Chapter Twenty Three
Pengingat yang Tidak Kuhapus
POV: Rangga
“Laporan Kementerian Urusan Kalian Berdua,” kata Ojan, menekan tombol di laptopnya. “Triwulan pertama.”
Layar di ruang rapat kecil lantai lima menampilkan slide pertama. Latar belakang merah muda. Huruf besar berwarna emas. Di pojok kanan bawah ada logo yang jelas dibuat sendiri: roti sobek berbentuk hati, dikelilingi tulisan KUKB — Bekerja untuk Cinta, Bukan untuk Kepastian.
“Jan.”
“Dengerin dulu.” Dia menekan tombol lagi. “Slide dua. Frekuensi kunjungan saudara Rangga ke wilayah Cipete. Desember: nol. Januari: dua koma satu kali per minggu. Februari: tiga koma empat. Maret: tiga koma empat.” Dia menunjuk grafik batang yang naik seperti tangga. “Stabil di angka tinggi, Ngga. Stabil.”
“Itu karena urusan Daftar Batal.”
“Slide tiga.” Klik. “Daftar Batal dinyatakan selesai pada tanggal delapan Maret. Seluruh item tercentang. Kunjungan setelah tanggal tersebut: tetap tiga koma empat kali per minggu.” Ojan menatapku dengan wajah jaksa. “Alasan kunjungan: tidak diketahui.”
Aku diam.
“Slide empat. Jumlah roti yang dikonsumsi saudara Rangga sejak Januari: empat puluh tujuh.” Klik. “Slide lima. Senyum terdeteksi di kantor: enam kali. Naik enam ratus persen dari bulan Desember, yang angkanya nol.”
“Kalian ngitung senyum gue?”
“Slide enam. Analisis risiko.” Klik. Dua kolom. Risiko saudara Rangga jatuh cinta: TINGGI. Risiko saudara Rangga mengakuinya: RENDAH SEKALI. Di bawahnya ada gambar kura-kura memakai helm proyek.
“Siapa yang bikin slide ini?”
“Tegar. Dia jago Canva.” Ojan mengangguk bangga. “Kura-kuranya juga dia yang gambar. Katanya itu lo. Lambat tapi pake helm.”
“Kementerian ngitung semuanya.” Ojan menutup laptop dengan bunyi puas. “Menterinya Laras. Gue wakil menteri. Tegar staf ahli bidang konten. Rapat tiap Kamis malam di grup.”
“Grup apa?”
Ojan tidak menjawab. Dia mengambil gorengan dari piring di tengah meja, mengunyahnya pelan-pelan, dan tersenyum seperti orang yang menyimpan rahasia negara.
Aku memandangi slide terakhir yang masih membekas di layar proyektor yang belum dimatikan. Rekomendasi Kementerian: lanjutkan.
Dia benar soal satu hal. Daftar Batal sudah selesai. Aku mencentang baris terakhirnya sendiri, malam tanggal delapan Maret, sepulang dari Remah, dengan pulpen biru di halaman pertama buku saku kesembilan.
✓ Kue pengantin — dimakan. Bukan dipotong.
Tidak ada lagi alasan untuk pergi ke Cipete. Aku tetap pergi.
Halaman kedua buku saku kesembilan masih kosong. Aku belum tahu daftar apa yang harus kutulis di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pergi ke suatu tempat berkali-kali tanpa daftar, tanpa item, tanpa kolom Status, dan aku tidak tahu harus menyebutnya apa.
Kamis, tujuh belas April, jam tujuh pagi, HP-ku berbunyi dengan nada yang tidak kudengar sejak setahun lalu.
Sebuah pengingat. Aku memasangnya empat tahun lalu, berulang setiap tahun, karena di tahun ketiga aku pernah lupa dan Citra mendiamkanku dua hari.
Ultah Citra. Beli martabak keju-cokelat.
Aku menatapnya di layar kunci, di bawah notifikasi lain yang sudah empat bulan tidak kubuka. Ngga, aku tahu aku nggak berhak minta apa-apa, tapi aku—
Aku tidak menghapus pengingat itu. Aku juga tidak mematikannya. Aku hanya menekan tunda, dan dia kembali satu jam kemudian, lalu satu jam kemudian lagi, sepanjang hari, setiap jam, seperti seseorang yang terus mengetuk pintu.
Jam enam sore, dalam perjalanan dari kantor ke Cipete, aku melewati Jalan Tebet Raya.
Gerobak martabak di ujung jalan sudah buka. Lampunya menyala kuning, wajan besarnya mengepul, dan Pak Kardi, penjualnya, sedang menuang adonan dengan gerakan melingkar yang sudah kulihat ratusan kali dari jarak satu meter.
Aku menepi. Aku tidak memutuskan untuk menepi. Tanganku membelokkan setir sendiri, seperti jempolku dulu mengetik udah sampai? sendiri.
Jazz abu-abu berhenti di depan gerobak, mesin masih menyala, lampu hazard berkedip. Pak Kardi mengangkat kepala, mengenali mobilku, dan melambaikan sendok besarnya dengan senyum lebar. Tangannya sudah meraih kotak karton. Dia sudah tahu pesananku sebelum aku turun. Keju-cokelat. Setengah-setengah. Tujuh belas April, setiap tahun.
Aku tidak turun.
Aku duduk di balik setir, menatap kotak karton di tangan Pak Kardi, selama satu menit penuh. Lalu aku mengangkat tangan, membalas lambaiannya, dan menginjak gas pelan-pelan. Di kaca spion, Pak Kardi masih memegang kotak itu, bingung, lalu meletakkannya kembali di tumpukan. Aku tidak tahu siapa yang akhirnya membeli martabak itu malam itu. Kuharap seseorang yang sedang bahagia.
Jam tujuh malam, aku duduk di bangku kayu di gang belakang Remah, di antara karung tepung, dengan kotak roti isi keju di pangkuan. Raina duduk di sebelahku dengan segelas teh. Ada segelas lagi di bangku, untukku. Dia selalu membawa dua, walaupun aku selalu bilang tidak usah, dan aku selalu menghabiskannya. Kami sudah melakukan ini beberapa kali sejak Maret. Duduk di gang belakang setelah Remah tutup, bicara tentang hal-hal kecil, atau tidak bicara sama sekali.
HP-ku berbunyi lagi di atas paha.
Ultah Citra. Beli martabak keju-cokelat.
Aku tidak sempat membaliknya. Raina sudah melihatnya.
Dia tidak berpura-pura tidak melihat. Dia tidak memalingkan muka dengan sopan. Dia menatap layar itu, lalu menatapku, dengan mata yang tenang.
“Mau cerita?” tanyanya.
Aku menatapnya. “Aturan nol.”
“Aturan nol bisa dilanggar,” katanya. “Kalau ditanya dulu.”
Jadi aku bercerita.
Aku tidak tahu kenapa malam itu. Mungkin karena pengingat itu sudah mengetuk tiga belas kali seharian. Mungkin karena gang belakang Remah gelap dan bau tepung dan tidak ada yang bisa melihat wajahku kecuali seseorang yang sudah melihatnya basah di atas tiga baskom adonan.
Aku bercerita tentang kantin FEB. Tentang Ojan yang mengejar mahasiswi akuntansi dan aku yang cuma ikut duduk. Tentang tawa paling kencang di meja paling ramai. Tentang dua belas kunjungan dan gerobak cilok dan tanggal dua belas Oktober.
Tentang martabak setengah-setengah dan nilai D Statistika. Aku suka dua-duanya.
Tentang pindah ke Jakarta. Kunci dengan gantungan martabak dari pasar malam. Restoran di lantai tiga puluh yang dia tunjuk dari jembatan penyeberangan.
Tentang buku saku kuning yang dia belikan setiap tahun. Tentang Daftar 30. Tentang cincin dari emas Bapak yang menunggu di laci sejak Juli. Tentang menunggu dia naik jabatan supaya bahagianya dobel.
Tentang empat kali dia menangis dalam seminggu, dan aku tidak bertanya.
Tentang 23.07.
Aku tidak menceritakan isi rekaman itu. Raina tidak bertanya. Dia sudah melihatnya. Dia tahu lebih banyak tentang empat menit itu daripada orang lain di dunia, kecuali dua orang di dalamnya.
Aku menceritakan kartu pidato yang namanya luntur. Batik Bapak di pintu lemari. Iya, Bu. Wadah rendang di kulkas Bekasi yang selotipnya masih bertuliskan CITRA, dan Ibu yang belum mau mencabutnya.
Raina mendengarkan semuanya.
Dia tidak menyela. Dia tidak bilang ya ampun, tidak bilang kasihan, tidak bilang dia nggak pantas buat kamu. Dia hanya mendengarkan, dengan gelas teh yang sudah dingin di tangannya dan mata yang tidak sekali pun meninggalkan wajahku. Sesekali dia mengangguk. Sekali, waktu aku menceritakan tetangga kos yang baru punya bayi dan aku yang menangis tanpa suara, dia menutup mata sebentar. Waktu dia membukanya lagi, matanya basah. Dia tidak mengusapnya. Dia membiarkannya, seperti aku membiarkan wajahku malam itu, dan aku mengerti dia sedang memberiku sesuatu: izin untuk tidak berhenti bercerita hanya karena ada yang menangis.
Butuh satu jam. Aku belum pernah bicara selama itu tanpa berhenti dalam hidupku, bahkan waktu presentasi sidang skripsi.
Waktu aku selesai, gang itu sunyi. Hanya kipas oven yang masih berputar pelan di dalam, dan suara motor sesekali di jalan depan.
“Aku nggak tahu kenapa aku nyimpen pengingatnya,” kataku. “Aku bisa hapus. Satu tombol.”
Raina meletakkan gelas tehnya di bangku.
“Mas nggak salah karena sayang lama,” katanya.
Aku menatapnya.
“Delapan tahun itu nggak terbuang, Mas.” Suaranya pelan dan pasti, seperti suara orang yang sedang menjelaskan resep yang sudah dia buat ribuan kali. “Kunci martabak itu nggak terbuang. Buku-buku kuning itu nggak terbuang. Mas jadi orang yang bisa nemenin adik pacarnya ngerjain skripsi sampai jam satu malam, walaupun hatinya lagi remuk. Itu delapan tahun yang bikin.”
Dia berhenti sebentar.
“Yang terbuang cuma satu malam.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.
Aku bersandar ke dinding di belakang bangku, dan untuk pertama kalinya dalam empat bulan, sesuatu di dadaku yang selama ini menahan beban, seperti kolom yang memikul lantai di atasnya tanpa pernah diganti, berhenti menahan.
“Raina,” kataku.
Aku tidak sadar aku menjatuhkan Mbak. Raina sadar. Aku melihatnya dari cara bahunya bergerak sedikit, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari jauh.
“Makasih.”
Nama itu terasa asing di lidah tanpa Mbak di depannya. Lebih pendek. Lebih dekat. Seperti pintu yang selama ini kubuka setengah dan baru sekarang kubuka penuh.
Dia tidak menjawab. Dia hanya mengambil roti isi keju dari kotak di pangkuanku, membelahnya jadi dua, dan memberikan separuhnya padaku.
Kami makan dalam diam.
Pengingat itu berbunyi sekali lagi, jam delapan tepat. Aku membuka HP, menekannya, dan memilih tunda. Bukan hapus. Belum. Tapi aku memutuskan bahwa malam itu, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, tanggal tujuh belas April akan berlalu tanpa martabak.
Ternyata aku sanggup. Tidak sepenuhnya. Tapi cukup.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur.
Aku ingat duduk di bangku itu dengan punggung bersandar ke dinding. Aku ingat bau tepung dan gula aren dari dapur. Aku ingat Raina mulai bercerita tentang neneknya di Bogor, tentang warung kue yang atapnya juga bocor setiap musim hujan, dan neneknya yang menaruh baskom sambil menyanyi lagu keroncong. Tentang kue lapis legit yang harus dipanggang selapis demi selapis, delapan belas lapis, dan neneknya yang bilang orang yang tidak sabar tidak boleh bikin lapis legit, karena lapis legit tahu. Suaranya pelan dan rata. Seperti adonan yang mengembang perlahan di bawah kain basah.
Aku tidak tidur nyenyak sejak Desember. Empat bulan, setiap malam, aku terbangun di jam-jam yang tidak masuk akal dan menatap kanvas yang menghadap tembok.
Malam itu, di gang belakang Remah, kepalaku jatuh ke bahu seseorang.
Waktu aku bangun, jam di HP menunjukkan 21.47.
Aku masih duduk di bangku itu. Kepalaku masih di bahunya. Pipiku menempel di kain kardigan krem yang bau mentega dan sedikit bau kayu manis.
Aku tidak bergerak.
Bahunya kaku. Napasnya terlalu teratur, terlalu pelan, seperti napas orang yang sedang menghitung napasnya sendiri. Matanya terpejam. Kepalanya sedikit miring ke arah kepalaku, seolah dia juga tertidur.
Dia tidak tidur. Dia pura-pura tidur, supaya aku tidak malu waktu bangun di bahunya.
Aku tahu.
Dan aku pura-pura tidak tahu.
Aku memejamkan mata lagi. Aku membiarkan kepalaku tetap di sana, di bahu yang kaku karena sudah empat puluh menit tidak bergerak demi seseorang yang tertidur. Dia tidak bergerak juga. Kipas oven berputar di dalam. Seekor kucing lewat di ujung gang, berhenti, menatap kami, lalu pergi.
Lima belas menit.
Dua orang dewasa, pura-pura tidur di bangku kayu di gang belakang sebuah toko roti di Cipete, di antara karung-karung tepung, masing-masing tahu yang lain pura-pura, dan tidak ada satu pun yang mau jadi yang pertama bangun.
Itu lima belas menit paling jujur dalam setahun hidupku.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus reading
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai