← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twenty Five

Kopi Lereng

POV: Citra

“Influencer,” kataku di hari ketiga bekerja di Kopi Lereng. “Kita kirim sampel ke lima akun kopi di Jakarta. Terus paid ads di Instagram, target umur dua puluh lima sampai tiga puluh lima, minat kopi spesialti, lokasi Jabodetabek. Budget awalnya kecil aja, dua juta sebulan, terus kita lihat—”

Bu Lastri menatapku dari balik meja kasir dengan wajah orang yang baru mendengar seseorang mengusulkan membeli pesawat.

“Dua juta,” ulangnya.

“Sebulan, Bu. Itu sebenarnya kecil untuk—”

“Uangnya dari mana?” Bu Lastri melipat tangan. “Dari lele bapakmu?”

Di pintu belakang, Seno tertawa sampai wajan sangrainya miring dan beberapa butir kopi jatuh ke lantai. Bu Lastri melemparkan lap ke arahnya tanpa menoleh. Lapnya tepat mengenai bahu Seno.

Kopi Lereng adalah kedai dua meja di pinggir jalan menuju Kopeng, dengan dapur sangrai di belakang dan pemandangan Merbabu dari jendela samping kalau kabut sedang tidak turun. Penjualan online-nya tiga sampai lima bungkus seminggu, kebanyakan dari saudara-saudara Bu Lastri di Semarang. Akun Instagramnya punya empat ratus dua belas pengikut, dan unggahan terakhirnya foto kucing yang tidur di atas karung goni, delapan bulan lalu.

Tidak ada anggaran. Tidak ada agensi. Tidak ada Pak Bonar dengan spidol tanpa tutup.

Tidak ada tepuk tangan.

“Kamu kan dari Jakarta,” kata Bu Lastri. “Kamu tahu orang Jakarta. Bikin mereka mau beli kopi kita. Tanpa dua juta.”


Minggu kedua, aku naik ke kebun bersama Seno.

Seno dua puluh enam tahun, pendiam, dengan tangan yang selalu hitam oleh jelaga sangrai dan senyum yang lambat muncul tapi lama hilangnya. Dia menyetir motor bebek tuanya di jalan berbatu yang menanjak, dan aku duduk di belakang dengan kamera pinjaman dari Bagas, berpegangan pada besi jok, menahan napas di setiap tikungan.

Kebun Pak Wagiman ada di ketinggian seribu tiga ratus meter, di lereng yang begitu curam sampai pohon-pohon kopinya ditanam berundak seperti tangga. Pak Wagiman tujuh puluh satu tahun. Badannya kecil, kulitnya gelap terbakar, punggungnya sedikit bungkuk. Dia sudah memetik kopi di lereng itu sejak umur dua belas.

Dia tidak banyak bicara. Dia memetik buah kopi yang merah satu per satu, dengan jari-jari yang kasar dan keriting, dan meninggalkan yang masih hijau di tangkainya.

“Kenapa yang hijau nggak dipetik sekalian, Pak?” tanyaku. “Biar cepat?”

Pak Wagiman tidak berhenti memetik.

“Kopi itu jujur, Mbak,” katanya. “Kalau dipetik buru-buru, rasanya ngaku.”

Aku menurunkan kamera.

“Ngaku gimana, Pak?”

“Ya ngaku.” Dia memasukkan segenggam buah merah ke keranjang bambu di pinggangnya. “Diseduh, diminum, langsung ketahuan. Asem yang nggak enak. Pahit yang nggak sopan.” Dia tersenyum, memperlihatkan gigi yang tinggal separuh. “Kopi nggak bisa bohong, Mbak. Nggak kayak orang.”

Siang itu, waktu kami beristirahat di gubuk bambu di ujung kebun, Pak Wagiman menuangkan kopi dari termos tua ke gelas kaleng dan menatapku dengan mata yang menyipit karena matahari.

“Mbak dari Jakarta, kok pulang?”

Aku memegang gelas kaleng itu dengan dua tangan. Kopinya panas, sedikit asam, wangi tanah.

“Kepetik buru-buru, Pak,” kataku.

Pak Wagiman tertawa. Tawanya keras dan serak, membuat dua ekor burung terbang dari pohon kopi di dekat gubuk. Dia tidak bertanya apa maksudku. Dia hanya menepuk lututnya sendiri, masih tertawa, lalu menuangkan kopi lagi ke gelasku yang belum habis.

Sebelum kami pulang, aku memotret tangannya. Hanya tangannya. Jari-jari kasar yang memegang lima butir kopi merah, dengan latar belakang daun hijau dan kabut tipis di kejauhan.


Malam itu aku menulis.

Bukan rencana kampanye. Bukan brief kreatif dengan target pasar dan key message. Aku duduk di meja kecil di kamarku, di bawah tamborin penyok, dengan foto tangan Pak Wagiman di layar laptop, dan aku menulis seperti dulu, sebelum aku tahu cara menulis kalimat yang tidak salah tapi juga tidak menjawab.

Pak Wagiman memetik kopi ini sejak umur dua belas. Sekarang umurnya tujuh puluh satu. Dia cuma memetik yang merah. Yang hijau dia tinggal, karena katanya kopi yang dipetik buru-buru rasanya ngaku.

Kopi ini nggak bakal mengubah hidupmu.

Tapi pagimu, mungkin.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Tidak ada janji. Tidak ada rasakan sensasinya atau teman setia harimu. Tidak ada Teman Lembur.

Hanya yang benar.

Aku mengunggahnya jam sepuluh malam, dengan foto tangan Pak Wagiman, di akun dengan empat ratus dua belas pengikut. Lalu aku mematikan HP dan tidur. Aku tidak menunggu like. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun bekerja, aku tidak memeriksa angka.


Tiga hari kemudian, Seno masuk ke kedai dengan wajah pucat dan HP di tangan.

“Mbak. Pesanannya.”

“Kenapa?”

“Enam puluh.” Dia menatapku seperti orang yang baru melihat hantu. “Enam puluh bungkus, Mbak. Dari Jakarta semua. Ada yang dari Bandung. Ada yang dari Makassar.”

Unggahan itu ditonton empat puluh ribu kali. Seseorang dengan banyak pengikut membagikannya dengan keterangan akhirnya ada brand kopi yang nggak bohong. Kolom komentar dipenuhi orang yang bertanya bagaimana cara memesan, orang yang bercerita tentang kakek mereka yang juga petani, orang yang menulis kopi yang dipetik buru-buru rasanya ngaku, aku butuh kalimat ini di hidupku.

Seno menyangrai sampai jam dua pagi selama seminggu. Bu Lastri menelepon tiga saudaranya di Semarang untuk membantu mengemas. Pak Wagiman, waktu kami datang membawa kabar, hanya mengangguk dan berkata, ya, kopinya memang enak, lalu kembali memetik yang merah.

Di hari ketujuh, Bu Lastri memanggilku ke dapur sangrai. Dia berdiri di depan mesin sangrai yang masih panas, menatapku lama dengan tangan di pinggang.

“Kamu nulis kayak orang yang udah capek bohong,” katanya.

Aku tidak tahu itu pujian atau bukan. Lalu dia menyerahkan secangkir kopi dari sangraian pertama pagi itu, dan aku tahu itu pujian.

Malam itu aku menyadari sesuatu sambil mengemas bungkus kopi di lantai kedai bersama Seno: aku tidak tahu berapa like unggahan itu. Aku tidak memeriksanya sekali pun. Yang kuperiksa setiap pagi hanya satu hal. Apakah kopi Pak Wagiman sudah terjual.


Bu Lastri juga yang membuatku belajar menawar.

Seorang distributor dari Jakarta meneleponnya hari Kamis. Bu Lastri menyalakan pengeras suara HP-nya dan meletakkannya di meja kasir, supaya aku bisa mendengar cara orang tua berdagang.

“Bu, kami mau ambil dua ratus kilo per bulan, tapi harganya kami minta turun dua puluh persen—”

“Mas.” Suara Bu Lastri tiba-tiba lembut. Terlalu lembut. “Kopi saya ini dipetik sama orang umur tujuh puluh satu tahun. Satu-satu. Yang merah aja.”

“Iya, Bu, tapi—”

“Mas mau nawar sama orang tujuh puluh satu tahun?”

Hening di ujung telepon. Lama sekali.

“Harga normal aja, Bu,” kata distributor itu akhirnya, dengan suara orang yang kalah.

Bu Lastri mematikan telepon, menatapku, dan mengedipkan sebelah mata.


Mandor meninggal di awal Juni.

Bapak menemukannya pagi-pagi, mengapung di bawah daun talas, di tempat dia selalu bersembunyi. Bapak tidak bicara sepanjang sarapan. Sore harinya, dia mengubur Mandor di bawah pohon pisang di samping kolam, dengan sendok semen dan nisan kecil dari pecahan genteng.

Kami bertiga berdiri di sana. Bapak, Ibu, dan aku. Juragan dan Pak RT berenang pelan di kolam di belakang kami.

“Mandor,” kata Bapak, dengan suara yang dia pakai untuk sambutan upacara bendera, “tidak pernah kerja. Tapi selalu ada.”

Ibu menunduk. Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa, lalu menggigit lebih keras supaya tidak menangis.

Bagas menelepon malam itu, setelah pemakaman, untuk menyampaikan belasungkawa resmi atas nama dirinya dan seluruh angkatan Teknik Sipil yang pernah dia ceritakan soal Mandor. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba hati-hati, dia menambahkan:

“Mbak, sidangku tanggal sembilan Juli. Mas Rangga bilang mau ikut dengerin. Lewat Zoom. Katanya dia udah izin cuti setengah hari.” Jeda. “Mbak nggak apa-apa kan, kalau dia ikut?”

“Ikut aja, Gas,” kataku. “Dia udah janji.”

Malamnya Bapak mengunggah foto nisan genteng itu di Facebook. Telah berpulang dengan tenang, Mandor (lele, kurang lebih 2 tahun). Semoga diterima di kolam terbaik di sisi-Nya. Enam puluh tiga komentar. Bu Darmi menulis turut berduka cita, Pak Harjo dengan emoji bunga.


Surat untuk Rangga selesai di akhir Mei.

Butuh tujuh minggu, dari koma pertama sampai titik terakhir. Sebelas halaman buku tulis. Aku tidak akan menuliskan semuanya di sini. Sebagian besar isinya hanya untukku, seperti kata Bu Hesti.

Tapi ada satu paragraf yang kubaca berulang-ulang, karena itu paragraf yang paling lama kutulis.

Ngga, kamu selalu tahu jawabanku, jadi kamu berhenti nanya. Aku selalu tahu kamu bakal percaya, jadi aku berhenti jujur. Dua-duanya salah. Tapi salahmu bikin kita jenuh. Salahku bikin kita selesai. Itu nggak sama, dan aku nggak mau pura-pura itu sama supaya aku merasa lebih ringan.

Aku membawanya ke sesi berikutnya dengan Bu Hesti. Dia tidak membacanya. Dia hanya melihat tumpukan sebelas halaman itu di pangkuanku dan mengangguk.

“Udah selesai?”

“Udah.”

“Gimana rasanya?”

Aku memikirkan pertanyaan itu lama. “Kayak... nggak lebih ringan. Tapi lebih jelas.”

Bu Hesti tersenyum sedikit. “Itu bagus.”


Di minggu pertama Juni, Bu Lastri memanggilku ke kedai dengan selembar brosur di tangannya.

Pameran Kopi Nusantara. Jakarta Convention Center. 18–20 Juni.

“Kamu yang berangkat,” katanya. “Sama Seno. Booth kecil aja, berbagi sama dua kedai dari Temanggung. Bawa sampel, bawa foto tangan Pak Wagiman yang gede. Cari distributor yang nggak nawar sama orang tua.”

Jakarta.

Aku memegang brosur itu, dan seluruh tubuhku mendengar satu nama yang tidak tertulis di sana.

Di sesi berikutnya, aku menceritakannya pada Bu Hesti. Pameran. Jakarta. Lima hari. Aku bilang aku ingin minta maaf. Dengan benar kali ini. Dengan wajah, dengan suara, bukan dengan sembilan paragraf yang tidak pernah dibuka.

Bu Hesti mendengarkan sampai habis. Lalu dia bertanya dengan suara yang sangat tenang.

“Kamu mau minta maaf, atau minta pulang?”

Aku membuka mulut untuk menjawab minta maaf. Jawaban yang benar. Jawaban yang dewasa.

Lalu aku menutupnya lagi.

Di bawah sana, dari toko kacamata, lonceng pintu berbunyi. Seseorang masuk. Seseorang keluar.

“...Aku nggak tahu, Bu,” kataku akhirnya.

Bu Hesti mengangguk, seolah itu jawaban yang lebih baik daripada yang dia harapkan.

“Itu jawaban paling jujur yang pernah kamu kasih di ruangan ini,” katanya.


Malam itu, di kamar, aku membuka percakapan dengan Rangga.

Masih di sana semuanya. Udah sampai, dengan dua centang biru. Sembilan paragraf, dengan dua centang abu-abu yang tidak pernah berubah warna selama enam bulan.

Aku mengetik.

Aku di Jakarta minggu depan. Boleh ketemu?

Aku menatap kata boleh lama sekali. Aku menghapusnya. Mengetik Bisa ketemu? Menghapusnya lagi. Mengetik boleh lagi. Itu kata yang benar. Itu kata orang yang meminta, bukan menuntut.

Aku tidak menekan kirim. Aku menyimpannya di kolom ketik, seperti menyimpan sesuatu di saku yang belum siap dikeluarkan.

Empat hari pesan itu tinggal di sana. Setiap malam aku membukanya, membacanya, menutupnya.

Malam keempat, hari Kamis, jam sepuluh lewat, setelah sesi dengan Bu Hesti dan setelah memberi makan Juragan dan Pak RT bersama Bapak, aku duduk di tepi tempat tidur dan menekan tombol kirim.

Satu centang abu-abu.

Lalu dua.