← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Seven

Udah Sampai

POV: Citra

Aku mencoba mengakhirinya hari Senin, tanggal dua Desember, jam empat lewat sepuluh, di tangga darurat lantai tujuh belas.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak pagi. Aku menulisnya di belakang struk parkir, mencoretnya, menulisnya lagi. Kalimat yang pendek dan tegas, seperti tagline yang baik. Tiga kata. Tidak ada ruang untuk ditawar.

“Ini salah, Leon.”

Dia duduk dua anak tangga di atasku, seperti biasa. Hari itu dia tidak membawa kopi. Mungkin dia sudah tahu.

“Oke,” katanya.

Aku menunggu. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk semua kemungkinan bantahan. Dia tidak membantah.

“Kita nggak ngapa-ngapain kok, Cit,” katanya akhirnya, dengan suara yang sabar, seperti sedang menenangkan anak kecil yang mimpi buruk. “Cuma sekali. Cuma kebawa suasana. Hujan, capek, ketawa. Itu manusiawi.”

“Itu bukan nggak ngapa-ngapain.”

“Saya nggak maksa siapa-siapa.” Dia mengangkat kedua tangan, telapak menghadap ke depan. “Kalau kamu mau berhenti, berhenti. Saya nggak akan ganggu.”

Aku mengangguk. Lega, kupikir. Ini yang namanya lega.

Dia berdiri, menepuk celananya, lalu berhenti di anak tangga paling atas dan menoleh dengan senyum kecil.

“Lagian, Cit,” katanya, “kamu juga nggak menjauh.”

Pintu besi tertutup di belakangnya.

Kalimat itu tinggal di tangga darurat bersamaku. Aku duduk di sana sampai lampu neon berkedip untuk kesekian kalinya, dan kalimat itu tidak pergi. Kamu juga nggak menjauh. Dia benar. Itu yang paling mengerikan. Dia tidak bohong.


Besok paginya, jam tujuh lewat lima, HP-ku bergetar.

Leon Hartawan: Pagi. Video Jessy tembus 2 juta views. Pak Bonar nangis beneran tadi di lift.

Aku tersenyum sebelum sempat mencegahnya.

Aku tidak membalas. Aku juga tidak memblokir. Aku menggantung di antara keduanya seperti jemuran di musim hujan, tidak kering, tidak juga jatuh.

Kopinya kembali muncul di mejaku hari Rabu. Kamis. Jumat. Jam empat lewat lima, Americano, diletakkan tanpa kata oleh seseorang yang kebetulan lewat.

Hari Jumat, waktu dia meletakkan gelasnya, HP-nya ikut tergeletak sebentar di mejaku dengan layar menghadap ke atas. Hanya dua detik, sebelum dia mengambilnya lagi. Wallpaper-nya foto sebuah kue tiga tingkat berwarna hijau pucat, dihias daun-daun yang dibentuk seperti renda.

Aku sempat berpikir, kuenya cantik. Lalu aku tidak memikirkannya lagi.

Aku tidak bertanya kue siapa. Aku tidak bertanya kenapa laki-laki yang tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri memasang foto kue sebagai wallpaper. Beberapa minggu kemudian aku akan melihat kue yang sama di layar HP-ku sendiri, dan baru mengerti.

“Cit.”

Dinda menggeser kursinya ke sampingku dengan wajah orang yang akan menyampaikan hasil laboratorium.

“Pak Leon naruh kopi di meja lo. Tiga hari berturut-turut. Gue sebagai sahabat, dan sebagai manusia yang punya mata, wajib nanya.”

“Dia baik ke semua orang.”

“Ke gue nggak.” Dinda melipat tangan. “Gue pernah minta tolong dia fotokopi, dia bilang mesinnya rusak. Mesinnya nggak rusak, Cit. Gue cek. Gue fotokopi KTP gue sendiri tiga kali buat mastiin.”

“Mungkin waktu itu emang lagi rusak.”

Dinda menatapku lama. Lalu, seperti biasa kalau tidak tahu harus bilang apa, dia mengalihkan pembicaraan ke kucingnya.

“Mochi di-ghosting.”

“Hah?”

“Aplikasi jodoh kucing. Gue daftarin dia bulan lalu. Udah match sama kucing Persia dari BSD. Udah tukeran foto, udah janjian ketemu di pet café. Terus ilang.” Dinda menatap layar HP-nya dengan pilu. “Kucingnya nggak bales lagi, Cit.”

“Mungkin dia sibuk.”

“Kucing, Cit. Sibuk apa? Kucing.”

Aku tertawa, dan Dinda tersenyum puas, karena itu yang dia mau. Dia tidak bertanya lagi soal kopi. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia berhenti bertanya karena percaya padaku, atau karena dia tahu aku belum siap menjawab.


Setiap malam jam sebelas lewat seperempat, aku membuka percakapan dengan Rangga dan menggulir ke Kamis, 21 November.

Udah sampai. Langsung tidur ya.

Istirahat ya. Besok kujemput. ❤

Aku membacanya sampai kata-kata itu kehilangan arti, seperti kata yang diulang terlalu sering. Sampai. Sampai. Sampai. Lalu aku menatap hati merah itu sampai mataku perih.

Hari Selasa, Rangga mengirim pesan di jam makan siang. Rangga tidak pernah mengirim pesan di jam makan siang kecuali soal jemputan.

Sabtu tanggal 14 kosongin ya. Ada yang mau aku omongin.

Aku membaca kalimat itu di tengah rapat evaluasi kampanye, dan seluruh darah di tubuhku turun ke kaki.

Rangga tidak pernah bilang ada yang mau aku omongin. Rangga tidak berbicara dengan cara itu. Kalau Rangga mau membicarakan sesuatu, dia langsung membicarakannya. Kontrak kos naik. Motor Laras mogok. Ibu minta diantar ke dokter. Langsung, jelas, seperti notulen.

Ada yang mau aku omongin adalah kalimat orang lain. Kalimat dari sinetron. Kalimat sebelum sesuatu berakhir.

Aku membalas dengan jari dingin. Ngomongin apa?

Rahasia. Pakai baju yang bagus ya.

Malamnya aku meneleponnya. Aku ingin mendengar suaranya, ingin mencari petunjuk di sela kalimatnya, seperti membaca data penjualan untuk menebak apa yang akan terjadi bulan depan.

“Kamu kedengeran seneng banget,” kataku.

“Emang lagi seneng.” Ada tawa kecil di suaranya. Tawa yang jarang. “Pokoknya Sabtu. Jangan nanya lagi. Nanti nggak jadi rahasia.”

“Ngga—”

“Cit.” Suaranya lembut. “Percaya aja, ya.”

Dia menutup telepon dengan dah, tidur, jangan begadang, seperti biasa. Aku memandangi layar yang gelap.

Percaya aja. Kalimat paling sederhana yang pernah dia minta dariku. Kalimat yang dia berikan padaku tanpa syarat selama delapan tahun.

Baju yang bagus.

Otakku, otak yang sudah tujuh tahun dilatih membaca perilaku konsumen, mulai bekerja sendiri tanpa izin. Skenario satu: dia tahu, dan dia ingin membicarakannya di tempat umum supaya aku tidak bisa histeris. Skenario dua: dia tidak tahu, tapi dia lelah, dan dia ingin mengakhiri delapan tahun ini dengan cara yang sopan, di restoran yang bagus, karena Rangga selalu sopan. Skenario tiga—

Aku tidak sanggup memikirkan skenario tiga.

Malam itu, di kamar kos, aku mengetik di kolom pencarian dengan jari yang malu pada dirinya sendiri: pacar bilang ada yang mau diomongin artinya apa.

Hasil teratas: 7 Tanda Pacarmu Ingin Putus. Hasil kedua: Jangan Panik! Bisa Jadi Dia Mau Pindah Kerja. Hasil ketiga, dari forum ibu-ibu: Kalau suami saya bilang begitu biasanya dia habis nabrak mobil orang.

Aku menutup HP dan tertawa sampai menangis, lalu menangis sampai tidak bisa membedakan keduanya.


Rabu sore, Pak Bonar mengumpulkan seluruh tim brand di ruang rapat dan mengumumkan pembentukan Kriuk Band untuk malam gala akhir tahun.

“Lagu dangdut,” katanya dengan mata berbinar. “Direksi suka dangdut. Kita bawakan dengan sepenuh jiwa.”

Dinda kebagian kendang. Kezia kebagian vokal. Aku kebagian tamborin.

“Pak, saya nggak bisa main tamborin.”

“Tamborin itu bukan soal bisa, Citra.” Pak Bonar menepuk bahuku dengan serius. “Tamborin itu soal hati.”

Selama empat puluh menit latihan, aku memukul tamborin di ketukan yang salah dan Pak Bonar tidak sekali pun menegurku. Belakangan Dinda bilang, Pak Bonar sengaja memberiku tamborin karena itu satu-satunya alat yang boleh dipukul keras-keras tanpa ada yang bertanya kenapa.

Aku memukulnya keras-keras.

Sesudah latihan, Kezia menyusulku ke lift. Dia menggenggam map berisi brief kampanye Imlek, map pertama yang harus dia pimpin sendiri sebagai Brand Manager.

“Mbak,” katanya pelan, setelah memastikan tidak ada orang lain di lift. “Boleh aku minta tolong lihatin ini? Bukan sebagai bawahan. Aku... aku takut, Mbak. Aku nggak tahu caranya jadi yang di depan.”

Aku menatapnya. Dua puluh lima tahun, kursi baru, dan ketakutan yang sama persis dengan yang dulu kurasakan.

Aku mengambil mapnya. Kami duduk di pantry sampai jam delapan malam, merevisi brief itu bersama-sama, dan untuk dua jam aku lupa pada tangga darurat, pada hati merah kecil, pada hari Sabtu. Kezia tertawa setiap kali aku mencoret kalimatnya dengan pulpen merah sambil bilang ini terlalu sopan.

Rupanya aku masih bisa berguna untuk seseorang tanpa harus jadi orang lain.


Minggu malam, tanggal delapan, Rangga memilih film komedi.

Film yang sudah kami tonton tiga kali. Film yang di menit keempat puluh ada adegan bapak-bapak tercebur kolam ikan di tengah resepsi pernikahan, adegan yang selalu membuatku tertawa sampai menendang kaki meja. Rangga sengaja memilihnya. Aku tahu dia sengaja memilihnya. Dia duduk di sampingku di sofa kosnya, lengannya di belakang bahuku, dan sesekali melirik wajahku untuk memastikan aku menonton.

Di menit keempat puluh, bapak-bapak itu tercebur kolam ikan.

Aku menangis.

Rangga menekan tombol jeda. Bapak-bapak itu membeku di udara, setengah badan di atas air, wajahnya kaget.

“Cit.” Suaranya pelan. “Kenapa?”

“Aku nggak apa-apa.”

Dia menatapku. Aku menatap layar televisi, menatap bapak-bapak yang membeku itu, karena aku tidak sanggup menatap wajah Rangga.

Lalu dia mengangguk. Dia percaya.

Dia selalu percaya. Delapan tahun, setiap kali aku bilang tidak apa-apa, dia percaya. Bukan karena dia bodoh. Rangga adalah orang paling cerdas yang kukenal. Dia percaya karena dia memilih untuk percaya padaku, seperti orang memilih untuk berdiri di atas lantai tanpa memeriksa apakah lantainya akan runtuh.

Dari semua yang kulakukan padanya, memakai kepercayaan itu sebagai tempat bersembunyi adalah yang paling sulit kumaafkan dari diriku sendiri.

Dia membuatkan teh manis. Dia duduk lagi di sampingku dan menggenggam tanganku tanpa menyalakan filmnya kembali. Jempolnya mengusap punggung tanganku pelan-pelan, ke kiri, ke kanan, ke kiri.

“Nanti juga lewat, Cit,” katanya. “Sabtu nanti, aku janji, kamu senyum lagi.”

Dia mengatakannya dengan begitu yakin. Dengan begitu lembut.

Aku mendengarnya sebagai ancaman.

Dia mengantarku pulang jam sepuluh. Di mulut gang, sebelum aku turun, dia menahan tanganku sebentar di atas tuas persneling.

“Cit.”

“Hm?”

“Apa pun yang terjadi di kantor,” katanya, menatap lurus ke kaca depan, seperti kalimat itu sudah lama dia latih dan dia takut lupa kalau menatapku, “kamu tetap yang paling hebat. Buat aku.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara. Aku turun dan berjalan ke dalam gang tanpa menoleh, karena kalau menoleh, aku akan melihat lampu Jazz abu-abu itu masih menyala, menunggu sampai aku masuk pintu. Delapan tahun, dia selalu menunggu sampai aku masuk pintu.


Malam itu, di kamar kos, aku membuka aplikasi catatan di HP dan mengetik.

Ngga, aku harus jujur.

Aku menatap kalimat itu. Lalu menghapusnya.

Ngga, aku harus jujur. Ada yang terjadi.

Hapus.

Ngga, aku harus jujur. Aku nggak tahu harus mulai dari mana.

Hapus.

Draf satu. Draf dua. Draf tiga, empat, lima. Semuanya dimulai dengan kalimat yang sama. Tidak satu pun punya kalimat kedua.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa di kamar kos di Tebet, lima kilometer dari tempatku duduk, seseorang juga sedang menulis draf untuk hari Sabtu yang sama. Dua orang, dua kamar, satu tanggal. Belakangan aku tahu. Hanya satu dari kami yang berhasil menemukan kalimat keduanya.

Aku mematikan layar dan menatap langit-langit.

Sabtu. Aku akan bilang semuanya hari Sabtu. Sebelum dia sempat mengatakan apa pun yang ingin dia katakan. Aku akan duduk di depannya, di restoran yang bagus, dengan baju yang bagus, dan aku akan mengaku. Dengan kata-kataku sendiri. Dengan caraku sendiri. Di waktuku sendiri.

Aku memeluk bantal dan menunggu kantuk yang tidak datang.

Sabtu itu tidak pernah datang.

Yang datang lebih dulu adalah hari Jumat.