Chapter Six
Martabak Keju-Cokelat
POV: Rangga
Ojan memakai gagang pel sebagai rambut.
Lebih tepatnya, dia memakai kepala pel. Dia mencopotnya dari gagangnya di gudang kebersihan lantai lima, menaruhnya di atas kepala seperti wig, lalu duduk di kursi ruang rapat kecil dengan kaki disilangkan dan tangan dilipat di pangkuan.
“Oke,” katanya dengan suara yang dia tinggikan satu oktaf. “Aku Citra. Mulai.”
“Jan, itu pel bekas.”
“Aku Citra.” Dia menyelipkan seutas tali pel ke belakang telinga kiri, gerakan yang dia tiru dengan ketepatan yang menjengkelkan. “Kamu mau ngomong apa, Sayang?”
Aku menyerah dan memberitahunya hari Senin pagi. Bukan karena dia berhasil memancingku, tapi karena aku butuh bantuan. Draf pidato keempatku dibuka dengan kalimat Berdasarkan pertimbangan jangka panjang, dan bahkan aku tahu itu bukan cara melamar perempuan. Itu cara membuka laporan audit.
Reaksi Ojan waktu kuberitahu adalah berdiri, memelukku, mengangkatku sedikit dari lantai, lalu berteriak ANJAY cukup keras sampai Pak Direktur keluar dari ruangannya. Kami bilang ada beton yang hasil uji tekannya bagus. Pak Direktur mengangguk puas dan masuk lagi.
Sekarang jam enam sore, semua orang sudah pulang, dan sahabatku sejak semester satu duduk di depanku dengan kepala pel di atas kepalanya.
Aku membaca draf lima dari kartu kecil.
Ojan mendengarkan dengan serius. Di kalimat ketiga, matanya mulai berkaca-kaca. Di kalimat kelima, dia mengusap hidung dengan lengan kemeja.
“Lo nangis?”
“Ini debu pel.” Dia mengendus. “Kalimat kedua lo jelek.”
“Kenapa jelek?”
“Lo ngomong kayak insinyur.” Dia mencopot pel dari kepalanya, dan untuk sesaat dia bukan lagi Ojan yang suka bercanda. “Ngga, jangan ngomong kayak orang yang lagi ngitung. Ngomong kayak orang yang udah delapan tahun nunggu.”
Malam itu aku menulis draf enam. Besoknya draf tujuh, di kartu baru, dengan pulpen biru yang tidak luntur kalau kena keringat. Kalimat keduanya akhirnya ada. Aku tidak akan menuliskannya di sini. Kalimat itu milik hari Sabtu.
Aku menyelipkan kartu itu di antara halaman buku saku kuning, di samping Daftar 30.
“Gue ikut,” kata Ojan besok paginya, menaruh dua gelas kopi sachet di mejaku seperti menaruh proposal.
“Nggak.”
“Gue duduk di meja sebelah. Pakai kacamata hitam. Gue rekam momennya dari balik pot tanaman.”
“Itu restoran di lantai tiga puluh, Jan. Lo nggak bakal dapet meja.”
“Gue jadi pelayan, deh. Gue punya kemeja putih.”
“Nggak.”
Ojan menghela napas panjang, lalu mengeluarkan selembar kertas terlipat dari saku kemejanya. Pidato best man versi dua belas. Dia meletakkannya di atas keyboard-ku dengan khidmat.
“Kalau gitu, simpen ini,” katanya. “Buat nanti. Jangan dibaca sekarang, nanti lo besar kepala.”
Aku menyimpannya di laci, di bawah kotak beludru. Sampai sekarang kertas itu masih di sana. Aku belum pernah membacanya.
Koh Hendra menyerahkan cincinnya hari Rabu dengan dua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang suci, lalu merusak suasana dengan bilang, “Sudah pas. Kalau nanti nggak pas, bukan salah saya. Salah wastafel.”
Dia membuka kotaknya sekali lagi di depanku, memiringkan cincin itu di bawah lampu supaya ukiran di bagian dalamnya terlihat. R·C·8.
“Kenapa delapan?” tanyanya.
“Delapan tahun, Koh.”
“Tahun depan sembilan. Ukirannya salah, dong.” Dia menyipitkan mata di balik kacamata tebalnya. “Mau saya tambahin tempat kosong buat angka berikutnya? Gratis.”
“Nggak usah, Koh.” Aku menutup kotaknya. “Delapan itu bukan umur pacarannya. Delapan itu tahun waktu aku yakin.”
Koh Hendra diam sebentar. Lalu dia mendengus, membetulkan kacamata, dan menyerahkan nota dengan gaya pedagang yang tidak mau ketahuan terharu.
“Insinyur,” gumamnya. “Romantisnya pakai angka.”
Aku menimbang kotak itu di telapak tangan. Ringan. Semua hal penting dalam hidupku ternyata ringan.
Minggu itu, Citra menangis empat kali.
Aku tahu jumlahnya karena aku menghitung. Aku selalu menghitung. Aku tidak mencatatnya di buku saku, tapi aku menghitung.
Yang pertama hari Jumat, sehari setelah dia lembur sampai larut. Aku menjemputnya di lobi seperti yang kujanjikan. Dia masuk ke mobil, memasang sabuk pengaman, dan tidak bicara. Di radio, penyiar memutar lagu yang dulu sering diputar di kantin FEB, lagu yang bisa kunyanyikan dari awal sampai akhir dengan nada yang salah semua. Jadi aku menyanyikannya, dari awal, dengan nada yang salah semua, karena biasanya itu membuatnya tertawa dan memukul lenganku.
Di reff kedua, dia menangis.
Bukan menangis pelan. Menangis seperti ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya. Kedua tangan menutup wajah, bahu berguncang, napasnya tersengal.
Aku menepi di depan halte. Lampu hazard berkedip.
“Cit? Cit, kenapa?”
Dia menggeleng.
“Kezia lagi? Pak Bonar ngomong apa?”
Dia diam lama. Lalu dia mengangguk.
Aku memeluknya dari kursi pengemudi dengan posisi yang canggung, sabuk pengaman menahan separuh badanku. Bahunya basah di pipiku. Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma menahannya sampai guncangannya berhenti. Di belakang kami, sebuah angkot membunyikan klakson panjang karena kami menghalangi halte. Lalu satu lagi. Sopirnya berteriak sesuatu dari jendela. Aku tidak bergerak. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli sedang melanggar aturan apa.
Yang kedua hari Minggu, di kosku. Aku sedang memasak mi rebus dengan dua telur, menu andalanku sejak kuliah. Satu telur untuknya, satu lagi juga untuknya, karena dia selalu mengambil telurku. Aku menoleh untuk menanyakan dia mau cabai rawit atau tidak, dan dia sedang berdiri di ambang pintu dapur, menatapku.
Bukan menatap mi. Menatapku. Lama, diam, dengan mata yang pelan-pelan basah, seperti orang yang sedang menghafal wajah seseorang sebelum naik kereta jauh.
“Cit?”
“Uapnya,” katanya, mengusap mata. “Pedes.”
Aku belum menaruh cabai.
Yang ketiga hari Selasa, di telepon. Dia tidak bersuara. Tapi delapan tahun cukup untuk mengenali napas seseorang yang sedang menahan tangis di seberang telepon.
“Cit,” kataku. “Kalau ada apa-apa, kamu bilang, ya.”
“Iya.”
Satu kata. Aku menerimanya, seperti aku menerima semua laporan uji beton yang hasilnya di atas standar. Aku tidak meminta sampel ulang.
Rabu malam, Laras mengirim pesan.
Mas, Mbak Citra baik-baik aja? Semalem aku lihat dia update story jam 1 pagi. Fotonya cuma langit-langit kamar.
Capek kantor, balasku.
Mas yakin?
Aku menatap pertanyaan itu sebentar. Dua kata. Adikku bertanya dengan cara yang tidak pernah kupakai untuk bertanya pada siapa pun.
Yakin.
Yang keempat hari Kamis.
Kamis malam kami kembali seperti biasa. Makan malam di kosku, karena katanya dia sedang tidak ingin ke mana-mana. Aku turun sebentar ke gerobak martabak di ujung Tebet Raya, memesan yang biasa, dan menunggu di bawah lampu gerobak sambil memikirkan kotak beludru di laci.
Enam belas hari lagi.
Aku naik membawa kotak hangat, meletakkannya di meja di depannya, dan membuka tutupnya. Keju-cokelat. Setengah-setengah. Uapnya naik, wangi mentega dan keju.
Citra melihat martabak itu, dan wajahnya runtuh.
Tidak ada kata lain untuk itu. Wajahnya runtuh seperti dinding yang kehilangan kolom. Dia menangis lebih keras dari empat kali sebelumnya. Lebih keras dari yang pernah kulihat selama delapan tahun. Dia menangis di depan martabak keju-cokelat seolah martabak itu baru saja mengatakan sesuatu yang kejam padanya.
Aku tidak mengerti. Aku sungguh tidak mengerti.
Martabak keju-cokelat adalah obat yang tidak pernah gagal. Semester lima, dua minggu setelah kami jadian, Citra mendapat nilai D di ujian tengah semester Statistika dan menangis di tangga gedung FEB. Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku naik motor ke gerobak martabak di Tembalang dan kembali dengan kotak setengah keju, setengah cokelat, karena aku tidak tahu dia lebih suka yang mana. Dia membuka kotaknya, melihat dua rasa yang dipisah garis lurus seperti peta, dan tertawa di tengah tangisnya. Kamu nggak tahu aku suka yang mana, ya? Aku menggeleng. Dua-duanya, katanya. Aku suka dua-duanya.
Sejak hari itu, delapan tahun, setiap kali dia sedih, aku membawa martabak setengah-setengah. Dan setiap kali, dia tertawa.
Malam itu dia tidak tertawa.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang kumengerti. Aku duduk di sampingnya, menarik kepalanya ke dadaku, dan memeluknya.
“Kamu nggak usah kuat terus, Cit,” kataku ke rambutnya. “Ada aku.”
Dia mencengkeram kemejaku dengan dua tangan, seperti orang yang tenggelam. Tangisnya berubah jadi suara yang belum pernah kudengar keluar dari dirinya. Suara yang kecil dan putus-putus, seperti anak kecil.
“Ada aku,” ulangku. “Aku nggak ke mana-mana.”
Dia menangis makin keras.
Aku menepuk punggungnya dengan ritme yang sama seperti Ibu dulu menepuk punggungku waktu aku demam. Di kepalaku, aku menyusun semuanya dengan rapi. Kantor. Kezia. Pak Bonar yang bilang dia terlalu bisa diandalkan. Delapan tahun bekerja keras dan tidak dipilih. Tentu dia menangis. Siapa pun akan menangis.
Dan di kepalaku juga, ada satu kalimat yang terus menghangatkan dada: enam belas hari lagi. Enam belas hari lagi aku akan berlutut. Enam belas hari lagi aku akan memberinya sesuatu yang tidak bisa diambil direksi mana pun. Enam belas hari lagi dia akan berhenti menangis.
Aku percaya itu. Aku benar-benar percaya cincin itu bisa memperbaiki apa saja.
HP-nya tergeletak di meja, di samping kotak martabak. Tertelungkup.
Bergetar sekali. Dua kali.
Citra tidak melihatnya. Dia bahkan tidak menoleh. Tapi aku melihat jari-jarinya mengencang di kemejaku setiap kali getaran itu datang.
Aku melihatnya. Aku melihat HP yang selalu tertelungkup sejak beberapa minggu terakhir. Aku melihat bahu yang berjengit. Aku melihat seseorang yang dulu meletakkan HP-nya di meja dengan layar menghadap ke atas, karena katanya tidak ada yang perlu dia sembunyikan dariku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat retak, dan aku tidak mencatatnya.
Aku menyimpulkan sendiri. Grup kantor. Email Pak Bonar. Ucapan selamat untuk Kezia. Jawabanku masuk akal, dan jawaban yang masuk akal tidak perlu diperiksa.
Itu kesalahanku yang pertama. Belakangan, waktu aku punya terlalu banyak waktu untuk menghitung ulang semuanya, aku tahu itu bukan kesalahan terbesar. Tapi itu yang pertama. Dan di dunia struktur, kegagalan besar hampir selalu dimulai dari kesalahan kecil yang dianggap tidak perlu dicatat.
Dia tertidur di sofa jam sepuluh, masih memakai blazer kerja, kakinya meringkuk. Martabaknya tinggal separuh. Dia makan dua potong sambil terisak, karena katanya sayang kalau dingin.
Aku menyelimutinya dengan jaket denimku, jaket yang dia belikan di tahun ketiga dan selalu dia pinjam setiap kali kedinginan di bioskop. Aku duduk di lantai di samping sofa, punggung bersandar ke rangkanya, mendengarkan napasnya yang perlahan jadi teratur.
Di laci, enam langkah dari tempatku duduk, ada cincin dari emas Bapak.
Di buku saku, di samping Daftar 30, ada kartu kecil dengan kalimat yang akhirnya lengkap.
Aku memejamkan mata dan menghitung mundur. Enam belas. Lima belas, kalau besok sudah lewat tengah malam.
Di sofa, Citra bergerak sedikit dalam tidurnya. Dia bergumam, sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
“Maaf.”
Aku menoleh. Matanya masih terpejam. Pipinya masih basah.
“Nggak usah minta maaf,” bisikku. “Nangis itu nggak salah.”
Aku mengira dia minta maaf karena menangis.
Delapan tahun aku mengenalnya. Delapan tahun aku hafal semua kata yang keluar dari mulutnya, cara dia mengucapkan Ngga kalau sedang kesal dan kalau sedang sayang, perbedaan antara iya dan iyaaa.
Dan malam itu, aku salah membaca satu kata.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat reading
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai