← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Forty

Kue yang Akhirnya Dipotong

POV: Rangga

Batik Bapak tergantung di pintu lemari kamar lamaku di Bekasi, dan Ibu sedang menyetrikanya.

Jam lima pagi, hari Sabtu, bulan Juni. Kain itu sudah dua kali disetrika satu setengah tahun lalu, untuk hari yang tidak pernah datang. Sesudahnya ia tergantung di kamar kos di Tebet berbulan-bulan, tidak dilipat, tidak dipakai, menunggu sesuatu yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun. Bulan lalu aku membawanya pulang ke Bekasi dan menyerahkannya pada Ibu tanpa berkata apa-apa.

Ibu menyetrika kerahnya pelan-pelan, dengan uap yang mengepul dari kain basah di atasnya, persis seperti dulu dia menyetrika kemeja Bapak setiap Senin pagi.

“Ibu setrika lagi,” katanya tanpa menoleh. “Bapakmu nggak keberatan disetrika dua kali.”

“Tiga kali, Bu.”

“Bapakmu juga nggak bisa ngitung.” Ibu mengangkat batik itu ke cahaya jendela, memeriksanya, lalu menyerahkannya padaku. “Pakai. Sekarang. Sebelum kusut lagi.”

Batik itu pas. Sedikit longgar di bahu, karena Bapak lebih lebar dariku. Aku berdiri di depan cermin lemari dan melihat seseorang yang mirip foto di ruang tengah, foto yang selama lebih dari sepuluh tahun digantungi payung hitam di bawahnya.

Pagi itu, Ibu menurunkan payung itu dan memasukkannya ke tas.

“Buat apa, Bu? Nggak hujan.”

“Biar Bapakmu ikut.”

Sebelum berangkat, aku berdiri sebentar di depan foto itu. Bapak dengan kemeja batik yang sama, tersenyum sedikit miring, seperti orang yang baru saja mendengar lelucon tapi tidak mau ketahuan tertawa.

Dulu aku berdiri di sini dengan daftar. Hari ini aku tidak membawa apa-apa.

“Pak,” kataku pelan, supaya Ibu tidak dengar. “Aku nggak bikin rencana. Aku nanya dulu. Dia bilang iya.”

Bapak tetap tersenyum miring. Aku memutuskan itu artinya dia setuju.


Halaman belakang Remah tidak cukup besar untuk delapan puluh tamu, jadi bengkel motor di ujung jalan meminjamkan lahan kosong di sebelahnya. Pak Darto dan anak buahnya memasang tenda sewaan dua hari sebelumnya, lalu membangun panggung kecil dari papan bekisting bekas proyek, diampelas sampai licin, dibayar roti sobek.

Pak Rohim datang paling pagi. Dia berdiri di bawah tenda, menengadah lama sekali, lalu menatapku dengan curiga.

“Ini sewa, kan, Mas? Bukan terpal proyek?”

“Sewa, Pak.”

Dia mengangguk, lega, dan baru mau duduk.

Tegar, dengan papan klip dan earpiece yang tidak tersambung ke apa pun, berlari ke sana kemari dengan gelar yang dia buat sendiri: Koordinator Lapangan #RemahRemahCinta. Di dinding gang belakang, di tempat yang dulu jadi Wall of Shame lalu Wall of Maaf, dia menggantung bingkai kayu. Di dalamnya, kantong kertas cokelat yang sudah menguning. Perjanjian Bukan Pelarian, empat poin, dua tanda tangan.

Di bawah poin keempat yang ditulis dengan spidol merah, ada baris baru dengan spidol yang sama.

5. Laporan diterima. Kasus ditutup. — Tegar.

Bu Dewi tidak menyebut angka enam ratus sekali pun. Dia menyebutnya di dalam hati, aku yakin, setiap kali melihat kursi plastik yang tidak sampai seratus. Tapi dia tersenyum. Pak Hadi duduk di sampingnya dengan sekantong jeruk di pangkuan. Dalam dua puluh menit, Bu Dewi dan Ibu sudah duduk bersebelahan dan bertukar nomor tukang jahit kebaya, nomor tukang urut, dan pendapat yang sama tentang anak-anak zaman sekarang yang menikah tanpa gedung.

Aku menunggu di gudang tepung, yang hari itu dibersihkan dan diberi nama Ruang Tunggu Pengantin Pria oleh Tegar dengan kertas yang ditempel di pintu. Ojan berjalan bolak-balik di antara karung-karung tepung seperti dia yang akan menikah.

“Lo nggak gugup?” tanyanya untuk kelima kalinya.

“Nggak.”

“Kok bisa? Dulu lo latihan ngelamar sama kepala pel.”

“Dulu aku harus ngapalin.” Aku membetulkan lengan batik Bapak. “Hari ini aku cuma harus jawab.”

Ojan menatapku lama. Lalu dia duduk di atas karung tepung, menutup wajah dengan dua tangan, dan bilang dia butuh lima menit.


Akad jam sepuluh.

Raina yang memilih jamnya. Di jam yang sama, lima belas bulan lalu, aku datang ke dapur ini tanpa membawa apa pun dan makan kue pengantin orang lain dari lantai. Dia tidak bilang kenapa memilih jam itu. Dia tidak perlu.

Dia keluar dari pintu dapur dengan kebaya sederhana warna krem, warna semua kardigannya, dan rambut digelung rendah dengan ronce melati. Tidak ada tepung di tulang pipinya hari ini. Aku sempat mencarinya, dan merasa kehilangan sesuatu yang kecil. Lalu dia duduk di sampingku, dan aku melihatnya. Di antara ronce melati di sanggulnya, kalau dilihat dengan teliti, ada sebatang pensil 2B.

Dia cantik dengan cara yang membuatku lupa sedang di mana. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencatatnya seperti mencatat cuaca. Aku hanya melihat.

Pak Hadi menjabat tanganku sebagai wali. Tangannya kering, hangat, dan tidak terburu-buru. Dia menahannya satu detik lebih lama dari yang perlu, seperti orang yang memastikan sesuatu.

Aku tidak menghafal apa pun. Aku tidak punya kartu di saku. Aku hanya mendengarkan, lalu menjawab, dalam satu napas, dengan suara yang tidak bergetar.

“Sah?”

“Sah!”

Tegar yang paling keras. Lalu dia menangis, dan Laras menyodorkan tisu dari tas tanpa menoleh, seperti orang yang sudah menyiapkannya sejak subuh.

Aku mencium kening Raina. Pelan. Di tempat di bawah ronce melati, di mana pensil itu tersangkut.

Di barisan depan, Ibu memeluk payung hitam di pangkuannya.


Ojan menjadi MC, dan itu kesalahan yang kami buat dengan sadar.

Dia naik ke panggung bekisting dengan kemeja batik yang terlalu formal dan empat lembar kertas HVS di tangan. “Pidato best man,” katanya ke mikrofon. “Versi tiga belas. Final banget banget.”

Dia berdeham. Dia membaca.

“Saya kenal Rangga tiga belas tahun. Dia orang paling bisa diandalkan yang pernah saya kenal. Dan hari ini dia menikah dengan...” Ojan berhenti. Dia menatap kertasnya. Wajahnya memucat. “...titik-titik.”

Hening.

“RAINA, JAN!” teriak Laras dari barisan depan.

“GUE TAHU, RAS! GUE CUMA LUPA NGISI!”

“Kamu nyimpen pidato itu tujuh bulan dan nggak ngisi nama?!”

“Itu jaga-jaga! Gue profesional!”

Mereka bertengkar lewat mikrofon selama satu menit penuh, di depan delapan puluh tamu, sampai Bu Ratna mengangkat tangan dan keduanya diam bersamaan. Di sebelahku, Raina menutup mulut dengan dua tangan dan tertawa sampai bahunya berguncang.

Ojan menarik napas, melipat kertasnya, dan bicara tanpa membaca.

“Tahun lalu gue bilang gue capek nangis buat lo, Ngga.” Suaranya pecah di tengah. “Hari ini gue nangis bukan buat lo. Buat gue sendiri. Gue seneng.”

Dia turun dari panggung dan memeluk Laras, yang membiarkannya selama tiga detik sebelum mendorongnya dan bilang batiknya bau keringat.

Mbak Sum bicara dalam bahasa Jawa. Pendek, datar, dengan tangan bersedekap. Tegar menerjemahkannya kalimat demi kalimat dengan percaya diri yang tidak beralasan.

“Adonan iku kaya wong,” kata Mbak Sum.

“Adonan itu kayak orang,” kata Tegar.

“Dipeksa, bantat. Dienteni, mekar.”

“Dipaksa, bantat. Ditungguin, mekar.” Tegar berpikir sebentar. “Intinya: jangan dipaksa. Nanti bantat. Kayak roti Mas Rangga.”

Mbak Sum menatapnya. Tegar menunduk dan turun dari panggung tanpa disuruh.

Bu Yayuk datang membawa setumpuk brosur Graha Puspa Kencana dan menyelipkannya di setiap kursi. Dia menghampiriku dengan wajah orang yang menanggung dosa lama.

“Baloknya udah diperbaiki, Mas. Sesuai saran Mas waktu itu.” Dia menyodorkan satu brosur lagi, khusus untukku. “Diskon tiga puluh persen. Buat resepsi berikutnya.”

“Kami nggak bikin resepsi lagi, Bu.”

“Buat anak kalian nanti.” Dia menepuk tanganku. “Brosurnya berlaku dua puluh tahun.”

Di antara tamu, ada seorang laki-laki muda berkemeja rapi yang berdiri canggung di dekat meja roti. Bagas. Dia datang naik kereta dari Semarang, dengan kado kecil dan wajah yang masih seperti mahasiswa tingkat akhir, walaupun dia sudah hampir setahun bekerja di konsultan struktur.

“Kolomnya nggak nangis, Mas,” katanya waktu menyalamiku. Lalu, lebih pelan, “Mbak titip doa. Katanya, itu aja.”

“Bilang makasih,” kataku.

Hanya itu. Dan itu cukup.

Oma Lien, delapan puluh dua tahun, datang dengan kebaya ungu dan tongkat yang dihias pita. Dia memegang pipi Raina dengan dua tangan yang keriput.

“Biasanya Oma paling cantik se-Cipete nomor dua,” katanya. “Hari ini Oma turun jadi nomor tiga.”

“Nomor satunya siapa, Oma?”

“Kamu. Nomor duanya ibu mertuamu.” Oma Lien melirik Ibu, yang pura-pura tidak mendengar sambil membetulkan kerudung. “Oma nggak keberatan. Oma udah pernah nomor satu. Empat puluh tujuh tahun.”


Kuenya dua tingkat.

Tingkat bawah hijau pucat, pandan dan gula aren. Resep lama, sketsa versi dua puluh tiga, yang tidak dibuang. Raina menyimpannya di buku gambar selama lima belas bulan, dan pagi ini dia membuatnya lagi, tanpa menangis, dengan empat puluh lembar daun pandan dan dua ratus lima puluh gram gula aren Banyumas.

Tingkat atas berwarna kuning gading. Keju dan madu. Rasa roti R. Kami membuatnya bersama selama tiga malam jaga oven. Raina yang menakar. Aku yang menghitung strukturnya.

Delapan dowel di dalamnya. Bukan sedotan bubble tea. Kali ini dihitung.

Raina memegang pisau. Aku memegang tangannya. Delapan puluh tamu diam, dan Tegar mengangkat HP-nya, dan Mbak Sum tidak menyitanya kali ini.

Raina menoleh padaku. Matanya bulat, sedang menahan tawa dan hal lain.

“Boleh?” tanyanya.

“Selamanya boleh,” kataku.

Kue itu akhirnya dipotong.

Potongan pertama dari tingkat bawah, hijau pucat, untuk Ibu. Potongan kedua dari tingkat atas, kuning gading, untuk Bu Dewi dan Pak Hadi. Pak Hadi menerimanya, lalu meletakkan sesuatu di samping piring kue: kulit jeruk yang dikupas dalam satu lembar utuh. Bentuknya seperti bunga.


Malam itu, setelah tenda dibongkar dan kursi-kursi plastik ditumpuk, aku duduk di lantai dua Remah. Kamar yang sekarang juga kamarku.

Aku membuka buku saku kesembilan, ke halaman kedua, ke kalimat yang kutulis setahun lalu di bawah kolom C-7 yang retak.

Asal dicatat. Dan ditanya.

Retak rambut bukan tanda gedung mau roboh. Itu tanda dia masih bergerak. Gedung yang tidak pernah retak bukan gedung yang kuat. Itu gedung yang tidak pernah dipakai. Yang membuat gedung roboh bukan retaknya. Yang membuat gedung roboh adalah retak yang tidak dicatat, tidak ditanya, dan dibiarkan memikul beban sendirian sampai suatu malam ia tidak sanggup lagi.

Aku pernah mengira delapan tahun itu terbuang. Empat menit dua belas detik, dan semuanya habis, tanpa sisa.

Aku salah. Delapan tahun itu yang membuatku bisa menemani adik pacarku mengerjakan skripsi sampai jam satu malam walaupun hatiku remuk. Delapan tahun itu yang mengajariku membeli martabak setengah-setengah, menunggu di warung rokok, menghafal kalimat kedua. Delapan tahun itu yang membuatku tahu persis apa yang tidak boleh kulakukan lagi: memutuskan tanpa bertanya, menanggung tanpa bilang, mencintai lewat rencana.

Delapan tahun itu tidak terbuang. Ia ganti bentuk. Seperti emas Bapak di jari perempuan yang sekarang sedang duduk di sampingku di lantai, makan sisa kue dari piring kertas dengan tangan.


Jam di dinding menunjukkan 23.07.

Aku melihatnya. Aku tidak memalingkan wajah.

Raina menyandarkan kepala di bahuku. Di atas kami, hujan bulan Juni yang tidak diundang mulai turun, memukul atap seng yang tidak bocor. Di sudut kamar, payung hitam Bapak bersandar di dinding, kering, dititipkan Ibu “sampai besok”.

“Mas,” kata Raina pelan.

“Hm?”

“Udah sampai?”

Aku memikirkan semua malam ketika kalimat itu dikirim lewat layar. Ratusan kali. Ribuan. Di bawah lampu jalan, di warung rokok bertenda biru, di jok belakang ojol, di kamar kos dengan selokan di bawahnya. Pertanyaan dari orang yang tidak ada di sana, untuk orang yang sedang pergi ke tempat lain.

Malam ini tidak ada yang pergi ke mana-mana.

“Udah,” kataku. “Di sini.”

Dia tersenyum di bahuku. Di piring kertas di antara kami, tertinggal beberapa butir kue. Hijau pucat dan kuning gading, bercampur, kecil, tidak cukup untuk disebut sepotong.

Remah.

Ternyata ada sisa.