← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twenty Nine

Yang Kutanggung Sendiri

POV: Rangga

Seminggu setelah taman itu, aku menghitung.

Aku menghitung seperti biasa. Diam-diam, dengan teliti, di kepala dan di buku saku, sampai larut malam di kamar kos dengan kanvas yang menghadap tembok. Aku membuat dua kolom di halaman ketiga buku saku kesembilan. Aku menulis judulnya, lalu mencoretnya, lalu menulisnya lagi.

Kolom kiri: delapan tahun. Kolom kanan: enam bulan.

Aku mengisi kolom kiri sampai penuh. Kantin FEB. Gerobak cilok. Martabak setengah-setengah. Pasar malam di Kemayoran. Cincin dari emas Bapak. Payung yang dia tidak pernah bawa karena aku selalu bawa.

Kolom kanan, aku tidak bisa mengisinya.

Bukan karena kosong. Karena setiap kali aku mencoba menuliskan sesuatu di sana, kata-katanya tidak muat di dalam kotak. Kantong kertas yang menyuruhku makan. Tiga baskom adonan. Bahu yang kaku selama satu jam. Dari tadi. Hal-hal itu tidak bisa dihitung. Tidak bisa diberi bobot. Tidak bisa dibandingkan dengan apa pun di kolom kiri, karena mereka tidak terbuat dari bahan yang sama.

Dan di setiap halaman yang kucoret, ada satu suara yang terus kembali. Suara yang tenang, terlalu tenang, di bangku gang belakang.

Aku nggak apa-apa kok.

Aku sudah delapan tahun mendengar kalimat itu dari mulut orang lain. Aku sudah delapan tahun memercayainya.

Kali ini aku tidak percaya. Tapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa dengan ketidakpercayaan itu.

Seminggu itu, aku tetap datang ke Remah. Senin, Rabu, Jumat. Raina tetap ramah. Dia memanggilku Mas Rangga, menyodorkan teh dalam satu gelas, bukan dua, dan selalu sedang banyak pesanan. Rak paling bawah di etalase paling ujung kosong setiap kali aku melihatnya. Tegar menatapku dari balik meja kasir dengan wajah anak yang melihat orang tuanya bertengkar. Mbak Sum tidak menatapku sama sekali, dan itu lebih menakutkan.


“Rapat kementerian luar kota,” kata Ojan di depan pintu rumah Bekasi, hari Minggu, dua puluh sembilan Juni, jam sebelas siang. Dia membawa sekotak martabak telur dan memakai kemeja batik yang terlalu formal untuk makan siang. “Laras yang undang.”

“Kementerian?” tanya Ibu, bingung.

“Kementerian Perhubungan, Bu,” kata Laras cepat dari belakang Ibu. “Mas Ojan konsultan jalan tol.”

Ojan tidak pernah sekali pun menghitung jalan tol dalam hidupnya. Dia mencium tangan Ibu dengan khidmat dan masuk ke ruang tamu seolah sudah tinggal di sana sejak kecil.

Rumah Bekasi masih sama. Kursi rotan. Jam dinding yang lima menit lebih cepat. Payung hitam di gantungan di bawah foto Bapak.

Di meja makan, Ibu menyajikan rendang dalam wadah plastik bertutup biru. Selotip kertas di tutupnya sudah kuning dan mengeriting di ujung, tapi hurufnya masih terbaca. Aku berhenti menatapnya sejak bulan Januari. Aku tidak sanggup menatapnya lagi.

Ibu menyendokkan rendang ke piringku, lalu ke piring Ojan.

“Bu,” kata Ojan dengan suara penuh hormat, menatap piringnya. “Ini rendang terbaik se-Jabodetabek.”

“Kamu belum makan, Nak.”

“Saya bisa merasakan dari aromanya, Bu. Aroma tidak pernah bohong.”

Laras menendang kaki Ojan di bawah meja. Ibu tersenyum sedikit, untuk pertama kalinya siang itu, lalu duduk dan melipat tangan di atas meja.

Aku tahu gerakan itu. Gerakan sebelum Ibu bicara serius.

“Le,” katanya. “Citra ke sini Sabtu minggu lalu.”

Aku meletakkan sendok.

“Ibu yang undang. Bagas bilang dia di Jakarta.” Ibu menatapku. “Dia masih di sini sampai awal bulan, nginep di tempat temennya. Dia makan rendangnya sampai habis, Le. Sesuap-sesuap, kayak orang yang takut nangis.”

Ojan berhenti mengunyah. Laras meletakkan gelasnya terlalu keras di meja.

“Ibu nggak ngerti kalian salah paham apa,” lanjut Ibu. Suaranya mulai bergetar, tapi dia menahannya. “Ibu nggak mau ikut campur. Ibu udah enam bulan nggak ikut campur. Tapi kamu sendiri yang bilang kamu yang salah. Ya sudah. Kalau kamu yang salah, minta maaf. Benerin. Cincin Bapak masih di laci, kan? Delapan tahun, Le. Masa delapan tahun—”

“Bu, Mas Rangga bohong!”

Laras berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dan menabrak dinding.

Semua orang di meja itu diam.

“Laras,” kataku.

“Nggak, Mas.” Matanya merah. Tangannya mengepal di samping badan, dan dia gemetar seluruhnya, seperti dua puluh empat tahun kemarahan kecil yang dia tahan sedang keluar sekaligus. “Aku udah tahu dari Januari. Enam bulan aku diem. Enam bulan aku liat Ibu masak rendang tiap Minggu, taruh di wadah itu, tiap Minggu, Bu, terus nggak ada yang makan, terus Ibu buang hari Rabu, terus Minggu depannya Ibu masak lagi!” Suaranya pecah. “Aku apoteker, Bu! Aku tiap hari nyimpen rahasia resep orang! Nggak ada yang seberat ini!”

“Ras—”

“Mas nggak salah, Bu.” Laras menatap Ibu. Air matanya jatuh. “Mas Rangga nggak salah apa-apa.”

Ibu menatap Laras. Lalu menatapku.

“Le,” katanya pelan. “Ada apa?”


Aku sudah tujuh bulan tidak mengatakannya pada siapa pun.

Ojan tidak tahu. Pak Rohim tidak tahu. Koh Hendra hanya tahu cincin itu tidak jadi dipakai. Raina tahu, karena dialah yang mengirim paket itu. Laras tahu sebagian, karena dia menebaknya sendiri.

Ibu tidak tahu apa-apa.

Aku melihat Ojan di sampingku. Dia menunduk ke piringnya dan pelan-pelan, tanpa suara, menggeser kursinya ke belakang, seolah ingin memberi ruang. Aku menahan lengannya.

“Tetap di sini, Jan,” kataku.

Dia menatapku, lalu duduk lagi.

Lalu aku menceritakannya.

Pelan-pelan. Kalimat demi kalimat, seperti membaca laporan inspeksi. Tidak ada yang dilebih-lebihkan, tidak ada yang dikurangi. Seorang laki-laki di kantor Citra. Bulan November. Sebuah paket tanpa nama pengirim di lobi kantor. Dashcam. Rekaman. Citra yang datang ke kos malam itu dan membuang semuanya ke selokan di depan mataku.

Aku tidak menceritakan isi rekamannya. Ibu tidak perlu tahu itu.

Tapi Ibu bertanya satu hal.

“Kapan?” Suaranya hampir tidak terdengar. “Kejadiannya. Kapan?”

Aku menatap meja. Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang bulan November dan berhenti di situ. Aku sudah tujuh bulan pandai berbohong untuk melindungi orang.

Tapi Laras benar. Enam bulan Ibu memasak rendang untuk nama yang tidak akan datang.

“Tanggal dua puluh satu November, Bu,” kataku. “Malam Kamis.”

Ibu tidak bergerak.

Aku melihat wajahnya berubah. Pelan-pelan, seperti orang yang sedang menghitung mundur di kepalanya. Tanggal. Hari. Jam.

“Malam...” Suaranya putus. “Malam Ibu nangis di telepon itu?”

Aku mengangguk.

Ibu menutup mulutnya dengan tangan.


Lama sekali tidak ada yang bicara.

Jam dinding yang lima menit lebih cepat berdetak di ruang tamu. Di dapur, panci di atas kompor yang sudah dimatikan berdesis pelan karena masih panas. Ojan menatap piringnya tanpa bergerak, dan aku tahu dia sedang menahan sesuatu, karena rahangnya mengeras seperti waktu dia makan seblak level sepuluh.

Lalu Ibu menurunkan tangannya.

“Kenapa nggak bilang?”

“Aku nggak mau Ibu benci dia, Bu.”

“Kenapa kamu bilang kamu yang salah?”

“Biar Ibu nggak inget delapan tahun itu cuma karena satu malam.”

Ibu menatapku. Matanya merah, basah, tapi tidak ada yang jatuh. Ibu jarang menangis di depan anak-anaknya. Di rumah sakit, di pemakaman Bapak. Dan malam telepon itu, karena bahagia.

“Ibu sayang Citra,” katanya pelan. “Ibu sayang Citra kayak anak sendiri. Delapan tahun, Le. Dia anak Ibu juga.”

“Iya, Bu.”

“Tapi Ibu lebih sayang kamu.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kenapa kamu tanggung sendiri, Le?” Suara Ibu naik, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tidak marah tapi pecah. “Tujuh bulan! Kamu tanggung sendiri tujuh bulan! Kamu pikir Ibu nggak kuat? Kamu pikir Ibu nggak bisa ikut nanggung?”

Lalu Ibu memukul lenganku.

Tidak keras. Pukulan seorang ibu yang sudah lima puluh lima tahun dan tidak pernah memukul siapa pun. Telapak tangannya yang kecil, di lengan atasku, sekali. Dua kali.

Lalu dia memelukku.

Dia berdiri dari kursinya, memutari sudut meja makan, dan memeluk kepalaku ke perutnya seperti waktu aku masih SD dan jatuh dari sepeda. Daster batiknya bau santan dan minyak kayu putih.

“Bapakmu juga gitu,” katanya ke rambutku. Suaranya teredam. “Semua dipikul sendiri. Sakit dipikul sendiri. Utang dipikul sendiri. Capek dipikul sendiri. Sampai jantungnya nggak kuat, Le. Sampai jantungnya nggak kuat.”

Dan aku menangis.

Di meja makan rumah Bekasi, di depan Laras, di depan Ojan, di bawah foto wisuda Bapak dan payung hitam yang tidak pernah dipindahkan. Untuk kedua kalinya dalam sembilan tahun, aku menangis. Kali ini tidak tanpa suara. Tidak ada bayi di kamar sebelah yang perlu dijaga tidurnya. Tidak ada payung yang harus kupegang lurus.

Ibu memegangku sampai aku selesai.


Sesudahnya, Ibu mengambil wadah plastik bertutup biru itu dari tengah meja.

Dia menatap tutupnya lama. Selotip kertas yang sudah menguning. Huruf kapital. Digarisbawahi dua kali.

Lalu, pelan-pelan, dengan ujung kukunya, Ibu mencabut selotip itu. Dari sudut kiri dulu, hati-hati, supaya tidak robek. Setelah lepas, dia tidak membuangnya. Dia melipatnya dua kali, kecil, dan memasukkannya ke saku dasternya.

Lalu dia menyodorkan wadah itu ke seberang meja.

“Nak Fauzan,” katanya. “Ini buat kamu. Bawa pulang.”

Ojan berdiri.

Dia benar-benar berdiri, dari kursinya, dengan kemeja batik yang terlalu formal, dan menerima wadah rendang itu dengan dua tangan, kepala sedikit menunduk, seperti wisudawan yang menerima ijazah dari rektor.

“Terima kasih, Bu,” katanya dengan suara serak. “Saya... saya jaga baik-baik.”

“Itu rendang, Nak. Dimakan.”

“Iya, Bu. Dimakan baik-baik.”

Laras tertawa di tengah tangisnya, tawa basah yang keluar dari hidung. Ibu menggeleng-geleng. Aku mengusap wajah dengan punggung tangan, dan untuk satu detik, di meja makan itu, semuanya terasa ringan.


Di teras, sebelum aku pulang, Ibu menahan tanganku.

“Cincin Bapak,” katanya. “Masih di laci?”

“Masih, Bu.”

Ibu menatap jalan di depan rumah. Ada anak-anak tetangga bermain layangan di ujung gang.

“Itu emas Bapak, Le,” katanya. “Bapakmu kerja dua puluh tahun pakai cincin itu. Ngangkat karung, nyangkul kebun, ngegendong kamu waktu kamu sakit tipes.” Dia meremas tanganku. “Jangan disimpan di laci terus. Emas itu harus dipakai.”

“Iya, Bu.”

“Kasih ke orang yang tahu beratnya.”

Ibu tidak menyebut nama siapa pun. Aku juga tidak.


Malam itu, jam sembilan, sepulang dari Bekasi, aku duduk di tepi tempat tidur kos dengan HP di tangan.

Aku membuka daftar kontak. Aku menggulir ke huruf C.

Cit ❤

Delapan tahun nama itu di sana. Aku menyimpannya di semester lima, di depan gerobak cilok, dengan HP Android murah yang layarnya retak di pojok. Aku memindahkannya ke empat HP berikutnya tanpa pernah mengubahnya.

Aku menekan edit.

Aku menghapus hati merah kecil itu. Lalu Cit. Huruf demi huruf.

Aku mengetik nama lengkapnya. Nama yang dulu kutulis di kartu pidato dengan pulpen biru, yang luntur kena sesuatu yang bukan keringat.

Citra Anindya.

Simpan.

Layar menampilkan nama itu, utuh, tanpa singkatan, tanpa hati. Nama yang benar. Nama orang yang dulu kucintai, dan bukan lagi nama orang yang kutunggu.

Lalu aku membuka percakapan itu. Di bawah sembilan paragraf yang belum pernah kubuka, di bawah pesan bulan ini yang kubalas dengan jadwal dan lokasi, aku mengetik.

Besok. Penyetan Bu Tum. Jam tujuh.

Aku tidak menulis boleh. Aku tidak menulis tanda tanya. Aku tidak bertanya apakah dia bisa.

Untuk yang satu ini, aku sudah tahu jawabanku. Akhirnya.