← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Sixteen

Pelajaran Pertama Membatalkan

POV: Rangga

Foto prewedding itu ukurannya satu meter kali delapan puluh senti, dicetak di atas kanvas, dibingkai kayu jati yang berat.

Dia bersandar di dinding gang belakang Remah, dibungkus kertas cokelat seperti mayat yang sopan. Hanya sudut kanan atasnya yang sobek sedikit, memperlihatkan sepotong langit biru yang terlalu cerah dan sebagian pohon pinus.

“Tempel di toilet aja, Mbak,” usul Tegar.

“Bakar,” kata Mbak Sum dari balik pintu dapur, tanpa menoleh.

Raina berdiri di depan kanvas itu dengan tangan bersedekap. Sabtu, delapan belas Januari, jam dua siang. Item keenam di Daftar Batal.

“Mas Rangga,” katanya tanpa melihatku. “Tolong bawa. Mau Mas apain terserah. Asal saya nggak lihat.”

Aku mengangkatnya. Beratnya kira-kira dua belas kilo, kebanyakan dari bingkai. Kanvas itu tidak muat di bagasi Jazz, jadi aku memasukkannya ke jok belakang dalam posisi miring, dengan satu sudut menembus jendela yang terpaksa kubuka setengah. Sepanjang jalan dari Cipete ke Tebet, sudut bingkai itu menyembul keluar jendela seperti tanduk, dan seorang pengendara ojol di lampu merah Fatmawati bertanya apakah aku sedang pindahan.

“Pindahan orang lain, Bang,” kataku.

Di kos, aku menyandarkannya di dinding dekat lemari, menghadap ke tembok. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengannya. Membuangnya terasa seperti ikut campur dalam sesuatu yang bukan urusanku.

Sekarang di kamarku ada kemeja batik Bapak yang belum dilipat, dan foto prewedding dua orang asing yang menghadap tembok. Kamar ini makin mirip gudang barang-barang yang tidak jadi dipakai.


Itu sebenarnya Sabtu kedua aku datang ke Remah.

Yang pertama hari Rabu sebelumnya, malam, untuk Item Empat: undangan. Enam ratus undangan sudah dicetak. Dua ratus sudah disebar, kebanyakan ke keluarga besar dan teman orang tua. Empat ratus sisanya tersimpan di enam kardus di lantai dua Remah, masih dibungkus plastik, dengan pita warna sage yang akhirnya dipilih Ibu Raina setelah tiga minggu berdebat.

Dua ratus orang itu butuh kabar.

Remah setelah tutup lain sekali dengan Remah yang kubayangkan. Lampu etalase sudah dimatikan, hanya lampu dapur yang menyala, kuning dan hangat. Udaranya bau mentega dan sesuatu yang manis dan sedikit asam. Raina bilang itu bau biang roti, adonan yang sudah dihidupi selama tiga tahun dan diberi makan tepung setiap hari seperti hewan peliharaan. Di dinding dekat meja kasir ada papan gabus penuh kantong kertas bekas yang ditempel, masing-masing berisi tulisan tangan. Makan pelan-pelan. Rotinya nggak ke mana-mana. Buat yang lagi capek. Selamat ulang tahun, Oma Lien! 81 tahun dan masih paling cantik se-Cipete.

Raina mengikat ulang rambutnya sebelum kami mulai. Dia mencabut pensil dari gelungan, membiarkan rambutnya jatuh sebentar sampai ke bahu, lalu memutarnya lagi dan menusukkan pensil itu kembali dalam satu gerakan cepat, tanpa cermin, seperti sudah melakukannya ribuan kali. Di bawah lampu dapur yang kuning, dengan wajah lelah dan tepung di lengan kardigan, dia cantik dengan cara yang membuatku harus mengalihkan pandangan ke kertas di depanku. Aku mencatatnya seperti mencatat cuaca. Itu ada, dan itu bukan urusanku.

Kami menulis kalimat pemberitahuannya bersama di meja kecil di pojok dapur. Aku menulis draf pertama.

Dengan segala hormat, bersama ini kami sampaikan bahwa rencana pelaksanaan acara pernikahan—

“Mas.” Raina membacanya dari samping. “Ini kayak surat pemutusan kontrak.”

“Memang pemutusan kontrak.”

Dia menatapku. Aku menatapnya balik. Lalu dia tertawa, pendek, dan mengambil pulpen dari tanganku.

Versi akhirnya pendek. Kami mengabarkan bahwa pernikahan pada 8 Maret tidak jadi dilaksanakan. Terima kasih atas doa dan pengertiannya. Mohon tidak bertanya. Doakan saja. Di bawahnya, hanya nama Raina dan nama kedua orang tuanya. Tidak ada nama lain.

Tegar dan Mbak Sum ikut melipat. Dua ratus kartu kecil, dua ratus amplop, dua ratus label alamat yang ditulis tangan karena printer Remah hanya bisa mencetak struk.

“Mbak,” kata Tegar di kartu ke-tujuh puluh, “ini bisa jadi konten, lho. ASMR melipat kartu batal nikah. Pasti FYP.”

“Tegar.”

“Estetik, Mbak. Pembatalan estetik. Orang suka yang sedih-sedih tapi rapi.”

Mbak Sum meletakkan amplop yang sedang dia lipat, menatap Tegar tanpa kata, dan Tegar langsung menunduk dan melipat lebih cepat.

Aku melipat dengan presisi. Lipatan tengah, tepat di garis. Amplop, sudut ditekan dengan kuku. Raina memperhatikanku di kartu ke-seratus, lalu mengambil salah satu hasil lipatanku dan membandingkannya dengan hasil lipatannya sendiri.

“Mas,” katanya, “ini lipatan atau ukuran pakai jangka sorong?”

“Kalau sudutnya nggak siku, amplopnya nggak rata.”

“Ini kartu batal nikah, Mas. Bukan bekisting.”

Tegar tertawa begitu keras sampai tersedak. Mbak Sum tidak tertawa, tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit.


Malam itu aku pulang jam sebelas lewat. Dua ratus amplop sudah siap di kardus, menunggu dikirim besok lewat kurir.

Di pintu, Raina menyodorkan kantong kertas kecil. Isinya dua roti sobek dan satu croissant yang sudah agak kempis karena dipanggang tadi pagi. Di kantongnya ada tulisan spidol.

Buat sarapan. Sarapan juga bukan pilihan. — R.

“Ini roti sisa,” katanya, seolah perlu menjelaskan. “Kalau nggak dimakan, besok dibuang.”

“Remah,” kataku.

Dia mengerjap, lalu tersenyum kecil, seperti orang yang terkejut karena seseorang ingat nama tokonya dengan cara yang benar.

Di kos, aku duduk di tepi tempat tidur dan melepas sepatu. Jam di layar HP menunjukkan 23.14.

Lalu jempolku bergerak sendiri.

Aku tidak memutuskannya. Delapan tahun, jempolku sudah hafal urutannya. Buka WhatsApp. Ketuk percakapan paling atas, yang sekarang tidak lagi paling atas. Ketik dua kata.

udah sampai?

Aku menatap dua kata itu di kolom ketik. Kursor berkedip di ujungnya.

Di bawahnya, di layar, sembilan paragraf yang tidak pernah kubuka. Di atasnya, Udah sampai yang dia kirim pukul 00.41, yang kubaca dan tidak kubalas.

Aku menghapusnya. Huruf demi huruf. Tanda tanya. I. A. P. M. A. S. Spasi. H. A. D. U.

Delapan tahun bisa dihapus dalam dua belas ketukan.

Kebiasaannya tidak.


Jadi Sabtu itu, setelah kanvas itu dimasukkan ke Jazz, aku kembali ke dalam Remah untuk Item Empat yang belum selesai.

Telepon Raina berbunyi waktu kami sedang memeriksa daftar alamat yang tersisa. Dia melihat layar, menghela napas, lalu mengangkatnya dan berjalan ke gang belakang. Pintunya tidak tertutup rapat. Aku tidak berusaha mendengar, tapi suara Ibu Raina cukup keras untuk menembus pintu kayu.

“Ditunda, Raina! Bukan batal! Kalau ditunda, orang masih bisa ngerti. Kalau batal, orang nanya macam-macam! Tante Margaretha bilang Leon mau minta maaf secara resmi, keluarga mereka mau datang—”

Raina kembali sepuluh menit kemudian. Matanya merah tapi kering. Dia duduk di depan daftar alamat dan tidak bicara.

Aku membuka buku saku. Ini sesuatu yang bisa kukerjakan.

“Oke,” kataku, dan mulai menggaris. “Opsi A: batal permanen. Kartu sudah siap, kirim Senin, selesai minggu depan. Opsi B: tunda. Kita perlu kalimat baru, cetak ulang, dan risikonya Mbak harus menjelaskan dua kali. Kalau dilihat dari—”

“Mas.”

Aku berhenti.

“Ini bukan proyek.”

Suaranya tidak keras. Dia tidak marah. Dia menatapku dengan mata yang lelah, dengan tepung di lengan kardigannya dan pena masih di tangannya.

“Saya cuma butuh ditemenin,” katanya. “Bukan dijadwalin.”

Aku menatap halaman di depanku. Dua kolom rapi. Opsi A, Opsi B. Kotak-kotak kecil untuk dicentang.

Delapan tahun aku menjadwalkan semuanya untuk Citra. Kapan menjemput. Kapan melamar. Kapan bahagianya boleh datang. Tidak ada satu pun kotak di semua buku saku itu untuk menemani.

Aku menutup buku saku pelan-pelan.

“Maaf,” kataku.

Raina menggeleng kecil, lalu menyodorkan setumpuk amplop kosong ke arahku. Aku mulai melipat. Kami tidak bicara selama dua puluh menit. Itu dua puluh menit yang paling tenang dalam lima minggu terakhir hidupku.

Sebelum menutup buku saku, aku menulis satu baris di pojok bawah halaman, kecil, di bawah dua kolom yang tidak jadi dipakai. Bukan rencana. Bukan tugas. Sesuatu yang lebih mirip catatan lapangan, seperti yang kutulis waktu menemukan kesalahan desain yang tidak boleh terulang.

Ditemenin ≠ dijadwalin.


Lonceng pintu Remah berbunyi jam empat sore.

“Mas Rangga!”

Aku menoleh. Laras berdiri di ambang pintu, masih memakai jas putih apotekernya di atas kaus, napasnya sedikit terengah, helm motor tergantung di siku.

“Kamu ngapain di sini?”

“Mas lupa matiin share location keluarga.” Dia mengangkat HP-nya dan menunjuk peta dengan titik biru kecil. “Mas ke Cipete tiga kali dalam seminggu. Mas nggak pernah ke Cipete. Mas bahkan nggak tahu Cipete itu di mana sampai tahun lalu.”

“Aku tahu Cipete di mana.”

“Mas dulu ngira Cipete itu di Bekasi.”

Tegar, dari balik etalase, menutup mulut dengan dua tangan.

Laras berjalan masuk, melewatiku, dan berhenti tepat di depan Raina. Dia menatapnya dari ujung pensil di rambutnya sampai ujung sepatu karetnya yang bertepung, seperti apoteker yang sedang memeriksa resep yang tulisannya tidak jelas.

“Mbak siapa?”

“Raina.”

“Kenal Mas saya dari mana?”

Raina melirikku sekilas. Aku menggeleng sangat kecil. Raina mengerti.

“Saya klien,” katanya. “Mas Rangga bantuin saya ngurus sesuatu.”

Laras menyipitkan mata. Lalu dia menanyakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Mas saya udah makan belum hari ini?”

Raina diam sebentar. Lalu dia menjawab dengan jujur. “Belum. Tapi saya lagi usahakan.”

Laras menatapnya lama sekali. Lalu bahunya turun, wajahnya melunak, dan dia berbalik ke etalase.

“Mas,” katanya pada Tegar, “roti yang paling enak yang mana?”

Dia membeli dua puluh. Dua puluh roti untuk rumah yang dihuni dua orang. Waktu Tegar memasukkannya ke kantong kertas, Laras menoleh padaku dan mengumumkan, keras, untuk seluruh toko:

“Aku tim Mbak ini.”

“Laras, ini bukan—”

“Tim, Mas. Aku udah milih.”

Tegar mengangkat tangan dari balik etalase. “Saya juga tim Mbak Raina.”

Laras menoleh. “Kamu siapa?”

“Tegar. Kasir. Brand ambassador.”

Laras mengulurkan tangan melewati etalase, dan mereka berjabat tangan dengan serius, seperti dua kepala negara yang menandatangani perjanjian.

“Laras. Apoteker. Adiknya.”


Laras ikut pulang denganku ke Tebet, karena motornya dititipkan di kosku sejak siang. Kanvas itu masih menyembul dari jendela belakang. Laras melihatnya, membuka mulut, lalu memutuskan ada hal yang lebih penting.

Di lampu merah Pancoran, dia berbicara tanpa menoleh.

“Mas. Aku tahu Mas bohong ke Ibu.”

Aku tidak menjawab.

“Mas nggak pernah salah tanpa bikin daftar perbaikan.” Laras menatap lurus ke depan. “Kalau Mas salah, Mas langsung minta maaf, terus bikin daftar di buku kuning itu. Langkah satu, langkah dua, langkah tiga. Waktu Mas nyerempet motor orang di Kalimalang, Mas bikin daftar sampai motornya selesai diservis.” Dia akhirnya menoleh. “Ini nggak ada daftar perbaikan. Berarti bukan Mas yang salah.”

Lampu berubah hijau. Aku menginjak gas pelan-pelan.

“Jangan bilang Ibu,” kataku.

“Kenapa?” Suara Laras pecah sedikit, dan aku ingat dia baru dua puluh empat tahun. “Kenapa Mas lindungin dia?”

Aku memikirkan pertanyaan itu sepanjang Jalan Tebet Raya. Melewati gerobak martabak di ujung jalan. Melewati warung penyetan yang lampunya masih menyala.

“Karena delapan tahun itu juga punyaku, Ras,” kataku akhirnya. “Kalau semua orang tahu, delapan tahun itu cuma bakal diinget karena satu malam.”

Laras tidak menjawab. Dia mengusap matanya dengan lengan jas apotekernya, lalu memeluk kantong berisi dua puluh roti itu di pangkuannya sepanjang sisa perjalanan.