Chapter Twenty
Struktur Darurat
POV: Rangga
Malam itu, sepulang dari Remah, ada kardus di depan pintu kamarku.
Kardus mi instan, ditutup selotip cokelat tiga lapis. Di atasnya, tulisan spidol yang kukenal sejak semester lima: KEMBALIKAN.
Ibu kos keluar dari kamarnya waktu mendengar langkahku di tangga.
“Neng Citra tadi ke sini, Mas. Sore.” Dia menatapku dengan wajah orang yang ingin bilang lebih banyak. “Sandalnya kebalik kiri-kanan.”
Lalu dia masuk lagi dan menutup pintu.
Aku membuka kardus itu di lantai kamar, masih dengan tepung di belakang telinga. Jaket denimku, terlipat rapi. Dua kaus yang kukira hilang. Charger laptop cadangan. Tiga buku tentang jembatan yang kupinjamkan di tahun kedua dan tidak pernah dia baca sampai habis; pembatas bukunya masih di halaman empat puluh tiga, di semua buku.
Dan di atas semuanya, dalam plastik bening kecil yang diselotip ke lipatan jaket, satu kunci. Gantungannya martabak kecil dari karet.
Tidak ada surat. Tidak ada kata apa pun selain KEMBALIKAN di tutup kardus.
Aku memegang kunci itu. Karetnya sudah pudar, warna cokelat keju di permukaannya hampir hilang karena tujuh tahun dipegang. Aku membelinya di pasar malam di Kemayoran, minggu pertama kami pindah ke Jakarta. Lima ribu rupiah. Biar kamu inget aku tiap buka pintu.
HP-ku bergetar di saku. Satu pesan.
Udah sampai?
Dari Raina.
Aku berdiri di tengah kamar, dengan kunci Citra di tangan kiri dan HP di tangan kanan, dan untuk beberapa detik aku tidak bisa bergerak.
Delapan tahun, akulah yang bertanya. Delapan tahun, setiap malam, aku mengirim dua kata itu dan menunggu satu kata kembali. Tidak pernah sekali pun dalam delapan tahun ada orang yang bertanya balik padaku. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak pernah merasa butuh ditanya.
Malam itu, di kamar yang sama tempat aku menangis dua bulan lalu, seseorang bertanya padaku untuk pertama kalinya. Tepat di menit aku mengembalikan kunci yang tidak akan dipakai lagi.
Aku mengetik Udah. Menghapusnya. Mengetik Barusan ada yang. Menghapusnya. Mengetik Mbak, boleh saya. Menghapusnya.
Delapan menit kemudian, aku mengirim empat kata yang paling jujur yang bisa kutemukan.
Udah. Makasih udah nanya.
Lalu aku memasukkan kunci itu ke laci meja, di samping kotak beludru biru tua dan pidato best man Ojan yang belum pernah kubaca. Laci itu mulai penuh oleh barang-barang yang tidak bisa kubuang dan tidak bisa kupakai.
Badai datang hari Sabtu, satu Maret, jam sebelas malam.
Bukan hujan biasa. Angin dari barat yang membuat jendela kos bergetar di kusennya, petir yang cahayanya masuk lewat celah gorden, dan hujan yang turun miring, deras, seperti ditumpahkan dari ember. Di kamar sebelah, bayi itu menangis setiap kali guntur meledak.
Jam dua belas lewat dua puluh, HP-ku berbunyi. Nomor tidak dikenal.
“Mas Rangga!” Suara anak laki-laki, panik, setengah berteriak di atas bunyi hujan. “Ini Tegar! Atap Remah bocor, Mas! Bocor parah! Air masuk ke dapur!”
Aku sudah berdiri dan memakai celana panjang. “Raina di mana?”
“Mbak Raina lagi nadahin ember! Udah tujuh ember, Mas! Terus dia nangis sambil mindahin karung tepung, tapi bilangnya nggak nangis!” Jeda. Bunyi sesuatu jatuh. “Mas, Mbak Raina nggak tahu aku nelepon Mas. Aku ambil nomor Mas dari Mbak Laras. Kami punya grup.”
Aku tidak sempat bertanya grup apa.
Aku berhenti sebentar di proyek Senopati. Pak Rohim membuka gerbang dengan senter dan jas hujan, tidak bertanya apa-apa melihat wajahku, dan membantuku memasukkan satu gulung terpal, dua lembar seng gelombang bekas, tali tambang, kotak paku, dan palu ke bagasi Jazz. Seng itu terlalu panjang. Dua lembarnya menyembul dari jok belakang sampai ke dasbor.
“Hati-hati, Mas,” kata Pak Rohim. “Jalanan banjir.”
Jam satu lewat sepuluh, aku sampai di Cipete.
Dapur Remah setengah tergenang. Air menetes dari langit-langit di lima tempat, deras di dua di antaranya, masuk ke ember, baskom, panci, dan satu loyang roti yang sudah penuh dan meluap. Lantainya basah sampai ke rak proofing. Karung-karung tepung sudah dipindahkan ke atas meja kerja, ditumpuk tinggi seperti karung pasir di tanggul.
Raina berdiri di tengah semua itu.
Kaus abu-abu, celana training, kaki telanjang di lantai yang basah. Rambutnya terurai, basah sampai ke punggung, tanpa pensil. Dia sedang mengangkat karung tepung terakhir ke atas meja, dan waktu dia menoleh ke pintu, aku melihat wajahnya.
Matanya merah. Pipinya basah, entah oleh hujan dari langit-langit atau oleh hal lain.
Dia cantik. Bukan cantik di bawah lampu kuning dengan tepung di pipi. Cantik dalam keadaan paling berantakan, basah, lelah, dengan karung tepung di pelukan. Cantik yang membuatku berhenti di ambang pintu satu detik lebih lama dari yang perlu.
“Mas Rangga?” Dia menatapku, lalu menatap Tegar di belakangku. “Tegar.”
“Maaf, Mbak,” kata Tegar, tidak terdengar menyesal sama sekali.
“Ini cuma air,” kata Raina padaku. Suaranya bergetar. “Nanti juga berhenti.”
“Bocornya dari mana?”
Dia menunjuk ke atas, ke sudut langit-langit di atas oven, tempat air menetes paling deras. “Dari situ. Seng di atasnya udah karatan dari tahun lalu. Saya mau ganti, tapi uangnya buat DP gedung—”
Dia berhenti. Kalimat itu tidak perlu diselesaikan.
“Tangga di mana?”
Atap Remah adalah seng gelombang yang dipasang di atas rangka kayu, dengan kemiringan yang terlalu landai untuk curah hujan Jakarta. Sambungan antar lembarnya sudah berkarat, paku-pakunya sudah longgar, dan di atas dapur, dua lembar seng terangkat oleh angin seperti halaman buku yang dibuka.
Aku naik lewat jendela lantai dua, dengan tangga lipat aluminium milik Remah yang terlalu pendek setengah meter. Hujan memukul punggungku seperti kerikil. Angin hampir merebut terpal dari tanganku dua kali.
Raina berdiri di jendela lantai dua di bawahku, memegang senter dengan dua tangan, menyorot persis ke titik yang kubutuhkan, bahkan sebelum aku sempat memintanya. Setiap kali aku bergeser, sorotnya ikut bergeser. Dia tidak pernah salah arah.
Tegar berdiri di sampingnya, memegang payung. Bukan di atas kepalanya sendiri. Di atas ember di lantai bawah, lewat jendela, yang menurutnya paling penting diselamatkan. Belakangan aku tahu ember itu berisi biang roti tiga tahun milik Remah.
Aku memaku seng bekas di atas lubang terbesar. Membentangkan terpal di atasnya, mengikatnya ke rangka kayu dengan tali tambang dalam simpul yang diajarkan Bapak waktu aku SD, simpul untuk mengikat atap kandang ayam di belakang rumah. Memaku lagi. Mengikat lagi.
Empat puluh menit. Tetesan di dapur berhenti satu per satu, dari lima jadi tiga, dari tiga jadi satu, lalu tidak ada.
Waktu aku turun, tangga aluminium itu licin. Kaki kananku tergelincir di anak tangga ketiga, dan sebelum aku sempat mencengkeram apa pun, sebuah tangan sudah menangkap tanganku.
Tangan Raina. Dingin, basah, dan sedikit kasar di telapak, dengan bekas luka bakar kecil di punggungnya.
Dia memegangku sampai kedua kakiku menapak lantai.
Lalu, untuk satu alasan yang tidak bisa kuhitung, aku tidak melepasnya.
Satu detik. Dua. Kami berdiri di lantai dua Remah, basah kuyup, di bawah lampu yang berkedip karena listrik naik turun, dengan tangan masih bertaut. Dia tidak menariknya. Aku juga tidak.
Aku lupa melepasnya. Itu yang ingin kukatakan. Tapi insinyur tidak lupa. Insinyur memilih.
Lalu Tegar bersin keras sekali di belakang kami, dan tangan kami terlepas bersamaan.
Leon datang hari Minggu jam empat sore.
Aku ada di Remah karena harus mengukur atap di siang hari untuk perbaikan permanen. Aku sedang duduk di bangku kayu di gang belakang, menggambar sketsa rangka atap di buku saku, ketika lonceng pintu depan berbunyi dan suara laki-laki terdengar dari ruang depan.
“Rain. Kita perlu ngomong.”
Aku mengenali suara itu.
Aku pernah mendengarnya menirukan seseorang dengan dramatis dan berlebihan, di dalam mobil, di bawah hujan. Aku pernah mendengarnya memanggil Cit, payung ke punggung seseorang yang berlari.
Aku menutup buku saku dan berdiri di ambang pintu dapur.
Dia lebih pendek dari yang kubayangkan. Polo hitam, jam tangan mahal, rambut yang ditata dengan sesuatu yang mengilap. Dia membawa sebuket bunga lili putih yang dibungkus kertas cokelat. Dia berdiri di depan meja kasir, dan Raina berdiri di belakangnya dengan tangan mencengkeram tepi meja.
Aku menatap Raina. Bukan Leon. Raina.
Dulu aku akan memutuskan sendiri. Aku akan maju, berdiri di sampingnya, atau sebaliknya, aku akan mundur supaya tidak ikut campur. Aku akan menghitung mana yang paling masuk akal dan melakukannya tanpa bertanya, karena aku yakin aku tahu jawabannya.
Malam itu di lantai dapur, dia bilang dia butuh ditemani, bukan dijadwalkan.
“Mbak Raina,” kataku. “Mau saya di sini, atau di luar?”
Dia menatapku. Lama. Seperti orang yang tidak menyangka ditanya.
“Di sini,” katanya.
Leon menoleh. Matanya menyipit, menilaiku dari kepala sampai sepatu proyek yang masih berlumpur.
“Lo siapa?”
“Tukang atap.”
Di balik etalase, Tegar menjatuhkan kemoceng.
Leon menatapku lebih lama. Sesuatu bergerak di wajahnya, pengenalan yang datang terlambat. Mungkin dari foto di Instagram seseorang. Mungkin dari cerita di tangga darurat.
“Lo cowoknya Citra,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bergerak. Aku hanya berdiri di ambang pintu dapur dengan buku saku di tangan, dan menunggu Raina.
“Kamu udah dapet jawabanku, Leon,” kata Raina. Suaranya tidak keras. Suaranya stabil, seperti adonan yang sudah dikempeskan dan sekarang mengembang lagi, lebih rata, lebih kuat. “Aku balikin cincinnya di mangkuk tepung. Kamu masih nggak ngerti juga?”
Leon menatap bunga di tangannya. Lalu dia meletakkannya di meja kasir, berbalik, dan keluar. Lonceng pintu berbunyi di belakangnya.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh detik.
Lalu Mbak Sum keluar dari dapur, mengambil buket lili itu dari meja kasir, berjalan ke pintu belakang, dan memasukkannya ke tempat sampah organik.
“Buat kompos,” katanya.
Malamnya, Raina memberikan amplop kepada Mbak Sum. Dua tiket pesawat ke Labuan Bajo, berangkat akhir bulan, atas nama Raina Prameswari dan Leon Hartawan. Tidak bisa refund, tapi bisa ganti nama dengan biaya administrasi yang sudah dibayar Raina pagi tadi.
“Buat Mbak Sum sama Pakde,” katanya. “Bulan madu.”
Mbak Sum menatap amplop itu tanpa bergerak. Dua puluh tahun membuat roti, dan dia belum pernah naik pesawat.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia mengambil amplop itu, berjalan ke gang belakang, dan duduk di bangku kayu di antara karung tepung. Aku melihat bahunya berguncang dari jendela dapur.
Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan mata merah dan wajah yang sama datarnya seperti biasa.
“Suami saya takut ketinggian,” katanya.
Raina menatapnya cemas.
“Tapi dia lebih takut sama saya.” Mbak Sum memasukkan amplop itu ke saku celemek. “Berangkat.”
Aku pulang jam sembilan. Di depan Remah, waktu aku memasukkan gulungan sisa terpal ke bagasi, Raina berdiri di ambang pintu dengan kardigannya dan pensil kembali di rambutnya.
“Mas Rangga.”
“Ya?”
“Sabtu depan tanggal delapan.”
Aku tahu tanggal itu. Tanggal di kartu pemberitahuan yang kami lipat dua ratus kali. Tanggal di sketsa kue yang dia lingkari di daftar dengan tiga tanda tanya.
“Saya datang,” kataku.
“Nggak ada acaranya, Mas.”
“Justru.”
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat reading
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai