Chapter Ten
Tanpa Sisa
POV: Citra
Aku sedang memegang tamborin waktu hidupku berakhir.
Latihan Kriuk Band, Jumat sore, ruang rapat lantai tujuh belas. Pak Bonar berdiri di depan dengan spidol sebagai tongkat dirigen. Dinda memukul kendang terlalu cepat. Kezia menyanyikan reff dangdut dengan suara yang terlalu merdu untuk lagu tentang ditinggal kawin.
“Hati, Citra!” Pak Bonar menunjukku dengan spidol. “Tamborin itu hati!”
Aku mengguncang tamborin dengan hati. Di saku blazer, HP-ku bergetar.
Leon Hartawan.
Leon tidak pernah menelepon. Tiga minggu, dia hanya mengirim pesan, meletakkan kopi, dan menunggu di tangga darurat. Menelepon adalah hal yang dilakukan orang kalau ada sesuatu yang tidak bisa ditulis.
Aku meletakkan tamborin di meja dan keluar ke koridor.
“Cit.” Suaranya tidak seperti biasa. Tidak ada senyum di dalamnya. “Ada masalah.”
“Kenapa?”
“Ada rekaman. Dashcam mobil saya. Malam itu.” Jeda. “Seseorang kirim ke cowokmu.”
Lantai di bawah kakiku tetap di tempatnya. Aku tahu, karena aku memandanginya. Keramik putih, nat abu-abu, sebuah noda kopi lama di dekat pot tanaman.
“Siapa?”
“Nanti saya jelasin.”
“Siapa, Leon?”
“Saya harus urus sesuatu dulu. Nanti saya telepon.”
Klik.
Aku ingin bilang aku langsung pergi ke Tebet. Aku ingin bilang aku langsung menelepon Rangga, atau naik ojol tanpa berpikir, atau berlari menembus macet Jumat sore seperti perempuan di film yang mengejar sesuatu yang belum terlambat.
Aku tidak melakukan itu.
Aku duduk di tangga darurat lantai tujuh belas selama tiga jam.
Aku menelepon Rangga sekali, jam enam kurang sepuluh. Tidak diangkat. Dia pasti sedang menyetir. Atau dia sudah tahu. Atau dia sedang menonton. Aku tidak berani menelepon kedua kalinya, karena aku tidak tahu kemungkinan mana yang lebih buruk.
Lampu neon berkedip. Tangga darurat ini kosong, seperti yang dijanjikan Leon. Di bawah sana, Kuningan menyalakan lampu-lampunya satu per satu.
Jam tujuh, Dinda mengirim pesan. Cit lo di mana? Pak Bonar nyariin tamborin lo. Katanya band ini nggak lengkap tanpa hati lo. Lalu, lima menit kemudian: Lo oke?
Aku tidak membalas keduanya.
Leon tidak menelepon lagi. Nanti saya jelasin, katanya. Tidak ada nanti. Duduk di anak tangga yang sama tempat dia dulu meletakkan kopi untukku, aku pelan-pelan mengerti bahwa dia tadi menelepon bukan untuk berdiri di sampingku. Dia menelepon untuk memperingatkan. Seperti orang yang berteriak awas dari seberang jalan, lalu berbalik dan pergi ke arah yang berlawanan.
Lalu, kira-kira jam setengah sembilan, otakku mulai bekerja.
Bukan hatiku. Otakku. Otak yang tujuh tahun dilatih mengelola krisis merek, menghitung kerusakan, menyusun pernyataan. Otak itu berkata dengan sangat tenang: Kalau rekamannya tidak ada, ceritanya tidak ada.
Aku harus jujur di sini juga. Waktu aku akhirnya berdiri dan memesan ojol ke Tebet, aku tidak pergi untuk mengaku. Aku pergi untuk mengambil sesuatu.
Kunci kos Rangga tergantung di gantungan yang sama dengan kunci kosku sendiri. Gantungan martabak kecil dari karet, yang dia belikan di pasar malam waktu kami baru pindah ke Jakarta. Aku tertawa waktu itu. Kok martabak? Katanya, biar kamu inget aku tiap buka pintu.
Aku memutar kunci itu dan membuka pintu.
Laptop menyala di meja. Di layarnya, satu gambar beku. Kabin mobil, gelap, hujan di kaca. Seorang perempuan di kursi penumpang sedang tertawa dengan kepala setengah menunduk.
Aku.
Aku tidak melihat Rangga. Aku tidak bisa melihat Rangga. Tanganku bergerak lebih dulu daripada kepalaku. Kartu memori di sisi laptop. Kotak hitam kecil di samping keyboard. Pintu kaca balkon. Udara malam yang lembap. Pagar besi. Selokan besar di bawah sana yang berbunyi deras sehabis hujan.
Aku melempar keduanya.
Untuk satu detik, aku merasakan sesuatu yang paling memalukan yang pernah kurasakan seumur hidup.
Lega.
Lalu aku berbalik.
Rangga berdiri di tengah kamar.
Wajahnya basah.
Delapan tahun. Delapan tahun, dan aku tidak pernah sekali pun melihatnya menangis. Tidak waktu dia cerita soal pemakaman Bapak, sambil memandangi payung hitam di bawah foto Bapak, dengan suara yang datar sekali. Tidak waktu motornya dicuri di tahun kedua kuliah. Tidak waktu Bu Ratna masuk rumah sakit karena darah tinggi dan dia menunggu di lorong IGD semalaman.
Rangga tidak menangis. Itu salah satu hal yang kutahu tentang dunia, seperti matahari terbit di timur dan martabak harus dimakan selagi hangat.
Malam itu matanya merah dan pipinya basah, dan dia tidak mengusapnya. Dia tidak memalingkan muka. Dia membiarkanku melihat.
Aku yang pertama membuatnya menangis.
Dari semua hal yang pernah kuberikan padanya selama delapan tahun, itu yang pertama.
“Kamu buang rekamannya, Cit,” katanya. Suaranya pelan. Bahkan tidak marah. “Malamnya nggak bisa kamu buang.”
Di lantai, di antara kakinya dan kakiku, ada selembar kartu kecil.
Kartu yang biasa dia pakai untuk mencatat ukuran di proyek. Tulisan tangannya, pulpen biru. Aku hanya bisa membaca bagian atasnya, karena sisanya kabur oleh sesuatu yang menetes dan melebar.
Citra Anind—
Namaku. Luntur.
Aku tidak mengerti kartu apa itu. Aku menatapnya, dan otakku yang tadi begitu tenang di tangga darurat tidak bisa menyusunnya menjadi apa pun.
Di pintu lemari di belakang Rangga, ada kemeja batik yang digantung rapi. Cokelat tua, motif parang, kerahnya kaku. Aku belum pernah melihat kemeja itu. Rangga tidak pernah memakai batik kecuali ke kondangan, dan batik kondangannya hanya satu, biru dongker, yang kancingnya sudah diganti dua kali.
Kenapa ada batik di pintu lemari?
Pertanyaan itu muncul sebentar di kepalaku, lalu tenggelam di bawah semua hal lain. Aku baru mengingatnya lagi dua bulan kemudian, di telepon, dengan suara Ibu Rangga di telingaku.
“Ngga.” Suaraku pecah di huruf pertama. “Ngga, cuma sekali. Cuma sekali, aku sumpah. Kami nggak... cuma kopi, terus malam itu hujan, terus—”
Dia diam.
“Aku udah mau bilang. Aku udah mau bilang hari Sabtu. Aku udah nulis, Ngga, aku udah nulis di HP, lima kali, aku—”
Aku mengeluarkan HP-ku dengan tangan gemetar, membuka aplikasi catatan, menyodorkannya padanya. Lima draf yang semuanya dimulai dengan Ngga, aku harus jujur. Lima draf tanpa kalimat kedua.
Dia tidak melihatnya. Dia melihatku.
Aku menurunkan HP-ku pelan-pelan. Bahkan aku sendiri tahu betapa menyedihkannya itu: menunjukkan draf pengakuan yang tidak pernah terkirim kepada orang yang baru saja menonton yang sebenarnya.
“Kamu nggak mau nanya apa-apa?” bisikku. “Siapa dia? Udah berapa lama? Apa aja yang—”
“Kalau aku nanya,” katanya, “kamu bakal jawab jujur?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Dia mengangguk sedikit. Seolah itu jawaban yang sudah dia duga, dan dia tidak menyalahkanku karena memberikannya.
Lalu aku menanyakan satu-satunya hal yang masih bisa kutanyakan. Hal yang sudah seminggu membuatku tidak bisa tidur.
“Kamu mau ngomong apa hari Sabtu?”
Rangga tidak menjawab.
Dia menatap kartu di lantai. Lama. Lalu dia menatapku, dan sesuatu di wajahnya membuatku ingin mundur sampai ke balkon dan menyusul rekaman itu ke selokan.
Dia tetap tidak menjawab.
Tangan kanannya masuk ke saku jaket. Aku melihat jari-jarinya mengepal di dalam kain, menggenggam sesuatu yang kecil dan keras, begitu erat sampai urat di punggung tangannya menonjol. Dia tidak mengeluarkannya. Dia hanya menggenggamnya, seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak jatuh.
Aku tidak tahu apa yang ada di saku itu. Malam itu aku tidak berhak bertanya.
“Pulang, Cit.”
“Ngga, please—”
Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Pelan. Seperti dia membuka pintu untukku selama delapan tahun, di restoran, di mobil, di rumah Bekasi.
Aku berjalan melewatinya. Aku tidak berani menyentuhnya. Di ambang pintu, aku berhenti, karena kakiku tidak mau melangkah lagi.
Di belakangku, suaranya terdengar sangat pelan.
“Kabarin kalau udah sampai.”
Aku berbalik.
Dia tidak sedang menyindir. Dia tidak sedang menyakitiku. Aku mengenal semua nada suaranya, dan yang ini bukan nada marah. Ini kebiasaan delapan tahun yang keluar sendiri dari mulutnya, seperti orang yang mengucapkan hati-hati pada siapa pun yang pergi dari rumahnya. Bahkan malam ini. Bahkan padaku.
Aku menangis di lorong kos itu sampai bapak kos membuka pintunya dan menutupnya lagi tanpa bertanya.
Abang ojol yang menjemputku di mulut gang memakai jaket hijau yang sudah pudar. Ada speaker kecil di helmnya yang memutar lagu dangdut cukup keras. Namanya Bang Udin, menurut aplikasi. Bintang empat koma sembilan.
Dia melihat wajahku. Dia mengecilkan volume lagunya sedikit. Tidak dimatikan. Dikecilkan.
Di lampu merah Pancoran, dia berbicara tanpa menoleh.
“Mbak. Hidup itu kayak dangdut.”
Aku tidak menjawab.
“Sedih juga tetap harus goyang.”
Aku tertawa. Tawa yang basah dan jelek dan keluar dari hidung. Bang Udin tampak puas.
“Saya juga pernah ditinggal, Mbak,” lanjutnya, tetap tanpa menoleh. “Istri saya kabur sama tukang kredit panci.”
“Terus?”
“Terus balik lagi. Tiga bulan.” Lampu berubah hijau. Dia memutar gas. “Pancinya juga dibawa balik. Lunas.”
Aku tertawa lagi, lalu menangis lagi. Dia menaikkan volume dangdutnya sedikit, supaya aku bisa menangis tanpa terdengar oleh pengendara di sebelah kami.
Dia menurunkanku di depan gang kosku dan tidak mau dibayar lebih. “Udah, Mbak. Bintang lima aja.”
Aku tidak langsung naik.
Aku duduk di bangku plastik di depan warung rokok bertenda biru di mulut gang. Tempat Rangga biasa menunggu sambil membeli air mineral. Tempat yang terekam di kamera depan sebuah dashcam yang sekarang ada di dasar selokan Tebet.
Ibu pemilik warung membuatkan teh manis tanpa kuminta, lalu meletakkannya di depanku dan memandangi wajahku sebentar.
“Mas yang biasa nunggu di sini nggak jemput, Neng?”
Aku menggeleng.
“Oalah.” Dia kembali ke balik etalase rokok. “Biasanya dia beli air mineral, terus nanya, Bu, tadi Neng-nya udah lewat belum?”
Aku duduk di sana dua jam. Tehnya dingin. Aku tidak meminumnya.
Jam dua belas lewat, aku naik ke kamar. Di meja, kartu kecil dari kotak snack itu masih tergeletak, kering sekarang, keriting di tepinya. Makan selagi. Sisanya sudah hilang dimakan hujan.
Aku duduk di lantai di balik pintu, di tempat yang sama tempatku duduk tiga minggu lalu dengan blazer basah.
Pukul 00.41, aku mengambil HP.
Aku membuka percakapan dengan Rangga. Pesan terakhir di sana masih dari Kamis malam itu. Istirahat ya. Besok kujemput. Dan hati merah kecil yang belum pernah kumengerti.
Aku mengetik.
Udah sampai.
Dua kata. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, tidak ada yang kusembunyikan di dalamnya. Aku memang sudah sampai. Hanya itu. Tidak ada mobil siapa pun. Tidak ada hujan yang dijadikan alasan.
Terkirim.
Satu menit kemudian, dua centang abu-abu berubah biru.
Dibaca.
Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh. Tiga puluh. Layar mati, kunyalakan lagi. Mati, kunyalakan lagi.
Aku mengetik Maaf. Menatapnya. Menghapusnya. Satu kata itu terlalu kecil untuk delapan tahun, dan terlalu besar untuk dikirim jam satu pagi kepada orang yang sudah tidak mau membalas. Aku mengetiknya lagi. Menghapusnya lagi.
Delapan tahun, setiap kali aku mengabari, dia membalas. Kadang satu kata. Kadang hanya ok. Tapi selalu ada.
Malam itu tidak ada.
Aku memeluk lutut di lantai kamar kos, menatap dua centang biru itu sampai mataku tidak bisa membedakan warnanya lagi.
Delapan tahun.
Dan malam itu tidak ada yang tersisa. Bahkan rekamannya pun sudah kubuang sendiri.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa reading
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai