← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Eleven

Kami Nggak Cocok

POV: Rangga

Sabtu, 14 Desember, aku bangun di lantai.

Bukan karena aku memutuskan tidur di lantai. Aku hanya tidak pernah sampai ke tempat tidur. Punggungku kaku, leherku sakit, dan jaket denimku masih terpakai. Di saku kanannya, kotak beludru itu menekan pinggangku sepanjang malam.

Kemeja batik Bapak masih tergantung di pintu lemari. Cahaya pagi dari balkon jatuh tepat di motif parangnya.

Jangan dilipat lagi. Sudah Ibu setrika dua kali.

Aku tidak melipatnya. Aku juga tidak memakainya. Aku membiarkannya tergantung di sana, karena dua-duanya terasa seperti mengkhianati seseorang.

Jam sembilan, aku menelepon restoran di lantai tiga puluh.

“Selamat pagi, reservasi atas nama Rangga Pramudia, malam ini jam tujuh. Saya mau batalkan.”

“Baik, Pak.” Ketukan keyboard. “Oh, ini yang ada catatan khusus, ya, Pak? Cincinnya jangan ditaruh di dalam kue.”

Aku menutup mata. “Iya.”

“Mau di-reschedule, Pak? Kebetulan bulan ini kami ada paket Second Chance Dinner. Untuk pasangan yang mau memperbaiki—”

“Batal aja, Mbak.”

“Baik, Pak. Semoga lain kali bisa—”

Aku menutup telepon sebelum dia selesai.

Lalu aku berdiri di balkon. Selokan di bawah sana sudah tenang lagi, airnya cokelat, arusnya pelan. Apa pun yang jatuh ke sana semalam sudah dibawa pergi. Ke pintu air. Ke kali. Ke laut, mungkin, kalau beruntung.

Aku berdiri di sana lama sekali, menghitung sampah plastik yang lewat.

Empat belas.

Waktu aku masuk lagi, kartu pidato itu masih tergeletak di lantai, menghadap ke atas, di tempat jatuhnya semalam. Tintanya sudah kering. Genangan biru di baris pertama sekarang jadi noda yang kaku dan bergelombang, seperti peta danau. Di pojoknya, tulisan kecil yang selamat: lutut kiri.

Aku memungutnya. Aku tidak membuangnya. Aku menyelipkannya kembali di antara halaman buku saku, di tempatnya semula, karena aku tidak tahu harus menaruhnya di mana lagi.

HP-ku menyala di meja. Satu notifikasi dari Citra, masuk jam enam pagi. Aku hanya bisa membaca baris pertamanya di layar kunci.

Ngga, aku tahu aku nggak berhak minta apa-apa, tapi aku—

Aku tidak membukanya.

Aku juga tidak menghapusnya. Notifikasi itu tinggal di layar kunciku sepanjang hari, lalu sepanjang minggu, setiap kali aku melihat jam.


Ibu menelepon jam sepuluh malam.

Aku tahu dia akan menelepon. Dia bilang jam berapa saja. Dia bilang dia tidak bisa tidur. Aku sudah tahu sejak pagi bahwa telepon ini akan datang, dan aku sudah tahu sejak pagi apa yang akan kukatakan.

“Le?” Suaranya penuh harap, setengah berbisik. Di belakangnya, televisi menyala pelan. “Gimana? Dia bilang iya?”

“Nggak jadi, Bu.”

Hening.

“Nggak jadi gimana? Ditolak?”

“Bukan.” Aku menatap batik di pintu lemari. “Kami nggak cocok, Bu.”

“Nggak cocok?” Suara Ibu naik sedikit. “Delapan tahun, baru sekarang nggak cocok?”

“Aku yang salah, Bu.”

Kalimat itu keluar dengan mudah. Lebih mudah dari yang kukira. Seperti kalimat yang sudah lama menunggu di ujung lidah, menunggu ada alasan untuk diucapkan.

“Salah apa?”

“Banyak, Bu. Aku terlalu sibuk. Aku nggak pernah nanya dia maunya apa. Aku cuma bikin rencana.”

Aku berbohong pada Ibu. Tapi anehnya, setiap kalimat dalam kebohongan itu benar.

Ibu diam lama. Aku mendengar napasnya, dan aku tahu dia sedang menahan sesuatu. Mungkin tangis. Mungkin marah. Ibu jarang marah, dan kalau marah, dia diam.

“Kamu nggak apa-apa, Le?”

“Aku nggak apa-apa, Bu.”

“Ibu ke sana besok.”

“Jangan, Bu. Aku ada proyek.”

“Hari Minggu?”

“Pengecoran. Nggak bisa ditunda.”

Aku tidak ada pengecoran. Aku hanya tidak sanggup melihat Ibu melihat batik itu.

Tapi karena aku sudah bilang ada pengecoran, hari Minggu aku tetap pergi ke proyek. Kebohongan yang baik harus dijaga konsistensinya. Itu yang kupelajari minggu itu.

Gedung parkir di Senopati kosong di hari Minggu. Aku naik ke lantai paling atas, ke pelat atap yang nanti akan jadi lantai ketujuh, dan duduk di tepinya dengan kaki menggantung di balik pagar pengaman sementara. Dari sana Jakarta kelihatan seperti maket: atap-atap seng, jalan layang, gedung-gedung kaca yang memantulkan langit mendung.

Pak Rohim, satpam proyek, naik setengah jam kemudian karena melihat Jazz abu-abu di parkiran. Dia berdiri di belakangku, terengah-engah setelah naik enam lantai lewat tangga.

“Mas Rangga? Hari Minggu?”

“Ngecek, Pak.”

Pak Rohim memandang punggungku sebentar. Dia tidak bertanya ngecek apa. Dia turun lagi, lalu naik lagi lima belas menit kemudian dengan napas yang lebih berat, membawa segelas kopi hitam dalam gelas plastik, dan meletakkannya di sampingku di atas beton.

“Anginnya kenceng, Mas,” katanya. “Jangan kelamaan.”

Aku duduk di sana sampai kopinya dingin.

Sesudah telepon ditutup, HP-ku bergetar lagi. Laras.

Mas yang salah? Serius?

Serius.

Oke.

Tanpa emoji. Laras tidak pernah membalas oke tanpa emoji, kecuali sedang marah. Atau sedang tahu sesuatu.


Senin pagi, aku masuk kantor jam tujuh seperti biasa.

Gedung parkir di Senopati tidak peduli apa yang terjadi hari Jumat. Kolom C-7 masih retak rambut, nol koma dua milimeter, persis seperti yang kucatat dua bulan lalu. Pemilik gedung tetap ingin menambah dua lantai. Beban tetap harus dihitung.

Ada kenyamanan aneh di situ. Beton tidak bertanya.

Siang itu aku menempelkan alat ukur ke kolom C-7. Nol koma dua milimeter. Tidak melebar sedikit pun sejak Oktober. Aku mencatatnya dengan tulisan yang rapi sekali, lebih rapi dari biasanya.

Setidaknya ada satu retak dalam hidupku yang tidak bertambah lebar.

Ojan menungguku di kubikel dengan dua gelas kopi sachet dan wajah anak kecil di pagi Lebaran.

“GIMANA?” Dia berbisik keras. “Gimana, Ngga? Lututnya bunyi nggak? Dia nangis? Lo nangis? Gue udah siap dengerin dari awal, dari lo masuk lift—”

“Putus, Jan.”

Ojan berhenti bicara.

Aku menunggu dia bertanya. Kenapa. Bagaimana. Siapa yang salah. Ojan selalu bertanya. Ojan adalah orang yang bertanya pada kasir minimarket kenapa harga mi instan naik dua ratus perak.

Dia tidak bertanya.

Dia berdiri, berjalan ke dinding kubikelku, dan mencopot kertas laminating bertulisan H-1 dengan gambar dua orang lidi berpegangan tangan. Pelan-pelan, supaya selotipnya tidak merobek apa pun. Dia tidak membuangnya. Dia melipatnya sekali dan memasukkannya ke laci mejanya sendiri.

Lalu dia kembali, duduk, dan mendorong satu gelas kopi ke depanku.

“Minum,” katanya.

Aku minum.


Ritual Move On Bersertifikat dimulai hari Rabu.

“Ritual nomor satu,” kata Ojan, meletakkan mangkuk seblak berasap di depanku di warung belakang kantor. Kuahnya merah pekat, ada ceker, ada makaroni, ada kerupuk yang sudah lembek, dan ada sesuatu yang kelihatannya irisan cabai rawit utuh dalam jumlah yang melanggar hukum. “Seblak level sepuluh. Makan sampai lo lupa nama mantan.”

“Gue nggak mau.”

“Ini udah terbukti secara ilmiah, Ngga. Gue udah coba waktu putus sama anak akuntansi itu.”

“Lo nggak pernah pacaran sama anak akuntansi itu.”

“Itu namanya putus sepihak.” Ojan menyendok kuah dan meniupnya. “Ya udah. Kalau lo nggak mau, gue yang makan. Buat lo.”

Dan dia memakannya.

Satu suapan. Dua. Di suapan ketiga, wajahnya berubah merah. Di suapan kelima, keringat menetes dari pelipisnya. Di suapan ketujuh, matanya mulai berair, lalu basah, lalu dia menangis terang-terangan di warung seblak belakang kantor, dengan ingus dan semuanya, sambil terus menyuap.

“Jan. Udah, Jan.”

“Nggak.” Dia terisak, hidungnya merah. “Gue nangis buat lo, Ngga. Lo kan nggak bisa.”

Aku menatap sahabatku yang menangis di atas mangkuk seblak.

Dia tidak tahu tentang Jumat malam. Tidak ada yang tahu. Dia hanya tahu sahabatnya sejak semester satu tidak pernah menangis, bahkan di pemakaman Bapak, dan sekarang sahabatnya duduk di depannya dengan wajah yang tidak bergerak sama sekali.

Jadi dia menangis untukku. Dengan cara paling bodoh yang bisa dia pikirkan.

Aku menyodorkan es teh manis ke depannya. Dia meminumnya sekaligus.

“Ritual nomor dua,” katanya dengan suara serak, “kita pikirin besok.”

Malam itu Laras mengirim foto tanpa keterangan apa pun. Isi kulkas di rumah Bekasi. Di rak tengah, di antara botol kecap dan toples sambal, ada wadah plastik bertutup biru. Selotip kertas di tutupnya masih menempel. Huruf kapital, digarisbawahi dua kali.

CITRA.

Beberapa menit kemudian, satu baris menyusul.

Ibu belum nyabut selotipnya, Mas. Aku nggak berani nyabut juga.

Aku memandangi foto itu sampai layarnya meredup sendiri. Aku tidak membalas. Aku tidak tahu harus membalas apa pada wadah rendang.


Kamis sore, aku pergi ke Pasar Baru.

Koh Hendra sedang memoles kalung di balik etalase waktu aku masuk. Dia mengangkat kepala, melihat wajahku, melihat kotak beludru di tanganku, dan meletakkan kain polesnya pelan-pelan.

“Nggak pas?” tanyanya.

“Pas, Koh.”

Dia tidak bertanya lagi. Orang yang sudah empat puluh tahun menjual cincin kawin pasti pernah melihat wajah sepertiku. Mungkin ratusan kali.

“Saya mau balikin, Koh. Refund.”

Koh Hendra menggeleng pelan. “Nggak bisa, Mas. Sudah dilebur, sudah diukir. Itu sudah jadi punya Mas.” Dia membuka kotaknya, memiringkan cincin itu di bawah lampu, dan kembali ke suara pedagangnya, mungkin karena menurutnya itu yang paling membantu. “Emas nggak pernah sisa, Mas. Cuma ganti bentuk. Mau dilebur jadi gelang? Liontin? Saya kasih harga ongkos aja.”

“Ini emas Bapak saya, Koh.”

Koh Hendra berhenti.

Dia menatap cincin itu sekali lagi, lebih lama. Ke ukiran kecil di bagian dalamnya. Lalu dia menutup kotak itu, mendorongnya kembali ke arahku di atas etalase kaca, dan menepuknya dua kali dengan telapak tangan yang keriput.

“Simpan dulu,” katanya. Tidak ada lagi nada pedagang. “Emas nggak basi, Mas. Nanti Mas tahu sendiri mau jadi apa.”

Aku memasukkan kotak itu kembali ke saku jaket. Koh Hendra kembali memoles kalungnya tanpa melihatku lagi, dan aku tahu dia melakukannya supaya aku bisa keluar dari tokonya tanpa harus mengucapkan apa pun.


Jumat malam, tepat seminggu.

Aku duduk di meja, membuka buku saku kuning yang kedelapan ke halaman yang sudah lecek. Di atasnya masih ada noda biru kecil, bekas sesuatu yang menetes minggu lalu dan meresap sampai ke halaman ini.

Daftar 30.
☑ Lunas cicilan motor Laras.
☑ Tabungan DP rumah (tahap 1).
☐ Lamar (setelah Citra naik).
☐ Nikah.
☐ Rumah.

Aku mengambil pulpen dan menarik garis lurus melintasi baris ketiga.

Aku menekan terlalu keras. Ujung pulpen menembus kertas yang sudah tipis dan basah, merobeknya sepanjang dua senti, tepat di kata Citra.

Aku menatap sobekan itu. Aku tidak mencoret baris keempat dan kelima. Aku tidak sanggup. Aku menutup buku itu dan memasukkannya ke laci, di samping pidato best man Ojan yang masih terlipat dan belum pernah kubaca.

Di luar, hujan turun lagi. Bayi di kamar sebelah menangis, dan ibunya mulai bersenandung.

Di meja, layar HP-ku menyala sebentar karena notifikasi grup proyek. Di bawahnya, notifikasi yang sama masih bertahan sejak Sabtu pagi. Ngga, aku tahu aku nggak berhak minta apa-apa, tapi aku—

Seminggu, dan aku masih belum tahu kalimat itu berakhir di mana.

Minggu ini, aku sudah membohongi Ibu, Laras, Ojan, dan diriku sendiri. Semua kebohongan itu punya isi yang sama: aku yang salah.

Aku membohongi ibuku demi perempuan yang membohongiku.

Anehnya, cuma itu yang malam itu terasa benar.