Chapter Seventeen
Cincin Bapak
POV: Citra
Dinda datang ke kosku hari Sabtu, satu Februari, membawa lakban, gunting, dua bungkus seblak, dan sebuah kotak kado yang dibungkus kertas bergambar keripik.
“Buka sekarang,” katanya. “Sebelum gue berubah pikiran dan nyesel.”
Isinya mug putih. Di sisinya dicetak foto Jessy dari kampanye Kriuk Galau, wajahnya merah dan beringus karena bawang, sedang menggigit keripik rendang-matcha dengan ekspresi patah hati. Di bawah fotonya ada tulisan besar: PEDASNYA PADANG, TENANGNYA NGGAK ADA.
Aku tertawa sampai harus duduk di atas kardus.
“Gue pesen di tukang sablon depan kantor,” kata Dinda dengan bangga. “Dia nanya ini buat apa. Gue bilang buat sahabat gue yang mau pergi. Dia diem lama, terus kasih diskon.”
Kami mengepak sambil makan seblak. Dinda tidak bertanya kenapa aku pergi. Dia tidak bertanya soal Leon, soal kertas kuning di monitor, soal Rangga yang tidak pernah lagi menjemput di lobi. Dia hanya membungkus gelas-gelasku dengan koran satu per satu, sangat rapi, dan sesekali bercerita tentang kucingnya yang ternyata sudah punya pacar baru, kucing kampung dari gang sebelah.
“Mochi move on duluan, Cit,” katanya. “Dia nggak nunggu kucing Persia itu. Dia milih yang ada di depan mata.”
Aku memeluk mug itu di pangkuan dan tidak bisa berhenti tersenyum, walaupun mataku perih.
Di kardus kedua, Dinda menemukan gaun hijau botol itu. Masih dengan label harganya. Dia mengangkatnya, membentangkannya di depan badannya sendiri, dan bersiul pelan.
“Ini belum pernah dipakai, Cit?”
“Ambil aja.”
“Nggak.” Dia melipatnya kembali dengan hati-hati, lebih hati-hati dari caranya melipat apa pun hari itu, dan memasukkannya ke kardus. “Ini punya lo. Suatu hari lo pakai buat sesuatu yang bagus. Buat lo sendiri.”
Aku tidak menjawab. Dinda menutup kardus itu dan menulis di atasnya dengan spidol, besar-besar: BAJU BAGUS. JANGAN DIBUANG.
Ibu Rangga menelepon hari Minggu, jam sepuluh pagi.
Aku menatap nama di layar lama sekali. Bu Ratna. Dua bulan, dan dia belum pernah menelepon. Aku mengira dia membenciku. Aku mengira Rangga sudah menceritakan semuanya, dan rendang di kulkas Bekasi sudah lama dibuang.
Aku mengangkatnya karena aku tidak berhak untuk tidak mengangkatnya.
“Nduk.” Suaranya lembut. Sama lembutnya seperti delapan tahun terakhir. “Ibu ganggu?”
“Nggak, Bu.”
“Ibu nggak mau ikut campur, ya, Nduk. Ibu cuma kangen.” Dia diam sebentar. “Rangga nggak mau cerita apa-apa. Dia cuma bilang kalian nggak cocok. Dia bilang dia yang salah.”
Aku memegang tepi kardus.
Dia yang salah.
“Anak Ibu itu memang keras kepala,” lanjut Bu Ratna, dengan nada orang yang sudah lama menahan sesuatu dan akhirnya membiarkannya keluar sedikit. “Ibu tahu dia suka kebanyakan mikir. Suka bikin rencana. Tapi Ibu nggak ngerti, Nduk. Ibu bener-bener nggak ngerti.”
“Bu—”
“Dia udah siapin semuanya. Cincinnya dari emas Bapak, Nduk. Dari cincin kawin almarhum Bapak, Ibu yang kasih bulan Juli. Udah jadi dari Juli.” Suaranya mulai bergetar. “Dia nunggu kamu naik jabatan dulu. Katanya biar bahagiamu dobel. Terus kamu nggak jadi naik, dia malah majuin. Katanya, kalau bahagianya nggak dateng dari kantor, biar dateng dari aku, Bu.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Tanggal empat belas Desember. Di restoran yang tinggi itu, yang kamu pengin dari dulu. Batik Bapak udah Ibu setrika dua kali.” Bu Ratna terisak sekali, lalu menahannya. “Ibu nggak bisa tidur malam itu, Nduk. Ibu nungguin telepon dari dia. Terus dia telepon, katanya nggak jadi. Kok bisa, Nduk? Kok bisa nggak cocok sehari sebelum ngelamar?”
Sehari.
Jumat malam, aku melempar dashcam ke selokan. Sabtu malam, dia akan berlutut.
“Nduk?” Suara Bu Ratna berubah. Pelan, ragu. “Kamu... tahu kan, dia mau ngelamar?”
Aku tidak menjawab.
Di ujung telepon, Bu Ratna diam sangat lama. Aku bisa mendengar jam dinding di rumah Bekasi berdetak, jam yang selalu lima menit lebih cepat.
“Lho,” katanya akhirnya, sangat pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Kamu nggak tahu.”
Aku tidak ingat bagaimana telepon itu berakhir. Aku ingat Bu Ratna minta maaf karena sudah keceplosan. Aku ingat dia bilang jangan bilang Rangga Ibu cerita, ya, Nduk. Aku ingat kalimat terakhirnya, karena kalimat itu yang paling lama tinggal.
“Rendangmu masih Ibu simpen. Kapan-kapan main, ya.”
Lalu aku duduk di lantai kamar kos yang setengah kosong, di antara kardus-kardus mi instan, dan semuanya tersusun sendiri di kepalaku. Seperti potongan teka-teki yang sejak dua bulan lalu berserakan di lantai, dan baru sekarang aku tahu gambarnya.
Sabtu tanggal 14 kosongin ya. Ada yang mau aku omongin.
Pakai baju yang bagus ya.
Percaya aja, ya.
Sabtu nanti, aku janji, kamu senyum lagi.
Kemeja batik di pintu lemari, cokelat tua, kerahnya kaku. Yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Yang sempat membuatku bertanya-tanya, lalu kulupakan.
Tangan kanannya di saku jaket, menggenggam sesuatu yang kecil dan keras sampai urat di punggung tangannya menonjol.
Dan kartu kecil di lantai. Tulisan tangannya, pulpen biru. Citra Anind— lalu kabur. Luntur oleh sesuatu yang menetes dan melebar.
Malam itu aku tidak mengerti kartu apa itu.
Sekarang aku tahu kalimat apa yang ada setelah namaku.
Dia menulisnya dengan pulpen biru. Dia membacanya keras-keras, mungkin berkali-kali, di kamar kos itu. Lalu dia menonton rekaman itu dengan kartu itu di pangkuannya, dan air matanya jatuh tepat di atas namaku.
Dan sesudah semua itu, sesudah aku membuang rekamannya di depan matanya, dia menelepon ibunya dan bilang aku yang salah. Dia membiarkan ibunya menyalahkan dia. Dia membiarkan adikku mengira kami cuma berantem. Dia membiarkan semua orang yang mencintainya berpikir bahwa dialah yang merusak delapan tahun itu.
Supaya tidak ada satu orang pun yang mengingatku sebagai perempuan di dalam mobil itu.
Aku memeluk lutut dan menangis tanpa suara, karena dinding kos ini juga tipis, dan aku sudah tidak punya hak untuk didengar oleh siapa pun.
Malam itu aku membuka aplikasi catatan di HP. Lima draf masih di sana, semuanya dimulai dengan Ngga, aku harus jujur. Lima kalimat pertama tanpa kalimat kedua.
Aku menghapus semuanya.
Bukan karena aku sudah menemukan kalimat kedua. Karena sekarang aku tahu, di malam yang sama ketika aku menulis lima draf yang tidak selesai, dia menulis satu yang selesai. Kalimat keduanya ada. Dia menemukannya. Dan aku tidak akan pernah mendengarnya.
Hari Selasa, aku membawa kardus itu ke Tebet.
KEMBALIKAN. Jaket denim, dua kaus yang pernah dia tinggalkan di kosku, charger laptop cadangan, tiga buku tentang jembatan yang dia pinjamkan dan tidak pernah kubaca sampai habis. Dan satu kunci dengan gantungan martabak karet.
Aku datang jam empat sore, ketika aku tahu dia masih di kantor. Aku tidak cukup berani untuk datang ketika dia ada.
Ibu kos membuka pintu pagar sebelum aku sempat menekan bel. Dia sedang menyapu teras dengan sapu lidi.
“Lho, Neng Citra. Lama nggak ke sini.”
“Iya, Bu. Saya titip ini buat Mas Rangga, ya.”
Ibu kos menerima kardus itu, menimbangnya dengan dua tangan, lalu memandangi sandalku. “Neng, itu sandalnya kebalik kiri-kanan.”
Aku menunduk. Benar. Aku memakainya terbalik sejak dari kos.
“Udah, nggak usah diganti, nanti juga biasa.” Ibu kos meletakkan kardus itu di kursi teras, lalu memandangku lebih lama, dengan mata orang yang sudah dua puluh tahun mengurus anak-anak kos dan tahu kapan seseorang sedang tidak baik-baik saja. “Mas Rangga kurusan, Neng. Tiap malam lampunya nyala sampai pagi. Saya kira lagi lembur. Tapi kok lemburnya tiap malam.”
Aku tidak menjawab.
“Kalian berantem?”
“Iya, Bu.”
“Ya udah.” Dia kembali menyapu. “Berantem itu biasa. Yang penting jangan lupa makan.”
Dari teras itu, aku bisa melihat balkon kamar paling ujung di lantai tiga. Pintu kacanya tertutup. Di bawahnya, selokan mengalir pelan, cokelat dan tenang, seolah tidak pernah menelan apa pun.
Aku tidak tahu kenapa aku pergi ke Cipete.
Bukan, itu bohong. Aku tahu. Aku ingin melihat perempuan itu. Perempuan yang menulis Makan selagi hangat di seratus dua puluh kartu. Perempuan yang membuat kue pengantinnya sendiri. Perempuan yang memutuskan bahwa laki-laki yang tidak dia kenal berhak tahu.
Aku ingin melihat wajah orang yang kurusak hidupnya, dan aku tidak tahu apakah itu keberanian atau hukuman.
Ojol menurunkanku di seberang jalan jam tujuh malam. Aku berdiri di bawah lampu jalan, di samping gerobak gorengan yang sudah tutup, dan menatap ruko dua lantai di seberang.
Remah lebih kecil dari yang kubayangkan. Etalasenya berkaca besar, lampunya sudah dimatikan, tapi lampu dapur di belakang menyala kuning dan hangat, dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat ke dalam.
Ada empat orang di sana.
Seorang ibu berumur empat puluhan dengan celemek, berdiri dengan tangan di pinggang. Seorang anak laki-laki kurus memegang HP dalam posisi merekam. Seorang perempuan berambut digelung pensil, yang kukenal dari satu-satunya foto di Instagram itu. Aslinya dia lebih kecil dari yang kubayangkan, lebih pendek dariku, dengan bahu yang sempit dan lengan kardigan yang digulung sampai siku. Bukan perempuan yang akan membuat seisi ruangan menoleh waktu dia masuk. Perempuan yang membuat seisi ruangan merasa lebih hangat setelah dia lewat.
Dan Rangga.
Dia berdiri di depan mesin pengaduk besar. Seluruh wajahnya putih. Tepung di rambutnya, di alisnya, di bulu matanya, di kerah kemejanya. Rupanya mesin itu baru saja dinyalakan terlalu kencang, dan tepung menyembur ke mana-mana seperti salju.
Dan dia tertawa.
Kepalanya terlempar ke belakang, satu tangan memegang perut, tangan lainnya mengibas-ngibaskan tepung dari wajah. Perempuan berambut pensil itu tertawa sampai membungkuk dan harus berpegangan pada meja. Anak laki-laki itu merekam dengan bahu berguncang. Ibu bercelemek menggeleng-geleng, tapi bibirnya juga bergerak.
Aku sudah lupa dia bisa tertawa seperti itu.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku melihatnya tertawa sampai kepalanya terlempar ke belakang. Bukan di Penyetan Bu Tum. Bukan di mobil, waktu dia menyanyikan lagu dengan nada yang salah semua, karena waktu itu dia menyanyi untuk membuatku tertawa, bukan karena dia sendiri sedang bahagia. Bukan tahun lalu. Bukan tahun sebelumnya.
Aku tidak menemukannya.
Mungkin aku yang membuatnya lupa caranya. Pelan-pelan, bertahun-tahun, dengan cara yang tidak kusadari. Dan dua bulan di sebuah toko roti di Cipete cukup untuk membuatnya ingat lagi.
Di dalam, perempuan berambut pensil itu mengangkat kepala. Dia menoleh ke arah etalase. Ke arah jalan. Ke arahku.
Aku mundur satu langkah, keluar dari cahaya lampu jalan, ke dalam bayangan gerobak gorengan.
Lalu aku berbalik dan berjalan pergi. Aku tidak masuk. Aku tidak berhak masuk. Toko itu bukan tempat untukku, dan tawa itu bukan milikku lagi.
Loket Stasiun Pasar Senen masih buka jam sembilan malam. Antreannya pendek. Di belakangku, seorang bapak membawa kardus berlubang berisi ayam jago, dan ayam itu berkokok dengan penuh keyakinan, jam sembilan malam, seperti sedang mengumumkan pagi yang salah. Seorang petugas perempuan dengan kerudung biru menatapku dari balik kaca.
“Tujuan, Mbak?”
“Semarang.”
“Kapan berangkatnya?”
“Yang paling cepat.”
Dia mengetik sesuatu. “Kamis pagi ada. Ekonomi. Mau pulang-pergi?”
Aku menatap tanganku di atas meja loket. Sandal kiri-kananku masih terbalik.
“Satu, Bu,” kataku. “Sekali jalan.”
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak reading
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai