Chapter Thirty Two
Menjauh Supaya Kamu Aman
POV: Rangga
Bagas lulus hari Rabu, sembilan Juli, jam sepuluh lewat empat puluh tiga pagi.
Aku menontonnya dari ruang rapat kecil di lantai lima, dengan laptop kantor dan headset yang mikrofonnya kumatikan. Ojan duduk di belakangku, menempel ke bahuku supaya bisa ikut melihat layar, dan menggigiti kuku.
“Gue gugup, Ngga,” bisiknya. “Gue nggak kenal anak ini, tapi gue gugup.”
Di layar, Bagas berdiri di depan proyektor di ruang sidang Teknik Sipil Undip, memakai kemeja putih yang kebesaran dan dasi yang simpulnya miring. Tiga dosen penguji duduk di depannya. Salah satunya, laki-laki berkacamata dengan wajah yang sudah menguji ratusan skripsi, bertanya tentang jarak tulangan geser di kolom.
Bagas menelan ludah. Lalu dia menjawab.
Dia menjelaskan dengan lancar, dengan istilah yang tepat, dengan angka yang benar. Dan di ujung jawabannya, karena dia gugup, dan karena dia adik dari perempuan yang dulu tertawa paling kencang di kantin FEB, dia menambahkan satu kalimat yang tidak ada di buku mana pun.
“Kalau jaraknya kelebaran, Pak, nanti kolomnya nangis.”
Ruang sidang hening.
Dosen berkacamata itu menatap Bagas lama. Lalu dia tertawa. Keras, sampai harus melepas kacamata. Dua dosen lain ikut tertawa.
Di belakangku, Ojan mencengkeram bahuku. “Kolomnya nangis. Itu lo, Ngga. Itu kalimat lo.”
Bagas lulus dengan nilai A minus. Di akhir sesi, dengan mata merah dan suara yang pecah, dia menatap kamera laptop yang diletakkan di meja depan.
“Terima kasih buat Mas Rangga,” katanya. “Pembimbing tidak resmi saya. Yang begadang sama saya sampai jam satu. Yang nggak pernah nolak walaupun... walaupun.”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Semua orang di ruang itu mengira dia terlalu terharu. Aku tahu dia sedang menjaga sesuatu.
Di sudut layar, di belakang barisan kursi penonton, seseorang berdiri dan bertepuk tangan. Kemeja biru muda. Rambut sebahu yang diselipkan ke balik telinga kiri.
Citra.
Dia menatap kamera. Sebentar, satu detik. Lalu dia mengangguk sekali.
Aku menyalakan mikrofon, karena Bagas berhak mendengar sesuatu dariku.
“Selamat, Gas,” kataku. “Kolomnya nggak nangis.”
Lalu aku mengangguk ke kamera juga. Untuk Bagas. Untuk perempuan di belakang ruangan yang bertepuk tangan dengan sungguh-sungguh. Untuk janji di teras rumah Salatiga, malam Lebaran, dengan piring nastar di antara kami.
Janji itu sudah lunas.
Lima hari kemudian, Ojan meletakkan HP-nya di depanku di warung kopi samping kantor tanpa berkata apa-apa.
Utas itu sudah ditonton seratus ribu kali waktu aku pertama melihatnya. Besok paginya, dua ratus ribu.
Aku membacanya sampai habis. Video tepung. Story atap. Lantai dapur tanggal delapan Maret, difoto dari seberang jalan. Dan foto terakhir, di ambang pintu Remah, tanganku di dekat wajahnya. Senin malam, jam sebelas lewat dua. Malam aku bilang aku tunggu.
Rekamannya NGGAK ADA. Kalau ada, keluarin dong.
Aku membaca kalimat itu lama sekali.
Rekaman itu ada di dasar selokan di belakang kosku. Aku tidak menahan tangan yang melemparnya. Aku berdiri di tengah kamar dan membiarkannya, karena kupikir aku sudah menontonnya, dan menontonnya sudah cukup.
Ternyata menonton tidak pernah cukup. Untuk orang lain, yang tidak ada di kamar itu, tidak ada yang pernah terjadi.
Di kantor, orang-orang mulai mengenali tukang atap dari video itu.
Wajahku tertutup tepung di video mixer, tapi tidak di foto lantai dapur, tidak di foto ambang pintu. Seseorang dari divisi arsitektur membagikan utas itu ke grup kantor dengan emoji mata. Seorang drafter muda menatapku di lift dengan wajah ingin bertanya tapi takut. Di pantry, dua orang dari keuangan berhenti bicara waktu aku masuk.
Hari Kamis, Pak Direktur memanggilku ke ruangannya. Dia tidak marah. Dia menatapku dari balik meja dengan wajah bapak-bapak yang punya anak perempuan seumuran Raina.
“Rangga, saya nggak mau ikut campur urusan pribadi. Tapi jaga nama kantor, ya. Ada klien yang nanya.”
“Iya, Pak.”
Malam itu, di kos, dengan kanvas yang menghadap tembok dan dua buku saku di meja, aku menghitung.
Aku menghitung seperti yang selalu kulakukan. Diam-diam. Teliti. Sendirian.
Utas itu hidup karena foto. Foto ada karena aku ada di sana. Setiap kali aku datang ke Remah, ada kemungkinan foto baru. Setiap foto baru adalah bahan bakar baru. Kalau aku berhenti datang, tidak ada foto baru. Kalau tidak ada foto baru, utas itu akan mati sendiri dalam dua atau tiga minggu, seperti semua utas di internet. Ulasan bintang satu akan tenggelam. Pelanggan akan kembali. Raina akan aman.
Jawabannya rapi. Jawabannya masuk akal. Jawabannya membuatku tidak perlu bertanya apa yang Raina mau.
Aku tidak bertanya.
Aku berhenti datang.
Aku membalas pesannya dengan kalimat pendek dan titik. Lagi banyak kerjaan, Raina. Jaga diri. Aku tidak bilang kenapa. Kalau aku bilang kenapa, dia akan bilang tidak usah. Dan kalau dia bilang tidak usah, aku tidak akan bisa menolak.
Tapi aku tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Aku insinyur. Insinyur memperbaiki.
Jadi aku pergi ke bagian umum kantor dan bertanya apakah ada acara kantor dalam waktu dekat yang butuh konsumsi. Tidak ada. Aku bilang ada, syukuran proyek Kuningan, dan aku yang bayar. Bu Endang dari bagian umum menatapku lama, lalu menelepon Remah dengan nomor yang kutuliskan di kertas. Tiga ratus roti. Tanpa kartu. Tanpa tulisan.
Hari Jumat, tiga ratus roti dari Remah sampai di proyek Kuningan. Pak Darto dan empat puluh pekerjanya makan siang dengan roti sobek, croissant, dan roti isi keju yang masih hangat.
“Mas,” kata Pak Darto, dengan mulut penuh roti, “ini enak banget. Mbaknya kok nggak ikut nganter?”
Aku tidak menjawab.
Lalu Ojan.
“Ulasan,” katanya hari Senin, menyerahkan HP-nya padaku. “Akun Google gue. Lo tulis bintang lima. Satu per hari. Biar nggak ketahuan.”
Aku menulis ulasan pertama. Bintang lima. Roti tawarnya padat dan lembut. Teksturnya homogen. Pelayanan ramah.
Ojan membacanya dari atas bahuku dan mengerang.
“Ngga, itu kayak laporan uji mutu.”
“Itu informatif.”
“Sini.” Dia merebut HP-nya kembali dan mengetik sendiri dengan wajah penuh penghayatan. Hari berikutnya, ulasan bintang lima atas nama Fauzan R. muncul di halaman Remah.
Croissant ini mengingatkan saya bahwa hidup itu berlapis-lapis. Ada lapisan yang renyah, ada lapisan yang lembut, ada lapisan yang bikin kita nangis di mobil. Terima kasih, Remah. Bintang lima. Kalau bisa enam.
Ulasan itu mendapat empat puluh dua like dan satu balasan dari Tegar: TERIMA KASIH KAK FAUZAN 😭🙏 KAMI BUTUH INI.
“Mas ngilang?!”
Laras menelepon hari Rabu jam sepuluh malam. Suaranya keras, sampai aku harus menjauhkan HP dari telinga.
“Aku lihat di grup! Tegar bilang Mas udah sebelas hari nggak ke Remah! Roti R-nya keras tiap hari, Mas! Mbak Raina makan sendiri sambil berdiri!”
“Ras, aku cuma—”
“Mas cuma apa?”
Aku tidak bisa menjawab.
Setelah Laras menutup telepon, aku mengambil kunci mobil.
Aku tidak memutuskan untuk pergi ke Cipete. Tanganku membelokkan setir sendiri. Jam sebelas kurang seperempat, aku memarkir Jazz di ujung jalan, jauh dari depan Remah, dan berjalan kaki sampai ke gerobak gorengan yang sudah tutup di seberang toko.
Aku berdiri di bawah lampu jalan. Di tempat yang sama, belakangan aku tahu, tempat seseorang pernah berdiri di bulan Februari dan menatap ke dalam.
Lampu dapur Remah masih menyala. Lewat kaca etalase, aku melihatnya. Raina berdiri sendirian di depan meja kasir dengan kardigan krem, memegang sepotong roti dan segelas teh. Dia makan sambil berdiri. Pelan. Gigitan kecil, lalu menatap kosong ke rak etalase, lalu gigitan kecil lagi.
Roti isi keju. Aku bisa melihat kertas kecil di meja di sampingnya.
Di ujung jalan, sebuah motor berhenti dengan lampu menyala. Seseorang di atasnya mengangkat HP.
Aku mundur ke dalam bayangan. Aku tidak tahu apakah orang itu ojol yang sedang membaca peta. Aku tidak berani mencari tahu.
Aku kembali ke mobil dan duduk di balik setir tanpa menyalakan mesin. Lalu Ibu menelepon. Suaranya pelan. Laras pasti sudah memberitahunya.
“Le,” katanya. “Kamu ngilang lagi?”
“Aku cuma nggak mau bikin dia tambah susah, Bu.”
Ibu diam lama.
“Ibu baru bulan lalu bilang, jangan dipikul sendiri,” katanya akhirnya. “Kamu udah lupa?”
Ojan membawaku ke warung seblak di belakang kantor hari Jumat.
Dia memesan seblak level sepuluh. Satu mangkuk. Dia meletakkannya di depanku, bukan di depannya.
“Makan,” katanya.
“Jan—”
“Makan, Ngga. Kali ini lo yang makan. Gue udah capek nangis buat lo.”
Aku menatap kuah merah pekat itu. Ojan duduk di seberangku dengan tangan bersedekap dan wajah yang tidak bercanda. Aku sudah dua belas tahun mengenal Ojan, dan aku bisa menghitung dengan satu tangan berapa kali dia tidak bercanda.
“Lo itu,” katanya pelan, “kalau sayang sama orang, malah ngilang.”
Aku tidak menjawab.
“Dulu lo nunda ngelamar demi Citra. Biar bahagianya dobel, kata lo. Lo nggak nanya dia mau dilamar kapan. Lo putusin sendiri.” Ojan mencondongkan badan. “Sekarang lo ngilang demi Raina. Biar dia aman, kan? Biar fotonya nggak nambah. Lo udah nanya dia mau lo ngilang apa nggak?”
Aku menatap mangkuk seblak.
“Lo nggak pernah nanya mereka maunya apa, Ngga. Lo cuma ngitung. Lo ngitung terus, sendirian, di kamar, terus lo putusin, terus lo pikir itu namanya tanggung jawab.”
Dia berhenti. Kipas angin di dinding warung berdecit.
“Itu bukan struktur, Ngga,” katanya. “Itu kabur.”
Malam itu aku membuka buku saku kesembilan di meja kos.
Halaman kedua. Kalimat pertama di halaman itu, yang kutulis di lantai empat proyek Senopati di bulan Juni, dengan Raina berdiri di sampingku memakai helm putih.
Asal dicatat. Dan ditanya.
Aku sudah mencatat. Aku selalu mencatat. Kolom C-7. Daftar Batal. Empat belas hal yang membuatnya tertawa.
Aku tidak pernah bertanya.
Aku membalik ke halaman berikutnya yang kosong dan menulis sesuatu yang belum pernah kutulis seumur hidupku. Bukan daftar rencana. Bukan daftar tugas. Daftar yang biasanya ditulis di laporan kegagalan struktur, di bagian paling akhir, setelah semua sudah runtuh.
Daftar Kesalahan yang Sama:
1. Memutuskan untuk orang lain.
2. Tidak bertanya.
Aku menatap dua baris itu lama sekali.
Retak rambut. Garis tipis yang muncul di permukaan, yang selalu kuanggap tidak berbahaya, asal dicatat. Ternyata retak itu ada di dalam diriku sejak lama. Sejak payung di pemakaman Bapak. Sejak aku memutuskan bahwa menahan semuanya sendirian adalah cara paling aman untuk menjaga semua orang.
Aku mengambil HP. Aku membuka percakapan dengan Raina.
Raina, boleh aku—
Aku berhenti. Boleh apa? Boleh datang, dan menambah satu foto lagi di utas itu? Boleh meminta maaf karena menghilang, dan membuatnya harus mengurus perasaanku juga, di tengah semua hal lain yang sedang dia urus?
Aku menghapusnya.
Aku mengetiknya lagi. Menghapusnya lagi.
Tiga hari aku melakukan itu. Dan tiga hari aku tidak mengirim apa pun, karena aku belum tahu cara bertanya tanpa terlebih dulu menghitung jawabannya.
Sabtu, dua Agustus, jam delapan malam, HP-ku bergetar di samping laptop.
Bukan pesan. Notifikasi Instagram. Aku tidak pernah menyalakan notifikasi Instagram untuk siapa pun, kecuali satu akun yang kusetel bertahun-tahun lalu dan tidak pernah kumatikan, karena aku lupa itu ada.
citra.anindya baru saja membagikan postingan.
Aku membukanya.
Latar putih polos. Tidak ada foto. Hanya tulisan hitam, huruf sederhana, di tengah layar.
Saya Citra Anindya. Ini pernyataan saya.
HP itu jatuh dari tanganku ke lantai.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman reading
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai