Chapter Thirteen
Pengirim R.
POV: Rangga
Tahun baru lewat begitu saja.
Ojan mengajakku menonton kembang api di Monas. Aku bilang ada laporan yang harus selesai. Jam dua belas malam, aku berdiri di balkon kos dan melihat kembang api dari kejauhan, kecil-kecil di atas atap, seperti bunga yang mekar di tempat yang salah. Di bawahku, selokan mengalir pelan. Dari kamar sebelah, aku mendengar bayi menangis karena kaget dengan dentuman, lalu ibunya bersenandung.
Tahun lalu aku menonton kembang api dari jembatan penyeberangan di Thamrin, dengan Citra di sebelahku, menunjuk jendela-jendela restoran di lantai tiga puluh.
Tahun ini aku menonton dari balkon, dan aku menghitung. Dua ratus tiga belas ledakan yang terlihat dari Tebet.
“Lo turun empat kilo,” kata Ojan minggu pertama Januari, menunjuk ikat pinggangku. Lubangnya bergeser dua dari biasanya. “Gue lihat dari lubang sabuk lo. Gue insinyur juga, Ngga. Gue bisa baca deformasi.”
“Gue makan.”
“Lo makan roti tawar tanpa isi sambil baca RAB.” Dia melipat tangan. “Ritual nomor dua. Karaoke. Lagu patah hati. Malam ini.”
“Nggak.”
Malam itu Ojan menyanyikan sembilan lagu patah hati sendirian di bilik karaoke yang disewa untuk dua jam, sementara aku duduk di sofa memeriksa perhitungan pondasi. Di lagu kelima dia menangis lagi. Di lagu ketujuh dia menyanyi sambil berdiri di atas meja. Di lagu kesembilan dia menyerahkan mikrofon padaku.
Aku memegangnya selama satu reff penuh tanpa mengeluarkan suara. Ojan tidak memaksa. Dia hanya menepuk punggungku dan memesan dua mangkuk mi goreng.
Kamis, 9 Januari, jam sebelas siang, satpam lobi menelepon ke mejaku.
“Mas Rangga, ada tamu. Perempuan. Nggak bilang perlu apa, cuma bilang mau ketemu Mas Rangga.”
Aku berdiri terlalu cepat. Kursiku menggelinding ke belakang dan menabrak lemari arsip.
Perempuan.
Selama empat minggu notifikasi itu masih ada di layar kunciku. Ngga, aku tahu aku nggak berhak minta apa-apa, tapi aku— Selama empat minggu aku tidak membukanya dan tidak menghapusnya. Dan selama tiga puluh detik di dalam lift turun ke lobi, aku tidak tahu apakah aku ingin perempuan di bawah sana adalah Citra atau bukan.
Pintu lift terbuka.
Bukan Citra.
Perempuan itu berdiri di samping pot tanaman besar di dekat meja satpam, memeluk kantong kertas cokelat besar di depan dada dengan dua tangan, seperti orang yang memeluk sesuatu supaya tangannya tidak gemetar. Rambutnya hitam, digelung asal di belakang kepala, ditahan sebatang pensil kayu. Dia memakai kardigan krem yang lengannya digulung, dan ada sedikit tepung di tulang pipi kirinya yang jelas tidak dia sadari.
Dia cantik. Aku mencatatnya dengan cara yang sama aku mencatat retak di kolom, tanpa bermaksud apa-apa, hanya karena itu ada. Cantik dengan cara yang tidak minta dilihat. Matanya bulat, dan bentuknya seperti mata orang yang biasanya sedang menahan tawa. Tapi hari itu mata itu sedang menahan sesuatu yang lain.
Dia melihatku keluar dari lift, dan aku melihat dia mengenaliku.
“Mas Rangga?”
“Iya.”
Dia menarik napas, seperti orang yang akan melompat dari tempat tinggi.
“Saya Raina. Saya yang kirim paketnya.” Jeda. Suaranya turun. “Saya minta maaf.”
Aku sudah membayangkan banyak hal selama empat minggu. Aku tidak pernah membayangkan R.
R. adalah huruf di bawah tiga kalimat sopan. R. adalah tulisan tangan bulat di atas kertas cokelat. R. tidak punya wajah, tidak punya kardigan, tidak punya tepung di pipi. R. tidak berdiri di lobi kantorku pada hari Kamis sambil memeluk kantong kertas.
Aku menatapnya lama. Lalu aku mengatakan satu-satunya hal yang terasa benar.
“Terima kasih.”
Dia mengerjap. “Mas... terima kasih?”
“Mbak nggak harus kirim,” kataku. “Mbak bisa diam aja.”
Dia menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dia pahami. Lalu matanya basah, sedikit, dan dia buru-buru menunduk dan menyodorkan kantong kertas itu ke arahku dengan dua tangan.
“Ini. Buat Mas.”
Kantongnya berat dan hangat. Di sisi luarnya ada tulisan tangan dengan spidol hitam. Huruf bulat yang sama.
Saya nggak tahu Mas suka apa. Jadi saya bawa semua.
Aku membuka kantong itu. Roti sobek. Croissant. Roti tawar. Bolu pandan. Roti isi cokelat. Roti isi keju. Sesuatu yang berbentuk seperti siput dan berbau kayu manis. Setidaknya ada dua belas jenis roti di dalamnya, ditata rapi dengan kertas minyak di antara setiap jenis supaya tidak saling menempel.
“Mbak bikin semua ini?”
“Saya punya toko roti.” Dia menyelipkan sejumput rambut yang lepas ke balik telinga, gerakan cepat, lalu menurunkan tangannya. “Kecil. Di Cipete.”
Kami duduk di kursi tunggu lobi, berjarak satu kursi kosong.
Dia bercerita dengan kalimat-kalimat pendek, seperti orang yang sudah berlatih di jalan. Tunangannya bernama Leon. Dashcam itu atas namanya sendiri, dibeli bulan Agustus karena tunangannya hampir tertidur di tol. Dia menemukan file itu waktu mengurus klaim asuransi. Dia diam tiga minggu. Lalu dia mengirimnya.
“Saya datang ke sini,” katanya, “karena saya pikir, kalau Mas mau marah, Mas berhak tahu marahnya ke siapa.”
“Saya nggak marah sama Mbak.”
“Mas boleh.”
“Saya tahu. Tapi saya nggak marah sama Mbak.”
Dia diam sebentar, memandangi tangannya sendiri di pangkuan. Kukunya pendek dan bersih, ada bekas luka bakar kecil di punggung tangan kirinya, garis tipis berwarna merah muda yang sudah lama sembuh.
“Paketnya,” katanya pelan. “Mas masih simpan?”
“Udah nggak ada.”
Dia mengangguk, seolah itu jawaban yang dia harapkan. “Bagus. Saya juga nggak nyimpen apa-apa. Saya nggak mau itu ada di laptop yang saya pakai buat foto kue.”
Aku tidak menceritakan selokan itu. Dia tidak bertanya.
“Mbak sendiri,” kataku, “gimana?”
Aku tidak biasa menanyakan hal semacam itu. Tapi pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena orang di depanku kelihatan seperti seseorang yang sudah lama tidak ditanya.
Dia tertawa kecil, tanpa suara. “Saya lagi batalin nikahan.”
Lalu dia mengeluarkan selembar kertas dari tas kainnya, kertas HVS yang sudah dilipat-lipat sampai lusuh, dan membukanya di pangkuan. Daftar. Atau sesuatu yang mencoba jadi daftar. Tulisan tangan miring, panah ke mana-mana, beberapa baris dicoret lalu ditulis ulang di pinggir, satu noda bulat cokelat bekas gelas kopi di pojok kanan atas. Gedung — telepon Bu Yayuk?? DP?? Undangan 600 — Ibu ngamuk. Katering. Kue. Kata kue dilingkari tiga kali dan diberi tanda tanya.
Aku menatap kertas itu, dan sesuatu di dalam diriku yang sudah empat minggu diam mendadak bangun. Refleks yang sama seperti waktu melihat gambar kerja yang berantakan, atau perhitungan beban yang tidak urut.
“Boleh saya bantu?”
Dia mengangkat kepala. “Kenapa?”
Aku bisa saja bilang karena aku insinyur. Karena aku tidak tahan melihat daftar tanpa kolom. Semua itu benar.
“Karena kalau saya nggak ngerjain sesuatu,” kataku, “saya bakal duduk di lantai lagi.”
Dia menatapku. Aku melihat dia menangkap kata lagi.
“Saya juga,” katanya.
Warung kopi di samping kantor punya meja kayu panjang dan kipas angin yang berdecit. Aku memesan dua kopi tubruk dan mengeluarkan buku saku dari saku kemeja.
Buku saku kuning yang kesembilan.
Aku menatap sampulnya. Aku belum pernah membukanya. Sejak 12 Oktober, buku itu tinggal di laci, masih terbungkus plastik bening dari toko alat tulis di Blok M. Pagi ini, tanpa berpikir, aku memasukkannya ke saku kemeja karena buku kedelapan sudah penuh. Dan karena halaman Daftar 30 di buku kedelapan sudah robek tepat di satu nama.
Halaman pertama buku kesembilan masih kosong.
Delapan buku sebelumnya, halaman pertamanya selalu dimulai dengan sesuatu yang kurencanakan untuk kami. Aku tidak pernah membayangkan halaman pertama buku ini akan berisi daftar pembatalan pernikahan orang lain.
Aku menulis di baris paling atas: Daftar Batal.
Lalu aku menggaris kolom. Item. Kontak. Tenggat. Biaya hangus. Status.
Raina memperhatikan tanganku bergerak. Di seberang meja, untuk pertama kalinya hari itu, sudut matanya kembali sedikit seperti mata orang yang menahan tawa.
“Mas bikin tabel,” katanya.
“Daftar tanpa kolom itu cuma keluhan.”
Dia benar-benar tertawa kali ini. Pendek, tapi tertawa.
Kami mengisinya bersama. Cincin tunangan. Gedung, Graha Puspa Kencana, DP empat puluh persen. Katering, enam ratus porsi. Undangan, enam ratus, sebagian sudah disebar. MUA dan baju. Foto prewedding, termasuk cetakan kanvas ukuran satu meter yang sudah jadi. Tiket bulan madu ke Labuan Bajo, tidak bisa refund. Kue pengantin.
Di baris kue pengantin, Raina berhenti. Dia tidak bilang apa-apa. Aku mengosongkan kolom Status-nya.
“Satu lagi,” katanya, setelah daftar itu selesai. Dia menatapku dengan wajah yang serius. “Saya nggak mau ngomongin mereka.”
“Saya juga.”
Dia mengangguk. Itu saja. Tidak ada jabat tangan, tidak ada janji tertulis. Tapi itu aturan pertama yang kami buat, dan aku tahu waktu itu juga bahwa kami berdua akan mematuhinya.
“Ngga!”
Ojan muncul dari balik pilar warung dengan tangan di saku, wajah orang yang kebetulan lewat dengan sangat tidak meyakinkan. Aku tahu dia sudah berdiri di sana sejak kami duduk. Aku melihat ujung sepatunya.
“Wah, ada tamu.” Dia duduk di sampingku tanpa diundang, menatap kantong kertas Remah di atas meja, lalu menatap Raina, lalu menatapku dengan alis yang naik sampai ke rambut. “Fauzan. Rekan kerja. Sahabat. Best man, kalau—” Aku menginjak kakinya di bawah meja. “Kalau ada yang butuh.”
“Raina,” kata Raina, sopan.
“Ini roti Mbak?” Ojan sudah mengambil satu croissant sebelum siapa pun menjawab. Lalu satu lagi. Lalu yang ketiga, yang berbentuk siput. Dia menggigitnya, berhenti mengunyah, dan menatap Raina dengan mata berkaca-kaca. “Mbak. Ini enak banget. Saya mau langganan. Tokonya di mana?”
“Cipete. Namanya Remah.”
“Remah.” Ojan memegang dadanya. “Kayak hati saya.”
Raina tertawa lagi. Aku menatap Ojan dengan tatapan yang bisa membuat beton retak. Ojan tidak peduli. Dia menghabiskan croissant ketiganya dengan khidmat.
Raina pulang jam satu. Di depan warung, sebelum naik ojol, dia berbalik.
“Mas Rangga. Soal gedung, nanti saya kabari.”
“Saya yang jemput,” kataku. “Sabtu jam sepuluh. Bawa kontraknya. Sama kuitansi DP.”
Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum kecil. “Siap.”
Malam itu, di kos, aku membuka kantong kertas itu lagi. Ojan sudah mengambil empat roti. Masih ada delapan. Di dasar kantong, di bawah roti tawar, ada selembar tisu warung kopi yang dilipat dua. Tulisan tangan yang sama, dengan pulpen yang tintanya sedikit macet.
Mas kelihatan belum makan. Makan. Bukan pilihan.
— R.
Aku tidak melihat kapan dia menulisnya. Mungkin waktu aku membayar kopi. Mungkin waktu Ojan sibuk memuji croissant. Dia memperhatikan lubang ikat pinggangku, atau tulang pipiku, atau tanganku yang memegang gelas kopi tanpa pernah menyentuh gorengan di piring, lalu diam-diam menulis perintah di atas tisu dan menyelipkannya di bawah roti tawar, di tempat yang hanya akan kutemukan kalau aku makan sampai ke dasar.
Aku memegang tisu itu lama.
Huruf yang sama. Huruf yang empat minggu lalu ada di bawah tiga kalimat yang menghancurkan hidupku. Malam ini, huruf yang sama menyuruhku makan.
Aku makan roti isi keju itu sampai habis, berdiri di dapur kos yang gelap. Rotinya sudah dingin. Tetap enak.
Itu pertama kalinya dalam empat minggu aku menghabiskan sesuatu.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R. reading
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai