← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twenty Eight

Mundur Satu Langkah

POV: Raina

Dia memberitahuku hari Jumat, sehari sebelumnya.

Malam itu dia datang ke Remah jam tujuh, duduk di bangku gang belakang dengan dua gelas teh di antara kami, dan bicara sebelum aku sempat bertanya apa-apa.

“Aku mau ketemu Citra besok,” katanya. “Sore. Di taman di Tebet.”

Aku memegang gelas tehku dengan dua tangan.

“Dia di Jakarta seminggu. Pameran kopi. Dia minta ketemu.” Dia menatapku, bukan menatap gelasnya, bukan menatap karung tepung. “Aku nggak mau kamu tahu dari orang lain.”

Aku menatapnya lama. Laki-laki ini dulu membiarkan seluruh keluarganya percaya bahwa dia yang salah. Laki-laki ini dulu tidak bertanya selama tiga minggu pada pacarnya yang menangis empat kali dalam seminggu. Sekarang dia duduk di sini dan memberitahuku sesuatu yang tidak perlu dia beritahukan. Sesuatu yang bisa saja dia sembunyikan, dan aku tidak akan pernah tahu.

“Pergi aja, Mas,” kataku. “Itu perlu.”

Dia mengangguk. Lalu kami minum teh dan membicarakan harga mentega yang naik, dan aku berhasil tidak memikirkannya selama hampir dua puluh menit.

Sabtu sore, jam empat lewat sepuluh, aku mengiriminya pesan. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena hari itu panas sekali, tiga puluh empat derajat, dan dia tidak pernah ingat minum kalau sedang memikirkan sesuatu.

Udah sampai taman? Jangan lupa minum. Panas.

Dia tidak membalas.


Dia datang ke Remah jam setengah delapan malam.

Aku sedang menutup etalase. Tegar sudah pulang. Mbak Sum sedang mencuci loyang terakhir di dapur. Jazz abu-abu itu berhenti di depan toko, dan aku tahu dari cara pintu mobilnya ditutup, terlalu pelan, seperti orang yang tidak ingin membangunkan siapa pun, bahwa ada yang tidak beres.

Kami duduk di bangku gang belakang. Tidak ada teh malam itu. Aku lupa membuatnya.

Dia menceritakan semuanya.

Dia tidak melewatkan apa pun. Itu yang paling kuingat dari malam itu. Dia tidak menyaring, tidak memilih bagian mana yang aman untuk kudengar. Dia menceritakan permintaan maaf Citra, kalimat demi kalimat, sejauh yang dia ingat. Selokan. Lima draf di HP yang tidak pernah dikirim. Psikolog di Salatiga. Kedai kopi di lereng gunung.

Lalu dia berhenti.

“Terus dia bilang,” katanya pelan, “kalau suatu hari kamu mau pulang, aku masih di sini.”

Dapur di belakang kami sunyi. Air keran di wastafel berhenti mengalir. Mbak Sum pasti mendengar.

“Mas jawab apa?” tanyaku.

Dia diam.

“Aku nggak jawab,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

Dia menatap tangannya sendiri. Buku-buku jarinya yang dulu merah karena meninju tiga baskom adonan.

“Aku nggak tahu harus jawab apa,” katanya. “Waktu itu.”

Aku mengangguk.

Aku mengangguk dengan tenang, seperti orang yang baru saja mendengar harga tepung naik lagi. Di dalam dadaku, sesuatu yang sudah mengembang sejak bulan Maret, diam-diam, di tempat yang hangat dan gelap, mulai mengempis pelan-pelan.

Laki-laki yang tahu jawabannya akan menjawab. Itu yang kupelajari dari dua tahun bersama orang yang selalu punya kalimat yang tepat di saat yang tepat. Kalau seseorang diam, itu karena jawabannya belum selesai dihitung. Dan sesuatu yang belum selesai dihitung bisa jadi apa saja.

Delapan tahun. Dari kantin FEB sampai restoran di lantai tiga puluh. Cincin dari emas Bapak di laci. Buku saku kuning yang dia pakai sekarang, yang ternyata hadiah dari perempuan itu. Aku tahu, karena tadi dia menceritakannya juga.

Enam bulan. Toko roti di Cipete, tiga baskom adonan, kue yang tidak dipotong, satu ciuman di atap dengan helm yang beradu.

Aku bukan tukang hitung. Tapi untuk yang ini, aku bisa menghitungnya sendiri.

“Mas,” kataku. Suaraku keluar sangat tenang. Terlalu tenang. “Delapan tahun itu bukan saingan.”

Dia mengangkat kepala.

“Itu rumah.”

“Raina—”

“Kalau Mas mau pulang,” kataku, dan aku tersenyum, dengan senyum yang sudah kulatih dua puluh tujuh tahun di depan Ibu, di depan pelanggan, di depan Tante Margaretha, “pulang aja. Aku nggak apa-apa kok.”

Kalimat itu keluar dengan lancar. Utuh. Tidak patah di tengah seperti di lantai dapur bulan Maret. Seperti kunci lama yang masih pas di lubangnya.

Aku sudah lupa betapa mudahnya mengucapkannya.

“Aku butuh waktu buat—” dia mulai.

“Ambil waktunya, Mas.” Aku berdiri dan merapikan celemek, walaupun celemekku sudah rapi. “Selama yang Mas butuh.”

Lalu aku masuk ke dapur, melewati Mbak Sum yang berdiri diam di depan wastafel dengan loyang di tangan, naik ke lantai dua, dan menutup pintu kamar.

Aku duduk di lantai kamar, punggung bersandar ke pintu. Dari dompet di saku celemek, aku mengeluarkan selembar kertas kuning yang terlipat dua kali, yang sudah sebulan tinggal di belakang KTP-ku.

Daftar Hal yang Bikin Raina Ketawa.

Aku membaca keempat belas barisnya dalam gelap, dengan cahaya HP. Penggaris. Kresek. Pipi yang salah. Lalu baris terakhir, dengan tulisan tangan yang kecil dan tegak.

14. Belum ketemu. Masih dicari.

Mungkin dia akan menemukannya di tempat lain, pikirku. Di lereng gunung yang ada kebun kopinya. Di kantin kampus yang ada tawa paling kencangnya.

Aku melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke dompet. Aku tidak sanggup membuangnya. Aku juga tidak sanggup membacanya lagi.

Aku mendengar Jazz abu-abu itu menyala di depan toko dua puluh menit kemudian. Dua puluh menit. Dia duduk di bangku itu sendirian selama dua puluh menit sebelum pulang.

Aku tidak turun.


Minggu pagi, pesannya masuk jam tujuh.

Selamat pagi, Raina. Hari ini aku ke proyek sampai sore. Nanti malam boleh aku mampir?

Ada kata boleh di sana. Aku menatapnya lama.

Aku membalas dengan jari yang terasa asing di layar HP-ku sendiri.

Iya, Mas Rangga. Silakan.

Mas Rangga. Silakan. Aku tidak memutuskan menulisnya begitu. Jariku yang memutuskan, seperti dulu jariku yang memutuskan menulis R. di bawah tiga kalimat sopan. Seperti tubuhku tahu cara melindungi diri sebelum kepalaku sempat memikirkannya.

Dia tidak membalas selama sepuluh menit. Lalu:

Oke.

Satu kata. Dengan titik.


Dia datang jam tujuh malam. Aku sedang menghitung stok tepung di meja kerja, dan aku terus menghitung waktu dia masuk lewat pintu dapur.

“Saya lagi banyak pesanan, Mas Rangga,” kataku tanpa mengangkat kepala. “Syukuran kantor kelurahan. Besok pagi.”

Dia berdiri di ambang pintu. Aku bisa merasakan matanya di wajahku.

“Kamu manggil aku Mas Rangga lagi,” katanya pelan.

Aku menulis angka di buku stok. Dua puluh tiga karung. Aku menulisnya 32.

“Kan memang namanya Mas Rangga.”

Dia diam lama. Lalu dia melangkah masuk, mengambil karung tepung paling atas dari tumpukan, dan memindahkannya ke rak tanpa disuruh. Lalu karung berikutnya. Lalu berikutnya. Dua puluh tiga karung, satu per satu, dengan susunan yang rapi dan siku, seperti bata yang dipasang dengan benang.

Dia tidak bertanya apa-apa lagi. Dia pulang jam sembilan.


Senin jam tujuh, Oma Lien datang seperti biasa. Aku memotongkan satu lembar roti tawar, membungkusnya dengan kertas minyak, memasukkannya ke kantong kertas kecil, dan menyerahkannya.

Oma Lien tidak langsung mengambilnya. Dia membalik kantong itu, memeriksa kedua sisinya, lalu menatapku dari balik kacamata yang menggantung di leher.

“Kamu kok nggak nulis apa-apa hari ini, Nak?”

Aku menatap kantong itu. Kosong. Tidak ada satu kata pun. Dua tahun, setiap pagi, aku menulis sesuatu di kantong Oma Lien. Pagi ini tanganku lupa.

“Maaf, Oma.” Aku meraih spidol.

“Nggak usah.” Oma Lien mengambil kantong kosong itu dan memasukkannya ke tas belanja dengan hati-hati, seperti biasa. “Hari ini Oma yang doain kamu aja.”

“Mbak.”

Satu jam kemudian, Tegar berdiri di depan rak etalase paling ujung, di depan rak paling bawah, di belakang deretan roti sobek. Tempat yang selama dua bulan terakhir tidak pernah kosong.

“Roti R-nya nggak ada hari ini.”

“Stoknya habis,” kataku dari balik meja kasir.

Tegar menoleh ke rak roti isi keju di etalase tengah. Dua puluh roti isi keju, baru keluar dari oven, berjajar rapi, masih mengepul.

Dia menatapku. Lalu menatap rak itu lagi. Lalu dia mengeluarkan HP dan mengetik sesuatu dengan cepat, dengan wajah serius yang tidak cocok untuk anak sembilan belas tahun.

Aku melihat layarnya dari samping. Grup WhatsApp. Namanya sudah berganti, dari KUKB (Resmi) menjadi sesuatu yang lain, dengan huruf kapital semua dan dua emoji sirene.

🚨 DARURAT REMAH 🚨

Tegar: DARURAT. Roti R berhenti. Ulangi, roti R berhenti.

Laras: Sejak kapan??

Tegar: Hari ini. Kemarin Mbak Raina manggil Mas Rangga pake “Mas Rangga” lagi. Aku denger dari Mbak Sum.

Ojan: Kode merah.

Ojan: KODE MERAH.

Laras: Ini pasti gara2 ketemu mantan hari Sabtu. Aku udah bilang Mas Rangga nggak usah ketemu.

Ojan: Gue usul kita kunciin mereka berdua di gudang tepung sampe baikan.

Laras: Itu tindak pidana, Jan.

Ojan: Tindak pidana demi cinta.

Tegar: Gudang tepung kita nggak ada kuncinya. Rusak dari tahun lalu.

“Tegar,” kataku.

Dia mengunci layar HP-nya secepat kilat dan memasukkannya ke saku. “Iya, Mbak?”

“Gas habis.”

“Gasnya baru kemarin, Mbak.”

Aku menatapnya. Dia menatapku. Lalu dia pergi membeli gas yang tidak habis, tanpa bersiul kali ini.


Sore harinya, waktu aku sedang membentuk roti tawar untuk besok, Mbak Sum berdiri di sebelahku di meja kerja. Dia mengambil gumpalan adonan dari baskom, menguleninya dua kali, lalu meletakkannya di depanku.

Adonan itu kempis. Permukaannya keriput, teksturnya padat dan berat di tangan.

“Ini dari baskom pagi tadi, Mbak,” kata Mbak Sum. “Yang lupa dibentuk.”

Aku menatapnya. Aku memang lupa. Satu baskom adonan roti tawar, yang seharusnya dibentuk jam sepuluh pagi, kubiarkan di rak proofing sampai sore.

“Adonan yang udah ngembang,” kata Mbak Sum, tanpa menatapku, tangannya terus bekerja, “terus dibiarin kelamaan, nggak dibentuk-bentuk, nggak dipanggang-panggang...” Dia meremas adonan kempis itu pelan, dan udara keluar dengan bunyi kecil yang sedih. “Kempes sendiri, Mbak.”

Dia tidak bilang apa-apa lagi. Dia membuang adonan itu ke tempat sampah dan kembali ke ovennya.

Aku berdiri di depan meja kerja dengan tangan bertepung, lama sekali.


Malam itu, jam sebelas lewat seperempat, aku duduk di tempat tidur di lantai dua dengan HP di tangan.

Di bawah, oven sudah dingin. Remah gelap kecuali lampu kecil di atas rak proofing.

Aku membuka percakapan dengan Rangga. Pesan terakhirnya masih di sana. Oke. Dengan titik.

Aku tahu dia sudah pulang. Dia pulang jam sembilan, seperti kemarin. Dari Cipete ke Tebet, dua puluh lima menit kalau tidak macet. Dia pasti sudah sampai sejak dua jam lalu. Dia pasti sedang membaca laporan uji tekan di tempat tidur, atau duduk di balkon menatap selokan, atau berbaring menatap kanvas yang menghadap tembok.

Aku mengetik.

Udah sampai?

Dua kata. Kata-kata yang di bulan Februari membuatnya butuh delapan menit untuk membalas. Kata-kata yang belakangan, dari Laras, aku tahu artinya: delapan tahun dia yang selalu bertanya, dan tidak pernah sekali pun ada yang bertanya balik padanya, sampai aku.

Ibu jariku melayang di atas tombol kirim.

Kalau aku mengirimnya, aku akan jadi orang yang bertanya lagi. Orang yang peduli dia sampai atau tidak. Orang yang menunggu jawabannya.

Dan aku sudah bilang padanya: pulang aja.

Aku menghapusnya. Huruf demi huruf. Seperti yang dia ceritakan, di gang belakang, bulan April. Dua belas ketukan.

Lalu aku meletakkan HP di bawah bantal dan menatap langit-langit sampai pagi, menunggu sesuatu yang aku sendiri sudah menyuruhnya pergi.