← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Eighteen

Ragi Butuh Waktu

POV: Raina

Rangga menguleni adonan seperti orang mengecor kolom.

Selasa malam, empat Februari. Dia datang jam enam untuk mengantar fotokopi kuitansi pembatalan katering, Item Tiga di Daftar Batal, dan menemukan dapur Remah dalam keadaan darurat. Pesanan dua ratus roti sobek untuk acara syukuran kantor kelurahan besok pagi. Jari telunjuk Tegar diperban karena teriris pisau roti tadi siang. Dan Mbak Sum, yang tidak pernah meminta bantuan siapa pun dalam dua puluh tahun hidupnya sebagai pembuat roti, menatap Rangga dari ujung kepala sampai ujung kaki dan berkata:

“Kalau mau di sini, kerja.”

Jadi Rangga bekerja.

Dia melepas jam tangan dan menaruhnya di rak. Dia menggulung lengan kemejanya sampai siku, dengan lipatan yang sama lebarnya di kiri dan kanan. Dia mencuci tangan selama tiga puluh detik penuh, aku tahu karena dia menghitungnya pelan-pelan. Lalu dia berdiri di depan meja kayu, di depan gundukan adonan, dan bertanya:

“Spesifikasinya apa?”

“Spesifikasi?”

“Diuleni berapa menit. Tekanannya berapa. Target teksturnya apa.”

Mbak Sum menatapku. Aku menahan tawa sekuat tenaga.

“Dua belas menit,” kataku. “Sampai bisa ditarik tipis kayak jendela.”

Dia mengangguk serius, menyalakan stopwatch di HP-nya, dan mulai menguleni.

Itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah dilihat Mbak Sum di dapurnya. Rangga menekan adonan dengan dua telapak tangan lurus ke bawah, tegak, kuat, berirama, seperti sedang memadatkan beton dengan alat getar. Dia tidak melipat. Dia tidak memutar. Dia menekan, mengangkat, menekan lagi, dan sesekali mengukur ketebalan adonan dengan penggaris besi yang dia keluarkan dari tas kerjanya.

“Mas,” kata Mbak Sum dengan suara orang yang sedang menyaksikan kecelakaan lambat. “Itu adonan. Bukan cor-coran.”

“Teksturnya belum homogen, Mbak.”

“Ya karena Mas pencet-pencet terus kayak lagi ngecek ban.”

Tegar merekam semuanya dengan satu tangan yang tidak diperban. Bahunya berguncang sejak menit ketiga.


Kecelakaannya terjadi di menit kesembilan.

Tegar, yang sejak tadi mencari konten, memutuskan bahwa mesin pengaduk besar di sudut dapur bisa membantu Rangga. Dia menuang tepung ke dalam mangkuk stainless setinggi pinggang itu, lalu, dengan jari yang diperban dan tanpa melihat, memutar kenop kecepatan.

Ke angka sepuluh.

Mesin itu meraung. Tepung menyembur dari mangkuknya seperti letusan gunung berapi kecil, putih dan tebal, tepat ke arah Rangga yang berdiri paling dekat.

Selama satu detik, dapur Remah hening.

Rangga berdiri di tengah awan tepung yang perlahan turun. Rambutnya putih. Alisnya putih. Bulu matanya putih. Kemeja birunya putih sampai ke dada. Dia mengedipkan mata sekali, dan tepung berjatuhan dari bulu matanya seperti salju kecil.

Lalu dia tertawa.

Aku belum pernah mendengar dia tertawa. Tiga minggu aku mengenalnya, dan yang paling dekat hanya sudut bibir yang bergerak di parkiran gedung pernikahan. Ternyata tawanya lebar dan sedikit sumbang. Tawa orang yang sudah lama tidak memakainya dan lupa di mana nadanya. Kepalanya terlempar ke belakang, satu tangan memegang perut, tangan lainnya mengibas-ngibaskan tepung dari wajah dan malah membuatnya makin putih.

Aku tertawa sampai harus berpegangan pada meja. Tegar tertawa sampai HP-nya hampir jatuh. Mbak Sum menggeleng-geleng dengan tangan di pinggang, tapi aku melihat bibirnya bergerak, dan bagi Mbak Sum itu sama dengan tertawa terbahak-bahak.

Di tengah tawa itu, entah kenapa, aku menoleh ke etalase.

Di seberang jalan, di bawah lampu jalan, di samping gerobak gorengan yang sudah tutup, ada seorang perempuan berdiri. Rambut sebahu. Kardigan abu-abu. Dia sedang menatap ke dalam toko, ke arah kami, ke arah laki-laki yang berlumur tepung dan sedang tertawa.

Aku mengenali wajah itu. Dari foto town hall di Instagram Gemilang. Dari unggahan bulan Oktober, 8 tahun, masih kamu.

Dia lebih cantik dari fotonya. Wajahnya tirus, matanya besar, dan rambutnya diselipkan ke balik telinga kiri dengan gerakan yang kelihatan seperti kebiasaan lama. Tapi dia juga kelihatan seperti orang yang sudah berminggu-minggu tidak tidur. Seperti adonan yang terlalu lama dibiarkan di udara terbuka, kering di permukaan, retak-retak halus.

Mata kami bertemu lewat kaca. Satu detik.

Lalu dia mundur satu langkah, keluar dari cahaya lampu jalan, dan menghilang ke dalam gelap.

Aku menoleh kembali ke dapur. Rangga masih tertawa, sekarang sambil mencoba membersihkan kacamata Tegar yang juga terkena tepung, dan Tegar memprotes bahwa itu kacamata tanpa minus, kacamata gaya, tidak perlu dibersihkan.

Aku tidak bilang apa-apa.

Aturan nol. Kami tidak membicarakan mereka. Tapi bukan itu alasanku diam. Laki-laki itu baru saja ingat bagaimana caranya tertawa. Aku tidak mau jadi orang yang membuatnya lupa lagi, setidaknya tidak malam itu.


Mbak Sum dan Tegar pulang jam sembilan. Dua ratus roti sobek sudah dibentuk dan berjajar di loyang, menunggu dipanggang subuh nanti. Rangga tetap tinggal untuk membantu membersihkan dapur. Tepung masih menempel di rambutnya, di belakang telinga, di tempat yang tidak bisa dia lihat.

Aku melemparkan handuk kecil ke arahnya. Dia menangkapnya dengan satu tangan tanpa melihat, refleks orang yang terbiasa menangkap barang yang dilempar dari perancah.

“Mbak bikin roti dari umur berapa?” tanyanya sambil menggosok rambut.

“Dua belas. Nenek saya punya warung kue di Bogor. Saya disuruh nguleni tiap libur sekolah, soalnya tangan Nenek udah sakit.” Aku mengelap meja. “Awalnya saya benci. Tangan pegel, nggak boleh main. Terus suatu hari roti yang saya uleni sendiri keluar dari oven, mengembang, bagus. Nenek motong satu, kasih ke saya, bilang, ini punyamu.” Aku tersenyum ke meja. “Sejak itu saya nggak bisa berhenti.”

Dia mengangguk pelan, menggosok rambutnya dengan handuk, dan tidak berkata apa-apa. Tapi dia mendengarkan dengan seluruh wajahnya, seperti orang yang sedang membaca gambar kerja dan tidak mau melewatkan satu garis pun.

Di rak proofing, ada tiga baskom adonan untuk roti tawar besok pagi. Sudah mengembang dua kali lipat, menggembung di bawah kain basah seperti perut yang kekenyangan.

“Sini, Mas,” kataku. “Satu pelajaran lagi.”

Aku menurunkan satu baskom ke meja dan membuka kainnya. Adonan itu bulat, halus, dan hangat, mengembang sampai hampir ke bibir baskom.

“Sekarang dikempesin.”

“Gimana?”

“Tinju.”

Dia menatapku seolah aku baru saja menyuruhnya memukul anak kucing.

“Namanya punch down,” kataku. “Biar gas di dalamnya keluar. Biar adonannya bisa ngembang lagi, lebih rata, lebih kuat. Kalau nggak dikempesin, rotinya jadi bolong-bolong di dalam.”

Dia mengepalkan tangan. Menekan adonan itu pelan, sopan, seperti mengetuk pintu rumah orang.

“Lebih keras, Mas. Dia nggak bakal marah.”

Dia meninju sedikit lebih keras. Adonan itu mengempis dengan bunyi lembut, seperti napas yang dihela.

“Lagi.”

Dia meninju lagi.

Lalu lagi. Lebih keras.

Aku melihat sesuatu berubah di bahunya. Bahunya, yang selama tiga minggu ini selalu tegak dan rapi seperti balok yang dipasang dengan waterpass, mulai bergerak. Dia meninju lagi. Dan lagi. Rahangnya mengeras. Adonan itu sudah kempis sepenuhnya, tapi dia tidak berhenti. Kepalannya menghantam adonan, menghantam dasar baskom, menghantam meja kayu di bawahnya sampai rak loyang di sebelah bergetar.

“Delapan tahun,” katanya, di antara pukulan. Suaranya tidak keras. Suaranya pecah. “Dia lempar ke selokan. Di depan saya. Kayak delapan tahun itu cuma barang bukti.”

Lalu dia berhenti, dengan kedua kepalan masih terbenam di dalam adonan, kepala tertunduk. Bahunya berguncang.

Dia menangis.

Tidak seperti orang di film. Tidak ada suara. Hanya bahu yang berguncang, napas yang tersengal, dan tetes-tetes yang jatuh ke dalam baskom, ke adonan yang sudah kempis dan rata.

Aku tidak bilang jangan nangis.

Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak memeluknya. Aku tidak tahu apakah dia mau dipeluk, dan aku bukan siapa-siapa yang berhak memeluknya.

Aku berjalan ke rak proofing, menurunkan baskom kedua, membuka kainnya, dan meletakkannya di meja di samping tangannya.

“Yang ini juga perlu dikempesin,” kataku.

Dia mengangkat kepala dan menatapku. Wajahnya basah dan bertepung, matanya merah.

Lalu dia meninju baskom kedua.

Aku menurunkan baskom ketiga sebelum dia selesai.


Kami duduk di lantai dapur sesudahnya. Punggung bersandar ke kaki meja kerja, di antara karung tepung dan rak loyang, di tempat yang sama aku duduk malam tanggal tiga belas Desember setelah Leon keluar dari pintu itu.

“Maaf,” katanya. “Aturan nol.”

“Aturan nol boleh dilanggar sekali,” kataku. “Kalau lagi ninju adonan.”

Dia tertawa, pendek dan basah. Lalu diam lama.

“Saya nggak pernah marah,” katanya akhirnya. “Nggak tahu caranya.”

“Barusan Mas tahu.”

Dia menatap tangannya sendiri. Buku-buku jarinya merah. Ada adonan kering di sela-sela kukunya.

Aku juga menatap tangannya, dan di detik itu aku merasakan sesuatu yang membuatku takut. Bukan perasaan yang besar. Bukan yang dramatis. Hanya keinginan kecil, sangat kecil, untuk mengambil tangan itu dan membersihkan adonan dari sela-sela kukunya satu per satu.

Itu yang membuatku mengambil kantong kertas kosong dari rak dan spidol dari saku celemek.

“Mas,” kataku. “Kita perlu aturan lagi.”

Dia mengangkat alis. Laki-laki ini menyukai aturan. Aku bisa melihatnya langsung lebih tenang begitu mendengar kata itu.

Aku menulis di kantong kertas, besar-besar, judulnya dulu: PERJANJIAN BUKAN PELARIAN.

1. Nggak saling jadi pelarian.
2. Nggak bandingin sama mereka.
3. Kalau salah satu nangis, yang lain nggak boleh bilang “jangan nangis.”

Dia membaca ketiganya dua kali.

“Kenapa nomor tiga?”

“Karena saya juga nggak suka dibilangin jangan nangis.” Aku menatap tulisan itu. “Kayak nangis itu salah. Kayak orang yang nangis itu ngerepotin.”

“Siapa yang bilang ke Mbak?”

“Semua orang.” Aku tertawa kecil, tanpa suara. “Saya yang selalu ngurus, Mas. Dari kecil. Orang yang ngurus nggak boleh nangis. Nanti siapa yang ngurus?”

Dia menatapku lama. Aku memalingkan muka ke kantong kertas.

Lalu dia mengambil spidol dari tanganku dan menandatangani di bawahnya, dengan tanda tangan yang rapi dan tegak. Aku menandatangani di sebelahnya. Satu huruf. R.

Kantong itu kutempel di papan gabus di samping meja kasir, di antara kantong-kantong lain yang berisi tulisan untuk pelanggan.

Besok paginya, Tegar menemukannya. Dia membacanya dengan mulut terbuka, lalu mengambil spidol merah dan menambahkan satu baris dengan huruf besar yang miring-miring.

4. Kalau jatuh cinta, lapor Tegar.

Dan di pojok bawah, kecil, dengan gambar roti berbentuk hati: #RemahRemahCinta.

Aku tidak mencopotnya. Aku tidak tahu kenapa.


Rangga pulang jam sebelas. Dia masih punya tepung di belakang telinga kiri. Aku tidak memberitahunya.

Aku membereskan sisa dapur sendirian. Tiga baskom adonan yang sudah dikempesin, kuletakkan kembali di rak proofing untuk mengembang lagi sampai subuh. Ternyata adonan yang ditinju paling keras, baskom pertama, adalah yang mengembang paling cepat.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku berdiri di depan rak itu dan memikirkan wajahnya yang basah dan bertepung, dan bahunya yang berguncang di atas baskom.

Aku mengambil HP. Aku tidak berpikir panjang. Aku hanya ingin tahu dia sampai.

Udah sampai?

Terkirim. Dibaca.

Lalu tidak ada apa-apa.

Satu menit. Dua. Di bagian atas layar, tulisan sedang mengetik… muncul. Lalu hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lima menit. Tujuh.

Aku mulai menyesal. Mungkin itu terlalu jauh. Mungkin itu melanggar sesuatu yang belum kami tulis di kantong kertas.

Delapan menit kemudian, balasannya masuk.

Udah. Makasih udah nanya.

Satu kata, lalu tiga kata lagi. Dia membalas lama sekali untuk empat kata. Waktu itu aku tidak tahu kenapa.

Belakangan aku tahu. Dan aku ingin mengulang malam itu hanya untuk memeluknya.