← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty One

Bintang Satu

POV: Raina

Jazz abu-abu itu berhenti di depan Remah jam sepuluh malam, Senin, tiga puluh Juni.

Aku sedang mengelap meja kasir untuk ketiga kalinya, karena aku tidak bisa tidur dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Lampu etalase sudah mati. Hanya lampu dapur yang menyala. Aku mendengar pintu mobil ditutup, pelan, lalu langkah kaki di trotoar, lalu ketukan di kaca pintu yang bertuliskan TUTUP.

Aku tahu siapa sebelum aku menoleh.

Aku membukakan pintu. Rangga berdiri di sana dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung, dan dua buku saku kuning di saku dadanya. Dua. Aku belum pernah melihatnya membawa dua. Yang satu baru dan kaku. Yang satu lagi tua, pudar, dengan sudut yang melengkung seperti daun kering.

“Mas,” kataku. Hanya itu. Bukan Mas Rangga. Aku tidak sempat memilih.

“Aku dari Penyetan Bu Tum,” katanya. “Ketemu Citra.”

Aku memegang gagang pintu.

“Aku udah jawab.” Dia tidak masuk. Dia berdiri di ambang pintu, di bawah lampu jalan yang kuning, seolah dia tidak yakin dia boleh masuk. “Yang di taman. Aku udah jawab.”

Aku tidak bertanya apa jawabannya. Aku melihatnya di wajahnya. Di bahunya yang turun. Di buku saku tua di dadanya, yang aku tahu, entah bagaimana, adalah buku yang dikembalikan.

“Aku nggak pulang,” katanya. “Aku cuma... ke sini.”


Kami duduk di bangku gang belakang. Aku membuat dua gelas teh, dan tanganku gemetar sedikit waktu menuangnya.

Dia bercerita. Penyetan Bu Tum. Tempe yang digeser dua senti dan dikembalikan dua senti. Kalimat yang dia ucapkan, maaf itu bukan jalan pulang, dan buku saku pertama dengan nama perempuan itu di halaman pertama. Hari Minggu di Bekasi. Ibunya. Selotip yang dicabut.

Dia tidak menyaring apa pun. Seperti biasa sekarang.

Waktu dia selesai, aku memegang gelas teh dengan dua tangan dan menatap karung-karung tepung di depan kami.

“Mas,” kataku pelan. “Kamu baru selesai delapan tahun tadi. Tiga jam yang lalu.”

“Iya.”

“Aku nggak mau jadi tempat numpang nangis.” Suaraku bergetar. Aku menahannya. “Aku nggak mau jadi tempat pertama yang Mas datengin karena Mas nggak tahu harus ke mana lagi. Aturan nomor satu, Mas. Aku yang nulis.”

Dia diam lama. Kipas oven berputar di dalam. Di ujung gang, kucing yang biasa mencuri roti sobek lewat, berhenti, menatap kami, lalu pergi.

“Aku nggak dateng ke sini karena nggak tahu harus ke mana,” katanya akhirnya. “Aku dateng ke sini karena aku tahu.”

Aku tidak bisa menatapnya.

“Tapi kamu bener,” lanjutnya. “Tiga jam itu kecepetan.” Dia meletakkan gelas tehnya di bangku. “Jadi aku tunggu.”

Aku menoleh.

“Ragi butuh waktu, kan?” katanya.

Dia mengatakannya dengan wajah serius, seperti insinyur yang mengutip spesifikasi teknis dari buku pedoman. Kalimatku sendiri. Yang kuucapkan di parkiran gedung pernikahan bulan Januari, di dalam mobilnya, di atas nasi Padang.

Aku tertawa. Basah dan jelek dan keluar dari hidung.


Dia pulang jam sebelas.

Aku mengantarnya sampai pintu depan. Di ambang pintu, dia berbalik, dan untuk satu detik kupikir dia akan mengatakan sesuatu lagi. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangkat tangan, menyelipkan sejumput rambut yang lepas dari gelungan pensilku ke balik telingaku, lalu berjalan ke mobilnya.

Di seberang jalan, di depan warung kelontong yang sudah tutup, ada seseorang di atas motor. Helmnya tertutup, mesinnya mati, HP-nya terangkat setinggi dada, menghadap ke arah kami. Kupikir dia ojol yang sedang membaca peta. Di Cipete jam sebelas malam, selalu ada ojol yang sedang membaca peta.

Aku tidak memikirkannya lagi.

Besok paginya, roti isi keju di rak paling bawah, di etalase paling ujung, kembali. Dengan kertas kecil di atasnya.

R.

Jam tujuh lewat sepuluh, Tegar menemukannya. Dia menatap roti itu, menatapku, lalu mengeluarkan HP dan mengetik dengan dua jempol secepat kilat.

Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu apa yang dia tulis. Tapi aku melihatnya juga.

🚨 DARURAT REMAH 🚨

Tegar: ROTI R KEMBALI. ULANGI. ROTI R KEMBALI.

Ojan: 😭😭😭

Laras: Alhamdulillah.

Ojan: Gue nangis di toilet kantor.


Dua minggu berikutnya adalah dua minggu yang paling pelan dan paling manis yang pernah kujalani.

Dia datang hari Rabu dan Sabtu. Kami duduk di bangku gang belakang. Dua gelas teh lagi. Kami tidak membicarakan kami. Kami membicarakan resep roti gandum yang sedang kucoba dan gagal tiga kali, rangka baja untuk proyek barunya di Kuningan, dan kucing pencuri roti sobek yang ternyata punya tiga anak di loteng warung kelontong. Dia memanggilku Raina. Aku memanggilnya Mas. Tidak lebih.

Ragi butuh waktu. Kami memberinya waktu.

Lalu, hari Senin, empat belas Juli, Tegar masuk ke dapur jam enam pagi dengan wajah pucat dan HP gemetar di tangannya.

“Mbak,” katanya. “Mbak harus lihat ini.”


Namanya Tiara Hartawan. Sepupu Leon. Dua puluh empat tahun, content creator dengan lima puluh ribu pengikut yang biasanya mengunggah ulasan kafe dan video outfit of the day.

Malam sebelumnya, dia mengunggah utas.

SPILL: Tunangan sepupu gue batalin nikah 2 bulan sebelum hari H. Alasannya? Katanya sepupu gue selingkuh, ada “rekamannya”. Tapi rekaman itu NGGAK PERNAH ADA. Nggak ada yang pernah liat. Terus, ternyata dia sendiri yang udah deket sama cowok lain dari JANUARI. Bukti di bawah. 🧵👇

Di bawahnya, satu per satu, tangkapan layar dari akun Instagram Remah.

Video INSINYUR VS MIXER, diunggah Tegar bulan Februari. Seorang laki-laki berlumur tepung tertawa di dapur Remah. Ini Februari. Dua bulan setelah “putus”.

Story Tegar bulan Maret, yang sudah lama hilang tapi ternyata disimpan seseorang. Foto atap Remah di malam badai, terpal biru, dan seseorang di atas tangga. Keterangan Tegar: Pahlawan tengah malam 🦸‍♂️ #TukangAtapTerbaik. Tengah malam, guys. TENGAH MALAM.

Foto dari kaca etalase Remah, tanggal delapan Maret, diambil dari seberang jalan. Dua orang duduk di lantai dapur. Seorang laki-laki memeluk seorang perempuan. Ini tanggal yang harusnya jadi hari pernikahan sepupu gue. Dia malah pelukan sama cowok lain DI HARI ITU.

Dan foto terakhir. Gelap, sedikit buram, diambil dari seberang jalan. Seorang laki-laki di ambang pintu toko roti, tangannya terangkat di dekat wajah seorang perempuan. Seperti hendak menyentuh pipinya. Tanggal di pojok: 30/06, 23.02.

Semalem banget nih. Masih anget. Ini cowok yang sama, guys. Coba tebak dia siapa? Mantan pacar cewek yang katanya “selingkuh” sama sepupu gue. Jadi mereka berdua yang sebenernya main belakang, terus nyari kambing hitam. Sepupu gue dijebak. Rekamannya NGGAK ADA. Kalau ada, keluarin dong. 🙂

Orang di atas motor itu bukan ojol yang sedang membaca peta.

Aku membaca utas itu sampai habis, berdiri di depan meja kerja dengan tangan bertepung. Lalu aku membacanya sekali lagi.

Kalau ada, keluarin dong.

Tidak ada. Rekaman itu ada di dasar selokan di Tebet, atau di pintu air, atau di laut. Aku tidak menyimpan salinan. Aku tidak mau file itu tinggal di laptop yang sama dengan foto-foto kue. Itu keputusanku sendiri, di bulan Desember, di dapur ini.

Satu-satunya bukti adalah benda yang sudah dibuang ke selokan.


Utas itu ditonton tiga ratus ribu kali dalam dua hari.

Seseorang menemukan alamat Remah. Seseorang lagi menemukan akun Google Maps-nya. Hari Rabu pagi, ulasan Remah turun dari empat koma delapan menjadi dua koma satu.

Bintang satu. Roti pelakor. Rasanya kayak dosa.

Bintang satu. Pemiliknya tukang selingkuh terus fitnah orang. Boikot.

Bintang satu. Gue belum pernah ke sini tapi gue support sepupunya Tiara.

Hari Kamis, Gemilang membatalkan kontrak katering bulanan dengan alasan evaluasi vendor. Delapan puluh kotak setiap Jumat, dua tahun berturut-turut. Satu email, tiga kalimat, dari divisi yang dipimpin oleh orang yang dulu datang mengambil tiga ratus roti sendiri padahal bisa pakai kurir.

Hari Jumat, Ibu meneleponku jam sembilan malam. Suaranya tidak tinggi. Suaranya kecil, seperti suara orang yang baru pulang dari tempat yang membuatnya malu.

“Raina.” Lama sekali dia diam. “Tadi arisan. Bu Ratih nunjukin HP-nya ke semua orang.”

Aku menutup mata.

“Ibu pulang duluan,” katanya. “Ibu nggak tahu harus ngomong apa.”


“Kita tetap buka,” kataku hari Sabtu pagi, di dapur, pada Mbak Sum dan Tegar.

Aku tidak mengatakan aku nggak apa-apa. Kalimat itu sudah kupakai sekali lagi bulan lalu, di bangku gang belakang, untuk menyuruh seseorang pulang. Aku sudah tahu sekarang ke mana kalimat itu membawaku.

Jadi aku mengatakan satu-satunya hal yang benar. Kita tetap buka.

Mbak Sum mengangguk sekali dan menyalakan oven. Tegar menatapku dengan mata merah.

Tegar tidak tetap tenang. Tegar berperang.

Sepanjang hari Sabtu dan Minggu, dia membalas setiap komentar di utas Tiara dengan jempol yang bergerak lebih cepat dari otaknya. KAMU TAU APA SOAL MBAK RAINA. KAMU PERNAH MAKAN ROTINYA? BELUM KAN. JANGAN SOTOY. ITU BUKAN PELUKAN SELINGKUH ITU PELUKAN NGHIBUR, KAMU NGGAK NGERTI BEDANYA KARENA NGGAK PERNAH DIPELUK YA. ATAP KAMI BOCOR BENERAN, MAU LIAT FOTO EMBERNYA???

Typo-nya membuatnya jadi tangkapan layar yang beredar sendiri. Kasir toko roti pelakor ngamuk 😂.

Hari Minggu sore, Mbak Sum berjalan ke meja kasir, mengulurkan tangan, dan menunggu. Tegar menatap tangan itu. Lalu menyerahkan HP-nya dengan wajah prajurit yang menyerahkan senjata.

Mbak Sum memasukkan HP itu ke kotak roti kosong di rak atas, menutupnya, dan kembali ke oven.

Tegar tidak bisa diam tanpa HP. Senin pagi, dia datang membawa lima puluh lembar kertas HVS. Dia mencetak ulasan bintang satu di warnet sebelah, satu per satu, lalu menempelkannya di dinding gang belakang dengan selotip, rapi, berderet seperti pameran foto. Di antara setiap ulasan, dia menempelkan roti sobek yang sudah keras, yang tidak laku.

Di atasnya, spidol merah, huruf kapital: WALL OF SHAME (BUKAN KAMI).

Mbak Sum menatap dinding itu lama. Lalu dia mengambil satu roti sobek dari sana, menggigitnya, dan berkata, “Kurang mentega.”


Rangga tidak datang hari Rabu.

Kupikir dia sibuk. Proyek Kuningan. Rangka baja.

Dia tidak datang hari Sabtu.

Dia membalas pesanku. Pendek, sopan, dengan titik di ujung setiap kalimat. Lagi banyak kerjaan, Raina. Jaga diri. Tidak ada boleh aku mampir. Tidak ada jadwal. Tidak ada lokasi.

Hari ketiga tanpa kunjungannya, aku berdiri di depan rak paling bawah di etalase paling ujung dan menatap roti isi keju dengan kertas R. di atasnya. Roti itu sudah keras. Aku memakannya sendiri sambil berdiri di dapur, dengan teh, seperti dulu.

Hari kelima, jam sepuluh pagi, telepon Remah berbunyi.

“Selamat pagi, Mbak. Saya dari bagian umum PT Wiratama Struktur. Mau pesan roti untuk acara kantor. Tiga ratus.”

Aku memegang gagang telepon.

“Tiga ratus?”

“Iya, Mbak. Diantar Jumat. Pembayaran di muka. Sudah ditransfer.” Jeda, suara kertas dibalik. “Oh, ada catatan juga, Mbak. Katanya rotinya yang paling enak aja. Nggak usah dikasih kartu atau tulisan apa-apa.”

Wiratama Struktur.

Aku tahu nama itu. Aku menulisnya di label paket bulan Desember, dengan huruf yang bulat dan hati-hati. Rangga Pramudia. Wiratama Struktur.

Aku menutup telepon dan berdiri lama di depan meja kasir.

Tiga ratus roti. Tanpa kartu. Tanpa tulisan. Tanpa dia.

Dia tidak datang. Tentu saja dia tidak datang. Siapa yang mau wajahnya diunggah tiga ratus ribu kali di samping perempuan yang disebut pelakor? Siapa yang mau namanya ikut diseret ke kolom komentar, ke grup arisan, ke kantor tempat dia bekerja?

Aku sudah bilang padanya bulan lalu: pulang aja.

Dia hanya mengikuti saranku, sedikit terlambat.