Chapter Thirty Nine
Boleh?
POV: Raina
Pukul empat pagi, suhu dapur dua puluh enam derajat, dan tiga baskom adonan mengembang pelan di bawah kain basah.
Ini jam favoritku. Jam ketika Cipete belum bangun, ketika satu-satunya bunyi adalah dengung kipas oven dan napas ragi yang tidak terdengar tapi bisa kurasakan. Jam ketika adonan memutuskan sendiri seberapa besar ia mau tumbuh, dan tugasku hanya menunggu.
Sabtu, tiga belas Desember.
Setahun lalu, hari Jumat, jam dua siang, seorang kurir mengambil kotak kardus kecil dari meja kasir ini. Malamnya, aku melepas cincin tunangan dan menaruhnya di mangkuk kecil berisi tepung, dan tidak pernah mengambilnya lagi.
Aku tidak mau tanggal ini tinggal sebagai hari itu selamanya.
Jadi aku membuat rencana. Sarapan jam sepuluh, untuk orang-orang yang kusayangi. Dan satu kue yang belum pernah ada di etalase Remah: bolu gula aren dengan lapisan keju tipis di tengah, dipanggang dalam loyang bundar, dengan sayatan berbentuk bintang di permukaannya supaya ia mengembang ke arah yang benar. Di buku resepku, namanya sudah kutulis dengan spidol hitam. Bukan Hari Itu Lagi.
Bulan lalu, waktu aku bertanya apakah dia kosong tanggal tiga belas, Rangga hanya mengangguk dan menulis 13/12 — Remah, jam 10 di buku saku cokelatnya, di bawah jadwal inspeksi gedung. Dia tidak berhenti menulis. Dia tidak bertanya kenapa.
Dia tidak sadar tanggal berapa itu. Aku tahu, dan aku tidak memberitahunya. Itu hadiah kecil yang kusimpan sendiri: laki-laki yang dulu menghafal setiap tanggal sekarang lupa tanggal yang paling menyakitinya.
Dia datang jam empat kurang dua puluh, rambut masih basah, jaket dikancing sampai leher.
“Kamu janjinya jam sepuluh,” kataku.
“Aku bangun jam tiga. Nggak bisa tidur lagi.” Dia sudah mengikat celemek paling besar di Remah, yang tetap terlalu pendek untuknya. “Aku bantu.”
Membantu, bagi Rangga, berarti membentuk roti sobek. Setelah sembilan bulan di dapur ini, tangannya sudah tahu banyak hal. Tapi bentuknya tetap sama sejak bulan Februari. Setiap bulatan adonan yang dia buat keluar sebagai kubus kecil yang rapi, bersudut, dan identik, seperti contoh uji beton yang siap dimasukkan ke mesin tekan.
Mbak Sum datang jam empat tepat, menatap deretan kubus di atas loyang, dan memejamkan mata sebentar.
“Mas Rangga,” katanya. “Itu roti. Bukan batako.”
“Bulat itu bentuk yang paling susah, Mbak.”
“Buat Mas.”
Aku tertawa di depan oven, dengan pipi yang hangat karena api dan karena hal lain.
“Kuenya buat apa?” tanya Rangga, mengintip buku resepku yang terbuka di samping timbangan. Aku menutupnya sebelum dia sempat membaca judulnya.
“Rahasia.”
Dia mengangkat alis. Di dapur ini ada larangan yang dia buat sendiri bulan Agustus, dan dia tahu aku tahu.
“Rahasia itu bukan bohong, Mas,” kataku. “Rahasia itu bohong yang ada tanggal kedaluwarsanya. Yang ini kedaluwarsa jam sepuluh.”
Dia menimbang kalimat itu seperti menimbang tepung, lalu mengangguk, dan kembali membuat kubus.
Jam setengah enam, Tegar datang lebih awal dari biasanya.
Dia mengumumkan bahwa hari ini dia akan siaran langsung di TikTok, LIVE: Subuh di Dapur Remah 🍞, untuk konten spesial. Dia menyandarkan HP-nya di rak roti sobek, mengarahkan kameranya ke meja kerja, lalu pergi ke gudang untuk mengambil karung gula. Di layar, angka penonton naik pelan-pelan. Tiga. Tujuh. Dua belas.
Rangga sedang menguleni adonan untuk roti tawar di sebelahku. Lengan kemeja digulung sampai siku, tepung sampai pergelangan, sejumput tepung di alis kanan yang tidak dia sadari. Dia menguleni dengan serius, dengan dahi berkerut, seperti sedang menghitung beban gempa. Lalu, tiba-tiba, tangannya berhenti.
Dia tidak menatapku. Dia menatap adonan di bawah telapak tangannya.
“Na.”
“Hm?”
“Aku nggak punya rencana.”
Aku menoleh. Dia masih menatap adonan.
“Aku nggak bawa cincin. Aku nggak pesen tempat. Aku nggak nulis apa-apa. Aku nggak latihan.” Dia mengangkat kepala. Matanya merah di pinggir, dan tangannya masih tenggelam di adonan. “Aku cuma punya pertanyaan.”
Dapur itu sunyi. Kipas oven berdengung. Di belakang kami, Mbak Sum berhenti mengocok.
“Boleh?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku tertawa. Lalu aku menangis. Lalu dua-duanya bersamaan, dengan tangan bertepung yang tidak tahu harus diletakkan di mana, di depan seorang insinyur yang tangannya terkubur sampai pergelangan di adonan roti tawar.
“Mas,” kataku di sela tawa. “Kamu sadar ini tanggal berapa?”
Dia mengerutkan kening. Dia benar-benar tidak tahu. Aku melihatnya mencari di kepalanya, dan tidak menemukan apa-apa.
“Tiga belas Desember,” kataku.
Wajahnya berubah. Pelan-pelan, seperti beton yang mengeras. Dari luar dulu, baru ke dalam.
“Aku... nggak sadar,” katanya. “Na, aku nggak sadar. Aku bisa ganti hari—”
“Jangan.” Aku memegang pergelangan tangannya yang bertepung. “Itu buktinya. Kalau kamu sadar, kamu bakal bikin rencana supaya nggak ngelamar di tanggal yang salah.”
Dia menatapku.
“Boleh,” kataku. “Dari kemarin-kemarin boleh.”
Dia menarik tangannya dari adonan dan memelukku. Tepung pindah dari tangannya ke punggung kardiganku, dari pipiku ke kemejanya, dan tidak ada satu pun dari kami yang peduli.
Dari gudang, terdengar bunyi karung gula jatuh.
“KOK DI LIVE?!” Tegar berdiri di ambang pintu gudang dengan mata terbelalak, menatap HP-nya di rak roti sobek. “MBAK! MAS! TADI ITU DI LIVE! DUA BELAS ORANG NONTON!”
Komentar mengalir di layar. KAK ITU BARUSAN NGELAMAR?? ini prank kan GUE NANGIS DI ANGKOT. Dan satu dari akun bernama cucu_oma_lien: OMA BILANG: MAKAN SELAGI HANGAT. NIKAH JUGA GITU.
Mbak Sum mematikan mixer. Dia menatap kami, dan wajahnya melakukan hal itu lagi. Alis naik sedikit. Sudut bibir turun sedikit.
Sudah kubilang.
Lalu dia berkata, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan adonan atau gas. “Alhamdulillah.”
Aku melepaskan diri dari pelukan Rangga, berjalan ke papan gabus di dekat meja kasir, dan menunjuk kantong kertas yang ditempel di sana sejak Februari. Perjanjian Bukan Pelarian. Poin empat, spidol merah.
Kalau jatuh cinta, lapor Tegar.
“Gar,” kataku. “Lapor.”
Tegar menatap kantong kertas itu. Lalu dia menutup wajah dengan dua tangan dan menangis dengan suara yang membuat jumlah penonton siaran langsungnya naik jadi tiga puluh satu.
“Diterima,” katanya di balik telapak tangan. “Laporan diterima.”
Satu jam sesudahnya adalah jam paling tenang dalam hidupku.
Tegar mematikan siaran langsungnya dan pergi ke warung kelontong untuk membeli tisu, “dua pak, buat semua orang.” Mbak Sum mengambil alih adonan roti tawar yang ditinggalkan Rangga di tengah uleni, menguleninya sampai licin, dan meletakkannya di loyang terpisah. “Ini adonan lamaran,” katanya. “Nanti rotinya saya kasih nama.”
Aku dan Rangga memasukkan kubus-kubus roti sobek ke oven. Dua puluh delapan menit. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Desember, aku mengubah angka di timer itu.
Dua puluh tujuh.
Sejak September aku tahu aku sudah sanggup mengubahnya. Aku hanya menunggu pagi yang tepat. Ragi juga begitu. Biasanya ia sudah siap jauh sebelum kita berani membuka kainnya.
Rangga melihatnya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengeluarkan buku saku cokelat dari saku kemejanya, membukanya di halaman Daftar Mau, dan menyodorkannya padaku bersama pensil.
Di bawah nomor tujuh, aku menulis.
8. Dilamar tanpa rencana. ✓ (13/12, 05.41, di depan adonan roti tawar)
Satu angka lagi yang mulai sekarang punya kami.
Jam tujuh pagi, ada yang menggedor pintu depan.
Ibu Rangga, Laras, dan Ojan berdiri di depan etalase yang lampunya belum menyala. Ojan membawa speaker Bluetooth sebesar galon. Laras membawa tas karton berisi bunga. Dan di tangan Ibu, ada kotak beludru kecil yang dipegang dengan dua tangan, seperti orang membawa sesuatu yang suci.
“Koh Hendra selesai semalem,” kata Laras terengah begitu pintu terbuka. “Aku jemput jam sembilan malem. Ibu nggak bisa tidur, jadi kami berangkat jam enam, padahal janjinya jam sepuluh, dan Ibu—”
Dia berhenti. Dia menatap wajahku yang basah. Wajah Rangga yang bertepung. Tegar yang masih sesenggukan di belakang meja kasir dengan HP di tangan.
“Kok... semuanya nangis?”
Tegar mengangkat HP-nya dan memutar ulang siaran itu.
Laras menontonnya. Matanya membulat. “Mas,” katanya pelan. Lalu tidak pelan. “MAS, KAMU NGELAMAR DULUAN?! IBU UDAH BAWA CINCINNYA JAM SEGINI!”
“Operasi Cincin, Ngga!” Ojan mengangkat speaker-nya dengan wajah orang yang dikhianati negara. “Jam sepuluh! Pas kue dipotong! Kita udah latihan tiga kali! Gue udah nyiapin backsound!”
“Operasi apa?” tanya Rangga.
Ojan menekan tombol play dengan putus asa, seolah backsound yang terlambat masih bisa menyelamatkan sesuatu. Yang keluar dari speaker sebesar galon itu ternyata lagu dangdut tentang ditinggal kawin. Ojan salah memilih playlist. Dia menekan tombolnya lagi, dan lagi, dan lagunya tidak mau berhenti, sampai Mbak Sum mencabut speaker itu dari tangannya dan memasukkannya ke kotak roti.
Ibu tidak ikut bicara. Dia berjalan melewati mereka berdua, masuk ke dapur, dan meletakkan kotak beludru itu di tangan anaknya yang masih bertepung.
“Bapakmu,” katanya pelan, lalu tidak bisa melanjutkan.
Rangga membuka kotak itu.
Cincinnya lebih tipis dari yang kubayangkan, emasnya kuning hangat, dengan sayatan halus miring di permukaannya. Persis seperti gambar di kantong kertas. Persis seperti roti yang siap masuk oven.
Dia tidak berlutut. Lantainya penuh tepung, dan kami sudah sama tinggi sejak tadi. Dia hanya mengambil tangan kiriku, yang juga bertepung, dan memasangkan cincin itu di jari manisku. Pas. Bulan lalu Koh Hendra mengukur jariku sendiri dengan cincin ukur dari kuningan, sambil mengomel bahwa anak muda sekarang mengukur jari pacarnya pakai sedotan waktu pacarnya tidur.
Mangkuk kecil. Tepung. Cincin.
Setahun lalu, di dapur ini, aku melepas sebuah cincin ke dalam tepung. Pagi ini, sebuah cincin dipasang di jari yang penuh tepung.
Aku memutarnya pelan dan membaca ukiran kecil di bagian dalamnya.
Dicatat.
Jam delapan, kami melakukan panggilan video ke Rawamangun.
Ibu menangis begitu melihat cincin itu di layar. Lalu, dengan refleks yang tidak bisa dia hentikan, dia bertanya, “Undangannya berapa?”
“Bu.”
Ibu diam. Aku melihat perang kecil di wajahnya, antara enam ratus undangan dan anaknya. Lalu dia menarik napas.
“Seratus? Lima puluh?” Suaranya bergetar. “Terserah kalian. Ibu ikut.”
Di belakangnya, Ayah mendekatkan wajah ke kamera sampai yang kelihatan hanya kacamata dan separuh kumisnya. Dia menatap Rangga lama sekali.
“Ayah suka,” katanya, “cara dia salaman.”
Lalu dia menjauh dari kamera dan mulai mengupas jeruk.
Roti tawar dari adonan lamaran keluar lebih dulu, jam sembilan. Mbak Sum menempelkan kertas kecil di raknya, dengan tulisan tangan yang besar dan miring: ROTI AKHIRNYA. Habis dalam dua puluh menit, sebagian besar dibeli Ojan.
Jam sepuluh, Bukan Hari Itu Lagi keluar dari oven.
Sayatan bintangnya terbuka sempurna, cokelat keemasan di tepinya. Ruang depan Remah penuh. Ibu Rangga duduk di samping Oma Lien, yang datang bersama cucunya dan langsung menangis begitu melihat cincin di tanganku. Laras dan Ojan bertengkar soal siapa yang seharusnya memutar backsound. Tegar mengunggah ulang siaran langsungnya dengan judul maaf ini ga sengaja tapi ga nyesel. Mbak Sum memotong kue dengan pisau bergerigi tanpa bertanya pada siapa pun, karena kue ini tidak perlu ditunggu.
Rangga duduk di sampingku di meja kecil di pojok dapur, dengan tepung yang masih tersisa di alis kanan. Dia memandangi cincin di jariku seperti memandangi struktur yang baru selesai dibangun dan ternyata berdiri.
“Kue pernikahannya,” katanya pelan. “Nanti siapa yang bikin?”
“Aku.”
“Yang pandan–gula aren?”
Aku menatap sayatan bintang di atas kue di depanku. Aku memikirkan kue tiga tingkat hijau pucat yang dimakan di lantai, tanpa dipotong, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahanku.
“Yang baru,” kataku. “Yang belum pernah ada.”
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh? reading
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai