Chapter Twenty Four
Rasa yang Belum Ada Namanya
POV: Raina
Tegar yang pertama kali menyadarinya. Tentu saja Tegar.
“Mbak.” Dia berdiri di depan rak etalase paling ujung, hari Selasa minggu terakhir April, menunjuk sesuatu dengan kemoceng. “Ini apa?”
Di rak paling bawah, di belakang deretan roti sobek, ada satu roti isi keju yang dibungkus kertas minyak terpisah. Di atasnya, selembar kertas kecil dengan tulisan tanganku. Satu huruf.
R.
“Itu roti,” kataku.
“Aku tahu itu roti, Mbak. Aku kasir di sini satu setengah tahun.” Tegar membungkuk dan memeriksa roti itu seperti petugas forensik. “Tiap hari, Mbak. Tiap hari ada satu roti keju disisihin di sini, dikasih kertas R. Dari awal April. Aku udah ngitung. Tujuh belas hari.”
“Itu buat stok.”
“Stok satu biji, Mbak?” Dia menegakkan badan. “Terus R-nya itu R siapa? R Raina atau R Rangga?”
Mbak Sum, yang sedang menggulung adonan di meja kerja, berhenti menggulung.
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu aku menyadari, dengan kengerian yang pelan dan dingin, seperti air hujan yang merembes lewat atap yang kukira sudah diperbaiki, bahwa aku tidak tahu jawabannya.
Aku tidak ingat memutuskan untuk menyisihkan roti itu. Aku hanya melakukannya, setiap pagi, sejak entah kapan. Roti isi keju, karena itu roti pertama yang dia habiskan sampai ke dasar kantong. Kertas R., karena tanganku menulisnya sendiri. Dia datang sore hari, atau malam, tiga sampai empat kali seminggu. Kalau dia datang, roti itu kuberikan. Kalau tidak, besok paginya roti itu kumakan sendiri dengan teh, sambil berdiri di dapur, dan aku tidak pernah memikirkannya lebih jauh.
Tujuh belas hari.
“Tegar,” kata Mbak Sum tanpa menoleh. “Gas habis.”
“Gasnya baru kemarin, Mbak Sum.”
“Habis.”
Tegar menatap Mbak Sum, menatapku, lalu pergi membeli gas yang tidak habis, sambil bersiul lagu dangdut tentang cinta yang tumbuh karena terbiasa. Dia pulang membawa dua tabung.
Aku tahu rasanya jatuh cinta. Aku pernah mengalaminya dua tahun lalu, dengan laki-laki yang datang mengambil tiga ratus roti sendiri padahal bisa pakai kurir.
Waktu itu rasanya seperti kembang api. Besar, terang, cepat. Seseorang yang menanyakan namaku, mengingatnya seminggu kemudian, lalu bertanya kenapa tokoku bernama Remah. Aku merasa dilihat. Aku merasa dipilih. Aku tidak menyadari bahwa laki-laki itu bertanya hal yang sama pada banyak orang, dan mengingat banyak nama.
Yang ini tidak seperti kembang api.
Yang ini seperti ragi.
Tidak ada ledakan. Tidak ada momen yang bisa kutunjuk dan kubilang, di situ. Hanya sesuatu yang tumbuh perlahan, diam-diam, di tempat hangat dan gelap, sampai suatu pagi aku membuka kainnya dan baru sadar adonannya sudah dua kali lipat.
Sebuah notifikasi di HP jam delapan malam, dengan kalimat yang dibuka Selamat malam, Raina dan diakhiri titik, dan aku tersenyum sebelum membacanya sampai habis. Bunyi Jazz abu-abu yang berhenti di depan toko, yang sekarang bisa kukenali tanpa melihat. Cara dia menggulung lengan kemeja, kiri dan kanan sama lebar. Cara dia menghitung semuanya diam-diam, bibirnya bergerak sedikit, dan berhenti menghitung kalau aku sedang bicara.
Bahu yang kaku selama satu jam di gang belakang, demi seseorang yang tertidur.
Tujuh belas roti keju.
Malam itu, setelah Remah tutup, aku berdiri di depan papan gabus di samping meja kasir. Di tengah-tengah kantong kertas bekas yang ditempel, ada satu kantong yang tulisannya lebih besar dari yang lain.
PERJANJIAN BUKAN PELARIAN.
1. Nggak saling jadi pelarian.
Aku membaca baris pertama itu sepuluh kali.
Bagaimana kalau aku pelarian? Bagaimana kalau dia datang ke sini tiga koma empat kali seminggu, kata Laras di grup, karena Remah adalah satu-satunya tempat di Jakarta yang tidak berisi kenangan tentang perempuan itu? Bagaimana kalau aku hanya ruangan kosong yang kebetulan hangat, dan begitu dia sembuh, dia akan keluar, dan pintunya akan tertutup di belakangnya?
Dan lebih buruk lagi: bagaimana kalau dia pelarianku?
Bagaimana kalau aku hanya ingin seseorang, siapa saja, yang tidak bertanya pada banyak orang dan mengingat banyak nama? Bagaimana kalau aku mencintai kebalikan dari Leon, bukan mencintai Rangga?
Di bawah, dengan spidol merah dan huruf yang miring-miring:
4. Kalau jatuh cinta, lapor Tegar.
Aku tidak melapor.
Hari Minggu, Tante Margaretha datang ke rumah Ibu.
Aku tahu karena Ibu meneleponku jam sembilan pagi dan menyuruhku datang pakai baju yang sopan. Di ruang tamu rumah orang tuaku di Rawamangun, di atas meja kaca, ada parsel besar dibungkus plastik bening dan pita emas. Isinya kue kering kalengan, sirup, kurma, dan sebotol minyak zaitun impor. Di sampingnya, Tante Margaretha duduk dengan kalung mutiara dan senyum yang sudah diatur.
“Raina.” Dia tidak berdiri. “Duduk, Nak.”
Aku duduk di samping Ayah. Ayah sedang mengupas jeruk dengan sangat pelan.
Tante Margaretha bicara selama dua puluh menit. Leon menyesal. Leon sudah berubah. Leon ikut konseling dengan pendeta keluarga mereka. Keluarga Hartawan tidak ingin hubungan baik dua keluarga rusak hanya karena satu kesalahpahaman. Gedung yang bagus masih bisa dipesan untuk bulan Desember. Undangan bisa dicetak ulang. Orang-orang tidak perlu tahu apa yang terjadi. Bilang saja ditunda karena urusan keluarga.
Ibu mendengarkan semuanya dengan mata yang semakin lama semakin berbinar. Aku melihatnya menghitung di kepalanya. Dua ratus undangan yang sudah disebar. Tante Lusi yang sudah membeli kebaya. Bude Ningsih dari Medan. Arisan hari Kamis, tempat semua orang berhenti bicara setiap kali Ibu masuk.
“Raina,” kata Ibu, dengan suara yang sudah lama tidak kudengar selembut itu. “Gimana? Bulan Desember kan masih lama. Kamu bisa—”
“Aku nggak mau ditunda, Bu.”
Ruang tamu sunyi.
Aku tidak merencanakan kalimat itu. Aku datang dengan baju yang sopan, seperti yang diminta, dan dengan niat untuk diam seperti biasa, mengangguk, bilang akan memikirkannya, lalu pulang dan menangani semuanya sendiri seperti biasa.
Tapi sesuatu sudah berubah sejak tanggal delapan Maret. Sejak aku duduk di lantai dapur dan kalimat yang selalu berhasil itu tidak mau keluar sampai habis.
“Aku mau batal,” kataku. Suaraku bergetar, tapi tidak berhenti. “Bukan ditunda. Batal.”
Tante Margaretha tersenyum tipis. “Raina, sayang—”
“Dan aku mau Ibu di pihakku.” Aku menatap Ibu, bukan Tante Margaretha. “Sekali ini aja, Bu. Sekali ini aja, aku mau Ibu di pihakku, bukan di pihak undangan.”
Ibu menatapku. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ibu tidak menjawab. Tidak hari itu. Dia hanya duduk di sofa dengan tangan di pangkuan, menatap parsel berpita emas di atas meja kaca, dan tidak berkata apa-apa sampai Tante Margaretha pamit dengan senyum yang sudah tidak diatur lagi.
Di teras, waktu aku memakai sepatu, Ayah menyerahkan sebuah kulit jeruk utuh yang berbentuk bunga.
“Ibumu butuh waktu,” katanya. “Kayak adonanmu.”
Aku memasukkan kulit jeruk itu ke saku. Sepanjang perjalanan pulang di atas ojol, aku menggenggamnya. Wanginya menempel di jari-jariku sampai malam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bersalah karena sudah meminta sesuatu untuk diriku sendiri, dan lega luar biasa karena sudah memintanya.
Rangga datang hari Sabtu berikutnya dengan sesuatu yang terlipat di saku kemeja.
Aku sedang membersihkan etalase. Dia berdiri di depan meja kasir, mengeluarkan lipatan kertas kuning itu, lalu memegangnya beberapa detik tanpa menyerahkannya. Seperti orang yang memegang hasil uji tekan beton dan belum yakin hasilnya bagus.
“Ini,” katanya akhirnya. “Buat kamu.”
Selembar halaman yang disobek rapi dari buku saku kuning. Garis-garisnya biru pucat. Tulisan tangannya kecil dan tegak, tidak miring sedikit pun.
Daftar Hal yang Bikin Raina Ketawa
(diamati Januari–April)
Aku menatap judulnya lama.
“Saya nggak tahu harus kasih apa,” katanya, menatap etalase. “Ulang tahun kamu bulan depan. Laras bilang. Tapi saya nggak tahu kamu suka apa. Jadi saya... catat.”
Tegar muncul dari dapur, melihat kertas di tanganku, dan sebelum aku sempat mencegah, dia merebutnya dengan satu gerakan yang pasti sudah dia latih selama bertahun-tahun di sekolah. Dia naik ke atas kursi plastik di depan etalase.
“Tegar!”
“Pengumuman resmi Kementerian.” Dia berdeham dan membaca keras-keras dengan suara pembawa berita. “Daftar Hal yang Bikin Raina Ketawa. Satu: Tegar salah sebut croissant jadi kresek.”
“Aku nggak pernah—”
“Kamu pernah,” kata Mbak Sum dari dapur.
“Dua. Mbak Sum ngomelin oven pakai bahasa Jawa halus. Tiga. Saya ngukur tepung pakai penggaris. Empat. Oma Lien bilang Raina paling cantik se-Cipete nomor dua, nomor satu Oma sendiri.” Tegar berhenti. “Ini bener, Mbak. Aku denger sendiri.”
Rangga menatap lantai dengan telinga merah.
“Lima. Brosur Bu Yayuk. Enam. Video mixer.” Ada tulisan kecil dalam kurung di sampingnya. Tegar menyipitkan mata. “Diputar sembilan kali. Dihitung.” Dia menoleh padaku dengan mulut terbuka. “Mbak nonton video itu sembilan kali?”
“Turun dari kursi.”
“Tujuh. Kucing tetangga nyuri roti sobek, terus Tegar negur kucingnya pakai bahasa Inggris.” Tegar diam sebentar. “Itu karena kucingnya kayak bule, Mbak.”
Aku sudah tertawa. Aku tidak bisa berhenti.
“Delapan. Kata bekisting. Sembilan. Ojan bilang Remah kayak hati dia. Sepuluh. Laras sama Tegar salaman kayak kepala negara. Sebelas. Abang ojol nanya ovennya bisa diobati.” Tegar tertawa sendiri. “Dua belas. Waktu harga gula aren naik. Bukan lucu, tapi Raina ketawa karena kesel, terus marah karena ketawa.”
Dia berhenti di nomor tiga belas.
“Tiga belas,” bacanya, lebih pelan. “Waktu dia lupa ada tepung di pipinya, terus saya kasih tahu, terus dia ngusap pipi yang salah.”
Toko itu sunyi.
“Empat belas.” Tegar membaca baris terakhir, dan suaranya tidak lagi seperti pembawa berita. “Belum ketemu. Masih dicari.”
Tegar turun dari kursi pelan-pelan. Dia mengembalikan kertas itu ke tanganku tanpa sepatah kata pun, lalu berjalan ke dapur dengan kepala tertunduk, dan aku mendengar Mbak Sum berkata sesuatu padanya dengan suara sangat pelan, dan Tegar menjawab iya, Mbak Sum, aku diem.
Aku menatap kertas itu.
Empat belas hal. Dicatat selama empat bulan. Dalam tulisan tangan yang kecil dan tegak, dengan nomor urut, dengan catatan dalam kurung.
Leon dulu bertanya padaku. Banyak hal. Kenapa namanya Remah, apa roti favoritku, mau ke mana liburan. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku merasa dilihat.
Laki-laki di depanku tidak bertanya. Dia memperhatikan. Diam-diam, tanpa aku tahu, selama empat bulan, seperti memperhatikan retak di kolom. Dia mencatat hal-hal yang bahkan aku sendiri tidak tahu membuatku tertawa.
Ternyata itu bedanya. Ditanya itu terasa seperti dilihat. Dicatat itu memang dilihat.
“Nomor empat belas,” kataku. Suaraku keluar aneh. “Kenapa kosong?”
Dia mengangkat kepala, akhirnya, dan menatapku.
“Karena belum ketemu,” katanya. “Saya masih nyari.”
Malam itu, setelah dia pulang, aku melipat kertas itu dua kali dan menyelipkannya di dompet, di belakang KTP.
Lalu aku berdiri di dapur Remah yang gelap, di depan rak proofing. Tiga baskom adonan untuk roti tawar besok pagi mengembang pelan di bawah kain basah, tenang, tidak terburu-buru, tidak dipaksa.
Aku mengangkat sudut kain salah satunya. Adonannya sudah naik jauh melewati garis yang kutandai dengan spidol di sisi baskom. Jauh melewati dua kali lipat. Sudah siap sejak entah kapan, dan aku tidak memperhatikan.
Ragi butuh waktu.
Tapi aku mulai curiga adonanku sudah mengembang dari kemarin-kemarin.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya reading
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai