. “Hari Kamis. Dia berdiri di teras, nggak mau masuk. Dia cerita semuanya.”
Aku diam.
“Dia bilang, Ibu berhak tahu anak Ibu nggak salah apa-apa.” Suara Ibu pecah. “Orang lain yang harus bilang itu ke Ibu, Raina. Orang lain. Bukan Ibu sendiri yang tahu.”
Di belakangnya, antrean diam. Orang-orang pura-pura sibuk dengan HP masing-masing.
“Ibu malu,” kata Ibu. Matanya merah. “Ibu malu karena undangan. Karena arisan. Karena Tante Lusi udah beli kebaya.” Dia menggeleng. “Ibu nggak pernah malu karena kamu. Ibu salah malu.”
Aku keluar dari balik meja kasir.
Ibu memelukku di depan etalase, di depan antrean, di depan dua mahasiswi dari Depok yang berhenti memotret roti sobek. Pelukan yang canggung dan erat, dengan kerudung yang miring dan bahu yang gemetar. Ibu jarang memelukku sejak aku SMP. Aku lupa rasanya.
Di belakang Ibu, Ayah meletakkan kantong jeruk di meja kasir. Lalu dia mengambil satu, mengupasnya pelan-pelan dalam satu lembar utuh, dan meletakkan kulitnya di samping mesin kasir. Bentuknya seperti bunga.
Ojan datang hari Selasa, jam empat sore.
Dia berdiri di depan etalase lama sekali, membaca papan menu yang sudah dia hafal, dengan wajah orang yang sedang menjalankan tugas negara.
“Observasi lapangan,” katanya waktu aku bertanya. “Instruksi Kementerian.”
Dia memesan tiga croissant dan satu roti isi keju. Sambil menunggu Tegar membungkusnya, dia bersandar di meja kasir dan menatap antrean di belakangnya dengan bangga.
“Syukur deh,” katanya. “Ulasan bintang lima gue nggak sia-sia.”
“Ulasan apa?”
Ojan membeku.
“Nggak,” katanya cepat. “Nggak ada. Ulasan biasa.”
Tegar, dari balik etalase, mengangkat kepala. “Croissant ini mengingatkan saya bahwa hidup itu berlapis-lapis? Itu Mas Ojan?”
Ojan menatap langit-langit.
“Itu gue,” katanya akhirnya, dengan suara kecil. “Tapi yang nyuruh Rangga. Ulasan pertama dia yang nulis. Jelek. Kayak laporan uji mutu. Gue yang benerin.”
Aku tidak bergerak.
“Yang tiga ratus roti juga,” lanjut Ojan, sekarang lebih pelan, seperti orang yang sudah terlanjur basah dan memutuskan untuk berenang sekalian. “Wiratama Struktur. Itu bukan acara kantor. Itu dia. Pakai duit sendiri. Rotinya dibagiin ke kuli proyek Kuningan.” Dia menatapku. “Dia pikir kalau dia ngilang, fotonya berhenti. Utasnya mati. Toko lo aman.”
Antrean di belakangnya diam.
“Dia nggak nanya lo,” kata Ojan. “Dia nggak pernah nanya. Gue udah bilangin dia. Gue kasih dia seblak level sepuluh.”
Aku berdiri di balik meja kasir dengan tangan rata di atas kaca etalase. Di bawah telapak tanganku, deretan roti isi keju. Di rak paling bawah, di ujung, satu dengan kertas kecil.
R.
Tiga ratus roti tanpa kartu, tanpa tulisan, tanpa dia. Ulasan yang ditulis seperti laporan uji mutu. Tiga minggu tidak datang. Lagi banyak kerjaan, Raina. Jaga diri.
Dia tidak pergi karena takut namanya terseret. Dia pergi supaya namaku tidak terseret lebih jauh.
Dan dia tidak bertanya. Tentu saja dia tidak bertanya. Dia menghitung, sendirian, di kamar kos dengan kanvas yang menghadap tembok, dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku.
Aku ingin marah. Aku memang marah. Dan di bawah marah itu, ada sesuatu yang lebih besar, lebih hangat, yang membuatku harus berpegangan pada tepi meja kasir.
“Mbak?” Ojan menatapku dengan cemas. “Mbak, gue... gue nggak seharusnya bilang, ya?”
“Nggak,” kataku. “Mas Ojan seharusnya bilang dari dua minggu lalu.”
Ojan mengambil kantong rotinya, membungkuk sedikit seperti orang yang meminta maaf pada pejabat, dan pergi dengan langkah cepat. Di depan pintu, aku melihatnya mengeluarkan HP dan mengetik dengan wajah panik. Aku tahu dia sedang menulis di grup. Aku juga tahu dia sedang menulis pada orang lain.
Aku duduk di bangku kayu di gang belakang, di antara karung tepung, di depan dinding yang penuh kertas maaf.
Di tanganku, sebuah kantong kertas cokelat kosong. Di tangan yang lain, spidol hitam.
Dua tahun aku menulis di kantong-kantong ini untuk orang lain. Makan selagi hangat. Makan pelan-pelan. Buat yang lagi capek. Ribuan kantong. Ribuan kalimat untuk orang-orang yang tidak akan pernah kutemui lagi.
Aku belum pernah menulis satu pun untuk diriku sendiri.
Aku menulis judulnya. Hal yang Aku Mau.
Lalu, di baris pertama, tanganku mulai menulis sesuatu sendiri, seperti biasa. 1. Aku nggak ap—
Aku berhenti. Aku menatap empat kata yang belum selesai itu. Lalu aku mencoretnya. Satu garis lurus, tebal, seperti Rangga mencoret baris di buku sakunya.
Di bawahnya, aku menulis ulang.
1. Kamu.
Satu kata. Satu nomor. Tidak ada nomor dua.
Aku mengambil HP. Tanganku tidak gemetar kali ini. Aku membuka percakapan dengannya, di bawah Lagi banyak kerjaan, Raina. Jaga diri., dan aku mengetik tanpa menghapus apa pun.
Aku capek jadi orang yang nggak apa-apa.
Aku mau kamu di sini.
Itu bukan permintaan tolong. Itu permintaan.
Terkirim.
Di atas gang, langit yang sejak siang kelabu tiba-tiba gelap. Satu tetes jatuh di kantong kertas di pangkuanku, tepat di samping kata Kamu. Lalu satu lagi. Lalu hujan turun, deras, memukul atap seng baru yang dia pasang di hari ulang tahunku.
Tidak ada yang bocor.
Waktu itu aku tidak tahu dia sudah di jalan.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah reading
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai