Chapter Twenty Seven
Delapan Tahun Itu Rumah
POV: Citra
Balasannya masuk Jumat pagi, tiga belas Juni, jam enam lewat dua puluh.
Aku sedang memberi makan Juragan dan Pak RT bersama Bapak ketika HP di saku dasterku bergetar. Aku hampir menjatuhkan kantong pelet ke kolam.
Boleh. Sabtu, 21 Juni, jam 16.00. Taman di Tebet, dekat pintu masuk utara.
Satu kalimat jawaban, satu kalimat jadwal, satu kalimat lokasi. Tanpa sapaan. Tanpa nama. Titik di ujung setiap kalimat.
Notulen.
Aku tertawa, berdiri di tepi kolam dengan daster dan sandal jepit, sementara Bapak menatapku bingung. Lalu aku menangis, karena aku sudah lupa betapa aku merindukan pesan-pesan yang dibilang Laras seperti notulen rapat.
“Nduk?” tanya Bapak.
“Seneng aja, Pak. Pak RT makan banyak hari ini.”
Bapak menatap kolam. Pak RT tidak muncul sama sekali.
Booth Kopi Lereng di Pameran Kopi Nusantara ukurannya dua meter kali dua meter, di pojok paling belakang hall B, di antara stan kopi dari Temanggung dan stan alat seduh dari Bandung yang lampunya terlalu terang. Kami memasang foto tangan Pak Wagiman yang dicetak besar di tengah, dan di bawahnya, dengan huruf sederhana: Kopi ini nggak bakal mengubah hidupmu. Tapi pagimu, mungkin.
Seno gugup sekali. Dia belum pernah ke Jakarta. Hari pertama, dia menyeduh kopi untuk pengunjung dengan tangan gemetar dan menjawab setiap pertanyaan dengan iya, Kak atau nggak tahu, Kak, tanya Mbak Citra, bahkan untuk pertanyaan seperti ini kopi apa.
Bu Lastri melakukan panggilan video setiap jam.
“Distributornya udah dateng belum?”
“Belum, Bu.”
“Yang nawar jangan dikasih sampel kedua.”
“Iya, Bu.”
“Seno udah makan?”
“Belum, Bu.”
“SENO!”
Di hari kedua, orang-orang mulai datang karena foto itu. Mereka berdiri di depan tangan Pak Wagiman, membaca kalimat di bawahnya, lalu menyeruput kopi yang Seno seduh dengan tangan yang sudah tidak gemetar lagi. Seorang ibu dari Depok menangis karena tangan di foto itu mirip tangan almarhum ayahnya. Seorang barista muda dari Kemang menawarkan kerja sama untuk menu musiman. Dan seorang distributor dari Surabaya, laki-laki gemuk berkemeja batik, mencicipi tiga kali, lalu bertanya harga tanpa menawar.
Di hari ketiga, seseorang memotret booth kami dan mengunggahnya dengan keterangan booth paling kecil tapi paling bikin mewek di JCC.
Aku tidak memeriksa berapa like-nya. Aku menghitung bungkus kopi yang tersisa di kardus. Sembilan, dari dua ratus.
Bu Ratna meneleponku hari Kamis, hari kedua pameran.
Bagas yang memberi tahu, tentu saja. Bagas memberi tahu semua orang semua hal. Dia bilang pada Bu Ratna bahwa kakaknya sedang di Jakarta, di JCC, dengan kopi dari lereng gunung yang viral.
“Nduk, Sabtu siang main ke rumah, ya.” Suaranya sama seperti di bulan Februari, lembut dan hati-hati. “Ibu masak. Cuma makan siang. Ibu nggak akan nanya-nanya.”
Aku seharusnya menolak. Aku tahu aku seharusnya menolak. Tapi Bu Ratna bertanya, dan aku tidak pernah bisa menolak Bu Ratna dalam delapan tahun, dan aku tidak tahu apakah aku sudah berubah cukup banyak untuk mulai menolak sekarang.
Sabtu jam sebelas, aku berdiri di depan rumah di Bekasi Timur. Kursi rotan di teras. Jam dinding di ruang tamu yang selalu lima menit lebih cepat. Payung hitam di gantungan di bawah foto wisuda Bapak.
Bu Ratna memelukku di pintu. Lama. Lebih lama dari biasanya. Dia lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya, dan rambutnya lebih banyak yang putih.
Laras ada di ruang tengah.
Dia tidak memelukku. Dia berdiri, mengangguk sekali, lalu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas teh untukku. Gelas paling jelek di rumah itu. Gelas kaca bekas selai yang tutupnya sudah hilang, dengan bekas label yang belum dikerok sampai bersih.
“Silakan, Mbak,” katanya dengan senyum yang sangat sopan.
“Laras,” tegur Bu Ratna. “Kok pakai gelas itu?”
“Gelas yang bagus lagi dicuci, Bu.”
Tidak ada gelas lain di rak yang sedang dicuci. Aku bisa melihat enam gelas bagus berjajar rapi di lemari kaca di belakangnya. Aku meminum teh dari gelas bekas selai itu tanpa berkata apa-apa. Aku pantas mendapatkannya, dan Laras tahu aku tahu.
Bu Ratna menyajikan rendang.
Dia membawanya dari dapur dalam wadah plastik bertutup biru. Dia membuka tutupnya di meja makan, dan aku melihat sesuatu yang membuat tanganku berhenti di udara.
Di tutup itu masih menempel selotip kertas yang sudah menguning dan mengeriting di ujungnya. Tulisan spidolnya sudah pudar, tapi masih terbaca. Huruf kapital. Digarisbawahi dua kali.
CITRA.
Enam bulan. Bu Ratna tidak mencabutnya.
“Ibu simpen terus,” katanya sambil menyendokkan rendang ke piringku. Dia tidak melihat ke arah tutup itu. “Tiap Minggu Ibu masak baru, Ibu taruh di wadah ini lagi. Kebiasaan.”
Aku menatap namaku di tutup wadah plastik. Delapan tahun, dan Bu Ratna masih menulis namaku di tempat yang bisa dilihat semua orang yang membuka kulkasnya.
Aku makan rendang itu. Aku memakannya sampai habis, sesuap demi sesuap, karena kalau aku berhenti, aku akan menangis di meja makan ini, dan aku tidak berhak menangis di meja makan ini.
Di seberang meja, Laras menatapku tanpa berkedip. Dua kali dia membuka mulut. Yang kedua kalinya, dia benar-benar mulai bicara.
“Mbak Citra, Mas Rangga itu—”
“Laras,” kata Bu Ratna, tanpa mengangkat kepala. “Ambil kerupuk.”
Laras menutup mulutnya, menatap ibunya lama, lalu berdiri dan pergi ke dapur. Dia tidak kembali sampai aku pamit.
Di teras, waktu aku memakai sepatu, Bu Ratna memegang tanganku.
“Nduk.” Suaranya pelan, supaya tidak terdengar dari dapur. “Ibu nggak tahu kalian kenapa. Ibu nggak akan nanya. Tapi Rangga masih nyimpen cincinnya di laci. Ibu tahu anak Ibu.” Dia meremas tanganku. “Kalau masih ada yang bisa dibenerin, benerin, ya.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku mencium tangannya, seperti delapan tahun terakhir, dan berjalan ke ujung gang tanpa menoleh, karena kalau menoleh, aku akan melihat Bu Ratna masih berdiri di teras, menunggu sampai aku hilang dari pandangan. Persis seperti anaknya.
Taman itu dulu masih lapangan becek waktu kami baru pindah ke Jakarta. Sekarang ada jalur lari, rumput yang dipotong rapi, jembatan kayu di atas kolam buatan, dan bangku-bangku besi di bawah pohon trembesi.
Aku datang jam empat kurang lima belas. Dia sudah di sana.
Tentu saja dia sudah di sana.
Dia duduk di bangku dekat pintu masuk utara, persis seperti yang dia tulis, dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, kiri dan kanan sama lebar. Dia tidak sedang melihat HP. Dia sedang melihat kolam, atau sesuatu di seberang kolam, dengan tangan di atas lutut.
Dia kelihatan berbeda.
Tidak kurus seperti kata ibu kos bulan Februari. Wajahnya sudah kembali terisi, kulitnya lebih gelap karena matahari proyek. Dan ada sesuatu di bahunya. Sesuatu yang tidak kukenali, padahal aku hafal bahu itu selama delapan tahun. Bahunya tidak tegak dan kaku seperti balok yang dipasang dengan waterpass. Bahunya santai. Turun. Seperti bahu orang yang sudah meletakkan sesuatu yang berat.
Di saku kemejanya, menyembul sedikit, ada buku saku kuning. Sampulnya masih kaku, sudutnya belum melengkung. Buku yang kesembilan. Yang kubelikan di Blok M untuk anniversary terakhir kami, di Penyetan Bu Tum, malam dia pergi ke pengecoran dan aku pulang naik ojol.
Dia memakainya. Aku tidak tahu apa yang dia tulis di dalamnya.
Dia menoleh dan melihatku.
Dia berdiri. Dia tidak tersenyum, tapi dia juga tidak tidak tersenyum.
“Cit.”
“Ngga.”
Kami duduk di bangku yang sama, di dua ujungnya, dengan ruang kosong selebar satu orang di antara kami.
Aku sudah menyiapkan ini selama empat bulan. Di ruang praktik Bu Hesti. Di sebelas halaman buku tulis. Di atas motor Seno di jalan berbatu menuju kebun Pak Wagiman. Aku sudah menghafal tidak ada yang perlu dihafal, karena Bu Hesti bilang permintaan maaf yang dihafal itu bukan permintaan maaf, tapi presentasi.
“Aku minta maaf,” kataku.
Dia diam. Menunggu.
“Bukan cuma soal malam itu. Soal semuanya. Soal tiga minggu sebelumnya, waktu aku nangis di depanmu dan biarin kamu mikir itu soal kantor. Soal martabak yang kamu beliin dan aku makan sambil bohong. Soal nggak apa-apa yang aku bilang ribuan kali selama delapan tahun.” Suaraku bergetar, tapi tidak berhenti. Aku tidak akan berhenti hari ini. “Soal selokan. Terutama soal selokan.”
Dia menatap kolam.
“Aku udah mau ngaku hari Sabtu itu,” kataku. “Aku udah nulis di HP. Lima kali. Aku mau bilang semuanya di restoran itu, sebelum kamu sempat ngomong apa pun.”
Aku berhenti. Menarik napas.
“Tapi itu nggak penting,” kataku. “Itu nggak ngubah apa-apa. Yang penting, aku nggak ngaku. Waktu semuanya ketahuan, aku nggak ngaku. Aku buang. Di depan mata kamu.”
Rangga menoleh dan menatapku untuk pertama kalinya sejak aku mulai bicara.
“Kamu sehat, Cit?” tanyanya.
Aku tertegun. Dia bertanya. Rangga, yang delapan tahun tidak pernah bertanya karena merasa sudah tahu jawabannya, bertanya.
“Sehat,” kataku. “Aku... ke psikolog. Di Salatiga. Kerja di kedai kopi. Bapak masih kasih makan lele.”
Dia mengangguk pelan. “Bagas bilang.”
Lalu kami diam lama. Seorang anak kecil bersepeda roda tiga melintas di depan kami, dikejar ibunya. Angin sore menggerakkan daun trembesi di atas kepala kami.
Dan aku mengatakan hal yang tidak kusiapkan. Hal yang Bu Hesti tanyakan dan tidak bisa kujawab. Hal yang ternyata ada di dalam diriku sejak brosur pameran itu sampai di tanganku.
“Ngga,” kataku. “Kalau suatu hari kamu mau pulang...”
Suaraku pecah.
“...aku masih di sini.”
Rangga tidak menjawab.
Dia menatap kolam. Lama. Rahangnya bergerak sedikit, seperti orang yang mengunyah sesuatu yang tidak bisa ditelan. Tangannya di atas lutut mengepal, lalu terbuka, lalu mengepal lagi.
Di bangku di antara kami, HP-nya menyala.
Dia meletakkannya di sana, layar menghadap ke atas, waktu kami duduk tadi. Dulu dia selalu meletakkan HP-nya dengan layar menghadap ke atas, karena katanya tidak ada yang perlu disembunyikan dariku. Ternyata dia masih begitu.
Satu notifikasi. Aku tidak bermaksud membacanya. Mataku membacanya sendiri.
Raina 🍞: Udah sampai taman? Jangan lupa minum. Panas.
Aku menatap layar itu sampai mati sendiri.
Udah sampai?
Dua kata. Delapan tahun, dua kata itu milik kami. Dia yang bertanya, aku yang menjawab. Setiap malam, dari kantin FEB sampai kamar kos di Setiabudi.
Sekarang ada orang lain yang bertanya padanya.
Rangga tidak membalas pesan itu di depanku. Dia tidak membalik HP-nya. Dia membiarkannya di sana, layar menghadap ke atas, karena dia tidak menyembunyikan apa pun. Bahkan dariku. Bahkan ini.
Aku memandangi kolam buatan di depan kami. Air hijau. Dua angsa plastik besar yang dipakai untuk perahu dayung, terikat di dermaga kayu.
“Dia orangnya baik?” tanyaku.
Rangga diam satu detik.
“Baik,” katanya.
Satu kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada tapi. Dia tidak bilang kami cuma teman atau ini nggak seperti yang kamu kira. Dia tidak berusaha melindungi perasaanku dari kenyataan.
Dan entah kenapa, itu yang membuatku tahu dia sudah berubah.
“...Bagus,” kataku.
Aku tersenyum. Aku menatap kolam dan tersenyum, dan kata itu keluar dari mulutku dengan nada yang tepat, ramah, ikut senang, seperti tepuk tangan untuk Kezia di ruang serbaguna lantai sembilan.
Itu bagus terburuk yang pernah kuucapkan seumur hidupku.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah reading
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai