Chapter Thirty Six
Yang Kutinggalkan di Selokan
POV: Citra
“Dua kalimat,” kata Dinda. “Pengumumannya cuma dua kalimat, Cit.”
Dia berdiri di tengah apartemen studionya di Kalibata, Rabu malam, dua puluh tujuh Agustus, dengan HP di satu tangan dan Mochi di tangan yang lain.
“Terhitung 1 September, Bapak Leon Hartawan ditugaskan di Kantor Cabang Makassar sebagai Area Sales Supervisor. Demikian untuk diketahui.” Dia menurunkan HP-nya. “Demikian untuk diketahui. Kayak pengumuman air PAM mati.”
“Supervisor,” kataku.
“Dari Head ke Supervisor. Anak-anak sales udah bikin istilah. Katanya head-nya ketinggalan di tangga darurat lantai tujuh belas.” Mochi melompat turun, menatapku dengan jijik, lalu pergi menjilati kakinya. “Terus Pak Bonar nyetel lagu Kriuk Band di ruang rapat. Volume penuh. Katanya nggak sengaja kepencet.”
Aku tertawa. Lalu aku berhenti, karena aku tidak tahu harus merasa apa.
Kalau ini kampanye, aku tahu cara membacanya. Dua kesaksian. Satu rapat komite etik, tiga jam empat puluh menit. Satu pengumuman dua kalimat. Sembilan bulan sejak malam itu. Angkanya rapi. Hasilnya tidak terasa seperti menang. Hasilnya terasa seperti laporan lama yang akhirnya dimasukkan ke map dan ditaruh di rak paling atas.
Bu Lastri memberiku izin seminggu waktu surat panggilan komite itu datang ke Salatiga.
“Seminggu,” katanya. “Lebih dari seminggu, copy kopimu saya suruh Seno yang nulis. Kamu tahu tulisan Seno kayak apa.”
Aku tahu. Seno pernah menulis keterangan foto Kopi ini enak, silakan dibeli, terima kasih lalu bertanya apakah perlu tanda seru.
Nadira ternyata lebih kecil dari yang kubayangkan. Dua puluh enam tahun, rambut dipotong pendek sekali, kuku yang digigiti sampai habis. Kami bertemu pertama kali di lobi Menara Sentra, jam delapan pagi, dan di dalam lift dia langsung menggenggam tanganku. Aku membiarkannya. Tanganku juga dingin.
Di depan komite, seorang laki-laki berkacamata dari kantor pusat bertanya padaku dengan nada yang hati-hati sekali.
“Apakah Saudari merasa dipaksa?”
Ruangan itu sudah siap mendengar iya. Satu kata itu akan membuatku jadi korban yang rapi, dan cerita yang rapi selalu lebih gampang dijual. Aku tahu. Aku pernah dibayar untuk menjual cerita.
“Nggak, Pak,” kataku. “Saya ada di mobil itu karena saya mau. Itu salah saya.” Aku menarik napas. “Yang saya nggak tahu, saya cuma satu dari beberapa. Dia nggak pernah bohong ke saya, Pak. Dia cuma nggak pernah bilang.”
Di sampingku, Nadira menunduk, lalu mulai bercerita. Tangga darurat. Jam empat. Kopi yang ditaruh di meja tanpa diminta.
Malam itu, setelah pengumuman dua kalimat, nomor yang tidak kukenal mengirim pesan.
Cit. Ini Leon. Lima menit aja. Habis itu saya ke Makassar dan kamu nggak akan lihat saya lagi.
Dulu, aku akan pergi diam-diam. Aku akan bilang ke Dinda bahwa aku turun ke minimarket, lalu tidak pernah menceritakannya pada siapa pun.
Aku menyodorkan HP-ku ke Dinda.
Dinda membacanya. Lalu menatapku. “Lo mau?”
“Mau,” kataku. “Biar selesai. Bukan biar dia lega.”
Aku membalas dengan nama kafe kecil di dekat Stasiun Kalibata, dan satu jam. Jam sepuluh pagi.
Bukan jam empat. Jam empat sudah cukup banyak mengambil dariku.
Dinda ikut. Dia duduk dua meja di belakangku dengan kacamata hitam, topi, dan masker, di dalam ruangan, jam sepuluh pagi, memegang menu terbalik. Dia kelihatan seperti buronan yang sedang menyamar jadi buronan lain.
Leon datang lima menit lebih awal. Tentu saja.
Dia lebih kurus. Kemejanya masih disetrika, rambutnya masih rapi, tapi ada sesuatu di sekitar matanya yang turun, seperti tenda yang salah satu talinya lepas. Di meja, di depan kursi kosong yang dia siapkan untukku, sudah ada segelas Americano.
“Saya pesenin yang biasa,” katanya.
Yang biasa.
Aku menatap gelas itu. Kopi hitam tanpa gula yang dulu kuhabiskan di tangga darurat karena dia yang membelikan, padahal lidahku tidak pernah menyukainya. Sembilan bulan, dan dia masih mengira itu kopiku.
Aku tidak menyentuhnya. Aku berjalan ke konter, memesan kopi susu gula aren, membayarnya sendiri, dan kembali ke meja dengan gelasku di tangan.
“Kamu kelihatan sehat,” katanya akhirnya.
“Kamu bilang lima menit.”
Dia tersenyum. Senyum yang dulu kukira hanya untukku. Sekarang aku tahu ada versi Nadira-nya, dan mungkin versi-versi lain yang belum pernah menulis pesan pada siapa pun.
“Sepuluh tahun, Cit,” katanya. “Sepuluh tahun saya di Gemilang. Target nggak pernah meleset. Satu unggahan, dan semuanya selesai.” Dia mencondongkan badan sedikit, cukup untuk membuat suaranya terdengar seperti rahasia. “Kamu hancurin karier saya.”
Aku menunggu sesuatu di dadaku runtuh. Dulu, kalimat seperti itu akan membuatku minta maaf duluan.
Tidak ada yang runtuh.
“Bukan aku,” kataku. “Rekamannya. Aku cuma berhenti membuangnya.”
“Rekamannya udah nggak ada.”
“Ada,” kataku. “Aku.”
Dia diam. Lalu dia mencoba lagi, dengan suara yang lebih pelan. Suara tangga darurat.
“Saya nggak pernah maksa kamu.”
“Iya.” Aku mengangguk. “Kamu nggak pernah maksa. Kamu juga nggak pernah nanya. Dan kamu nggak pernah bilang.”
“Saya kira kamu beda, Cit.”
“Aku juga kira aku beda,” kataku. “Ternyata tangganya sama.”
Untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya, Leon Hartawan tidak punya kalimat yang tepat.
Aku berdiri dan membawa gelasku sendiri. Americano itu tetap di meja, penuh, mendingin di depan laki-laki yang memesannya untuk perempuan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Di pintu kafe, aku menoleh sekali. Dia masih duduk di sana, menatap kopi yang tidak diminum, dua tangan rata di atas meja. Untuk pertama kalinya, dia kelihatan seperti laki-laki biasa yang duduk sendirian di kafe dekat stasiun, dan tidak ada siapa pun yang menunggu ceritanya.
Itu terakhir kali aku melihatnya.
Dinda menyusulku di trotoar, masker ditarik ke dagu. “Tadi gue hampir nyiram dia pakai es teh,” katanya. “Udah gue angkat gelasnya. Terus gue inget es tehnya enak.”
Sorenya aku pergi ke Tebet.
Aku tidak berencana naik. Aku hanya ingin melihat tempat itu sekali lagi, dengan mata yang tidak sedang berbohong.
Selokan di belakang kos Rangga lebih kecil dari ingatanku. Di bulan Agustus, airnya rendah dan lambat, abu-abu kehijauan, mengalir malas di antara dinding beton berlumut. Ada kantong plastik yang tersangkut di akar pohon dan sebelah sandal jepit biru. Malam itu, bulan Desember, airnya deras sehabis hujan sore. Bunyi dua benda yang jatuh ke dalamnya kecil sekali.
Aku berdiri di jalan setapak di tepinya, tepat di bawah balkon lantai tiga.
Dashcam itu tentu sudah tidak ada. Sudah lewat sembilan bulan dan satu musim hujan. Mungkin sudah terbawa ke laut, atau terkubur lumpur tepat di bawah kakiku. Tapi mataku tetap mencarinya. Kebiasaan lama. Mencari barang bukti, untuk memastikan ia benar-benar hilang.
Waktu melemparnya, aku sempat merasa lega. Satu detik. Aku tidak pernah menceritakan detik itu pada siapa pun, bahkan Bu Hesti. Satu detik yang paling memalukan dalam hidupku, waktu aku berpikir: kalau buktinya hilang, ceritanya masih bisa kuatur.
Yang kubuang malam itu bukan delapan tahun. Delapan tahun itu sudah selesai di tempat lain, di dalam mobil, di menit yang tidak bisa kuputar balik. Yang kubuang ke selokan ini cuma satu-satunya benda yang bisa melindungi dua orang yang tidak bersalah.
Dan yang kutinggalkan di sini, ternyata, adalah perempuan yang percaya cerita bisa dikendalikan asal buktinya tenggelam.
Aku tidak mau mengambilnya kembali. Biar dia tinggal di lumpur.
“Lho. Neng Citra?”
Ibu kos berdiri di ujung jalan setapak dengan galah bambu panjang yang ujungnya diberi pengait kawat. Di atas kepalanya, pohon jambu air di samping kos sedang berbuah lebat, dahannya melengkung ke arah selokan.
“Neng yang sandalnya kebalik,” katanya, seolah itu nama lengkapku.
Aku menunduk melihat sandalku. Kali ini benar.
“Mau ketemu Mas Rangga? Belum pulang, Neng. Sekarang dia pulangnya malem terus.” Dia menurunkan galahnya dan menatapku dengan mata yang dua puluh tahun mengurus anak kos. Lalu suaranya turun setengah, seperti orang yang menyerahkan sesuatu yang berharga. “Tapi senyum. Pulang malem, tapi senyum. Kemarin saya denger dia nyanyi di kamar mandi.” Dia bergidik. “Suaranya, ya Allah, Neng. Kayak pompa air masuk angin.”
Aku tertawa, sebelum sempat memutuskan apakah aku pantas tertawa.
“Terus lukisan gede yang berbulan-bulan dia taruh ngadep tembok itu, minggu kemarin diangkut tukang loak. Lukisan orang nikahan. Saya kira tadinya foto Neng sama Mas Rangga. Ternyata orang lain.” Dia mengerutkan kening. “Gambarnya dicopot, digulung, dibuang. Bingkainya dijual. Jati, Neng. Dua ratus ribu. Duitnya dikasih ke saya. Katanya buat beli pupuk jambu.”
Aku tahu lukisan siapa itu.
Ibu kos mengangkat galahnya, memetik satu jambu air yang paling merah, dan menyodorkannya padaku. “Nih. Manis. Pupuknya mahal.”
Dia tidak bertanya kenapa aku berdiri di tepi selokan. Dia tidak bertanya kenapa aku tidak naik.
“Saya nggak naik, Bu,” kataku.
“Iya,” katanya. “Saya tahu.”
Aku pergi dengan sebuah jambu air di tangan dan satu kabar yang tidak kuminta tapi ternyata kubutuhkan. Bulan Juni dia bilang lagi belajar. Sekarang dia pulang malam, tersenyum, dan bernyanyi.
Kelihatannya dia sudah lulus.
Di peron Stasiun Tebet, aku menggigit jambu itu. Manis, berair, sedikit sepat di dekat bijinya. Aku menangis sedikit. Tidak ada yang menoleh. Peron commuter jam lima sore penuh orang yang menangis sedikit.
Malamnya, di sofa Dinda, aku membuka Instagram Remah.
Desember lalu aku pernah mengetik pesan ke akun ini, lalu menghapusnya sebelum kalimat kedua. Semua draf hidupku dulu begitu.
Aku pulang ke Salatiga besok pagi. Kereta jam delapan dari Gambir. Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma nggak mau pergi diam-diam lagi, kayak dulu. Terima kasih sudah kasih aku makan. — Citra
Aku menekan kirim.
Sepuluh menit kemudian, ada balasan.
Baik, Kak.
Tanpa emoji. Aku tahu siapa yang memegang akun itu. Anak berkacamata yang dulu bilang kami tutup padaku. Menurut hitunganku, Baik, Kak dari dia adalah kenaikan sentimen sekitar empat puluh persen.
Gambir jam tujuh pagi bau kopi sachet dan lantai yang baru dipel.
Bulan Februari aku meninggalkan Jakarta dari Pasar Senen. Kereta ekonomi, tiket sekali jalan yang kubeli di loket seperti orang yang sedang kabur. Kali ini aku membeli tiket tiga hari sebelumnya, lewat aplikasi, kursi dekat jendela. Kali ini aku tidak kabur. Aku pulang.
Dinda mengantarku sampai pintu peron. Dia membawa Mochi di tas jinjing kucing, “biar Mochi juga pamit.” Mochi tidur sepanjang jalan dan tidak membuka mata sekali pun waktu aku mengelusnya.
Bagas mengirim pesan. Aku jemput di Tawang ya Mbak. Pakai motor kantor. KANTORKU PUNYA MOTOR, MBAK. Lalu: Stasiun Tawang itu bangunan tahun 1914 lho Mbak, pondasinya— Sejak diterima di konsultan struktur dua minggu lalu, Bagas memperkenalkan setiap bangunan seperti memperkenalkan teman lama.
Lalu, di antara orang-orang yang lalu-lalang dengan koper, aku melihat seseorang yang berdiri diam.
Perempuan berumur empat puluhan. Tidak bercelemek kali ini, tapi berdaster batik, berjaket parasut, berkerudung instan. Di tangannya, sebuah kantong kertas cokelat.
Mbak Sum.
Dia berjalan ke arahku. Tidak cepat, tidak lambat. Seperti adonan yang tahu ia akan mengembang tepat pada waktunya.
“Mbak Citra.”
“Mbak Sum? Dari Cipete? Jam segini?”
“Saya mau ke Pasar Baru,” katanya. “Sekalian.”
Pasar Baru buka jam sembilan. Kami berdua tahu itu.
Dia mengulurkan kantong kertas itu. “Dari Mbak Raina. Buat di jalan.”
Aku menerimanya. Bagian bawahnya masih hangat.
Mbak Sum menatapku sebentar. “Waktu itu saya nggak suka sama Mbak,” katanya datar.
“Saya tahu, Mbak.”
“Sekarang juga masih belum.” Dia membetulkan tali tas selempangnya. “Tapi rotinya saya yang bentuk. Jadi dimakan. Jangan disimpen.”
Lalu dia berbalik dan pergi, ke arah halte bus, bukan ke arah Pasar Baru.
Dinda menatap punggungnya dengan mulut terbuka. “Cit,” bisiknya. “Itu siapa? Kok gue takut sekaligus pengin dipeluk?”
Kereta bergerak jam delapan tepat.
Aku menunggu sampai Jakarta habis. Sampai gedung-gedung berganti atap rumah, lalu sawah, lalu laut yang kelihatan sebentar di sebelah kiri. Baru aku membuka kantong itu.
Dua roti isi keju, dibungkus kertas minyak. Satu roti sobek. Sebotol kecil teh.
Bagian depan kantongnya polos. Aku membaliknya.
Di bagian belakang, tulisan tangan bulat dengan spidol hitam. Tulisan yang kulihat di ratusan foto Instagram, di kartu yang basah di saku blazer, di selembar kertas HVS yang datang bersama sebuah paket di bulan Desember.
Terima kasih.
— R.
Huruf itu.
Sembilan bulan lalu, huruf yang sama berdiri di bawah tiga kalimat yang menghancurkan hidupku. Berbulan-bulan sesudahnya aku tidak sanggup melihat huruf R di mana pun. Termasuk di huruf pertama nama yang dulu kuucapkan setiap malam sebelum tidur.
Lalu aku tahu tangan itu menulis makan selagi hangat untuk orang-orang asing. Lalu tangan itu menyodorkan roti padaku di dapurnya sendiri, dan mendorong segelas teh dua senti lebih dekat ke tanganku.
Sekarang huruf itu berterima kasih padaku.
Aku menangis di kursi dekat jendela. Tidak keras. Bapak-bapak di sebelahku menyodorkan tisu tanpa menoleh, lalu kembali tidur.
Lalu aku makan.
Rotinya enak. Tentu saja enak. Aku memakannya sampai remah terakhir, karena untuk pertama kalinya aku mengerti nama tokonya.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan reading
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai