← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Twelve

Tunangan

POV: Citra

Hari Kamis sebelum semuanya, aku membeli gaun.

Hijau botol, panjang sampai betis, lengan tiga perempat. Bukan gaun yang biasa kubeli. Aku menemukannya di toko di lantai dua sebuah mal di Kuningan, di jam makan siang, karena Rangga bilang pakai baju yang bagus ya. Kalau malam Sabtu itu akan jadi malam aku mengaku, pikirku, setidaknya aku akan mengaku dengan baju yang bagus. Setidaknya aku akan memberinya itu. Harganya hampir seperempat gajiku. Aku membayarnya tanpa menawar, seperti orang yang membeli sesuatu untuk menebus dosa.

Sabtu pagi, jam enam, setelah semalaman duduk di lantai, aku mengiriminya pesan panjang. Sembilan paragraf. Aku tidak akan menuliskannya di sini. Aku sudah membacanya ulang terlalu banyak kali, dan setiap kali membacanya, aku melihat lebih banyak kata aku daripada kata kamu.

Pesan itu terkirim. Dua centang abu-abu.

Tidak pernah berubah biru.

Udah sampai yang kukirim jam satu pagi dia baca. Sembilan paragraf permintaan maaf tidak dia buka. Aku menghabiskan sepanjang hari Sabtu mencoba memahami apa artinya, lalu berhenti, karena aku tahu artinya.

Jam tujuh malam, jam yang seharusnya, aku mengeluarkan gaun hijau itu dari kantong belanjanya dan menggantungnya di pintu lemari. Aku tidak memakainya. Aku duduk di tempat tidur dan menatapnya sampai jam sembilan.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa lima kilometer dari situ, di pintu lemari lain, tergantung sebuah kemeja batik yang disetrika dua kali.

Dua pakaian di dua pintu, untuk satu malam yang tidak pernah terjadi.


Senin, aku masuk kantor.

Bukan karena aku kuat. Karena tinggal di kamar kos lebih buruk. Di kamar kos ada gaun hijau di pintu lemari, ada kartu kecil yang keriting di meja, ada lantai di balik pintu tempat aku duduk dua kali dalam sebulan.

“Mata lo kenapa?” Dinda menatapku dari balik monitor.

“Alergi.”

“Alergi apa?”

“Debu.”

Dinda melirik mejaku yang bersih, lalu melirikku lagi, lalu memutuskan tidak bertanya. Dia menyodorkan sebungkus tisu dan sebatang cokelat, lalu kembali ke layarnya.

Jam sepuluh, di pantry, dia yang membawa kabar itu. Dia tidak tahu sedang membawa apa.

“Eh, Cit.” Dia mengaduk teh tariknya dengan sendok plastik. “Lo udah denger belum? Pak Leon ternyata udah tunangan.”

Sendok di tanganku berhenti.

“Maret nikahnya. Anak-anak sales baru pada tahu, soalnya dia nggak pernah cerita. Nggak pernah pakai cincin di kantor juga.” Dinda meniup tehnya. “Terus, ini yang seru. Tunangannya itu yang punya toko roti langganan kita. Yang suka kirim snack town hall. Remah.”

Remah.

Aku memegang tepi meja pantry.

“Katanya pertunangannya lagi bermasalah,” lanjut Dinda dengan suara yang makin pelan dan makin bersemangat, seperti semua orang yang sedang menyebarkan gosip yang bagus. “Si tunangan nemu sesuatu di mobilnya. Nggak tahu apa. Anak sales bilang Pak Leon minggu lalu nggak masuk dua hari.” Dia menyeruput tehnya. “Kasihan, ya. Kirain orangnya baik. Ke semua orang baik gitu.”

“Ke lo nggak,” kataku. Suaraku keluar dari tempat yang jauh.

Dinda tertawa. “Iya juga. Fotokopi.”

Aku kembali ke meja. Aku duduk. Aku menatap layar komputer yang menampilkan brief kampanye Imlek milik Kezia, kata-kata yang tidak bisa kubaca.

Aku tidak tahu apa lagi yang ada di dalam paket itu selain rekamannya. Rangga tidak menceritakan apa pun. Tapi sekarang aku tahu siapa yang mengirimnya. Satu-satunya orang lain di dunia yang punya alasan untuk membuka dashcam itu.

Satu-satunya orang lain yang hancur hari Jumat.

Aku pergi ke toilet perempuan di ujung koridor, masuk ke bilik paling ujung, dan muntah. Tidak banyak. Aku belum makan apa pun sejak Jumat kecuali cokelat dari Dinda. Aku berlutut di lantai bilik itu, keningku menempel ke dinding partisi yang dingin, dan menunggu sampai tanganku berhenti gemetar.

Di luar, dua orang dari tim keuangan masuk sambil tertawa, membicarakan diskon akhir tahun di sebuah mal. Aku menunggu sampai mereka pergi.


Leon ada di tangga darurat jam empat lewat sepuluh. Tentu saja dia ada. Dia tahu aku akan datang.

“Cit.” Dia berdiri waktu aku membuka pintu. Dia kelihatan lelah, tapi rambutnya rapi dan kemejanya disetrika. “Saya mau jelasin.”

“Kamu tunangan.”

“Udah selesai.” Dia mengatakannya dengan cepat, seperti kalimat yang sudah dia siapkan. “Dia udah selesai sama saya. Cincinnya udah dia lepas.” Dia turun satu anak tangga. “Sekarang kita sama-sama bebas, Cit.”

Aku menatapnya.

Tiga minggu aku duduk di tangga ini dan merasa dilihat. Tiga minggu aku mengira laki-laki ini satu-satunya orang di gedung ini yang benar-benar memperhatikanku. Sekarang aku melihatnya di bawah lampu neon yang sama, dan aku melihat sesuatu yang selama ini tidak mau kulihat: dia selalu tahu persis apa yang harus dikatakan. Selalu. Bahkan sekarang.

“Siapa namanya?” tanyaku.

Dia ragu satu detik. “Raina.”

R.

“Kamu bohongin dua orang, Leon,” kataku. “Aku bohongin satu.”

“Cit—”

“Itu bukan bebas. Itu sama.”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Leon Hartawan tidak punya kalimat yang tepat.

“Jangan taruh kopi di mejaku lagi,” kataku.

Lalu sesuatu berubah di wajahnya. Senyumnya kembali, tapi lain. Lebih tipis. “Kamu pikir kamu lebih baik dari saya?”

“Nggak.” Aku membuka pintu besi. “Makanya aku berhenti.”

Aku turun ke lantai enam belas lewat tangga, karena aku tidak sanggup menunggu lift bersamanya. Di bordes lantai enam belas, aku berhenti dan memegang pegangan tangga dengan dua tangan sampai lututku berhenti gemetar.

Itu pilihan benar pertamaku dalam dua bulan.

Rasanya sama sekali tidak seperti menang.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memblokir nomornya. Butuh tiga kali menekan tombol karena jempolku terus meleset. Setelah selesai, aku menatap layar yang mengatakan kontak diblokir dan tidak merasakan apa-apa, kecuali satu hal yang memalukan: aku terlambat delapan minggu.


Malamnya, di kamar kos, aku mencari Remah di Instagram.

Akunnya tidak susah ditemukan. Delapan ribu pengikut. Foto-foto roti sobek, croissant, roti tawar yang dipotong rapi di atas kertas minyak. Dan di banyak foto, kantong kertas cokelat dengan tulisan tangan yang kukenal.

Makan selagi hangat. Hidup juga gitu.

Makan pelan-pelan. Rotinya nggak ke mana-mana.

Buat yang lagi capek. Yang ini paling empuk.

Aku menggulir sampai ke unggahan bulan Oktober. Sebuah sketsa di buku gambar. Kue tiga tingkat, hijau pucat, dihias daun pandan yang dibentuk seperti renda. Keterangannya: Kue paling penting yang pernah aku bikin. Coming soon. 8 Maret. 🤍

Aku pernah melihat kue itu. Di layar HP seseorang, dua detik, di samping gelas Americano di mejaku.

Ada satu foto yang memperlihatkan pemiliknya. Hanya satu, di antara ratusan foto roti. Seorang perempuan di depan oven, rambut digelung asal dengan pensil, tepung di tulang pipi, tertawa ke arah seseorang di luar bingkai. Matanya bulat dan kelihatan seperti sedang menahan tawa bahkan setelah tawanya selesai. Dia cantik dengan cara yang tidak berusaha. Cantik seperti roti yang baru keluar dari oven: tidak minta dilihat, tapi orang tetap menoleh.

Raina.

Aku menatap wajah itu lama sekali. Aku menunggu diriku membencinya. Dia yang mengirim paket itu. Dia yang membuat Rangga menonton. Kalau dia tidak mengirimnya, aku akan mengaku hari Sabtu dengan caraku sendiri, dengan baju yang bagus, dengan kalimat yang sudah kususun—

Aku tidak bisa membencinya.

Karena aku tahu, dengan cara yang membuat perutku mual, bahwa aku tidak akan pernah mengaku hari Sabtu itu. Aku akan duduk di depan Rangga dengan gaun hijau, dan Rangga akan mengatakan apa pun yang ingin dia katakan, dan aku akan menelan pengakuanku lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai Kamis berikutnya. Sampai hujan berikutnya.

Perempuan ini tidak menghancurkan apa pun. Dia hanya menolak menyimpannya.

Aku membuka kolom pesan langsung ke akun Remah. Aku mengetik: Mbak Raina, saya Citra. Saya

Lalu aku berhenti.

Saya apa? Saya minta maaf? Saya tahu Mbak yang mengirim paketnya? Saya ingin Mbak tahu saya tidak sejahat yang Mbak kira? Setiap akhir kalimat yang kubayangkan berujung di tempat yang sama: aku. Aku ingin dia tahu sesuatu tentang aku. Aku ingin memperbaiki gambaran dirinya tentang aku.

Bahkan permintaan maafku pun ingin kukirim dengan caraku sendiri, di waktuku sendiri, supaya aku merasa lebih baik.

Aku menghapus pesan itu huruf demi huruf, seperti semua draf lain yang tidak pernah punya kalimat kedua.

Aku mengambil kartu kecil dari meja. Kartu yang kusimpan di saku blazer sejak akhir Oktober, yang basah kena hujan malam itu, yang sekarang keriting dan pucat. Dua kata yang masih terbaca.

Makan selagi

Tulisan tangannya. Aku menyimpan tulisan tangannya selama dua bulan karena kupikir orang yang menulisnya pasti hangat. Lalu aku membawa kartunya ke mobil tunangannya. Lalu kartu itu basah di saku blazer yang sama, malam itu.

Aku memegang kartu itu dan menangis sampai tertidur.


Setiap malam minggu itu, jam sebelas lewat seperempat, aku membuka percakapan dengan Rangga.

Pesan terakhir yang dia baca masih Udah sampai. Di bawahnya, sembilan paragraf dengan dua centang abu-abu yang tidak pernah berubah warna.

Aku tidak mengirim apa-apa lagi. Aku hanya membukanya, membacanya, menutupnya. Seperti orang yang setiap malam memeriksa pintu yang sudah dia tahu terkunci.


Jumat, 20 Desember, malam gala akhir tahun Gemilang.

Kriuk Band tampil di urutan keempat, setelah pidato direksi dan sebelum pembagian doorprize kulkas dua pintu. Pak Bonar memakai kemeja batik bermotif keripik yang dia pesan khusus. Dinda memukul kendang terlalu cepat. Kezia menyanyi dengan merdu tentang ditinggal kawin.

Aku memegang tamborin.

Pak Bonar menoleh padaku di tengah lagu, mengepalkan tangan di depan dada, dan berteriak tanpa suara: HATI!

Jadi aku memukul tamborin dengan hati.

Aku memukulnya sangat keras. Aku memukulnya seperti memukul semua yang tidak bisa kupukul selama delapan minggu terakhir: tangga darurat, hujan, titik merah kecil, sembilan paragraf yang tidak dibaca. Di reff kedua, dua keping logam kecil terlepas dari bingkai tamborin dan melayang ke depan panggung. Salah satunya mengenai dahi Pak Bonar.

Pak Bonar tidak berhenti menari. Dia mengacungkan jempol padaku dengan dahi merah.

Penonton bertepuk tangan. Mereka pikir itu bagian dari pertunjukan.

Di meja tim sales, di barisan ketiga, ada seseorang yang tidak bertepuk tangan. Aku tidak menoleh ke sana sepanjang lagu.

Setelah turun panggung, Kezia menggenggam tanganku di balik tirai. Dia tidak bertanya. Dia hanya menggenggam, lalu melepaskan, lalu memberiku sepotong keripik rendang-matcha dari sakunya, seperti memberikan sesuatu yang berharga.

Rasanya aneh. Pedasnya Padang. Tenangnya tidak terasa sama sekali.


Minggu malam, satu email masuk ke kotak masuk kantor yang kubuka di HP sebelum tidur, karena kebiasaan.

Pengirim: Divisi Human Capital.

Subjek: Undangan Klarifikasi — Senin, 23 Desember, 09.00.

Aku membacanya tiga kali. Isinya pendek dan sopan, ditulis dengan bahasa yang sudah kukenal dari ratusan email korporat. Sehubungan dengan laporan yang kami terima. Mohon kehadiran Saudari. Bersifat rahasia.

Gosip tidak pernah berhenti di pantry. Aku tahu itu. Aku sudah bekerja tujuh tahun di gedung ini.

Aku mematikan HP dan menatap gaun hijau yang masih tergantung di pintu lemari.