← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty Eight

Daftar Mau

POV: Rangga

Buku saku kesepuluh kubeli sendiri.

Itu fakta kecil yang ternyata butuh waktu lama untuk kuterima. Sembilan buku sebelumnya semuanya hadiah. Kuning, seukuran saku kemeja, dari toko alat tulis yang sama di Blok M, satu setiap dua belas Oktober sejak semester lima. Aku tidak pernah memilih buku sakuku sendiri. Aku hanya mengisinya.

Sabtu pertama bulan Oktober, aku berdiri di depan rak toko yang sama selama dua puluh menit. Pramuniaganya bertanya apakah aku butuh bantuan. Aku bilang aku sedang memilih. Dia bilang itu cuma buku saku, Mas. Aku bilang aku tahu.

Aku tidak mengambil yang kuning. Aku mengambil yang cokelat polos, kertas daur ulang, warnanya persis kantong roti Remah.

Di halaman pertama, aku menulis judul. Seumur hidup semua judulku berbunyi seperti perintah kerja. Daftar 30. Daftar Batal. Daftar Kesalahan yang Sama.

Yang ini lain.

Daftar Mau.

Bukan rencana. Tidak ada kolom Tenggat, tidak ada kolom Status. Hanya hal-hal yang kuinginkan, ditulis tanpa tahu apakah akan terjadi.

1. Roti gandum yang nggak bisa buat nyangga gedung.
2. Ibu ketemu Raina. Yang bener.
3. Tidur sebelum jam dua belas tanpa ngitung apa-apa.
4. Nanya dulu, baru ngitung.

Malamnya, di bangku gang belakang, aku menyodorkan buku itu pada Raina. Terbuka di halaman kedua yang masih kosong, bersama pulpen.

“Apa ini?”

“Punyamu,” kataku. “Tulis yang kamu mau.”

Dia menatapku, lalu menatap halaman kosong itu. “Di bukumu?”

“Di bukuku.”

Sembilan tahun, sepuluh buku, dan belum pernah ada tulisan tangan orang lain di dalamnya.

Raina menulis pelan, dengan ujung lidah sedikit keluar di sudut bibir, seperti sedang mengoles krim di kue yang rapuh. Tulisan tangannya bulat dan condong ke kanan, seolah huruf-hurufnya sedang berjalan ke suatu tempat.

1. Tidur enam jam. ✓ (udah)
2. Lapis legit delapan belas lapis. Bareng. Kamu yang ngolesin.
3. Rangga marah kalau memang marah.
4. Ketemu Ibu kamu. Yang bener.
5. Oma Lien sampai seratus tahun.
6. Liburan yang nggak ada komodonya.
7. Martabak, tapi rasa lain.

“Nomor empatmu sama dengan nomor duaku,” kataku.

“Nyontek?”

“Sama-sama mau.”


Nomor tiga dicentang hari Sabtu berikutnya, jam setengah lima pagi.

Aku datang lebih awal untuk membantu dan menemukannya di gudang tepung, sedang mengangkat karung dua puluh lima kilo sendirian, punggung melengkung, napas tertahan.

Aku tidak menghitung apa pun dulu. Kalimatnya keluar lebih keras dari biasanya.

“Aku marah.”

Dia berhenti, karung masih di pelukan.

“Kamu ngangkat dua puluh lima kilo sendirian,” kataku, “padahal aku di sini. Pinggangmu itu bukan bekisting, Na.”

Raina meletakkan karung itu pelan-pelan. Dia menatapku lama. Lalu dia berjalan ke arahku, mengambil buku saku cokelat dari saku kemejaku, membukanya, dan mencentang nomor tiga dengan pensil yang dia cabut dari gelungan rambutnya.

“Nomor tiga,” katanya. “Dicentang.”

Lalu dia membiarkanku mengangkat sisa karungnya.

Nomor tujuh dicentang hari Kamis. Pak Kardi melihat Jazz abu-abu berhenti di depan gerobaknya dan langsung meraih toples keju dan cokelat, dengan senyum orang yang sudah hafal pesanan pelanggannya selama bertahun-tahun.

“Yang lain, Pak,” kataku.

Sendoknya berhenti di udara. “Lho, Mas ganti?”

“Ganti.”

Raina mencondongkan badan dari kursi penumpang dan memesan kacang-wijen dengan susu kental manis yang banyak sekali. Pak Kardi memandangi Raina, lalu memandangiku, lalu menuang adonan dengan gerakan melingkar yang lebih lebar dari biasanya.

“Bagus,” katanya. “Martabak juga capek jadi yang sama terus.”


Dua belas Oktober jatuh di hari Minggu, dan hari Minggu artinya Bekasi.

Raina memakai blus hijau pucat dan, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, rambutnya tidak digelung pensil. Rambut itu jatuh sampai ke bahu, sedikit bergelombang bekas gelungan, dan dia menyelipkannya ke belakang telinga setiap tiga puluh detik karena tidak terbiasa. Di dalam mobil, dia bertanya empat kali apakah dia kelihatan baik-baik saja. Empat kali aku bilang dia cantik. Itu bukan jawaban dari pertanyaannya, tapi itu yang benar.

Ibu membuka pintu sebelum kami sempat mengetuk. Dia menatap Raina dari atas ke bawah, persis seperti Mbak Sum menatapku pertama kali di dapur Remah.

“Kamu yang ngirim paket itu,” kata Ibu.

Raina tidak mundur. “Iya, Bu.”

Ibu diam sebentar. Lalu dia meraih tangan Raina dengan dua tangan.

“Makasih,” katanya. “Kalau nggak ada kamu, anak Ibu nanggung itu sampai nikah.”

Raina menunduk, dan aku melihat bahunya bergerak sekali.

Satu jam kemudian, mereka berdua berdiri di depan kompor, dan aku dilarang masuk dapur.

“Santannya berapa mili, Bu?” tanya Raina, HP di tangan, siap mencatat.

“Dua butir kelapa.”

“Garamnya berapa gram?”

“Secukupnya.”

“Secukupnya itu berapa, Bu?”

Ibu mengaduk wajan dengan tenang. “Sampai Bapaknya Rangga dulu bilang nah.”

Raina menatap Ibu. Lalu dia mengetik di HP-nya dengan wajah serius. Belakangan aku melihat catatannya. Garam: sampai “nah”.

Dari ambang pintu, aku melihat Raina berhenti di depan foto Bapak di dinding ruang tengah, di atas payung hitam yang masih tergantung di sana sejak pemakaman. Dia tidak bertanya. Dia hanya berdiri sebentar dengan tangan bertepung bumbu, lalu membungkuk sedikit, seperti orang yang memperkenalkan diri pada tuan rumah.

Ibu melihatnya juga. Ibu tidak berkata apa-apa. Tapi waktu Raina kembali ke kompor, Ibu menyerahkan sendok kayu padanya, sendok kayu yang sudah hitam di ujungnya, yang tidak pernah boleh dipegang siapa pun selain Ibu. Laras, yang sedang mengambil air minum, berhenti di tengah dapur dan menatap sendok itu seperti menatap gerhana.

Di ruang tengah, Ojan dan Laras bertengkar soal cara yang benar menyusun kerupuk di toples. Sebelas menit. Ojan bilang kerupuk harus disusun vertikal supaya tidak remuk. Laras bilang itu teori orang yang tidak pernah menyusun kerupuk. Ibu memperhatikan mereka dari ambang dapur dengan wajah yang tidak bisa kubaca, lalu menatapku dan mengangkat alis. Aku pura-pura tidak melihat.

Setelah makan, Laras mengambil wadah plastik untuk rendang yang akan dibawa pulang, menyobek selotip kertas, dan menulis dengan spidol: RAINA.

Ibu mengambil wadah itu dari tangannya dan mencabut selotipnya.

“Nggak usah dinamain,” kata Ibu. “Yang dinamain itu yang disisihin buat ditunggu. Yang ini makan di meja.”


Di teras, waktu Raina sedang mencuci piring dengan Laras dan Ojan sedang tertidur di kursi rotan dengan mulut terbuka, Ibu duduk di sampingku.

“Cincin Bapakmu masih di laci?”

“Masih, Bu.”

“Jangan disimpen di laci terus, Le.” Ibu menatap jalan di depan rumah. “Emas itu nggak pernah sisa. Cuma ganti bentuk.”

Aku menoleh. “Koh Hendra juga bilang gitu.”

“Lha iya.” Ibu tersenyum tipis. “Dia yang bilang ke Bapakmu waktu Bapakmu beli cincin itu. Tiga puluh satu tahun lalu, waktu Koh Hendra masih kurus dan rambutnya masih ada.”

Kalimat itu sudah tiga puluh satu tahun berjalan dari mulut ke mulut di keluargaku, dan aku baru tahu hari ini.


Malam itu, di bangku gang belakang, aku menceritakan seluruh riwayat cincin itu pada Raina.

Tidak ada yang kusaring. Cincin kawin Bapak, dua puluh tahun di jari yang bekerja dan menggendongku waktu tipes. Laci sejak bulan Juli. Cincin perak Citra yang kuambil diam-diam dari tempat sabun untuk ukuran. Ukiran R·C·8. Delapan itu tahun waktu aku yakin. Koh Hendra yang menolak refund. Kartu pidato dengan nama yang luntur, dan kalimat kedua yang butuh tujuh draf.

“Kalimat keduanya,” kataku. “Kalau kamu mau tahu—”

“Jangan.” Raina menggeleng. “Itu punya hari Sabtu itu. Biar tetap di sana.”

Aku diam.

“Kamu mau aku bikin yang baru?” tanyaku akhirnya. “Beli yang baru, maksudku. Biar nggak ada—”

“Aku mau emasnya.” Dia menatapku. “Bukan cincinnya. Emasnya Bapak.”

Dia mengambil kantong kertas kosong dari tumpukan, membalik spidolnya, dan mulai menggambar. Sebuah lingkaran polos. Di permukaannya, beberapa garis tipis miring yang sejajar, seperti sayatan di atas roti sebelum masuk oven.

“Ini sayatan,” katanya. “Tukang roti nyayat permukaan adonan sebelum dipanggang. Itu bukan luka, Mas. Itu jalan buat roti ngembang.” Dia menebalkan satu garis. “Kalau nggak disayat, dia bakal retak sendiri. Di tempat yang nggak kita mau.”

Aku menatap gambar itu lama. Retak yang dicatat. Retak yang ditanya. Retak yang diberi jalan.

Aku tidak bisa bicara. Jadi aku melipat kantong itu dua kali dan memasukkannya ke buku saku cokelat, di halaman Daftar Mau.


Hari Selasa, tanggal empat belas, aku menulis tanggal di laporan inspeksi gedung parkir Kuningan. 14/10.

Penaku berhenti.

Dua belas Oktober sudah lewat. Sembilan tahun sejak gerobak cilok. Hari itu aku di Bekasi, makan rendang, menonton Ojan dan Laras bertengkar soal kerupuk, dan memandangi seorang perempuan menulis sampai “nah” di HP-nya dengan wajah serius.

Aku lupa.

Aku duduk lama dengan kenyataan itu. Aku menunggu sesuatu datang. Rasa bersalah, mungkin. Atau lega yang meledak. Tidak ada yang datang. Hanya tenang, seperti kolom C-7 setelah di-jacketing. Retaknya masih ada di dalam. Tapi beban sudah tidak lewat situ lagi.

Aku menyelesaikan laporannya.


Malam sebelum ke Pasar Baru, aku membuka laci itu.

Kotak beludru. Kunci kos bergantungan martabak karet. Kartu pidato versi tujuh dengan noda biru yang kaku. Dan empat lembar kertas HVS yang dijepit, bertuliskan PIDATO BEST MAN — VERSI 12 (FINAL BANGET).

Aku mengambil kotak cincin. Kartu pidato kuselipkan di buku saku pertama, Daftar Semester 5, dan kukembalikan ke laci, di tempat yang tidak akan kubaca lagi tapi juga tidak akan kubuang. Kunci martabak kuberikan pada ibu kos keesokan paginya. Dia menerimanya, menimbangnya di telapak tangan, dan bilang akan menggantungnya di pohon jambu, “biar ada yang lucu.”

Pidato Ojan kukembalikan ke pemiliknya di kantor.

Ojan membaca halaman pertamanya, lalu melipat keempat lembar itu dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke tas.

“Gue tulis ulang,” katanya. “Versi tiga belas. Nama pengantin perempuannya gue kosongin dulu.” Dia menatapku. “Buat jaga-jaga. Gue konsultan. Gue profesional.”

Bulan November itu juga, aku makan malam di Rawamangun. Pak Hadi menjabat tanganku lama sekali di ambang pintu, tidak berkata apa-apa, lalu mengupaskan jeruk untukku. Kulitnya berbentuk bunga.

Seminggu kemudian, aku dan Raina berdiri di depan etalase Hendra Jaya.

Koh Hendra mengangkat kepala dari kain polesnya, melihat kotak beludru di tanganku, dan berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Akhirnya!” Dia menepuk etalase. “Sebelas bulan, Mas! Sebelas bulan saya nunggu Mas balik! Saya kira Mas pindah ke Kalimantan!”

Raina meletakkan kantong kertas bergambar itu di atas kaca. Koh Hendra memakai kacamata pertamanya, lalu kacamata keduanya, lalu menatap gambar itu lama.

“Ini cincin atau roti?”

“Dua-duanya, Koh,” kata Raina.

Dia mengizinkan kami melihat peleburannya di ruang belakang yang sempit dan panas. Cincin itu masuk ke cawan kecil di bawah api biru. Ukiran R·C·8 di bagian dalamnya menghitam, lalu melunak, lalu hilang. Empat detik. Delapan tahun, empat detik. Aku menunggu sesuatu di dadaku ikut meleleh.

Yang ada cuma emas. Cair, jingga, bergerak pelan di dasar cawan seperti sesuatu yang hidup.

Tangan Raina menemukan tanganku.

“Tuh,” kata Koh Hendra puas, tanpa menoleh. “Nggak ada yang sisa. Cuma ganti bentuk.”

Di meja depan, dia mengeluarkan buku pesanan. “Ukirannya apa? Inisial?”

“Satu kata aja, Koh,” kata Raina. “Dicatat.”

Koh Hendra menatapnya dari atas dua kacamata. “Ini cincin kawin apa notulen rapat?”

“Dua-duanya.”

Dia menggeleng sambil menulis. “Sayatannya harus tangan. Saya ukir sendiri. Mata saya tinggal satu setengah. Jadinya sebulan.”

“Nggak usah buru-buru, Koh,” kataku.

Aku mendengar diriku sendiri mengatakannya, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menanyakan tanggal jadinya.


Di dalam Jazz, di lampu merah Gunung Sahari, Raina memandangi jalan di depan dengan wajah orang yang sedang menghitung waktu proofing.

“Tanggal tiga belas bulan depan,” katanya, “kamu kosong?”

“Kenapa?”

“Nggak.” Dia tersenyum ke arah jendela. “Nanya aja.”