← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Two

Yang Naik Bukan Aku

POV: Citra

Ada satu hal yang tidak diajarkan di kuliah manajemen pemasaran: cara bertepuk tangan untuk orang yang baru saja duduk di kursimu, tanpa terlihat seperti sedang bertepuk tangan di pemakamanmu sendiri.

Aku mempelajarinya hari itu. Kilat. Tanpa SKS.

Tapi sebelum itu, ada rendang.

“Rendang,” kata Pak Bonar, mengetuk papan tulis dengan spidol yang tutupnya sudah hilang sejak kampanye Lebaran. “Matcha.”

Dia mengetuk lagi, dua kali, keras, seolah papan tulis itu berutang padanya.

“Kalian lihat yang saya lihat?”

Dua belas orang di ruang rapat lantai tujuh belas diam. AC berdengung. Di sebelahku, Dinda mencondongkan badan dan berbisik tanpa menggerakkan bibir, keahlian yang dia asah selama lima tahun duduk di barisan depan rapat Pak Bonar.

“Gue lihat diare, Cit.”

Aku menggigit bagian dalam pipi supaya tidak tertawa.

“Fusion,” lanjut Pak Bonar, matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan minyak bumi di halaman belakang rumahnya. “Kriuk Kala varian Nusantara-Jepang. Pedas rendang, pahit-manis matcha. Gen Z suka yang aneh-aneh. Kita kasih yang paling aneh.” Dia menunjukku dengan spidol. “Citra. Tagline. Sekarang.”

Semua kepala menoleh. Aku menyelipkan rambut ke telinga kiri, kebiasaan yang muncul setiap kali otakku dipaksa berlari.

“Pedasnya Padang,” kataku, “tenangnya Kyoto.”

Hening tiga detik. Lalu Pak Bonar memukul meja dengan telapak tangan.

“Nah! Ini!” Dia menunjukku lagi, kali ini ke seluruh ruangan, seperti memamerkan barang dagangan. “Ini kenapa nama kamu saya ajukan ke atas, Cit. Ini.”

Dia mengedip. Dinda menyikut rusukku. Di ujung meja, Kezia tersenyum padaku dan mengacungkan jempol kecil yang tulus.

Selesai rapat, Dinda menyeretku ke pantry dan menuang dua gelas teh tarik saset.

“Kalau lo jadi BM,” katanya, “gue minta jadi asisten lo. Syaratnya cuma satu.”

“Apa?”

“Gue nggak mau ikut rapat rendang.” Dia menyeruput tehnya dengan khidmat. “Gue punya lambung, Cit. Lambung gue punya perasaan.”

Kembali di meja, aku menulis Rendang Zen?? di buku catatan. Di bawahnya, kecil sekali, aku menulis Brand Manager, lalu mencoretnya, lalu menulisnya lagi.

Sembilan puluh persen, kata Rangga waktu anniversary. Delapan puluh lima, dengan faktor keamanan.

Aku membiarkan diriku percaya.


Town hall jam empat sore. Ruang serbaguna lantai sembilan penuh. Di setiap kursi ada kotak snack putih berstiker logo Gemilang. Isinya satu roti sobek srikaya, satu croissant kecil, dan satu kartu bertulisan tangan.

Makan selagi hangat. — Remah

Rotinya masih sedikit hangat. Kartunya ditulis dengan tinta biru yang sedikit tembus ke balik kertas. Bukan cetakan. Aku membaliknya, mencari tanda bahwa ini buatan mesin. Tidak ada. Seseorang, entah di mana, menulis kalimat yang sama seratus kali lebih untuk orang-orang yang tidak akan pernah dia temui.

Orangnya pasti hangat, pikirku, lalu memasukkan kartu itu ke saku blazer.

Aku tidak makan rotinya. Perutku sudah terikat simpul sejak makan siang.

Direktur HR naik ke panggung. Slide pertama: pencapaian kuartal tiga. Slide kedua: karyawan teladan. Slide ketiga: promosi.

Aku mendengar nama-nama dari divisi lain. Tepuk tangan. Nama lagi. Tepuk tangan. Lalu:

“Brand Manager, Kriuk Kala.” Jeda dramatis. Direktur HR tersenyum lebar. “Kezia Anggraini!”

Ruangan meledak.

Aku bertepuk tangan.

Aku bertepuk tangan paling keras di ruangan itu, karena aku tahu semua mata yang tahu, Dinda, Pak Bonar, dua orang dari tim digital, akan langsung melirik ke arahku. Jadi aku memberi mereka sesuatu untuk dilihat: perempuan yang sportif. Yang ikut senang. Yang tidak apa-apa.

“Cit,” bisik Dinda, “lo tepuk tangan kayak lagi ngusir ayam.”

Aku tidak berhenti.

Kezia naik ke panggung. Dua puluh lima tahun. Dua tahun lalu dia masuk sebagai management trainee, dan aku yang mengajarinya membuat brief kreatif, cara bicara dengan agensi, cara tidak menangis waktu direksi menolak konsep. Di layar di belakangnya, slide penghargaannya menampilkan kampanye Kriuk Kala: Teman Lembur.

Teman Lembur.

Ide itu keluar dari mulutku di rapat brainstorming bulan Juni, jam tujuh malam, waktu semua orang sudah lapar dan Pak Bonar sudah menyerah. Kezia yang menulisnya di papan. Kezia yang mempresentasikannya ke direksi, karena hari itu aku sedang di Cikarang mengurus supplier kemasan yang salah cetak dua puluh ribu bungkus.

Aku yang mengerjakan. Dia yang dilihat.

Di panggung, Kezia mencari mataku di antara kerumunan. Wajahnya meminta maaf. Itu yang paling berat: dia baik. Dia tidak mencuri apa pun. Kursi itu memang diberikan padanya.

Pak Bonar menghindari tatapanku sepanjang sisa acara.

Kezia menemukanku lebih dulu, di koridor dekat lift, sambil memeluk buket bunga dari HR yang masih terbungkus plastik.

“Mbak.” Matanya merah. “Mbak, aku... Teman Lembur itu, aku udah bilang ke Pak Bonar itu ide Mbak. Aku bilang dua kali. Aku nggak tahu kenapa—”

“Kez.” Aku memeluknya. Buketnya terjepit di antara kami dan plastiknya berkerisik. “Kamu pantes. Kamu yang presentasi. Kamu yang jawab semua pertanyaan direksi. Itu bukan hal kecil.”

“Tapi Mbak—”

“Nanti traktir aku seblak. Yang level lima.”

Dia tertawa sambil menangis, dan aku menepuk punggungnya dua kali, seperti dulu waktu konsep pertamanya ditolak. Aku pandai melakukan ini. Menenangkan orang lain adalah keahlian yang tidak pernah masuk ke slide mana pun.

Kezia pergi. Lalu Pak Bonar akhirnya berhenti di depanku sambil menggaruk tengkuk.

“Direksi mau muka baru, Cit.” Suaranya pelan. “Kamu itu... terlalu bisa diandalkan. Kalau kamu naik, siapa yang ngerjain semuanya?”

Dia bermaksud memuji. Aku tahu dia bermaksud memuji.

Aku tersenyum dan bilang tidak apa-apa. Lalu aku berjalan sangat tenang ke tangga darurat, membuka pintunya, menutupnya pelan-pelan supaya tidak berbunyi, turun dua anak tangga, duduk, dan menangis.


Tangga darurat lantai tujuh belas bau debu dan cat besi. Lampunya neon putih yang berkedip setiap beberapa detik. Aku menangis tanpa suara, karena delapan tahun pacaran dengan laki-laki yang tidak pernah menangis membuatmu malu bersuara.

Aku membuka chat dengan Rangga dan mengetik: Aku nggak naik. Lalu menghapusnya. Dia sedang di proyek. Dia akan membalas sejam lagi dengan Sabar ya. Nanti malam kita bahas. Dan balasan itu akan benar, dan akan baik, dan bukan itu yang kubutuhkan. Aku tidak tahu apa yang kubutuhkan. Aku cuma tahu bukan itu.

Pintu di atasku terbuka.

Aku buru-buru mengusap wajah dengan punggung tangan, menunduk, pura-pura mencari sesuatu di HP.

“Citra Anindya.”

Aku mendongak.

Leon Hartawan berdiri di bordes atas, membawa dua gelas kopi. Kemeja putih, lengan digulung sampai siku, dasi sudah dilonggarkan. Head of Sales Strategy. Tiga puluh tiga tahun. Satu-satunya orang di gedung ini yang hafal nama satpam shift malam dan nama anak ibu kantin. Aku baru tiga atau empat kali bicara dengannya, semuanya di rapat lintas divisi.

Dia memanggil nama lengkapku. Tidak ada yang memanggil nama lengkapku sejak wisuda.

“Saya nggak ganggu,” katanya. “Saya cuma nganterin ini.”

Dia turun, tapi tidak terlalu dekat. Meletakkan satu gelas di anak tangga di sampingku, lalu duduk dua anak tangga di atas, punggung bersandar ke dinding. Memberi jarak.

“Americano,” katanya. “Kelihatannya kamu butuh yang nggak pakai gula hari ini.”

Aku tidak menyentuh kopinya. “Kok tahu aku di sini?”

“Saya lihat kamu jalan ke sini dengan kecepatan orang yang mau nangis tapi nggak mau ketahuan.” Dia menyesap kopinya sendiri. “Saya kenal jalan kayak gitu. Saya pernah jalan kayak gitu juga.”

Aku tertawa. Basah, jelek, tapi tertawa.

“Teman Lembur itu ide kamu,” katanya. Bukan pertanyaan. “Saya ikut rapat brainstorming bulan Juni. Duduk di pojok, nunggu giliran presentasi sales. Kamu yang nyebut pertama kali. Jam tujuh lewat. Kezia yang nyatet.”

Aku menatapnya.

Empat bulan. Empat bulan aku menunggu satu orang saja di gedung ini ingat bahwa kalimat itu milikku. Rangga tahu, tentu. Aku cerita padanya waktu itu. Tapi Rangga mendengar seperti dia mendengar semuanya: dengan sungguh-sungguh, lalu menyimpannya di rak yang rapi, lalu kembali ke kolom dan balok.

Laki-laki ini mengingatnya tanpa kuceritakan.

“Kamu kebagian kerjaan,” kata Leon, “dia kebagian tepuk tangan. Itu bukan karena kamu kurang. Itu karena kamu terlalu sopan buat rebut mikrofon.”

Aku mengambil kopinya. Panas. Pahit. Pas.

Kami duduk diam sebentar. Lampu neon berkedip. Tujuh belas lantai di bawah kami, Kuningan mulai macet menjelang magrib.

Leon berdiri dan menepuk celananya.

“Tangga ini kosong tiap jam empat,” katanya. “Kalau besok masih mau nangis, saya bawa kopi lagi. Kalau nggak mau nangis, saya tetep bawa kopi.”

Dia naik dan menghilang di balik pintu.

Aku tetap duduk di sana sampai kopinya dingin dan lampu neon itu berkedip untuk yang keseratus kalinya. Aku menghabiskan kopi itu sampai tetes terakhir, padahal aku tidak suka Americano. Padahal sejak kuliah aku selalu memesan kopi susu gula aren.

Pahit itu, entah kenapa, terasa seperti diperhatikan.

Aku tahu, bahkan waktu itu, bahwa tidak ada laki-laki yang membawa dua gelas kopi ke tangga darurat secara kebetulan.

Aku tahu.

Aku hanya tidak mau tahu.


Rangga menjemputku di lobi jam tujuh. Honda Jazz abu-abunya berhenti di jalur drop-off dengan lampu hazard menyala, helm proyek putih di jok belakang. Seperti setiap hari selama tiga tahun terakhir.

Aku menceritakan semuanya sebelum mobil keluar dari basement.

Dia mendengarkan. Dia selalu mendengarkan. Dua menit penuh, tanpa memotong, matanya bergantian antara jalan dan wajahku.

“Brengsek direksinya,” katanya.

Aku menunggu kalimat berikutnya. Aku menunggu dia bertanya bagaimana rasanya.

“Kamu bikin daftar,” katanya. “Pencapaian kamu setahun ini. Pakai angka. Kampanye mana, penjualan naik berapa persen, engagement berapa. Terus ajukan ke HR, minta evaluasi ulang. Daftar itu bukti, Cit.”

“Ngga, aku nggak mau bikin daftar.”

“Daftar itu bukti,” ulangnya, lembut, yakin. Lalu, mungkin karena melihat wajahku, dia mencoba menghibur dengan satu-satunya cara yang dia tahu. “Eh, tadi siang hasil tes kolom lantai empat keluar. Bagus. Mutunya masih di atas rencana. Retaknya cuma retak rambut.”

Aku memandang ke luar jendela. Lampu-lampu Rasuna Said lewat satu-satu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya di lampu merah.

“Aku nggak apa-apa.”

Itu kebohongan pertama.

Waktu itu aku tidak tahu bahwa aku sedang memulai sebuah hitungan.

Di Tebet, dia menepi tanpa bertanya. Gerobak martabak di ujung Jalan Tebet Raya. Dia keluar, memesan, menunggu di bawah lampu gerobak dengan tangan di saku. Lima belas menit kemudian dia kembali dan meletakkan kotak hangat di pangkuanku.

Keju-cokelat. Setengah-setengah. Sejak semester lima.

Delapan tahun, dia tidak pernah salah pesan. Delapan tahun, dia tidak pernah lupa.

Kadang aku ingin dia salah, sekali saja. Supaya aku tahu dia masih bertanya.

Aku harus menulis ini sekarang, sebelum semua yang terjadi sesudahnya membuat kalimat ini terdengar seperti pembelaan: aku mencintainya. Aku mencintai laki-laki yang memesankan martabak tanpa bertanya, yang menghitung beban tas laptopku, yang hafal ukuran sepatuku dan nama semua sepupuku di Salatiga. Delapan tahun, dan aku tidak pernah sekali pun ragu bahwa dia akan datang kalau kupanggil.

Tapi ada bedanya dicintai dan dilihat. Dan malam itu, di dalam mobil yang wangi martabak, aku tidak tahu mana yang lebih kubutuhkan.

HP-ku bergetar di atas kotak martabak.

Leon Hartawan: Besok kopi lagi?

Di sebelahku, Rangga menyanyikan lagu dari radio dengan nada yang salah semua, mengetuk-ngetuk setir, senang karena merasa sudah membuatku senang.

Aku tidak membalas pesan itu.

Aku hanya tidak menghapusnya.

Belakangan aku tahu, seluruh hidupku runtuh di jarak antara dua hal itu.