← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty

Maaf Bukan Jalan Pulang

POV: Citra

Pesan itu masuk hari Minggu malam, jam sembilan lewat dua belas, waktu aku sedang membantu Dinda memandikan Mochi di kamar mandi apartemen studionya di Kalibata.

Besok. Penyetan Bu Tum. Jam tujuh.

Tidak ada boleh. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada jadwal cadangan atau lokasi yang dijelaskan dengan nomor urut.

Tiga kalimat pendek, masing-masing ditutup titik.

Aku berdiri di kamar mandi dengan tangan penuh busa sampo kucing, dan aku membaca pesan itu berkali-kali, sampai Mochi mengeong marah karena airnya mulai dingin. Delapan tahun aku mengenal cara laki-laki itu menulis pesan. Pesan yang dia kirim kalau masih menghitung, penuh kemungkinan dan kurung dan kata opsional. Pesan yang dia kirim kalau sudah selesai menghitung, pendek, tanpa tanda tanya.

Dia sudah tahu jawabannya.

“Cit?” Dinda melongok dari pintu kamar mandi. “Mochi udah biru.”

Mochi tidak biru. Mochi abu-abu dan basah dan sangat tersinggung. Tapi aku menurunkan HP dan membilasnya sampai bersih, dan Dinda tidak bertanya apa isi pesan itu. Dia hanya membaca wajahku, lalu mengambil handuk dan membungkus Mochi seperti membungkus bayi.


Senin sore, Dinda meminjamkan kemeja.

“Gaun hijau lo di Salatiga, kan?” Dia membuka lemari kecilnya dan mengeluarkan tiga kemeja. “Ya udah. Yang ini aja. Biru muda. Netral. Nggak kelihatan berharap, nggak kelihatan pasrah.”

“Din, ini bukan kencan.”

“Gue tahu.” Dia menyodorkan kemeja itu. “Makanya biru muda.”

Lalu, waktu aku memakai sepatu di depan pintu, Dinda berdiri di belakangku dengan Mochi di pelukan.

“Kalau dia bilang mau balikan,” katanya serius, “kedip dua kali.”

“Kamu nggak bakal lihat, Din. Kamu di Kalibata.”

“Kedip aja. Latihan.” Dia menatapku. “Kalau dia bilang nggak, kedip tiga kali. Terus pulang. Gue beliin seblak. Level lima.”

Aku tertawa, dan aku tahu dia sengaja membuatku tertawa, supaya aku berangkat dengan wajah yang bukan wajah orang yang akan dihukum.


Penyetan Bu Tum cabang Tebet tidak berubah. Kursi plastik merah yang kakinya sedikit goyang. Sambal bawang di cobek kecil. Kipas angin di dinding yang berdecit setiap kali berputar ke kiri.

Aku datang jam tujuh kurang sepuluh. Dia sudah di sana.

Meja yang sama. Meja di pojok, di bawah kalender bergambar ayam jago, tempat kami duduk di bulan Oktober untuk anniversary kedelapan, sambil sibuk dengan HP masing-masing.

Malam ini HP-nya tidak di meja. Aku tidak melihatnya di mana pun. Aku memasukkan HP-ku ke dalam tas sebelum duduk.

“Mbak! Mas!”

Mas Gun muncul dari balik etalase dengan celemek penuh noda sambal dan senyum lebar. Dia meletakkan sepiring kerupuk dan secobek sambal ekstra yang tidak kami pesan.

“Lama nggak ke sini! Ibu saya nanyain terus.” Dia menepuk bahu Rangga dengan akrab. “Ini bonus. Paket anniversary. Tahun depan sembilan tahun, ya, Mas, Mbak! Ibu saya bilang, kalau udah sepuluh tahun, makan gratis!”

Aku tersenyum. Rangga tersenyum. Tidak ada di antara kami yang membetulkan kalimat itu.

Mas Gun pergi, bersiul.


Kami memesan yang sama. Ayam penyet, tempe, es teh manis.

Rangga memesan tempe dua. Aku melihatnya mengatakannya pada pelayan tanpa berpikir, seperti jempolnya dulu mengetik udah sampai? tanpa berpikir. Tempe dua, supaya aku bisa mengambil satu tanpa merasa mengambil.

Waktu makanan datang, dia menggeser satu tempe dari piringnya ke arahku. Sedikit. Dua senti. Kebiasaan delapan tahun.

Aku menatap tempe itu.

Lalu aku menggesernya kembali ke piringnya. Pelan. Dua senti.

Rangga menatap tempe itu lama. Lalu dia mengangguk sangat kecil, seperti orang yang baru membaca sesuatu yang dia sudah tahu, dan memakannya.


Kami makan dalam diam. Aku memperhatikan tangannya waktu dia mencuil ayam. Kapalan di pangkal jari, bekas luka kecil baru di punggung tangan kiri, entah dari proyek atau dari sesuatu yang lain. Dia makan lebih pelan dari dulu. Dulu dia selalu makan cepat, seperti orang yang sudah dijadwalkan untuk berada di tempat lain setengah jam lagi. Malam ini dia makan seperti orang yang tidak sedang dikejar apa pun.

Dia tidak melihat jam sekali pun.

“Soal di taman,” katanya, setelah kami makan dalam diam selama sepuluh menit. “Aku nggak jawab.”

Aku meletakkan sendok.

“Maaf soal itu. Itu nggak adil buat kamu.” Dia menatapku, langsung, tanpa melirik ke kolam atau ke kalender ayam jago. “Aku butuh waktu buat tahu jawabanku sendiri. Bukan jawaban yang paling masuk akal. Jawabanku.”

Aku menunggu.

“Aku maafin kamu, Cit.”

Sesuatu di dadaku naik. Cepat, tanpa izin. Seperti balon yang dilepas dari genggaman. Delapan tahun. Delapan tahun, dan dia memaafkanku, dan mungkin, mungkin—

“Tapi maaf itu bukan jalan pulang.”

Balon itu berhenti di udara.

Kamu mau minta maaf, atau minta pulang?

Bu Hesti bertanya di ruangan kecil bercat hijau di atas toko kacamata, dan aku tidak bisa menjawab. Sekarang, di kursi plastik merah yang kakinya goyang, aku tahu jawabannya. Aku datang untuk minta pulang. Aku menyembunyikannya di balik permintaan maaf, rapi sekali, bahkan dari diriku sendiri.

Dan jawabannya tidak.

Aku menunggu sesuatu di dalam diriku runtuh. Seperti malam itu, di lantai kamar kos dengan blazer basah. Seperti di lantai dengan HP di pangkuan setelah telepon Bagas.

Tidak ada yang runtuh. Sakit, iya. Sakit sekali. Tapi aku masih duduk tegak di kursi plastik itu, dengan tangan di atas meja, dan napasku masih berjalan.

Dia mengatakannya dengan sangat pelan. Tidak ada yang kejam di suaranya. Tidak ada marah, tidak ada sindiran, tidak ada kemenangan. Dia mengatakannya seperti orang mengatakan bahwa hujan sudah berhenti. Fakta yang sederhana, yang tidak perlu diperdebatkan, yang sudah terjadi di luar jendela sementara kita sibuk dengan hal lain.

“Aku udah maafin,” lanjutnya. “Beneran. Bukan basa-basi. Aku udah nggak marah sama kamu. Aku udah lama nggak marah.” Dia berhenti. “Tapi aku nggak bisa nggak tahu. Aku nggak bisa bangun tiap pagi di samping kamu dan nggak inget hujan malam itu. Itu bukan hukuman, Cit. Itu cuma... cara otakku kerja.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.

“Dan aku bukan orang yang sama lagi.” Dia menatap tangannya sendiri di atas meja. “Aku yang dulu bikin rencana buat kamu. Kapan jemput. Kapan ngelamar. Kapan bahagiamu boleh dateng. Aku nggak pernah nanya kamu maunya apa. Aku kira aku udah tahu.”

“Itu bukan alasan buat yang aku lakuin,” kataku cepat. Terlalu cepat. “Ngga, jangan—”

“Bukan.” Dia menggeleng. “Bukan alasan. Yang kamu lakuin, kamu yang lakuin. Tapi aku yang bikin kita jenuh. Itu bagianku.”

Aku menatapnya.

Sebelas halaman buku tulis. Tujuh minggu dari koma pertama sampai titik terakhir. Salahmu bikin kita jenuh. Salahku bikin kita selesai. Paragraf yang paling lama kutulis, yang tidak pernah kukirim, yang tidak pernah dia baca.

Dia sampai di kalimat yang sama, sendirian, di Jakarta, tanpa pernah membaca suratku.

“Ada seseorang,” katanya, “yang mau aku tanya. Bukan aku rencanain. Aku tanya.”

Dia tidak menyebut nama. Dia tidak perlu.


Aku mengeluarkan sesuatu dari tas.

Buku saku kuning. Sampulnya sudah pudar, sudutnya melengkung, karetnya sudah tidak elastis. Buku yang pertama. Yang kuminta darinya di depan gerobak cilok, delapan tahun lalu, dengan mulut penuh cilok.

Aku membawanya ke Jakarta untuk pameran, terselip di antara brosur Kopi Lereng. Aku tidak tahu kenapa aku membawanya. Sekarang aku tahu.

Aku meletakkannya di meja, di antara piring kami, dan menggesernya ke arahnya.

Dia menatap buku itu lama sekali sebelum menyentuhnya.

Lalu dia membukanya. Halaman pertama. Tulisan tangannya sendiri delapan tahun lalu, lebih miring dan lebih besar dari sekarang, karena waktu itu dia belum belajar menulis setegak benang.

Daftar Semester 5
☑ Lulus Mekanika Tanah (ulang).
☑ Beli helm baru.
☑ Kenalan sama cewek FEB yang ketawanya paling kenceng.

Dia membaca baris ketiga. Aku melihat bibirnya bergerak sedikit. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil, tapi sungguhan.

“Kamu simpen,” katanya.

“Kamu bilang itu bukti.”

“Itu bukti.” Dia menutup buku itu pelan, menahannya dengan dua tangan di atas meja. “Itu beneran kejadian, Cit. Delapan tahun itu beneran kejadian.”

Aku menggigit bibir sampai sakit.

“Satu lagi,” kataku, setelah bisa bicara lagi. “Pesan panjangku. Yang sembilan paragraf.”

“Belum kubuka.”

“Jangan dibuka.” Aku menatapnya. “Hapus aja, Ngga. Isinya aku semua. Nggak ada kamu di situ.”

Dia menatapku lama, lalu mengangguk.

“Sidang Bagas tanggal sembilan,” katanya. “Aku tetap ikut. Lewat Zoom.”

“Dia bakal seneng.”

“Aku udah janji.”

“Aku tahu.” Aku tersenyum. “Aku ada di teras waktu kamu janji.”

Lalu aku menanyakan satu hal. Hal terakhir yang kuizinkan diriku tanyakan.

“Ngga. Kamu bahagia?”

Dia diam. Dia benar-benar memikirkannya, seperti dulu dia memikirkan semua pertanyaanku dengan sungguh-sungguh sebelum menjawab, walaupun pertanyaannya cuma mau makan di mana.

“Lagi belajar,” katanya akhirnya.

Itu jawaban paling jujur yang pernah dia berikan padaku. Lebih jujur dari pasti kamu, lebih jujur dari delapan puluh lima persen, aku kasih faktor keamanan. Aku mengangguk, dan aku tidak bertanya lagi.


Kami keluar dari Penyetan Bu Tum jam delapan lewat. Mas Gun melambai dari balik etalase dan berteriak jangan lupa tahun depan! Aku melambai balik.

Di trotoar, di bawah lampu jalan yang sama tempat aku berbalik dan melambai sebelum naik ojol delapan bulan lalu, aku memesan ojol. Dia berdiri di sampingku dengan tangan di saku. Buku saku pertama itu menyembul dari saku kemejanya, di samping buku saku kesembilan.

Dua buku. Yang pertama dan yang terakhir.

Ojol datang. Seorang bapak dengan jaket hijau dan helm yang terlalu besar.

Aku menunggu.

Aku tidak tahu aku sedang menunggu sampai tubuhku berhenti bergerak di samping motor itu. Aku menunggu dua kata yang dia ucapkan setiap kali aku pergi, delapan tahun, setiap malam, bahkan di malam aku membuang rekaman itu ke selokan di depan matanya.

Kabarin kalau udah sampai.

“Hati-hati, Cit,” katanya.

Hanya itu.

Aku naik ke motor. Aku tidak menoleh. Bapak ojol menarik gas, dan lampu-lampu Tebet Raya mulai bergerak di samping kami.

Dia tidak memintaku mengabari.

Delapan tahun, dan malam itu, untuk pertama kalinya, dia tidak memintaku mengabari.


Di lampu merah pertama, aku menoleh ke belakang. Aku tidak bisa menahannya.

Jazz abu-abu itu baru keluar dari parkiran Penyetan Bu Tum. Lampu seinnya berkedip ke kanan. Di ujung jalan, dia berbelok. Ke arah selatan.

Aku tahu jalan itu. Ke arah Pancoran, lalu Pasar Minggu, lalu, kalau terus, Fatmawati. Lalu Cipete.

Lampu berubah hijau.

Di jok belakang motor, dengan helm yang bau keringat orang lain, aku mengeluarkan HP dari tas. Jariku membuka percakapan dengan Rangga dan emoji helm proyek yang belum kuganti. Jempolku mengetik sendiri, seperti delapan tahun terakhir.

udah sampai

Aku menatap dua kata itu.

Aku belum sampai. Aku masih di atas motor, di tengah Jalan Tebet Raya, dua puluh menit dari Kalibata. Dan kalau aku sudah sampai pun, tidak ada yang sedang menunggu pesan ini. Tidak ada yang akan menelepon kalau aku lupa mengirimnya. Tidak ada yang akan datang kalau aku tidak mengangkat.

Aku menghapusnya. Huruf demi huruf.

Ternyata begitu rasanya pulang tanpa ada yang menunggu kabar.