← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty Seven

Pukul Sebelas Lewat Tujuh

POV: Raina

Roti gandum ketujuh Rangga keluar dari oven hari Selasa, jam delapan malam, dan Tegar mengetuknya dengan buku jari.

Tok. Tok.

“Mas,” katanya pelan, dengan penuh hormat. “Ini bisa buat nyangga gedung.”

“Roti struktural,” kata Rangga. Dia mengangkatnya dengan dua tangan, memeriksanya dari samping seperti memeriksa balok, dan kelihatan bangga. “Tahan beban.”

“Itu batako,” kata Mbak Sum dari wastafel, tanpa menoleh.

Aku membelahnya dengan pisau bergerigi. Butuh tenaga. Bagian dalamnya padat, rapat, dengan pori-pori sekecil butir pasir. Bukan salah tangannya. Tangannya sudah belajar banyak sejak Februari. Dia sudah tahu kapan berhenti menguleni, sudah tidak memakai stopwatch, sudah bisa merasakan adonan yang kenyal di bawah telapak. Salahnya di kepala. Tepung gandum utuh itu haus. Ia minta air tujuh puluh lima persen dari beratnya. Rangga memberinya enam puluh lima, karena itu angka di resep pertama yang dia baca, dan dia tidak mau menambah satu gram pun tanpa spesifikasi.

“Adonannya minta minum, Mas,” kataku.

“Resepnya bilang—”

“Adonannya yang bilang.”

Dia menatap roti di tangannya. Lalu dia mengeluarkan buku saku dari saku kemeja dan menulis sesuatu. Aku tidak perlu melihat untuk tahu isinya. Tanya adonannya.

Dia memakan potongan pertama. Mengunyahnya lama sekali. Lalu, dengan wajah serius: “Enak.”

Dia bohong. Itu satu-satunya bohong yang masih kuizinkan di dapur ini.


Sejak akhir Agustus, Selasa, Kamis, dan Sabtu malam adalah malam jaga oven.

Bukan aku yang minta. Dia yang bertanya. Suatu malam di bangku gang belakang, dia bertanya jam berapa aku tidur, dan aku menjawab jujur, karena di dapur ini kebohongan tertentu sudah dilarang. Jam dua belas. Bangun jam tiga. Tiga tahun begitu.

Dia diam lama. Lalu dia bertanya apa saja yang terjadi di dapur antara jam sembilan malam dan jam dua belas.

Sekarang dia yang mengerjakannya. Mengeluarkan roti tawar terakhir untuk Oma Lien dan pelanggan pagi. Memberi makan biang roti tiga tahun itu, seratus gram tepung dan seratus gram air, ditimbang sampai satu gram. Satu-satunya tempat di dapur ini ketelitiannya justru berguna. Mengelap meja. Mengunci pintu belakang dengan kunci cadangan yang kuberikan padanya. Dia menerima kunci itu dengan dua tangan, seperti orang yang tahu berat sebuah kunci.

Aku naik ke lantai dua jam sembilan.

Minggu pertama, tubuhku tidak tahu harus melakukan apa dengan enam jam. Aku tetap terjaga, berbaring menatap langit-langit, mendengarkan bunyi-bunyi dari bawah. Loyang yang diletakkan pelan. Timbangan yang berbunyi bip. Suaranya yang rendah, bicara pada biang roti seperti bicara pada mandor proyek. Oke. Makan dulu. Besok kerja.

Minggu kedua, aku tidur sampai pagi.

Pertama kalinya dalam tiga tahun. Aku bangun jam tiga dengan kepala yang ringan, turun ke dapur, dan menemukan kantong kertas di atas meja kerja. Tulisan tangannya tegak dan rapi, seperti gambar kerja.

Biang: makan 22.31. Roti tawar: keluar 22.40, warna OK. Pintu: dikunci 2× (dicek). Kamu: tidur.

Kantong itu kusimpan di dompet, di belakang KTP, di sebelah daftar yang lain.


Hari Jumat, Mbak Sum memutar foto-foto Labuan Bajo.

Dia sudah pulang dari sana sejak akhir Maret. Tapi fotonya baru keluar bulan September, karena semuanya tersimpan di HP Pakde, dan HP Pakde menolak dikenali laptop mana pun. Tegar butuh tiga minggu dan satu kabel pinjaman dari tukang servis untuk memindahkannya.

Empat ratus dua belas foto. Diputar di laptop toko setelah etalase kosong. Tidak ada yang berani pulang.

Komodo. Komodo. Komodo dari jauh, buram. Pakde di pesawat, mata terpejam, dua tangan mencengkeram sandaran kursi. Komodo. Pakde di pesawat lagi, dari sudut lain, mata masih terpejam.

“Pakde nggak buka mata dari Denpasar sampai Labuan Bajo,” kata Mbak Sum. “Pulangnya juga.”

“Terus yang motret komodonya siapa, Mbak?” tanya Tegar.

“Pakde.”

“Matanya merem juga?”

Mbak Sum tidak menjawab, dan itu jawaban. Komodonya diam di semua foto. Yang gemetar selalu kameranya.

Lalu, di foto keempat ratus sebelas, Mbak Sum dan Pakde duduk di puncak bukit, membelakangi kamera, menatap laut yang warnanya seperti kaca botol. Pundak Pakde menempel ke pundak Mbak Sum. Seseorang yang tangannya tidak gemetar yang memotret mereka.

Mbak Sum menatap foto itu lama.

“Dua puluh enam tahun nikah,” katanya. “Baru kali ini bulan madu.”

Dia menutup laptop, kembali ke wastafel, dan berkata ke arah keran air, tanpa menoleh padaku: “Makasih, Mbak.”

Tiket itu dulu atas namaku dan Leon. Ternyata ada yang bisa dibuat dari sisa.


Sabtu malam, Kementerian melancarkan Operasi Lilin.

Aku tahu namanya karena HP Laras tertinggal di meja kasir dengan layar menyala. OPERASI LILIN. H-0. SEMUA UNIT SIAGA. Di bawahnya, Ojan: siap. gw pengawas lapangan via vc.

Mereka bilang semuanya kebetulan. Kebetulan Tegar menemukan lampu tumbler di kamarnya dan iseng memasangnya di gang belakang. Kebetulan Laras membeli lilin aromaterapi Vanilla Romance yang sedang promo beli satu gratis satu. Kebetulan ada speaker kecil di atas karung tepung yang memutar lagu keroncong. Aku tidak pernah menceritakan keroncong nenekku pada Laras. Aku menceritakannya pada satu orang, di bangku ini, bulan April. Kementerian punya jalur informasi.

“Mbak Raina pakai yang ini, ya.” Laras menyodorkan kardigan krem yang sama persis dengan yang sedang kupakai, hanya lebih bersih. “Biar candid-nya cantik. Mbak pakai karung tepung juga cantik, tapi ini kan konten.”

Lalu dia menggiring kami ke bangku seperti juru parkir. “Duduk. Kami cuma mau beresin gudang. Lama. Satu jam.”

“Gudangnya kosong, Ras,” kata Rangga.

“Makanya lama.”

Di rak roti sobek dekat pintu, di antara dua roti, kamera HP Tegar mengintip. Di atas karung tepung, HP Laras bersandar dengan wajah Ojan di layar, berkemeja batik untuk alasan yang tidak kumengerti. Rangga melihatku melihat semua itu. Kami berdua menahan tawa dengan wajah yang sama.

Lilinnya diletakkan Laras di ujung bangku, di sebelah tumpukan kantong kertas kosong. Dekat. Terlalu dekat. Aku sempat membuka mulut.

Kantong paling atas menyala.

Apinya kecil, cokelat, dan cepat, seperti kantong itu sudah lama ingin melakukannya. Rangga berdiri, tangannya sudah terulur ke APAR kecil yang dia pasang di dinding gang bulan Mei, bersama atap baru. Tapi Mbak Sum lebih cepat. Dia muncul dari pintu dapur, padahal seharusnya dia sudah pulang sejak jam tujuh, menelungkupkan loyang aluminium ke atas tumpukan kantong itu, dan menekannya.

Apinya mati. Gang belakang bau vanila gosong.

“Api itu kayak orang,” kata Mbak Sum. “Ditutup, diem.”

“Mbak Sum!” Laras memegangi kepalanya. “Itu lilin aromaterapi! Vanilla Romance!”

“Sekarang Vanilla Gosong.”

Mbak Sum mencabut HP Tegar dari rak roti sobek dan HP Laras dari atas karung tepung, lalu memasukkan keduanya ke kotak roti. Dari dalam kotak, suara Ojan masih terdengar samar. “Lapor. Operasi gagal. Ulangi, operasi gagal. Ada asap. Ganti.”

Rangga tertawa sampai harus duduk lagi. Aku juga. Kami tertawa di bawah lampu tumbler, di sebelah kantong-kantong yang gosong, dengan keroncong yang masih berputar di atas karung tepung.

Dan di tengah tawa itu aku berpikir: mereka benar soal satu hal. Masih ada sesuatu yang belum kami rebut. Tapi bukan lilin yang bisa merebutnya.


Aku tahu angka itu sebelum siapa pun.

Aku melihatnya di pojok kanan bawah layar laptop, di meja kecil di pojok dapur ini, tanggal dua puluh dua November, sementara adonan roti tawar mengembang tenang di bawah kain basah. 23.07. Sebelum Rangga. Sebelum paket. Sebelum selokan.

Sejak itu, roti sobek di Remah dipanggang dua puluh delapan menit. Resep nenekku bilang dua puluh tujuh. Mbak Sum mengira aku menyesuaikan dengan oven. Aku tidak pernah memasang timer yang berakhir di angka tujuh, dan aku tidak pernah bilang pada siapa pun kenapa.

Di minggu pertama jaga oven, waktu aku belum bisa tidur, aku turun tiga kali untuk mengambil air. Tiga kali, antara jam sebelas lewat lima dan sebelas lewat sepuluh, Rangga sedang tidak melihat ke arah oven. Sekali dia di gudang tepung dan keluar tanpa membawa apa-apa. Sekali dia mencuci tangan yang sudah bersih, lama sekali, membelakangi angka hijau di panel oven. Sekali dia duduk di bangku gang belakang dengan HP tertelungkup di paha, menatap dinding penuh kertas maaf.

Dia tidak pernah bilang. Aku tidak pernah bertanya.

Dua orang yang sama-sama menghindari satu menit, di dapur yang sama, dan masing-masing mengira hanya dirinya yang tahu.


Kamis, delapan belas September, aku tidak naik jam sembilan.

“Kamu nggak tidur?” tanya Rangga sambil mengikat celemek. Itu celemek Remah yang paling besar, dan tetap terlalu pendek untuknya.

“Hari ini Kamis,” kataku.

Dia menatapku sebentar. Lalu dia mengangguk dan mulai bekerja.

Aku duduk di meja kecil di pojok dapur. Meja tempatku menghitung nota. Meja tempatku membuka file itu. Aku memperhatikannya: bahu lebar yang membungkuk di atas meja kerja, lengan kemeja yang digulung sampai siku, tepung di lengan bawah yang terbakar matahari proyek. Dia menimbang tepung untuk biang dengan wajah orang yang sedang menghitung beban gempa.

Pukul 22.40, roti tawar terakhir keluar. Cokelat madu. Dia mengetuk bagian bawahnya, mendengarkan bunyi kosong yang benar, dan tersenyum sendiri.

Pukul 23.00, oven dimatikan. Angka hijau di panelnya tetap menyala di balik kaca gelap. Logam di dalamnya mulai berdetak pelan karena mendingin. Bunyi yang sama dengan malam itu, waktu aku berbaring di lantai dua dengan buku sketsa di bawah bantal.

Pukul 23.05, dia melepas celemek. “Aku ambil tepung buat besok,” katanya, lalu berbalik ke arah gudang.

“Mas.”

Dia berhenti.

“Di sini aja.”

Dia berdiri di tengah dapur, di antara meja kerja dan pintu gudang. Dia menatapku. Lalu, pelan, matanya bergerak ke panel oven. Aku melihatnya melihat angka itu.

“Roti sobek di sini dipanggang dua puluh delapan menit,” kataku. “Resepnya dua puluh tujuh.”

Dia diam. Aku melihatnya mengerti, pelan-pelan, seperti beton yang mengeras dari luar dulu, baru ke dalam.

“Kamu tahu jamnya,” katanya.

“Aku yang lihat duluan, Mas.” Aku menyentuh meja di bawah tanganku. “Di sini.”

Dia menatap meja itu lama. Suaranya hampir tidak terdengar. “Malam itu, jam segitu, aku lagi nelpon Ibu. Ibu nangis seneng. Soal cincin Bapak.” Rahangnya bergerak. “Sembilan bulan aku nggak bisa inget suara Ibu malam itu tanpa inget jamnya.”

“Aku tahu, Mas.”

Aku berdiri. Aku berjalan ke arahnya, melewati meja kerja yang masih hangat, melewati rak tempat roti R disimpan, sampai aku berdiri di depannya. Cukup dekat untuk mencium bau tepung, keringat, dan sedikit sabun cuci piring di tangannya.

Di belakangnya, angka hijau itu berganti.

23.07.

“Boleh?” tanyaku.

Matanya merah di pinggir. “Kamu nggak perlu nanya.”

“Perlu,” kataku. “Biar kamu tahu ini dipilih.”

Dia menangkup rahangku dengan satu tangan. Telapaknya kasar dan masih hangat dari loyang, dan ibu jarinya menyapu tulang pipi kiriku, tepat di tempat tepung itu selalu ada tanpa kusadari.

Aku yang menciumnya duluan. Pelan, seperti menguji adonan dengan ujung jari: ditekan, ditunggu, dilihat apakah ia kembali.

Dia kembali.

Tidak ada helm yang beradu kali ini. Tidak ada matahari siang, tidak ada Ojan di balik teodolit. Hanya oven yang berdetak pelan, bau mentega dan ragi, dan napasnya yang tertahan lalu lepas di bibirku. Dia menciumku lebih dalam, dan aku membiarkannya, dan aku membalasnya. Tanganku mencengkeram kemejanya, seperti dulu aku mencengkeram lengan bajunya di depan Bu Yayuk. Waktu itu aku tidak sadar. Kali ini aku sadar.

Untuk beberapa saat, aku tidak menghitung apa pun. Tidak gram. Tidak suhu. Tidak menit.

Waktu akhirnya kami berhenti, dahinya menempel di dahiku. Napasnya belum rata. Napasku juga.

“Mulai malam ini,” kataku, “jam segini punya kita.”

Dia tertawa kecil. Tawanya pecah di tengah. “Aku kira masih lama. Aku kira aku harus nunggu.”

“Ragi butuh waktu,” kataku. “Kita udah ngembang.”

Dia menatapku seperti menatap gambar kerja yang akhirnya dia mengerti.

“Na,” katanya.

Tidak ada yang pernah memanggilku begitu. Ibu memanggilku Raina, lengkap, terutama kalau sedang kecewa. Nenek memanggilku Nduk. Leon memanggilku Rain, bagian depan namaku, bagian yang paling dulu kelihatan. Rangga mengambil sisanya.

“Aku sayang kamu,” katanya.

Tidak ada draf. Tidak ada kartu di saku. Hanya kalimat yang keluar karena sudah terlalu lama menunggu di dalam.

Aku menangis. Di dapur ini ada perjanjian yang sudah ditandatangani, dan tidak ada yang akan bilang jangan.

“Dicatat,” kataku dengan suara basah. Lalu, karena aku sudah berjanji tidak menyimpan apa-apa lagi: “Aku juga. Dari roti R yang pertama.”

Dia memelukku. Di belakangnya, oven terus berdetak pelan, dan angka hijau di panelnya berganti lagi.

Dia menunduk ke telingaku. “23.08,” bisiknya.

“Apa?”

“Aku cuma mau ngecek.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Menit berikutnya juga punya kita.”