Chapter Four
Retak Rambut
POV: Rangga
Ibu menyimpan rendang untuk Citra di wadah plastik bertutup biru. Di tutupnya ada selotip kertas bertulisan spidol: CITRA.
Huruf kapital. Digarisbawahi dua kali.
“Itu biar Laras nggak nyolong,” kata Ibu waktu aku mengangkat alis.
“Aku nggak pernah nyolong,” kata Laras dari meja makan, mulutnya penuh rendang.
“Kamu nyolong bulan lalu.”
“Itu namanya quality control, Bu.”
Rumah di Bekasi Timur masih sama seperti waktu Bapak masih ada. Ruang tamu sempit dengan kursi rotan, foto wisuda Bapak di dinding, jam dinding yang selalu lima menit lebih cepat karena Bapak dulu sengaja memajukannya supaya kami tidak pernah telat. Ibu tidak pernah memundurkannya. Kami tidak pernah telat.
Di gantungan bawah foto Bapak ada payung hitam yang tidak pernah Ibu pindahkan. Payung itu yang kupegang di pemakaman, di atas kepala Ibu, dua jam di bawah gerimis. Aku dua puluh tahun waktu itu, anak laki-laki pertama. Semua orang menangis, dan seseorang harus memegang payung. Aku tidak menangis. Ada yang bilang aku kuat. Ada yang bilang aku belum sadar. Aku cuma tahu, kalau aku menangis, tanganku akan gemetar, payungnya akan miring, dan Ibu akan kehujanan.
Sembilan tahun sejak hari itu, aku belum pernah menangis lagi. Bukan karena tidak ada alasan. Karena selalu ada yang harus dipayungi.
Hari itu semua orang datang tepat waktu. Kecuali Citra. Dia telat empat puluh menit.
Dia datang naik ojol, minta maaf berkali-kali, mencium tangan Ibu, memeluk Laras, menerima piring dari Ibu dengan dua tangan. Semua benar. Semua seperti delapan tahun terakhir. Tapi di meja makan, dia lebih banyak menunduk ke HP di pangkuannya.
“Gimana kantornya, Nduk?” tanya Ibu.
Citra membuka mulut.
“Belum rezeki, Bu,” kataku lebih dulu. “Yang naik juniornya. Tapi Citra lagi nyusun daftar pencapaian buat minta evaluasi ulang.”
Citra menutup mulutnya. Dia tersenyum pada Ibu, dan tangannya menyelipkan rambut ke telinga kiri.
“Oalah. Sabar, ya. Rezeki nggak akan ketuker.”
“Iya, Bu.”
Di bawah meja, HP Citra bergetar. Dia meliriknya. Lalu dia tersenyum. Bukan senyum untuk Ibu. Senyum kecil yang lain, yang muncul sendiri lalu cepat-cepat dia telan.
Laras melihatnya. Aku melihat Laras melihatnya.
Selesai makan, Citra membantu Ibu mencuci piring, dan Laras menyeretku ke teras dengan alasan mau menunjukkan motornya yang bunyinya aneh.
Motornya tidak bunyi aneh.
“Mas,” katanya, berdiri dengan tangan bersedekap. Laras dua puluh empat tahun, apoteker di klinik dekat rumah, dan dia bicara dengan semua orang seperti sedang menjelaskan efek samping obat. “Mbak Citra lagi chat sama siapa?”
“Teman kantor.”
“Mas lihat senyumnya?”
“Kenapa senyumnya?”
“Itu bukan senyum chat sama Mas.” Laras mengulurkan tangan. “Pinjem HP Mas.”
“Buat apa?”
“Pinjem.”
Aku menyerahkannya, karena menolak Laras biasanya lebih melelahkan daripada menurutinya. Dia membuka chat-ku dengan Citra dan menggulir ke atas dengan wajah serius.
“Sudah makan? Sudah sampai? Besok jemput jam tujuh. Hati-hati, hujan.” Dia membacakannya dengan nada datar. “Oke. Noted. Siap.” Dia mengembalikan HP-ku. “Mas. Chat Mas itu kayak notulen rapat.”
“Itu informatif.”
“Itu notulen.” Dia menghela napas panjang, seperti apoteker yang menyerah pada pasien yang tidak mau minum antibiotik sampai habis. “Mas, cewek itu nggak cuma butuh diinformasikan.”
“Terus butuh apa?”
Laras membuka mulut. Menutupnya lagi. “Ya... ditanya, gitu. Ditanya beneran.”
“Aku nanya terus. Udah makan. Udah sampai.”
“Bukan itu.”
Dia tidak sempat menjelaskan, karena Ibu memanggilku dari dapur.
Dapur Ibu bau santan dan sabun cuci piring. Citra sudah kembali ke ruang tamu. Ibu sedang mengeringkan tangan di celemek, lalu menutup pintu dapur di belakangku dengan pinggulnya. Gerakan yang sudah kukenal sejak SD. Gerakan ada yang mau Ibu omongin.
“Cincin Bapak,” bisiknya. “Udah jadi?”
“Udah, Bu. Dari Juli.”
Wajah Ibu berubah. Lebih muda sepuluh tahun dalam satu detik.
Bulan Juli lalu, di dapur ini juga, Ibu menyerahkan kotak perhiasan kecil yang sembilan tahun dia simpan di lemari. Isinya cincin kawin Bapak, emas kuning yang sudah tipis di satu sisi karena dipakai dua puluh tahun, termasuk untuk mencangkul kebun pisang di belakang rumah. Ibu ingin emas itu dilebur dan dijadikan cincin untuk Citra, ditambah emas dari tabunganku supaya cukup.
Sekarang dia meremas lenganku. “Kapan?”
“Rencananya nunggu Citra naik jabatan, Bu. Biar bahagianya dobel.”
“Terus?”
“Ya... nggak jadi naik.”
Ibu diam, menatapku lama, dengan tatapan yang dulu dia pakai waktu aku SMP dan bilang aku tidak perlu les karena bisa belajar sendiri.
“Bahagia kok ditunda, Le,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Bahagia itu bukan beton. Nggak usah nunggu kering dulu baru boleh diinjak.”
Di mobil, sepanjang perjalanan dari Bekasi ke Setiabudi, aku memperhatikan.
HP Citra di pangkuannya bergetar dua kali. Setiap kali, bahunya berjengit, kecil sekali, seperti orang yang kaget mendengar namanya dipanggil di tempat ramai. Getaran ketiga, dia membalik HP-nya. Layar menghadap ke bawah.
Itu retak rambut. Garis tipis, nyaris tak terlihat, yang muncul di permukaan sebelum ada yang mengerti apa artinya.
“Ngga.” Dia masih memandang ke luar jendela. “Kamu pernah bosen nggak sama aku?”
Kakiku hampir menginjak rem. “Bosen gimana?”
“Ya bosen. Delapan tahun. Tiap Minggu ke Bekasi. Tiap Kamis makan malam. Tiap pulang ditanya udah sampai belum.” Dia akhirnya menoleh. “Kita kayak jadwal, Ngga.”
“Jadwal itu bagus,” kataku, jujur. “Jadwal itu artinya kita bisa diandalkan.”
Dia tertawa kecil, tapi tawanya tidak sampai ke mata. “Iya. Bisa diandalkan.”
Aku menjawab dengan jujur. Waktu itu aku belum tahu bahwa jawaban yang jujur bisa juga jawaban yang salah.
“Kamu capek, ya?” tanyaku.
Dia mengangguk. “Capek banget, Ngga.”
Aku menunggu dia bilang lebih. Dia tidak bilang lebih. Dan aku tidak bertanya lebih.
Aku memutuskan aku sudah tahu jawabannya: kantor, Kezia, kursi yang direbut. Tentu dia capek. Tentu dia berjengit setiap kali HP-nya bergetar, karena setiap getaran mungkin email dari Pak Bonar, atau grup kantor yang sedang membahas syukuran promosi Kezia.
Jawabanku masuk akal. Jawabanku rapi. Jawabanku membuatku tidak perlu bertanya.
Dan di kepalaku, kalimat Ibu berputar terus. Bahagia kok ditunda.
Kalau bahagianya tidak datang dari kantor, pikirku, biar datang dariku.
Senin sore, aku pergi ke Pasar Baru.
Toko emas Hendra Jaya sempit, panjang, dan dingin, dengan etalase kaca yang memantulkan lampu neon sampai mataku perih. Koh Hendra enam puluh tahun, berkacamata tebal, dan sudah menjual emas di tempat yang sama sejak zaman Bapak membelikan Ibu kalung pertama.
Aku meletakkan cincin itu di atas bantalan beludru. Di sebelahnya, cincin perak tipis milik Citra yang kuambil diam-diam dari tempat sabun di wastafel kosku. Dia selalu melepasnya waktu cuci muka. Dia selalu lupa memakainya lagi.
“Kecilin, Koh. Pas sama yang ini.”
Koh Hendra memungut cincin perak itu dengan pinset, mendekatkannya ke kacamata, lalu ke kacamata satunya lagi, yang dia keluarkan dari saku.
“Mas ngukurnya pakai ini?”
“Iya.”
“Bukan pakai sedotan?”
“Kenapa sedotan?”
“Anak muda sekarang ngukur jari pacarnya pakai sedotan pas pacarnya tidur. Lihat dari TikTok.” Dia menggeleng. “Hasilnya kebesaran semua. Bulan lalu ada yang kebesaran dua nomor. Cincinnya lepas pas lamaran, masuk got.” Dia meletakkan pinsetnya. “Mas ini pakai data. Insinyur, ya?”
“Kok tahu?”
“Tangannya kasar, tapi kukunya bersih. Insinyur.” Dia tersenyum, puas dengan deduksinya sendiri. “Tiga hari jadi.”
“Koh.” Aku ragu. “Kalau dikecilin, emasnya... ada yang kebuang nggak?”
Koh Hendra menatapku dari atas kacamatanya. Sesuatu di wajahnya berubah. Mungkin dia melihat ukiran di bagian dalam cincin itu. Mungkin dia hanya sudah terlalu lama menjual emas untuk tidak mengenali orang yang sedang membawa sesuatu yang lebih berat dari timbangannya.
“Emas nggak pernah sisa, Mas,” katanya. “Cuma ganti bentuk.”
Selasa siang, Ojan berdiri di belakang kursiku di kantor tanpa suara, memegang gelas kopi sachet, membaca layar laptopku dari atas bahu.
“Lo buka situs restoran,” katanya.
Aku menutup tab itu.
“Restoran mahal. Yang ada dress code-nya.” Dia memutar kursiku menghadapnya. “Ngga. Lo nggak pernah buka situs restoran mahal. Lo makan siang nasi Padang yang sama tiga tahun berturut-turut. Lo ngelamar?”
“Nggak.”
“Lo bohongnya kayak kolom praktis, Ngga. Kelihatan dari jauh.”
“Itu buat survei harga. Klien mau renovasi restoran.”
“Klien mana?”
Aku diam satu detik terlalu lama.
Ojan mengangkat kedua tangan ke udara seperti pemain bola yang baru mencetak gol, lalu menurunkannya pelan-pelan karena Pak Direktur lewat. Dia membungkuk dan berbisik, “Kalau iya, pidato best man versi dua belas siap. Gue tambahin bagian soal kolom C-7.”
“Nggak ada pidato.”
“Pokoknya siap.”
Malamnya, aku menelepon sebuah restoran di lantai tiga puluh sebuah hotel di Thamrin. Waktu kami baru pindah ke Jakarta dan menonton kembang api tahun baru dari jembatan penyeberangan, Citra menunjuk jendela-jendela restoran itu dan bilang, Suatu hari aku mau makan di situ, sekali aja, biar tahu rasanya jadi orang kaya.
“Sabtu, empat belas Desember. Jam tujuh. Dua orang.”
“Baik, Pak. Ada permintaan khusus?”
Aku berpikir. “Ada. Tolong cincinnya jangan ditaruh di dalam kue.”
“Maaf, Pak?”
“Dia pasti nggak sengaja ketelan. Makannya cepat.”
Petugas reservasi tertawa, lalu mencatat. Aku membuka buku saku dan menulis di bawah Daftar 30: 14/12. Jam 7. Lalu, karena tidak bisa menahan diri, aku menebalkan garis kotak kosong di samping kata Lamar.
Tiga hari kemudian, cincin perak Citra kukembalikan ke tempat sabun di wastafel, persis di posisi semula, sedikit miring ke kiri. Dia tidak pernah sadar cincinnya sempat hilang. Dia memakainya lagi besok paginya tanpa melihat, seperti biasa.
Di malam-malam sesudahnya, aku menulis draf pidato di buku saku. Draf dua. Draf tiga. Semuanya dimulai dengan kalimat yang sama, Citra Anindya, maukah kamu, lalu berhenti di tempat yang berbeda-beda. Draf dua terlalu teknis; ada kata komitmen jangka panjang di dalamnya, seperti kontrak kerja. Draf tiga terlalu panjang; aku membacanya keras-keras di kamar mandi dan butuh empat menit. Tidak ada perempuan yang mau berlutut dilamar selama empat menit.
Aku mencoretnya dan mulai lagi.
Kamis, 21 November, Citra membatalkan makan malam kami lewat pesan.
Lembur, Ngga. Maaf ya.
Oke. Jangan lupa makan.
Pukul 22.51, aku menelepon Ibu. Aku menceritakan semuanya: restoran di lantai tiga puluh, tanggal empat belas, cincin yang sedang dikecilkan Koh Hendra. Di ujung telepon, Ibu diam sangat lama.
Lalu Ibu menangis.
Bukan tangis yang kukenal. Bukan tangis di rumah sakit, atau di pemakaman, atau di malam-malam sesudahnya, waktu Ibu mengira aku sudah tidur. Ini tangis yang lain. Tangis yang naik turun dan sesekali pecah jadi tawa.
“Nanti pas ngelamar,” katanya di sela isak, “pakai batik Bapak, ya. Yang cokelat. Ibu yang setrika.”
“Iya, Bu.”
“Ibu setrika dua kali. Biar licin.” Ibu menarik napas. “Citra udah tahu?”
“Belum, Bu. Kejutan.”
“Jangan dikagetin banget, Le. Perempuan kalau dikagetin bisa nangis.”
“Biar aja nangis, Bu,” kataku. “Nangis bahagia.”
Kami bicara dua puluh empat menit. Tentang Bapak, tentang Citra, tentang rendang yang akan Ibu bawa waktu lamaran resmi nanti, tentang kebaya Ibu yang mungkin harus dijahit ulang.
Malam itu aku dan Ibu bicara sampai lewat pukul sebelas.
Aku tidak melihat jam.
Kenapa juga harus melihat jam?
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut reading
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai