← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Fourteen

Daftar Batal

POV: Raina

Pesan pertamanya masuk Jumat malam, jam delapan lewat tiga.

Selamat malam, Mbak Raina. Besok (Sabtu, 11/01) saya jemput di Remah pukul 10.00. Mohon disiapkan:
1. Kontrak sewa gedung (asli).
2. Kuitansi DP.
3. Fotokopi KTP (kalau diminta pihak gedung).
Terima kasih.
— Rangga

Aku membacanya di meja kasir dan tertawa sendiri. Tidak ada orang yang mengirim pesan seperti itu. Tanda kurung. Nomor urut. Kata asli di dalam kurung, seolah dia sudah memperkirakan aku akan membawa fotokopian.

Tegar mencondongkan badan dari balik etalase, membaca layar HP-ku tanpa izin.

“Mbak. Ini siapa? Kok kayak SK pengangkatan PNS?”

“Teman.”

“Teman dari mana? Kementerian?”

Aku menyimpan HP-ku di saku celemek. Tegar menatapku dengan mata detektif sinetronnya, lalu memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu sampai besok jam sepuluh.

Tapi sebelum besok, ada yang harus kuselesaikan malam ini.


Item pertama di daftar itu bukan gedung. Item pertama adalah cincin.

Rumah orang tua Leon di Pondok Indah bertingkat dua, berpagar tinggi, dengan air mancur kecil di halaman depan yang selalu menyala walaupun tidak ada yang melihatnya. Aku datang naik ojol jam setengah sembilan malam. Aku tidak menelepon dulu.

Ibu Leon yang membuka pintu. Tante Margaretha. Rambutnya disanggul rapi bahkan di jam segini, kalung mutiara di lehernya, wajahnya tidak terkejut. Dia sudah tahu aku akan datang, cepat atau lambat. Leon pasti sudah bercerita. Versinya sendiri.

“Raina.” Dia tidak menyuruhku masuk. “Kamu yakin?”

“Yakin, Tante.”

“Laki-laki itu khilaf, Raina. Biasa. Papanya Leon juga dulu pernah.” Dia mengatakannya seperti sedang membicarakan cuaca. “Kamu mau buang dua tahun karena satu malam?”

“Bukan satu malam, Tante.”

Leon muncul di belakang ibunya, di tangga. Kaus rumah, celana pendek, wajah yang sudah empat minggu tidak kulihat dari dekat. Dia kelihatan lelah, dan untuk satu detik yang memalukan, aku ingin bertanya apakah dia sudah makan.

“Rain.” Dia turun. “Rain, aku khilaf. Sekali. Cuma sekali.”

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas kain. Mangkuk kecil dari keramik putih, yang empat minggu ini tidak kupindahkan dari rak atas dapur Remah. Di dalamnya, di atas sisa tepung yang tipis, cincin itu. Berlian kecil, potongan bulat, ikatan emas putih. Masih ada tepung yang menempel di sela-sela cakarnya.

Aku tidak membersihkannya. Aku memutuskan itu di ojol. Biar dia lihat di mana cincin itu tinggal selama ini.

“Kamu tahu bedanya khilaf sama milih, Leon?” Aku meletakkan mangkuk itu di meja konsol di samping pintu, di sebelah vas bunga anggrek. “Khilaf itu sekali.”

Dia membuka mulut.

“Kamu milih tiap Kamis.”

Aku berbalik dan berjalan ke gerbang. Di belakangku, air mancur kecil itu terus bergemericik, untuk siapa pun yang tidak sedang melihatnya.


Ibu meneleponku sebelum aku sampai di Cipete. Tante Margaretha bergerak cepat.

“Kamu kembaliin cincinnya?” Suara Ibu begitu tinggi sampai aku harus menjauhkan HP dari telinga. Abang ojol melirikku dari kaca spion. “Raina! Laki-laki wajar khilaf! Enam ratus undangan! Kamu tahu berapa yang udah disebar? Dua ratus! Tante Lusi udah beli kebaya! Bude Ningsih udah pesan tiket dari Medan!”

“Bu—”

“Kamu mau bikin malu keluarga? Apa kata orang? Anaknya Bu Dewi batal nikah dua bulan sebelum hari H?”

Aku tidak menjawab. Aku sudah tahu apa yang Ibu takutkan, dan bukan aku.

Besok paginya Ayah datang ke Remah. Sendirian, naik motor tuanya, membawa sekantong jeruk dari pasar. Dia duduk di bangku kayu di gang belakang, di antara karung tepung, dan mengupas jeruk untukku satu per satu, seperti dulu waktu aku masih SD.

“Ibumu nanti juga ngerti,” katanya.

“Ayah nggak marah?”

Ayah mengupas jeruk berikutnya, pelan-pelan, supaya kulitnya lepas dalam satu lembar utuh. Dia selalu bisa melakukan itu.

“Ayah nggak pernah suka cara dia salaman,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

“Terlalu cepat.” Ayah meletakkan kulit jeruk utuh itu di bangku, bentuknya seperti bunga. “Kayak orang yang udah mikirin tangan berikutnya.”

Jeruknya asam sekali. Aku memakan semuanya, satu per satu, sementara Ayah mengupaskan yang berikutnya tanpa bertanya apa-apa lagi. Dia pulang sebelum Remah buka, dan meninggalkan enam kulit jeruk berbentuk bunga berjajar di bangku kayu itu.


Jam sembilan lima puluh delapan, sebuah Honda Jazz abu-abu berhenti di depan Remah.

“Dua menit lebih awal,” kata Tegar, memandangi jam di dinding. “Mbak. Dia dateng dua menit lebih awal. Itu bukan manusia, Mbak. Itu jadwal kereta.”

Rangga turun dari mobil. Kemeja kerja biru muda, lengan digulung sampai siku, celana bahan, sepatu yang ujungnya kotor oleh debu semen yang tidak hilang walaupun sudah dilap. Dia lebih kurus dari foto di Instagram itu. Tulang pipinya lebih tajam. Dia berdiri di depan etalase dan memandang ke dalam sebentar, membaca papan menu dengan saksama, seolah sedang memeriksa gambar kerja.

Tegar menempel ke etalase dari dalam.

“Mbak,” bisiknya. “Ganteng. Tapi kayak belum tidur sebulan.”

“Tegar.”

“Kayak cowok di drama Korea episode sembilan. Yang abis ditinggal.”

Mbak Sum keluar dari dapur, membawa satu roti isi abon yang masih hangat dalam kertas minyak. Dia berjalan melewati kami, membuka pintu, menyerahkan roti itu ke tangan Rangga tanpa sepatah kata pun, lalu kembali ke dapur.

Rangga memandangi roti di tangannya, lalu memandangku lewat kaca.

Aku hanya mengangkat bahu. Mbak Sum memang begitu kepada orang yang kelihatan butuh roti.


Graha Puspa Kencana punya lobi berlantai marmer imitasi dan lampu gantung kristal yang terlalu besar untuk langit-langitnya. Manajernya bernama Bu Yayuk, perempuan berumur sekitar lima puluh dengan bulu mata palsu yang mengesankan dan setumpuk brosur yang tidak pernah lepas dari tangannya.

“Sayang sekali, Mbak.” Dia menggeleng sambil membuka map kontrak. “Mbak cantik begini, batal. Padahal ballroom kami tanggal delapan Maret itu sudah dipesan dari tahun lalu.”

“Iya, Bu.”

“Tapi kontrak tetap kontrak, ya, Mbak.” Dia menunjuk satu pasal dengan kukunya yang panjang dan berkilau. “Pembatalan kurang dari tiga bulan sebelum acara, DP empat puluh persen hangus.”

Hangus.

Aku tidak sadar tanganku bergerak. Aku baru sadar waktu jariku sudah mencengkeram lengan kemeja Rangga di sampingku, di dekat siku, kain biru muda yang lembut karena sudah sering dicuci.

Dia tidak menarik lengannya. Dia juga tidak menoleh. Dia membiarkan aku berpegangan, seperti membiarkan seseorang berdiri di bawah payungnya tanpa perlu meminta.

Aku melepaskan tanganku. Pipiku panas.

“Bu Yayuk,” kata Rangga dengan suara datar dan sopan. “Boleh kami lihat ballroom-nya sebentar?”


Ballroom itu kosong dan dingin, AC menyala untuk tidak seorang pun. Kursi-kursi bertumpuk di pinggir. Rangga berjalan ke tengah ruangan, mendongak, dan berhenti.

Aku mengikuti arah matanya. Langit-langit. Balok beton besar yang melintang di atas panggung, tersembunyi sebagian di balik tirai dekorasi. Di dekat ujung balok, di tempat balok itu bertemu kolom, ada garis gelap. Miring. Lebih tebal dari yang bisa kulihat dengan jelas dari bawah.

Rangga mengeluarkan alat kecil dari saku kemejanya. Lempengan plastik transparan bergaris-garis. Dia menarik kursi dari tumpukan, naik ke atasnya, dan menempelkan alat itu ke beton.

“Nol koma sembilan,” gumamnya. Dia mengeluarkan buku saku kuning dan menulis sesuatu. “Diagonal. Dekat tumpuan.”

Bu Yayuk menyusul masuk dengan brosurnya. “Ada apa, Mas?”

Rangga turun dari kursi. Dia menjelaskan dengan suara yang tenang dan sabar, seperti guru yang menjelaskan soal pada murid yang belum mengerti tapi akan mengerti kalau diberi waktu. Retak geser. Bukan retak rambut. Lebarnya hampir satu milimeter. Gedungnya aman untuk sekarang, tapi kalau dipasang panggung, sound system, lampu gantung tambahan, dan enam ratus orang yang berdiri bersamaan waktu pengantin masuk—

“Saya bisa tulis laporan resmi, Bu,” katanya. “Atau kita sepakat DP dikembalikan sebagian, dan saya kasih Ibu nomor kontraktor perkuatan struktur yang jujur harganya. Ibu perlu itu sebelum musim nikahan bulan Juni.”

Aku melihatnya bicara. Angka, istilah, persentase, beban. Semua kalimatnya tentang beton dan baja. Tapi caranya mengucapkan semua itu, pelan dan pasti, tidak sekali pun menaikkan suara, membuatku merasa seperti sedang mendengarkan orang membaca puisi yang isinya angka.

Bu Yayuk menatap langit-langit, lalu menatap Rangga, lalu menatap brosurnya sendiri.

Dua puluh menit kemudian, kami keluar dengan surat kesepakatan baru. Enam puluh persen DP dikembalikan.

Di lobi, Bu Yayuk menyelipkan satu brosur ke tanganku.

“Kalau nanti mau pakai lagi, Mbak,” bisiknya, “pengantinnya beda juga boleh. Gedungnya tetap.”


Di parkiran, waktu Rangga memasukkan kunci ke lubang kontak, perutnya berbunyi. Keras. Panjang. Seperti mesin diesel tua yang dinyalakan pagi-pagi.

Dia menatap lurus ke kaca depan.

“Mas udah makan?”

“Udah.”

“Roti dari Mbak Sum?”

Dia diam. Roti isi abon itu masih di dasbor, dalam kertas minyaknya, belum disentuh.

Aku keluar dari mobil tanpa bilang apa-apa, menyeberang ke warung nasi Padang di seberang gedung, dan kembali sepuluh menit kemudian dengan dua bungkus. Nasi, rendang, sayur nangka, sambal hijau. Di kertas pembungkus miliknya, dengan spidol yang selalu ada di tasku, aku menulis:

Jangan bilang udah makan. Perut Mas bunyi di ballroom. — R.

Dia membaca tulisan itu. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Belum. Tapi bergerak.

Kami makan di dalam mobil dengan pintu terbuka, di parkiran gedung pernikahan yang tidak jadi kupakai. Kami tidak membicarakan mereka. Kami membicarakan rendang yang terlalu manis, retak geser dan retak rambut, dan kenapa adonan roti harus diistirahatkan.

“Ragi butuh waktu,” kataku. “Nggak bisa diburu.”

Dia mengangguk pelan, seperti sedang mencatat itu di kepalanya.

“Mas selalu bawa alat itu?” Aku menunjuk saku kemejanya, tempat lempengan plastik bergaris tadi menyembul sedikit.

“Kebiasaan.” Dia mengeluarkannya dan memutarnya di antara jari. “Retak itu gampang diperbaiki kalau ketahuan dari kecil.”

“Kalau ketahuannya telat?”

Tangannya berhenti memutar.

Dia diam cukup lama sampai aku menyesal sudah bertanya. Di luar mobil, seorang tukang parkir meniup peluit untuk sebuah mobil pengantin berpita putih yang baru masuk ke halaman gedung.

“Tetap dicatat,” katanya akhirnya. “Biar tahu mulainya dari mana.”

Dia memasukkan alat itu kembali ke saku. Aku tidak bertanya lagi. Tapi aku tahu, dengan cara orang tahu adonan mana yang terlalu lama diuleni, bahwa dia baru saja tidak sedang membicarakan beton.

Sesudah makan, dia membuka buku saku kuningnya dan menulis di halaman pertama. Aku melihat dari samping. Tulisan tangannya kecil dan tegak, tidak miring sedikit pun.

✓ Cincin tunangan — dikembalikan (10/01).
✓ Gedung — refund 60% DP (11/01).

“Dicatat,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Bukunya kelihatan baru. Sampulnya masih kaku, halaman-halamannya masih putih bersih kecuali halaman pertama. Aku penasaran siapa yang membelikannya. Aku tidak bertanya. Itu termasuk mereka.


Malam itu, setelah Remah tutup, aku membuka daftar milikku sendiri. Kertas HVS yang lusuh dan bernoda kopi, yang kemarin dia lihat di lobi kantornya.

Aku mencoret cincin. Aku mencoret gedung.

Lalu mataku turun ke baris yang kulingkari tiga kali dengan tanda tanya.

Kue.

Aku memegang pulpen di atasnya lama sekali. Tanganku tidak mau bergerak.

Di rak atas dapur, mangkuk keramik putih itu sudah tidak ada. Di tempatnya ada lingkaran kecil tanpa debu, bekas tempat sesuatu pernah lama berdiri.

Aku menutup daftar itu tanpa mencoret apa pun lagi.