Chapter Fifteen
Yang Tidak Ditanyakan
POV: Citra
Ruang rapat kecil di lantai dua puluh dua punya satu jendela yang menghadap tembok gedung sebelah. Mungkin sengaja. Ruang untuk percakapan yang tidak perlu pemandangan.
Senin, 23 Desember, jam sembilan pagi. Dua orang dari Human Capital duduk di seberang meja. Bu Rina, manajer HR yang dulu mewawancaraiku tujuh tahun lalu dan bilang aku punya energi yang bagus. Di sampingnya, seorang staf muda yang mengetik di laptop tanpa pernah mengangkat kepala.
“Ini bukan sidang, Citra,” kata Bu Rina. “Kami cuma mau klarifikasi.”
Aku mengangguk.
“Apakah Saudari memiliki hubungan di luar hubungan profesional dengan Saudara Leon Hartawan?”
Selama tujuh tahun di gedung ini, aku sudah belajar menjawab pertanyaan sulit dengan kalimat yang tidak salah tapi juga tidak menjawab. Kami sedang mengevaluasi. Datanya masih kami dalami. Kami akan menindaklanjuti. Aku pandai melakukannya. Aku menyiapkan tiga versi jawaban seperti itu sepanjang akhir pekan.
“Kami dekat,” kataku. “Ada satu kejadian di luar jam kerja. Saya ikut salah.”
Bu Rina berhenti menulis. Staf muda itu berhenti mengetik, satu detik, lalu melanjutkan.
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk menyusun versi lain. Mungkin karena di kamar kosku ada gaun hijau yang tergantung di pintu lemari, dan aku tidak sanggup menambah satu kebohongan lagi di atasnya.
Bu Rina membuka map di depannya. “Saudara Leon menyatakan bahwa Saudari yang lebih dulu mendekati beliau. Bahwa Saudari sedang dalam kondisi emosional setelah pengumuman promosi, dan beliau hanya berusaha bersikap suportif.”
Aku menatap map itu.
Tidak ada kalimat yang salah di sana. Aku memang sedang emosional. Dia memang membawa kopi. Leon tidak pernah berbohong. Dia hanya tidak pernah menceritakan semuanya.
“Citra?” Bu Rina menunggu. “Ada yang mau Saudari tambahkan?”
Aku bisa menceritakan dua gelas kopi di hari pertama. Tulisan di gelas kertas. Tangga yang kosong tiap jam empat. Hujan, dan laki-laki yang tidak bertanya.
“Nggak, Bu,” kataku. “Saya nggak mau berdebat.”
Aku keluar dari ruangan itu tanpa memperdebatkan apa pun. Itu juga aku. Perempuan yang lebih memilih kalah dengan diam daripada menang dengan ribut.
Di koridor, dekat lift, Leon sedang bicara dengan dua orang dari tim keuangan. Dia tertawa pada sesuatu yang dikatakan salah satu dari mereka, tawa yang datang tepat waktu, dan menepuk bahu orang itu. Dia melihatku lewat. Matanya bergeser padaku satu detik, lalu kembali ke tim keuangan, tanpa jeda sedikit pun dalam tawanya.
Seolah aku bagian dari dinding.
Keputusannya keluar minggu kedua Januari, setelah semua orang kembali dari libur akhir tahun.
Untukku: surat teguran tertulis atas relasi yang tidak profesional di lingkungan kerja. Masuk ke berkas personalia. Mempengaruhi penilaian kinerja tahun ini.
Untuk Leon: pembinaan. Satu sesi percakapan dengan direktur divisinya. Tidak ada surat. Tidak ada berkas. Kepala Strategi Penjualan yang membawa target kuartal empat tercapai seratus dua belas persen tidak bisa diganggu oleh sesuatu yang terjadi di dalam mobil.
Gosip bergerak lebih cepat dari surat HR.
Di lift, dua perempuan dari tim sales berhenti bicara waktu aku masuk, lalu mulai bicara lagi waktu aku keluar. Di grup WhatsApp angkatan management trainee, seseorang mengirim stiker kucing yang mengintip dari balik pintu, dan tiga orang membalas dengan emoji tertawa. Hari Rabu, di monitorku, seseorang menempelkan kertas kuning kecil bertulisan spidol: Hati-hati, mobil ada kameranya 😉
Aku menatap kertas itu lama.
Kezia mencabutnya sebelum aku sempat bergerak. Dia meremasnya jadi bola kecil, melemparnya ke tempat sampah di ujung koridor dengan lemparan yang sangat tepat, lalu meletakkan kotak makan siang di mejaku.
“Nasi goreng,” katanya. “Mama aku yang bikin. Kebanyakan.”
Dia membawakan kotak makan siang setiap hari minggu itu. Setiap hari kebanyakan.
Hari Jumat, kami makan berdua di pantry. Kezia memotong telur dadarnya menjadi dua dan memindahkan separuhnya ke kotakku tanpa bertanya.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi, Mbak,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Aku nggak mau tahu juga. Bukan urusanku.”
Aku diam.
“Aku cuma tahu,” dia menusuk sepotong telur dengan garpu plastik, “Mbak yang ngajarin aku nggak nangis di depan direksi. Jadi aku nggak bakal biarin orang bikin Mbak nangis di depan monitor.”
Dua puluh lima tahun. Kursi baru. Dan dia memilih duduk di pantry bersamaku, di minggu ketika separuh lantai tujuh belas berhenti bicara setiap kali aku lewat.
Di pantry, Dinda membela dengan suara yang terdengar sampai ke ruang direksi.
“Kalian tahu dari mana? Dari mobil? Kalian sopirnya?”
Tidak ada yang menjawab. Dinda menuang teh tariknya dengan gerakan yang sangat dramatis dan keluar dari pantry tanpa menoleh. Belakangan dia bilang padaku, dengan wajah serius, bahwa itu momen paling heroik dalam hidupnya. “Gue gemeteran, Cit. Gue nggak pernah ngelawan orang sales. Mereka punya kartu nama yang tebel.”
Minggu malam, tanggal sembilan belas, Bagas menelepon.
Bagas dua puluh dua tahun, adikku satu-satunya, mahasiswa tingkat akhir Teknik Sipil Undip. Dia memilih jurusan itu karena Rangga. Dia tidak pernah mengakuinya, tapi waktu SMA, setiap kali Rangga datang ke Salatiga untuk Lebaran, Bagas mengikutinya ke mana-mana dan bertanya tentang jembatan, gedung, dan kenapa menara tidak roboh kena angin. Rangga menjawab semuanya dengan sabar, kadang dengan menggambar di belakang kertas bungkus gorengan.
“Mbak,” kata Bagas tanpa salam. “Momen inersia itu apa sih?”
“Kamu nanya ke Mbak?”
“Mas Rangga lagi nggak bisa ditelepon. Katanya lembur.” Suara keyboard di latar belakang. “Bab empat, Mbak. Analisis penampang kolom. Dosenku bilang perhitunganku kayak ramalan zodiak.”
Aku memejamkan mata. Lalu, karena dia adikku dan karena aku tidak ingin dia mendengar suaraku pecah, aku mencoba bercanda.
“Momen inersia itu perasaan yang nggak bisa move on.”
Hening.
“Mbak,” kata Bagas, “serius dikit.”
“Ya mana Mbak tahu, Gas. Mbak anak FEB.”
Dia tertawa. Lalu, dengan suara santai adik laki-laki yang tidak tahu apa-apa, dia mengatakannya.
“Eh, tapi kemarin malam Mas Rangga masih video call bantuin bab empatku. Sampai jam satu, Mbak. Dia gambar diagram tegangan di kertas terus dia tunjukin ke kamera.” Ketukan keyboard berhenti. “Kalian berantem, ya?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Soalnya dia aneh. Nggak nanya-nanya soal Mbak sama sekali. Biasanya kan dia nanya, Mbakmu udah makan belum, Gas? Kemarin nggak. Dia cuma bilang, fokus skripsi, Gas.” Bagas berhenti sebentar. “Terus dia nanya aku udah makan belum.”
Aku menekan punggung tanganku ke mulut.
“Mbak?”
“Iya.” Suaraku keluar tipis. “Iya, Gas. Berantem.”
“Oalah. Baikan, gih. Dia baik banget, Mbak. Kemarin dia bilang bab lima juga mau dia bantu. Katanya, sampai kamu sidang, Gas. Mas udah janji.”
Dia sudah berjanji. Dua tahun lalu, waktu Bagas baru masuk tingkat tiga dan panik karena tidak mengerti mekanika teknik, Rangga berjanji akan mendampinginya sampai sidang skripsi. Aku ada di sana waktu janji itu diucapkan. Di teras rumah Salatiga, malam Lebaran, dengan piring berisi nastar di antara mereka.
Rangga bisa berhenti. Dia berhak berhenti. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan menyalahkannya kalau dia berhenti membalas pesan adik dari perempuan yang mengkhianatinya.
Dia tidak berhenti. Dia begadang sampai jam satu menggambar diagram tegangan untuk adikku, lalu menanyakan apakah adikku sudah makan.
Dan dia tidak mengatakan apa-apa pada Bagas tentang kami. Dia tidak menceritakan apa yang kulakukan. Dia membiarkan Bagas mengira kami hanya berantem.
Setelah telepon ditutup, aku duduk di lantai kamar kos dengan HP di pangkuan, dan menangis lebih lama daripada malam itu.
Malam itu aku menangis karena dia tahu. Malam ini aku menangis karena dia masih baik.
Jam sebelas, aku membuka percakapan dengan Rangga. Di bawah sembilan paragraf yang tidak pernah dia buka, aku mengetik: Makasih udah bantuin Bagas.
Aku menatapnya lama. Lalu aku menghapusnya.
Aku tidak berhak berterima kasih atas kebaikan yang tidak dia berikan untukku. Dia memberikannya untuk Bagas. Kalau aku mengirim pesan itu, aku akan mengambil sedikit dari kebaikan itu untuk diriku sendiri, dan aku sudah mengambil terlalu banyak darinya.
Surat pengunduran diri adalah surat pertama dalam dua bulan yang berhasil kuselesaikan.
Draf pertama. Kalimat kedua langsung ada. Kalimat ketiga juga. Aku menulisnya dalam dua puluh menit, mencetaknya, menandatanganinya, dan meletakkannya di meja Pak Bonar hari Senin pagi sebelum dia datang.
Ternyata satu-satunya hal yang bisa kutulis sampai selesai adalah pamit.
Malam sebelumnya, aku menelepon Ibu di Salatiga.
“Bu, aku pulang bulan depan. Aku resign.”
Jeda. Di latar belakang, televisi menyala dan Bapak sedang menegur seseorang, mungkin kucing tetangga yang masuk ke dapur lagi.
“Ya,” kata Ibu.
Hanya itu. Ibu tidak bertanya kenapa. Ibu tidak pernah bertanya kenapa. Waktu aku pulang dengan nilai D Statistika di semester lima, dia tidak bertanya. Waktu aku menangis di kamar setelah wisuda karena belum dapat kerja, dia tidak bertanya. Dia hanya membuatkan wedang ronde dan meletakkannya di meja di samping tempat tidurku.
Aku tahu, tanpa perlu diberi tahu, bahwa besok pagi dia sudah akan membersihkan kamarku.
Pak Bonar membacanya di depanku. Dia membaca dua kali, menurunkan kacamata, lalu menatapku lama dengan mata yang sedikit merah.
“Kamu yakin, Cit?”
“Yakin, Pak.”
Dia mengangguk pelan, melipat surat itu, dan menyimpannya di laci tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi hari Jumat terakhirku, dia mengumpulkan seluruh tim brand di ruang rapat. Ada tumpeng kecil dari katering kantin, sekotak roti dari Remah yang membuatku harus menunduk lama, dan Pak Bonar berdiri di depan papan tulis dengan spidol tanpa tutup di tangannya.
“Citra ini,” katanya, lalu berhenti. Dia berdeham. “Citra ini...”
Dia berhenti lagi. Dinda mengulurkan tisu dari samping.
“Citra ini tamborin terbaik yang pernah kita punya,” katanya akhirnya, dan suaranya pecah di kata tamborin.
Semua orang tertawa. Pak Bonar ikut tertawa sambil menangis, lalu menyerahkan sesuatu yang dibungkus kertas koran. Tamborin dari malam gala. Bingkainya penyok, dua kepingnya hilang, dan di bagian kayunya dia menulis dengan spidol: Untuk Citra. Pukul yang keras. Itu hati. — Bonar.
Aku memeluk tamborin penyok itu dan tertawa sampai menangis. Atau menangis sampai tertawa. Aku sudah tidak bisa membedakannya.
Aku mulai mengepak kamar kos di minggu terakhir Januari.
Tidak banyak barang. Tujuh tahun di Jakarta muat dalam dua koper dan enam kardus mi instan dari minimarket depan gang. Gaun hijau dari pintu lemari kumasukkan ke kardus kedua, masih dengan label harganya. Tamborin Pak Bonar di kardus ketiga. Kartu kecil yang keriting, Makan selagi, kuselipkan di antara halaman buku catatan.
Lalu aku menemukan jaket itu.
Jaket denim Rangga. Yang dia belikan di tahun ketiga dan selalu kupinjam di bioskop. Yang menyelimutiku di sofa kosnya malam aku menangis di depan martabak. Malam itu hujan, dan aku pulang memakainya, dan tidak pernah mengembalikannya.
Aku mengangkatnya ke wajah.
Masih bau dia. Sabun cuci yang sama sejak kuliah, dan sedikit bau semen yang tidak pernah hilang dari semua bajunya.
Aku melipat jaket itu dan memasukkannya ke kardus kecil yang kutulisi spidol: KEMBALIKAN.
Lalu aku mengeluarkannya lagi.
Lalu aku memasukkannya lagi.
Kardus itu kututup dengan selotip cokelat, tiga lapis, cepat-cepat, sebelum tanganku berubah pikiran lagi.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan reading
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai