← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty Five

Tanpa Rencana

POV: Rangga

Aku membaca pernyataan Citra sebelas kali.

Sabtu malam, di lantai kamar kos, dengan HP yang retak di pojok karena jatuh dari tanganku. Minggu pagi, di balkon, dengan selokan mengalir pelan di bawah. Minggu siang, di depan kanvas yang menghadap tembok.

Rekaman itu ada. Saya ada di dalamnya.

Saya yang membuangnya ke selokan, di depan Rangga, malam itu juga.

Remah tidak menjual roti pelakor. Remah menjual roti.

Aku tidak membalas apa pun. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Ada hal yang terlalu besar untuk dibalas dengan pesan, dan ada hal yang terlalu terlambat untuk dibalas dengan kata terima kasih. Pernyataan itu keduanya.

Hari Minggu sore, aku melihat utas Tiara Hartawan hilang. Hari Senin, aku melihat rating Remah naik dari dua koma satu ke tiga koma delapan, lalu ke empat koma dua. Aku melihat foto antrean di depan etalase yang diunggah seseorang. Aku melihat foto dinding di gang belakang yang ditempeli kertas-kertas kecil, dengan tulisan spidol hijau di atasnya. WALL OF MAAF.

Badai itu sudah berbalik. Tanpa aku. Seperti semua yang sudah kuhitung.

Dan aku masih duduk di kamar kos.

Karena sekarang ada hitungan baru. Aku sudah menghilang tiga minggu. Aku membiarkannya makan roti keras sendirian sambil berdiri. Aku membalas pesannya dengan titik. Apa hakku muncul lagi sekarang, setelah semuanya selesai, setelah orang lain yang menyelamatkannya? Apa yang akan kukatakan? Maaf aku ngilang, aku pikir itu yang terbaik?

Itu kalimat yang sama dengan biar bahagianya dobel. Aku tahu itu. Aku masih menghitungnya.

Senin malam, aku mengetik pesan untuknya. Raina, boleh aku

Aku menghapusnya.


Selasa, lima Agustus, jam empat lewat dua puluh sore, aku sedang memeriksa gambar sambungan baja di kantor ketika HP-ku bergetar berkali-kali di atas meja. Delapan getaran berturut-turut. Ojan.

NGGA

NGGA

GUE KECEPLOSAN

DIA TAHU SEMUA. 300 ROTI. ULASAN. SEMUA.

GUE BILANG LO NGILANG BIAR DIA AMAN

MUKANYA

NGGA MUKANYA

LO MAU NUNGGU APA LAGI

Aku menatap layar.

Lalu aku berdiri.

Aku tidak mengambil buku saku. Aku tidak menutup file gambar kerja yang masih terbuka. Aku tidak memberi tahu siapa pun di ruangan itu ke mana aku pergi. Aku mengambil kunci mobil dari laci, dan tanganku sudah di gagang pintu sebelum kepalaku sempat menghitung apa pun.

Tidak ada daftar. Tidak ada opsi A atau opsi B. Tidak ada kolom Status.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun, aku pergi ke suatu tempat tanpa rencana.


Gatot Subroto berhenti total di depan gedung-gedung kaca.

Jam lima sore, hari kerja, langit di atas Jakarta sudah kelabu sejak siang. Jazz abu-abu terjepit di antara bus TransJakarta dan truk boks, di lajur tengah, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Aku menatap pembatas beton di sisi kanan jalan. Di salah satu bagiannya, ada bekas goresan hitam yang sudah pudar, panjang, miring. Bekas sesuatu yang menyerempet dengan kecepatan sedang.

Aku tidak tahu itu bekas siapa. Gatot Subroto penuh bekas goresan. Tapi aku tahu jalan ini. Jam sebelas lewat empat puluh, sembilan bulan lalu, seseorang yang mengantuk karena baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan menyerempet pembatas di jalan ini. Dan karena itu, seorang perempuan di Cipete mencabut kartu memori untuk mengurus klaim asuransi.

Aku menatap bekas goresan itu, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasakan apa-apa tentang malam itu. Hanya sesuatu yang mirip terima kasih, yang aneh dan tidak masuk akal, untuk sebuah kecelakaan kecil di jalan tol.

Lalu seseorang mengetuk kaca jendelaku.

Keras. Tiga kali.

Ojan. Berdiri di samping Jazz, di tengah kemacetan, dengan helm masih di kepala dan motor bebeknya diparkir miring di lajur sebelah dengan lampu sein menyala. Gerimis mulai turun di bahunya.

Aku menurunkan kaca jendela.

“Turun!” teriaknya. “Pakai motor gue!”

“Jan, ini tengah jalan—”

“Laras ngirim share location lo ke grup!” Dia membuka pintu mobilku dari luar. “Lo stuck di sini dari dua puluh menit lalu! Turun! Mobil lo gue yang urus!”

Di belakang kami, sebuah mobil membunyikan klakson panjang.

Aku turun. Ojan masuk ke kursi pengemudi Jazz-ku sebelum aku sempat berkata apa-apa, lalu melemparkan helmnya keluar jendela. Aku menangkapnya dengan dua tangan.

“Jas hujan di jok!” teriaknya. “Robek dikit! Pakai aja!”

Jas hujan itu robek dari ketiak sampai pinggang. Aku memakainya juga.


Hujan turun deras di Pancoran.

Bukan gerimis. Hujan Jakarta di bulan Agustus yang datang tanpa peringatan, menghantam aspal sampai memantul setinggi lutut, mengubah jalan jadi sungai cokelat dalam lima menit. Jas hujan Ojan tidak melindungi apa pun. Air masuk lewat robekan di samping, lewat kerah, lewat lengan. Dalam sepuluh menit, kemejaku basah sampai ke punggung.

HP-ku bergetar di saku celana. Aku tidak bisa membukanya di atas motor. Getarannya datang terus, satu-satu, seperti seseorang yang terus mengetuk.

Di lampu merah Pasar Minggu, di bawah jembatan layang, aku menepi dan mengeluarkan HP dengan tangan basah.

Semuanya dari Ojan.

MOBIL LO GUA PARKIR DI MANA INI

NGGA INI REMNYA KENAPA BUNYI

KOK KACA SAMPINGNYA NGGAK BISA DINAIKIN

GUE BASAH DI DALEM MOBIL LO NGGA

NGGA ADA HELM PUTIH DI JOK BELAKANG INI PUNYA SIAPA

OKE GUE PAKE

Lalu, di antara semuanya, satu pesan dari nomor yang lain. Masuk dua puluh menit yang lalu, waktu aku masih di Gatot Subroto.

Raina 🍞

Aku membukanya dengan jempol yang licin.

Aku capek jadi orang yang nggak apa-apa.

Aku mau kamu di sini.

Itu bukan permintaan tolong. Itu permintaan.

Aku membaca tiga kalimat itu di bawah jembatan layang Pasar Minggu, dengan air hujan menetes dari helm Ojan ke layar HP, dengan klakson dari belakang karena lampu sudah hijau.

Lalu aku tertawa.

Aku tertawa dan menangis bersamaan, di atas motor bebek pinjaman, dengan jas hujan yang robek dari ketiak sampai pinggang. Bapak-bapak ojol di sebelahku menoleh dan menatapku seperti melihat orang gila. Aku tidak peduli.

Dia memintanya.

Perempuan yang dua puluh tujuh tahun mengurus semua orang, yang berkata aku nggak apa-apa lebih sering daripada selamat pagi, yang menyuruhku pulang supaya aku tidak merasa bersalah karena tidak pulang. Dia memintanya. Bukan meminta tolong. Meminta.

Dan aku sudah di jalan, sebelum dia meminta.

Aku memasukkan HP ke saku dan menarik gas.


Remah, jam enam lewat empat puluh.

Lampu etalase menyala. Antreannya sudah habis. Papan di pintu kaca masih bertuliskan BUKA. Aku memarkir motor Ojan di depan bengkel di ujung jalan, karena tanganku gemetar terlalu keras untuk memarkir dengan rapi, dan berlari sisanya di bawah hujan.

Aku tidak masuk lewat pintu depan.

Aku berjalan memutar ke gang belakang, lewat jalan kecil di samping warung kelontong, karena aku tahu di mana dia akan ada. Aku tahu, tanpa menghitung.

Dia duduk di bangku kayu di antara karung tepung, di bawah atap seng yang kupasang di hari ulang tahunnya. Di depannya, dinding penuh kertas kecil dan roti sobek. Di pangkuannya, sebuah kantong kertas cokelat. Hujan memukul atap di atas kepalanya, dan tidak ada satu tetes pun yang jatuh ke dalam.

Dia mengangkat kepala.

Dia melihatku. Basah dari rambut sampai sepatu, helm orang lain di tangan, jas hujan robek yang menempel di badan seperti kulit yang mengelupas.

Dia tidak berdiri. Dia hanya menatapku, dan matanya, yang biasanya kelihatan seperti sedang menahan tawa, sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku berdiri di ujung gang, di bawah hujan, di luar batas atap.

Dulu aku akan langsung masuk. Atau dulu aku akan berbalik dan pulang. Dulu aku akan memutuskan.

“Aku salah lagi,” kataku. Suaraku serak karena hujan dan karena hal lain. “Aku mutusin buat kamu, tanpa nanya. Lagi. Kayak dulu aku mutusin buat orang lain, tanpa nanya.”

Dia diam.

“Sekarang aku nanya.” Aku menarik napas. Air hujan masuk ke mulutku. “Kamu mau aku di sini, atau di luar?”

Raina menatapku lama.

Lalu dia berdiri. Kantong kertas jatuh dari pangkuannya ke bangku.

“Di sini,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Dari dulu di sini, Mas.”


Aku melangkah masuk ke bawah atap.

Dia memelukku sebelum aku sempat melakukan apa pun. Dua tangan melingkar di pinggangku, wajah terbenam di dadaku yang basah kuyup, tanpa peduli kardigan kremnya ikut basah dalam satu detik. Aku memeluknya kembali. Aku memeluknya seperti malam itu di lantai dapur, di depan kue yang tidak dipotong, hanya saja kali ini aku tidak bertanya dulu, karena kali ini dia yang memintanya.

Dia menangis. Aku juga.

Kami berdiri seperti itu lama sekali, di gang belakang Remah, dengan hujan yang memukul atap seng di atas kepala kami dan tidak bocor sama sekali.

Waktu dia akhirnya mengangkat wajah, ada air hujan dan air mata di pipinya, dan tepung di tulang pipi kirinya, seperti biasa, di tempat yang tidak dia sadari.

Aku mencium keningnya. Pelan. Di tempat di bawah gelungan rambut yang sudah setengah lepas, di mana pensil 2B itu masih tersangkut.

“Raina,” kataku.

“Hm?”

“Mulai sekarang,” kataku, “aku nggak apa-apa dilarang di dapur ini.”

Dia menatapku. Matanya yang merah membulat.

“Kalau apa-apa,” kataku, “bilang apa-apa.”

Dia diam satu detik. Lalu sudut bibirnya bergerak.

“Termasuk kamu,” katanya.

“Terutama aku.”

Dia tertawa. Basah, jelek, dan keluar dari hidung. Dan di belakang kami, dari pintu dapur, seseorang terisak sangat keras.

Tegar berdiri di ambang pintu dengan kemoceng di tangan, menangis tersedu-sedu tanpa malu, bahu berguncang, hidung merah.

“Maaf,” katanya di sela isak. “Aku... aku nggak ngintip. Aku cuma... lewat.”

Di belakangnya, Mbak Sum muncul. Dia menatap kami dari atas ke bawah. Lalu dia berjalan melewati Tegar, menyerahkan sehelai handuk dapur yang bersih ke tanganku dan sepotong roti isi keju yang masih hangat ke tangan Raina, dan kembali ke dalam tanpa berkata apa-apa.

Tegar masih menangis.

“Tegar,” kata Mbak Sum dari dapur. “Gas habis.”

“Mbak Sum, gasnya baru—”

“Habis.”


Aku mengeringkan rambut dengan handuk dapur itu, duduk di bangku kayu, di samping Raina. Handuknya bau mentega dan sedikit bau kayu manis. Raina membelah roti isi keju itu dua dan memberikan separuhnya padaku, seperti di bulan April, di bangku yang sama.

Lalu mataku jatuh ke kantong kertas di bangku di antara kami. Kantong yang tadi jatuh dari pangkuannya.

Ada tulisan di atasnya. Tulisan tangan bulat yang kukenal sejak bulan Desember. Spidol hitam.

Hal yang Aku Mau.

Di bawahnya, satu baris yang dicoret dengan garis lurus dan tebal. Aku masih bisa membacanya di balik coretan itu. 1. Aku nggak ap—

Dan di bawahnya lagi, ditulis ulang.

1. Kamu.

Satu kata. Satu nomor. Tidak ada nomor dua.

Aku menatap kantong itu lama sekali. Raina mengikuti arah mataku, melihat apa yang sedang kulihat, dan pipinya memerah di bawah tepung.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku mengambil kantong itu, melipatnya dua kali dengan sangat hati-hati, dan menyelipkannya di dalam buku saku kesembilan di saku kemejaku yang basah, di antara Daftar Batal dan Asal dicatat. Dan ditanya.

Satu-satunya daftar dalam hidupku yang ditulis orang lain untukku.