← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Nineteen

Pulang Bukan Kalah

POV: Citra

Bapak menyetir Kijang tuanya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam di jalan tol Semarang–Salatiga.

“Pak,” kata Bagas dari jok depan, untuk ketiga kalinya. “Ini tol, Pak. Minimal enam puluh.”

“Minimal itu saran,” kata Bapak, tenang, dua tangan di setir pada posisi jam sepuluh dan jam dua, persis seperti yang dia ajarkan di kelas Pendidikan Jasmani selama tiga puluh tahun. “Selamat itu kewajiban.”

Sebuah truk pasir menyalip kami dari kanan dan membunyikan klakson panjang. Bapak mengangkat tangan dan melambai ramah ke sopirnya, seolah mereka teman lama.

Aku duduk di jok belakang di antara dua koper, memandangi sawah yang lewat dengan sangat pelan di luar jendela. Enam kardus lain dikirim lewat ekspedisi dan baru akan sampai minggu depan. Kardus yang ditulisi BAJU BAGUS. JANGAN DIBUANG. ada di antaranya.

Bapak dan Bagas menjemputku di Stasiun Tawang jam dua siang. Bapak memelukku di pintu keluar, lama, dengan tepukan dua kali di punggung, seperti dulu waktu aku pulang dari kemah Pramuka. Bagas mengangkat koperku dan bertanya Mas Rangga nggak ikut, Mbak? dengan wajah yang sudah tahu jawabannya. Bapak menyikutnya tanpa menoleh.

Tidak ada yang bertanya apa-apa lagi sepanjang perjalanan. Bapak memutar radio yang menyiarkan campursari. Bagas tertidur dengan mulut terbuka di menit kedua puluh.

Satu jam lima puluh menit untuk perjalanan yang biasanya lima puluh menit.

Aku tidak keberatan. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidak sedang buru-buru pergi dari mana pun.


Rumah di Salatiga masih bau tanah basah dan kayu tua.

Ibu berdiri di teras dengan daster batik dan kerudung instan, tangan dilipat di depan perut. Dia tidak memelukku. Ibu jarang memeluk. Dia mengambil tas kecil dari tanganku, menatap wajahku sebentar, lalu masuk ke dapur tanpa bicara.

Kamarku sudah dibersihkan. Seprainya baru, wangi pelembut pakaian yang sama sejak aku SD. Jendelanya dibuka. Di meja kecil di samping tempat tidur ada semangkuk wedang ronde yang masih mengepul, dengan dua butir ronde berisi kacang dan potongan jahe yang diiris tipis.

Ibu tahu aku akan pulang hari ini. Ibu tidak tahu jam berapa. Aku tidak tahu sudah berapa kali dia memanaskan ulang wedang itu sejak pagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memakannya pelan-pelan, sampai butir ronde terakhir. Jahenya pedas di tenggorokan. Lalu aku berbaring dan tidur sampai magrib, tidur paling lelap yang kudapat sejak bulan November.

Minggu pertama, aku hampir tidak keluar rumah. Aku tidur, makan apa pun yang Ibu letakkan di meja, dan membongkar kardus ekspedisi yang datang hari Senin. Tamborin penyok dari Pak Bonar kugantung di paku bekas kalender di dinding kamar. Mug Kriuk Galau dari Dinda kujadikan tempat pulpen. Kartu kecil yang keriting, Makan selagi, kuselipkan di bingkai cermin, di sudut kiri bawah, di tempat yang akan kulihat setiap pagi waktu menyisir rambut.

Aku tidak tahu kenapa aku ingin melihatnya setiap pagi. Mungkin karena itu satu-satunya tulisan tangan di kamar ini yang bukan milik orang yang mencintaiku.

Hari Kamis, Ibu mengajakku ke pasar.

Di los sayur, Bu Darmi, tetangga dua rumah dari kami yang tahu segala hal tentang semua orang di desa, berhenti memilih cabai dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Lho, Citra! Pulang?”

“Iya, Bu.”

“Sendirian? Mas yang ganteng itu mana? Yang suka bantuin Pak Harjo ngasih makan lele?” Bu Darmi meletakkan cabainya. “Kapan nikah, Nduk? Kemarin anaknya Bu Sri udah lamaran, lho. Padahal baru dua tahun pacaran.”

Ibu menaruh seikat kangkung di keranjangnya dengan gerakan yang sedikit terlalu keras.

“Citra pulang kerja di sini, Bu Darmi,” katanya. “Jakarta panas.”

“Oh, gitu.” Bu Darmi tidak percaya, tapi dia tidak bisa membantah Ibu. Tidak ada yang bisa membantah Ibu di pasar ini. “Ya sudah, salam buat masnya, ya, Nduk.”

Ibu membayar kangkung itu tanpa menawar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lalu menarik tanganku keluar dari los sayur sebelum aku sempat menjawab.

Di perjalanan pulang, di atas motor, Ibu tidak bilang apa-apa. Tapi tangannya, yang memegang pinggangku dari jok belakang, tidak melonggar sampai kami tiba di rumah.


Bapak punya kolam lele di halaman belakang. Tiga meter kali dua, dikelilingi batako yang dicat hijau, dengan papan nama kecil dari triplek yang ditancapkan di sudutnya: KOLAM BAHAGIA.

Dia memelihara lele sejak pensiun. Setiap lele besar diberi nama. Yang paling gemuk, yang selalu muncul pertama setiap diberi pelet, bernama Juragan. Yang suka bersembunyi di bawah daun talas di pojok kolam bernama Mandor, karena kerjanya cuma ngawasin, kata Bapak. Yang paling tua, yang kumisnya panjang dan bergerak lambat, bernama Pak RT.

“Pak RT kemarin nggak mau makan,” kata Bapak di sore ketiga, waktu kami berdua berdiri di tepi kolam dengan sekantong pelet. “Bapak khawatir. Tadi pagi mau lagi. Mungkin cuma lagi galau.”

“Lele bisa galau, Pak?”

“Semua yang hidup bisa galau, Nduk.” Bapak menaburkan pelet. Juragan muncul pertama, seperti biasa, mulutnya membuka-menutup di permukaan air. “Bedanya, lele nggak pura-pura.”

Bapak juga punya Facebook. Aku baru tahu malam pertama, waktu Bagas menunjukkannya sambil menahan tawa. Setiap hari Bapak mengunggah foto kolam dengan keterangan yang dia tulis sendiri.

Lele saja bisa bertahan di air keruh. Masa kamu tidak? #SemangatPagi

Juragan hari ini makan 3 kali. Rezeki tidak akan tertukar.

Pak RT sedang tidak nafsu makan. Mohon doanya.

Unggahan yang terakhir mendapat empat puluh tujuh komentar dari teman-teman sesama pensiunan guru. Semuanya mendoakan Pak RT.

Malam itu, di kamar, aku membuka Instagram untuk pertama kalinya sejak pindah. Akun Rangga tidak berubah. Unggahan terakhirnya masih foto kolom beton dari bulan September, dengan keterangan Retrofit, minggu ke-3. Sembilan like. Salah satunya dariku.

Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri, aku membuka akun Remah.

Unggahan terbarunya sebuah video lima belas detik. Dapur yang sudah kukenal dari seberang jalan. Mesin pengaduk besar. Seorang laki-laki di depannya, lalu ledakan putih, lalu laki-laki itu berdiri di tengah awan tepung, berkedip sekali, dan tertawa. Wajahnya tidak kelihatan, tertutup tepung dari dahi sampai dagu. Keterangannya ditulis dengan huruf kapital semua, jelas oleh anak laki-laki berkacamata itu: INSINYUR VS MIXER. MIXER MENANG. 😭🍞

Dua puluh tiga ribu penonton.

Tidak ada satu pun dari dua puluh tiga ribu orang itu yang tahu siapa dia. Tapi aku tahu. Aku mengenali tawanya di detik kesebelas, sebelum aku sempat melihat apa pun. Tawa yang sedikit sumbang, yang tidak lagi kudengar sejak entah kapan.

Aku memutarnya sekali. Lalu aku menutup aplikasi itu, mematikan HP, dan menaruhnya di laci, di bawah tumpukan kaus.


Aku tidak menceritakan apa-apa. Tidak di hari pertama, tidak di hari kesepuluh.

Ibu tidak bertanya. Bapak tidak bertanya. Bagas kembali ke Semarang hari Senin untuk bimbingan skripsi, setelah memelukku dengan canggung di teras dan berbisik, Mbak, cepet baikan, ya. Sama siapa aja.

Di minggu kedua, sore hari, aku duduk di tepi kolam sendirian, memandangi Mandor yang bersembunyi di bawah daun talas. Bapak datang dan duduk di sampingku di bangku kayu. Dia tidak membawa pelet. Dia hanya duduk.

Lama kami diam. Matahari turun di belakang Merbabu, dan langit di atas kolam berubah oranye, lalu ungu.

“Rangga telepon Bapak,” kata Bapak akhirnya. “Bulan November.”

Aku membeku.

“Minta izin.” Bapak menatap kolam, bukan menatapku. “Katanya dia mau ngelamar kamu bulan Desember. Mau datang resmi ke sini sesudahnya, sama ibunya. Dia nanya Bapak setuju atau nggak.” Bapak tersenyum kecil pada lele-lelenya. “Bapak bilang, Nak Rangga, Bapak sudah setuju dari tahun kedua kamu dateng Lebaran bawa martabak.”

Aku menekan kuku ke telapak tangan.

“Terus bulan Desember, dia telepon lagi.” Senyum Bapak hilang. “Katanya nggak jadi. Katanya dia minta maaf, dia nggak bisa jagain kamu lagi. Katanya dia yang salah.”

Dia yang salah. Bahkan pada Bapak. Bahkan pada orang yang tidak punya alasan apa pun untuk dia lindungi.

“Bapak nggak percaya,” kata Bapak. Pelan, tanpa tuduhan. “Tiga puluh tahun ngajar, Nduk. Bapak hafal suara anak yang ngaku salah buat nutupin temennya.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku menunduk dan menatap air kolam yang gelap, dan Mandor yang tidak keluar dari bawah daun talas.

“Tapi Bapak nggak akan nanya,” lanjut Bapak. “Itu urusanmu. Kalau kamu mau cerita, Bapak dengerin. Kalau nggak, Bapak kasih makan lele.”

Dia berdiri, menepuk-nepuk celananya, lalu meletakkan tangannya yang kasar di atas kepalaku. Sebentar. Seperti dulu waktu aku kecil dan jatuh dari sepeda di depan rumah.

“Pulang itu bukan kalah, Nduk,” katanya. “Kalah itu kalau nggak pulang-pulang.”

Lalu dia berjalan ke dapur, dan dari sana aku mendengarnya bertanya pada Ibu apakah ada sisa tempe goreng.


Setiap malam, aku terbangun di jam yang sama.

Tidak ada alarm. Tidak ada suara. Kamarku sunyi, hanya jangkrik di halaman dan sesekali motor yang lewat di jalan desa. Tapi setiap malam mataku terbuka, dan setiap malam, waktu aku meraih HP di samping bantal, angka di layarnya sama.

23.07.

Malam pertama, kupikir kebetulan. Malam ketiga, kupikir tubuhku sedang mengolok-olokku. Malam ketujuh, aku berhenti berpikir apa pun dan hanya berbaring menatap langit-langit, menunggu jam berganti jadi 23.08, seolah satu menit itu adalah sesuatu yang harus kulewati supaya bisa tidur lagi.

Di malam kesebelas, aku tidak tahan lagi berbaring. Aku turun ke dapur untuk minum.

Lampu dapur menyala. Ibu sedang duduk di kursi plastik di samping kompor, dengan kacamata baca di ujung hidung dan buku resep tulisan tangan di pangkuan. Buku resep Mbah Putri, yang sampulnya sudah lepas dan diikat karet gelang. Dia mengangkat kepala waktu aku masuk.

“Nggak bisa tidur?”

“Kebangun, Bu.”

Ibu menutup bukunya. Dia berdiri, mengisi panci kecil dengan air, menyalakan kompor. Aku duduk di kursi plastik yang tadi dia duduki. Masih hangat.

Kami tidak bicara selama air mendidih. Ibu mengambil daun teh dari kaleng, memasukkannya ke teko tanah liat, menuang air panas. Lalu dia membuka lemari dan mengambil dua cangkir. Cangkir putih bergaris biru, yang sama sejak aku SMP.

Dia meletakkan keduanya berjajar di meja, di depanku. Menuang teh ke cangkir pertama. Lalu tangannya berhenti di atas cangkir kedua.

Aku tahu cangkir itu untuk siapa.

Selama delapan tahun, setiap kali aku pulang ke Salatiga, aku jarang pulang sendirian. Lebaran, Idul Adha, libur akhir tahun, ulang tahun Bapak. Rangga menyetir Jazz abu-abunya dari Jakarta dengan aku di jok sebelahnya, dan setiap malam di rumah ini, Ibu menyiapkan dua cangkir teh di meja dapur. Satu untukku. Satu untuk laki-laki yang selalu bangun paling pagi dan membantu Bapak memberi makan lele.

Ibu menatap cangkir kedua itu sebentar. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia mengangkatnya dan mengembalikannya ke dalam lemari. Pelan. Dia menutup pintu lemari dengan sangat hati-hati, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.

Lalu dia duduk di kursi plastik lain di seberangku dan membuka kembali buku resep Mbah Putri.

“Minum,” katanya. “Nanti dingin.”

Aku memegang cangkir itu dengan dua tangan. Tehnya panas, sepat, sedikit manis. Teh yang sama sejak aku SMP.

Delapan tahun. Dan Ibu masih menyiapkan dua cangkir.

Aku meminumnya sampai habis, dan Ibu membaca resep kue lapis di seberangku, dan tidak ada yang bertanya kenapa air mataku jatuh ke dalam teh.