← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter One

Delapan Tahun

POV: Rangga

Rekaman itu durasinya empat menit dua belas detik.

Aku tahu angkanya karena aku insinyur, dan insinyur selalu melihat angka sebelum melihat apa pun. Empat menit dua belas detik. Dua ratus lima puluh dua detik.

Delapan tahun, dan yang menghabisinya cuma dua ratus lima puluh dua detik.

Tapi itu nanti. Dua bulan sebelum aku mengenal angka itu, aku masih sibuk menghitung hal-hal lain. Beban kolom. Lendutan balok. Sisa tabungan. Berapa minggu lagi sampai pengumuman promosi di kantor Citra.

Aku menghitung semuanya. Kecuali yang paling penting.


“Ini retak, Ngga. Lihat. Retak.”

Ojan menempelkan telunjuknya ke kolom C-7 lantai empat, seperti detektif yang baru menemukan sidik jari di TKP. Helm proyeknya miring. Rompi oranyenya kebesaran dua nomor karena dia mengambil punya mandor.

Aku mendekat. Garisnya tipis sekali, lebih tipis dari helai rambut, merambat miring dari sambungan balok ke bawah sepanjang kira-kira tiga puluh senti. Aku mengeluarkan alat ukur retak dari saku dan menempelkannya.

“Nol koma dua milimeter,” kataku.

“Bahaya?”

“Retak rambut. Nggak bahaya.” Aku membuka buku saku kuning, menulis lokasi, panjang, lebar, tanggal. “Asal dicatat.”

“Asal dicatat,” ulang Ojan, mengangguk-angguk dengan wajah orang yang baru menerima wahyu. “Ngga. Ngga, dengerin. Ini dalem.”

“Nggak.”

“Ini dalem banget. Retak rambut itu kayak hubungan. Kalau didiemin, lama-lama jadi retak hati.” Dia berhenti, menunggu reaksiku. Aku memotret kolom itu. “Retak hati, Ngga. Gue barusan bikin quotes. Ini bisa gue taruh di bio.”

“Bio aplikasi kencan?”

“Ya iya lah.” Dia mengeluarkan HP dengan semangat yang tidak pernah dia tunjukkan waktu rapat koordinasi. “Eh, gue udah cerita belum? Semalem gue match sama cewek. Cakep. Suka naik gunung. Kita ngobrol tiga jam.”

“Terus?”

“Terus pas gue tanya asalnya dari mana, dia bilang Purworejo. Gue bilang, eh, nenek gue juga Purworejo. Kita tukeran nama nenek.” Ojan menatap kolom C-7 dengan tatapan kosong. “Neneknya sama, Ngga.”

Aku berhenti memotret.

“Sepupu dua kali,” katanya lirih. “Algoritmanya jahat.”

Aku tertawa, dan tawaku memantul di antara kolom-kolom beton gedung parkir yang setengah kosong itu. Gedung ini umurnya dua puluh dua tahun, dan pemiliknya ingin menambah dua lantai di atasnya. Tugas kami memastikan gedung ini sanggup memikul beban yang belum pernah dibayangkan waktu dia dibangun.

Itu pekerjaanku: menghitung apakah sesuatu masih kuat menahan yang akan datang.

“Hari ini anniversary lo, kan?” Ojan memasukkan HP-nya. “Delapan tahun?”

“Iya.”

“Delapan tahun, Ngga. Gue udah nyiapin pidato best man dari tahun keempat. Udah revisi sebelas kali. Ada bagian yang bikin nangis. Ada bagian yang bikin penghulu ketawa.” Dia menyipitkan mata. “Kapan lo ngelamar?”

“Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Kalau waktunya pas.”

“Lo tuh, ya.” Ojan menepuk helmku dua kali. “Ngitung beban gedung bisa sampai tiga desimal. Ngitung waktu ngelamar cewek, delapan tahun belum kelar.”

Aku tidak menjawab. Aku menutup buku saku dan memasukkannya ke saku kemeja, di dekat dada. Ojan tidak perlu tahu bahwa di laci meja kosku, sejak bulan Juli, ada kotak beludru biru tua yang sedang menunggu.

Ojan tidak perlu tahu bahwa waktunya sudah kuhitung.


Penyetan Bu Tum cabang Tebet buka tiga tahun lalu. Yang mengelola Mas Gun, anak sulung Bu Tum, yang dulu waktu kami kuliah masih SMA dan suka membantu ibunya mengulek sambal di warung dekat kampus di Tembalang. Kursinya sama: plastik merah yang kakinya sedikit goyang. Sambalnya sama: sambal bawang yang pedasnya datang terlambat, seperti penyesalan.

Kami memesan yang sama dengan delapan tahun lalu. Ayam penyet, tempe, es teh manis. Citra selalu mengambil tempeku. Aku selalu memesan tempe dua supaya dia bisa mengambil satu tanpa merasa mengambil.

Malam itu dia tidak mengambil tempeku.

Dia sedang membalas email. Ibu jarinya bergerak cepat di layar, alisnya berkerut. Aku sedang membalas grup WhatsApp proyek, mengirim foto kolom C-7 ke konsultan pengawas. Di antara kami, sepiring ayam penyet pelan-pelan mendingin.

Lalu aku mengangkat kepala, dan aku sadar aku tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar melihatnya.

Jadi aku melihatnya.

Rambutnya masih sebahu, dan dia masih menyelipkan sisi kirinya ke balik telinga setiap kali sedang berpikir. Gerakan kecil yang sudah kulihat ribuan kali dan belum pernah membuatku bosan. Kulitnya kuning langsat, sedikit pucat karena terlalu lama di bawah lampu kantor. Ada lesung pipi di sisi kanan wajahnya, hanya kanan, yang muncul kalau dia tertawa sungguh-sungguh. Di kantin FEB delapan tahun lalu, lesung pipi itu yang pertama kulihat, sebelum aku tahu namanya, karena dia sedang tertawa paling kencang di meja paling ramai.

Hari itu aku ke kantin FEB bukan karena dia. Aku ke sana karena Ojan, yang sedang mengejar mahasiswi akuntansi dan butuh teman supaya tidak kelihatan seperti penguntit. Ojan gagal. Aku, yang cuma ikut duduk dan memesan es teh, mendengar tawa dari meja sebelah. Tawa paling kencang yang pernah kudengar dari manusia. Tawa yang membuat ibu kantin menoleh dan dua mahasiswa di dekat kasir tersedak. Seorang perempuan berambut sebahu sedang menertawakan temannya yang ketumpahan kuah soto.

Aku tidak berani menegurnya. Aku menulis di buku saku: Kenalan sama cewek FEB yang ketawanya paling kenceng. Butuh tiga minggu dan dua belas kunjungan ke kantin FEB, dengan Ojan sebagai alasan yang makin lama makin tidak masuk akal, sampai aku berani. Tanggal dua belas Oktober, dia bilang iya di depan gerobak cilok, dengan mulut penuh cilok.

Delapan tahun lalu. Kadang rasanya seperti kemarin. Kadang rasanya seperti cerita orang lain.

Citra masih cantik. Masih secantik malam itu. Yang berubah cuma aku: sudah lama aku tidak melihat.

Dan lesung pipi itu, belakangan ini, jarang muncul.

“Kenapa?” Dia menangkap tatapanku.

“Nggak. Kamu cantik.”

Dia mendengus, tapi sudut bibirnya naik sedikit. “Delapan tahun baru sadar?”

“Delapan tahun sadar terus. Baru sempat bilang.”

“Gombal proyek.” Dia meletakkan HP, akhirnya, dan mengambil tempe dari piringku. Sesuatu di dadaku yang tadinya miring, kembali tegak. “Akhir bulan ini pengumuman, Ngga.”

“Promosi?”

“Brand Manager.” Dia menggigit tempe, mengunyah pelan. “Pak Bonar udah kasih kode. Katanya nama aku udah diajuin. Tinggal tunggu direksi.”

“Pasti kamu.”

“Jangan bilang pasti.” Suaranya tiba-tiba tajam, lalu melunak lagi. “Kalau nggak dapet, aku malu dua kali. Sekali karena nggak dapet, sekali lagi karena kamu udah bilang pasti.”

“Oke. Bukan pasti. Sembilan puluh persen.”

“Ngga.”

“Delapan puluh lima. Aku kasih faktor keamanan.”

Dia tertawa. Pendek, tapi tertawa. Lesung pipi kanannya muncul sebentar, lalu tenggelam lagi.

Di kepalaku, sesuatu bergeser. Rencana yang sudah kususun sejak Juli kurevisi diam-diam. Kalau pengumumannya akhir bulan, aku akan menunggu sampai pengumuman. Biar dia dapat jabatannya dulu. Biar bahagianya datang berurutan, satu lalu satu lagi. Dobel.

Bahagia yang dihitung. Itu yang paling kupahami.

“Delapan tahun, ya, Mas, Mbak?”

Mas Gun berdiri di samping meja membawa sepiring kerupuk yang tidak kami pesan. Celemeknya penuh noda sambal.

“Kok inget, Mas?”

“Ibu saya yang inget. Tiap tahun Ibu nanya, pasangan yang makannya lama karena kebanyakan ketawa itu masih bareng?” Dia meletakkan kerupuk. “Bonus. Biar tahun depan dateng lagi.”

“Makasih, Mas.”

Mas Gun pergi. Aku melihat piring kami. Malam ini makan kami tidak lama. Malam ini kami tidak banyak tertawa. Aku memutuskan itu bukan apa-apa. Kami sudah delapan tahun. Delapan tahun boleh tenang.

Kami bertukar hadiah. Hadiahnya untukku sama seperti setiap tahun: buku saku kuning baru, merek yang sama, ukuran yang sama, dari toko alat tulis yang sama di Blok M.

“Yang kesembilan,” katanya.

Buku pertama ada padanya. Dia memintanya waktu kami jadian, karena di halaman pertama buku itu, di bawah judul Daftar Semester 5, ada satu baris yang sudah kucentang: Kenalan sama cewek FEB yang ketawanya paling kenceng. Katanya itu bukti. Katanya dia mau menyimpan bukti bahwa dia pernah masuk daftar seseorang.

Hadiahku untuknya: tas laptop baru, karena tali tas lamanya sudah dijahit dua kali dan pasti putus sebelum Natal. Aku sudah menghitung beban laptop dan charger-nya. Tas ini kuat sampai lima kilo.

“Makasih,” katanya. Dia membuka resletingnya, menutupnya lagi, menyelipkan rambut ke telinga kiri. Senyumnya berhenti di tengah, seperti kalimat yang tidak selesai.

Aku tidak bertanya kenapa.


Jam sembilan lewat, HP-ku bergetar. Mandor proyek Kuningan. Pengecoran pelat lantai enam dimajukan malam ini, karena truk molen yang dijadwalkan besok sudah dipakai proyek lain.

“Pergi aja,” kata Citra sebelum aku sempat menjelaskan. Dia sudah hafal wajahku kalau ada telepon dari proyek. “Beton nggak bisa nunggu.”

“Aku pesenin ojol.”

“Aku bisa sendiri.”

“Aku pesenin.” Aku sudah membuka aplikasinya. “Kabarin kalau udah sampai.”

Dia mengangguk. Di trotoar depan Penyetan Bu Tum, sebelum naik motor ojol, dia berbalik dan melambai. Tas laptop baru tergantung di bahunya, label harganya masih menempel karena aku lupa mencopotnya.

Pukul 22.10, di tengah deru truk molen dan silau lampu sorot proyek, aku mengirim pesan.

Udah sampai?

Satu menit kemudian:

Udah.

Delapan tahun, pertanyaan yang sama. Delapan tahun, jawaban yang sama. Aku tidak pernah bosan bertanya. Dia, sejauh yang kutahu, tidak pernah bosan menjawab.

Aku memasukkan HP ke saku dan kembali memperhatikan beton yang mengalir dari pipa pompa ke bekisting. Di bawah lampu sorot, sambil menunggu vibrator selesai memadatkan adukan, aku memikirkan kalimat pertama yang akan kuucapkan nanti, waktu aku berlutut.

Citra Anindya.

Lalu apa?

Aku bisa menulis spesifikasi teknis lima puluh halaman tanpa berhenti. Tapi kalimat kedua sebuah lamaran tidak mau keluar. Aku membuka buku saku dan menulis di pojok halaman, kecil: Pidato. Draf 1. Belum ada kalimat kedua.


Aku pulang hampir jam dua pagi. Sepatu penuh lumpur, tangan bau semen. Kosku di Tebet, lantai tiga, kamar paling ujung dengan balkon kecil yang menghadap selokan besar di belakang. Bapak kos bilang itu kamar terbaik karena anginnya kencang. Bapak kos tidak pernah mencium bau selokan itu di musim hujan.

Aku membuka laci meja.

Kotak beludru biru tua itu masih di sana, di samping stapler dan kalkulator yang kupakai sejak kuliah. Aku membukanya. Cincinnya sederhana: emas kuning, permukaan halus, tanpa batu. Di bagian dalamnya ada ukiran kecil yang kupesan khusus. R·C·8.

Emasnya bukan emas biasa. Sebagian besar berasal dari cincin kawin almarhum Bapak, yang Ibu simpan di kotak perhiasan selama sembilan tahun sejak pemakaman. Sisanya dari tabunganku selama tiga tahun. Ibu menyerahkan cincin Bapak padaku bulan Juli lalu, di dapur, dengan tangan gemetar.

“Bapakmu pasti mau,” katanya waktu itu.

Aku menutup kotak itu. Aku membuka buku saku kuning yang kedelapan, yang sudah hampir penuh, ke halaman yang sudah lecek karena terlalu sering kubuka.

Daftar 30.
☑ Lunas cicilan motor Laras.
☑ Tabungan DP rumah (tahap 1).
☐ Lamar (setelah Citra naik).
☐ Nikah.
☐ Rumah.

Aku menatap kotak di baris ketiga. Kotak kecil, kosong, yang sebentar lagi akan kucentang.

Dua minggu lagi pengumuman. Lalu satu atau dua minggu untuk merayakan. Lalu aku akan berlutut. Hitunganku rapi. Faktor keamanannya cukup.

Aku menutup laci.

Masih ada waktu, pikirku.

Insinyur macam apa yang menghitung semua beban, kecuali waktu.