Chapter Forty One
Epilog — Udah Sampai
POV: Citra
“Head of Marketing,” kata Bu Lastri, membaca kartu nama baruku dengan kacamata di ujung hidung. “Saya nggak ngerti kenapa harus pakai bahasa Inggris.”
“Seno yang usul, Bu. Biar keren.”
“Seno juga minta judulnya diganti jadi Head of Sangrai.” Bu Lastri meletakkan kartu itu di meja kasir kedai, di antara toples gula aren dan mesin hitung yang tombol tujuhnya sudah aus. “Saya bilang boleh, asal gajinya nggak ikut head.”
Senin, dua belas Oktober, jam empat sore, di kedai Kopi Lereng di jalan menuju Kopeng. Kedai yang dulu cuma punya empat ratus dua belas pengikut dan satu karyawan yang menulis silakan dibeli, terima kasih. Sekarang ada roastery kecil di Bawen, kedai kedua di Kota Lama Semarang, kantor dua ruangan di atasnya, dan empat puluh satu ribu orang yang membaca kalimat-kalimat yang kutulis tentang kopi dari kebun Pak Wagiman.
Pak Wagiman sendiri tidak punya Instagram. Dia hanya tahu kopinya sekarang dijual di kota, dan setiap kali bertemu denganku dia bilang hal yang sama. “Jangan dipetik buru-buru, Mbak. Nanti rasanya ngaku.”
Sore itu ada syukuran kecil untuk pembukaan kedai Semarang. Nasi tumpeng di meja panjang, petani-petani dari lereng yang datang dengan baju terbaik mereka, dan Seno yang memberi sambutan selama empat puluh detik lalu lari ke belakang karena grogi.
Bu Lastri mengumumkan jabatanku di tengah syukuran itu dengan suara yang sama yang dia pakai untuk menawar karung goni.
“Gaji naik,” katanya ke semua orang. “Kopi tetap gratis. Jangan minta lebih. Nanti saya tawar balik.”
Semua orang tertawa. Aku juga.
Aku memakai gaun hijau botol.
Gaun itu kubeli dua tahun lalu untuk hari Sabtu yang tidak pernah datang. Sesudahnya ia tinggal di kardus bertuliskan BAJU BAGUS. JANGAN DIBUANG., pindah dari kos di Setiabudi ke kamarku di Salatiga, dan tetap di sana waktu aku pindah ke rumah petak kecil yang kusewa di Semarang. Dua tahun aku tidak sanggup membuka kardus itu.
Tadi pagi, di kamar lamaku, aku membukanya. Ibu melihat gaun itu di tanganku, mengambilnya tanpa bertanya, dan menyetrikanya di ruang tengah. Pelan, dengan kain basah di atasnya, seperti dulu dia menyetrika seragamku setiap Senin pagi.
Gaun itu masih pas.
Ternyata ada yang bisa dipakai lagi, walaupun untuk hari yang lain.
Sebelum ke kedai, aku mampir ke ruangan hijau pucat di atas toko kacamata dekat Lapangan Pancasila. Bulan ini jadwalku. Sekarang sebulan sekali, bukan seminggu sekali.
Kotak tisu masih di tengah meja. Tidak lebih dekat ke siapa pun.
“Kamu nggak perlu datang lagi, sebenarnya,” kata Bu Hesti, menatap gaun hijauku dari balik kacamata bulatnya. “Kamu udah bisa nanya ke diri sendiri. Itu tujuan saya dari awal.”
“Saya tahu, Bu.”
“Terus kenapa masih datang?”
Aku memikirkannya. “Karena enak ada yang nanya, Bu. Bukan karena saya rusak.”
Bu Hesti diam sebentar. Lalu dia menulis sesuatu di bukunya, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku melihatnya tersenyum tanpa ditahan.
“Itu jawaban paling sehat yang pernah saya dengar di ruangan ini,” katanya. “Jangan bilang Ibu saya. Nanti dia cerita ke satu kampung.”
Aku sadar tanggal berapa hari ini di parkiran, waktu mengisi formulir pengiriman untuk distributor Jakarta. 12/10.
Penaku berhenti sebentar.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lalu, di depan gerobak cilok di kantin FEB, dengan mulut penuh cilok, aku bilang iya pada laki-laki yang sudah dua belas kali datang ke kantin dengan alasan menemani temannya.
Mas Gun di Penyetan Bu Tum pernah bilang, kalau sudah sepuluh tahun, makan gratis.
Hari ini tidak ada yang makan gratis di Penyetan Bu Tum. Tidak ada meja pojok di bawah kalender ayam jago yang dipesan atas nama siapa pun.
Aku menunggu sesuatu di dadaku. Yang datang ternyata bukan sakit. Lebih mirip mengingat rumah lama yang sudah dijual. Kamarnya masih bisa kubayangkan. Aku hanya tidak tinggal di sana lagi.
Aku menyelesaikan formulirnya.
Di mobil operasional kantor, Avanza bekas yang AC-nya hanya dingin di kursi kiri, aku membuka Instagram sambil menunggu hujan sore reda.
Aku tidak sering membuka akun Remah. Mungkin sebulan sekali. Seperti orang yang mengecek cuaca di kota yang pernah ditinggali.
Sebelum membukanya, ada dua pesan yang masuk.
Yang pertama dari Dinda. Foto Mochi berbaring di keranjang cucian dengan tiga anak kucing belang yang menempel di perutnya. MOCHI JADI IBU. Bapaknya si kucing kampung itu. Dia nggak pamit juga, Cit. Turunan. Lalu: SELAMAT HEAD!!! Pakai gaun ijo nggak? Kirim foto. SEKARANG.
Aku mengirim foto. Dinda membalas dengan sebelas emoji api dan satu kalimat: Akhirnya baju bagus dipakai buat orang yang bener. Buat lo.
Yang kedua dari Nadira. Kak, aku keterima di kantor baru. Bagian sales lagi. Kali ini atasanku perempuan dan tangga daruratnya dikunci. Lalu: Makasih udah duluan.
Aku membaca kalimat terakhir itu dua kali, lalu membalas dengan satu kata. Makasih udah nunggu.
Unggahan yang disematkan paling atas di akun Remah sudah berumur empat bulan. Foto halaman belakang sebuah toko roti di Cipete, tenda sewaan, kursi plastik, lampu tumbler yang digantung miring. Di tengahnya, kue dua tingkat. Bawah hijau pucat, atas kuning gading. Seorang laki-laki dengan batik cokelat tua bermotif parang yang sedikit longgar di bahu. Seorang perempuan berkebaya krem yang tertawa sampai matanya hilang, dengan sanggul berhias ronce melati.
Kalau dilihat dengan teliti, di antara melati itu, ada pensil.
Aku mengenali batik itu. Aku pernah melihatnya tergantung di pintu lemari sebuah kamar kos di Tebet, malam aku membuang sesuatu ke selokan, dan baru mengerti artinya dua bulan kemudian. Ternyata akhirnya ia dipakai juga.
Keterangan fotonya ditulis dengan huruf kapital dan dua typo. LAPORAN DITRIMA. KASUS DITUTUP. #RemahRemahCintaa
Aku tersenyum. Lalu aku menutup aplikasinya.
Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang perlu kuhapus. Aku hanya menyalakan mesin dan menyetir turun ke kota, karena aku sudah janji makan di teras.
Bagas menelepon waktu aku masih di jalan turun dari lereng.
“Mbak! Selamat! Head!” Suaranya terlalu keras, seperti biasa. Dia sudah lebih dari setahun bekerja di konsultan struktur di Semarang dan masih memperkenalkan setiap gedung seperti teman lama. “Aku tadi siang telepon Mas Rangga. Nanya soal sambungan balok. Terus aku cerita Mbak naik jabatan.”
Aku menunggu.
“Mas Rangga nitip selamat buat promosimu,” kata Bagas.
Di luar jendela, sawah-sawah lereng Merbabu berwarna hijau tua di bawah langit yang mulai jingga. Aku memikirkan semua hal yang bisa kukatakan. Semua kalimat panjang yang dulu kuhafal di tangga darurat, di kereta ekonomi, di kamar Dinda di Kalibata.
“Bilang makasih,” kataku.
“Udah? Itu aja?”
“Itu aja, Gas.”
Dia diam sebentar, lalu bilang dia mau makan, dan menutup telepon. Aku menyetir sisa jalan dengan radio mati.
Itu aja. Dan ternyata itu cukup.
Gerobak martabak di ujung jalan rumah Bapak sudah buka waktu aku sampai. Penjualnya laki-laki muda dengan topi terbalik, yang menuang adonan sambil menonton sinetron dari HP yang disandarkan ke toples meses.
“Rasa apa, Mbak?”
“Keju-cokelat,” kataku. “Setengah-setengah.”
Dia mengangguk dan mulai menabur keju di satu sisi. “Buat berdua, Mbak?”
Dulu, jawabannya selalu iya. Martabak setengah-setengah lahir dari nilai D Statistika di semester lima, dari seorang laki-laki yang bertanya aku mau rasa apa dan seorang perempuan yang tidak bisa memilih. Aku suka dua-duanya. Sesudah itu, selama delapan tahun, satu sisi selalu untukku dan sisi lain untuk dia, walaupun kami berdua selalu makan dari dua sisi.
“Buat saya,” kataku. “Saya suka dua-duanya.”
Bapak sudah menunggu di teras dengan dua kursi plastik dan kantong pelet.
KOLAM BAHAGIA sekarang dihuni empat ekor. Juragan, yang masih paling gemuk dan masih selalu muncul pertama. Pak RT, yang makin tua dan makin malas. Seekor lele muda tanpa nama yang dibeli Bapak bulan Juli dan sedang dipertimbangkan namanya lewat survei di Facebook. Dan Mandor II, yang dibeli Bapak seminggu setelah Mandor yang pertama dikubur di bawah pohon pisang, dan yang entah bagaimana juga selalu bersembunyi di bawah daun talas.
“Bapak nggak ngerti Head of Marketing itu apa,” kata Bapak sambil menabur pelet.
“Kepala pemasaran, Pak.”
“Oh.” Bapak mengangguk pelan. “Kayak Juragan. Paling depan kalau dikasih makan.”
Aku tertawa sampai keju dari martabakku jatuh ke lantai teras. Ibu, dari ambang pintu dapur, menatap keju itu dengan wajah yang menghitung berapa lama lantai itu baru dipel.
Ibu keluar dengan nampan. Tiga cangkir putih bergaris biru berisi teh, cangkir yang sama sejak aku SMP. Satu untuk Bapak, satu untuk Ibu, satu untukku.
Dulu, setiap aku pulang, selalu ada satu cangkir lagi di meja dapur. Untuk laki-laki yang selalu bangun paling pagi dan membantu Bapak memberi makan lele. Malam pertama aku pulang sendirian ke rumah ini, Ibu mengambil cangkir kedua itu, menatapnya sebentar, lalu mengembalikannya ke lemari dengan sangat hati-hati, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.
Malam ini Ibu tidak perlu mengembalikan apa-apa. Tiga cangkir, tiga orang. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang ditunggu.
Kami makan martabak bertiga di teras. Bapak mengambil dari sisi keju. Ibu dari sisi cokelat. Aku dari dua-duanya.
Di Facebook Bapak, unggahan terbaru sudah mendapat empat puluh tujuh komentar. Foto kartu namaku, dipotret miring dengan jempol Bapak di pojok. Anak saya jadi Head. Saya tidak tahu head apa. Tapi Juragan ikut senang. #SemangatPagi
Unggahan itu diunggah jam empat sore.
Mandor II tidak muncul dari bawah daun talas sepanjang malam. Bapak bilang itu tandanya dia juga bangga. Lele yang bangga, katanya, tidak perlu kelihatan.
Aku sampai di Semarang jam sepuluh lewat dua puluh.
Rumah petakku kecil. Satu kamar, satu dapur, satu teras sempit dengan pot sirih gading pemberian Dinda yang menolak mati. Di meja kerja, di bawah kaca, ada beberapa benda yang kusimpan supaya ingat. Kartu Remah yang basah dan hanya bisa terbaca Makan selagi. Tamborin penyok dari Pak Bonar dengan tulisan Pukul yang keras. Itu hati. Dan sebuah kantong kertas cokelat yang sudah dilipat dan diratakan, dengan dua kata di bagian belakangnya.
Terima kasih. — R.
Aku melepas sepatu. Aku mencuci muka. Aku menggantung gaun hijau botol di pintu lemari, bukan di kardus.
Lalu aku mengambil HP.
Delapan tahun, ada seseorang yang menanyakan satu hal padaku setiap malam. Di bawah lampu jalan, di warung rokok bertenda biru, lewat layar yang retak di pojoknya. Udah sampai? Delapan tahun aku menjawabnya. Hampir selalu jujur. Satu kali tidak.
Sesudah itu, dua tahun tidak ada yang bertanya. Aku pulang ke kamar-kamar yang tidak menunggu kabar, dan belajar bahwa itu pun bisa dijalani.
Malam ini tidak ada yang bertanya juga.
Aku tetap mengetiknya. Bukan karena diminta. Karena aku mau ada yang tahu aku pulang dengan selamat, dan karena aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa kabar bisa dikirim tanpa ditunggu.
Udah sampai, Bu.
Dua menit kemudian, HP-ku bergetar.
Alhamdulillah. Tidur.
Dua kata. Tanpa emoji, tanpa tanda seru. Persis Ibu.
Aku menaruh HP di meja samping tempat tidur dengan layar menghadap ke atas.
Sebentar lagi jam sebelas lewat tujuh akan datang, seperti setiap malam. Dulu aku terbangun karenanya, setiap malam, berbulan-bulan, di kamar masa kecilku di Salatiga, dengan jantung berdebar seperti orang yang baru saja ketahuan. Malam ini aku tidak akan menunggunya. Aku mungkin sudah tidur waktu ia lewat, dan ia akan lewat seperti menit-menit lain, tanpa membawa siapa pun.
Aku mematikan lampu.
Aku nggak apa-apa. Dan kali ini, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, itu bukan bohong.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai reading