Chapter Twenty One
8 Maret
POV: Raina
Aku bangun jam tiga pagi tanpa alarm.
Di luar masih gelap. Jalanan Cipete sepi, hanya bunyi motor tukang sayur yang lewat sekali dan anjing tetangga yang menggonggong padanya. Aku berbaring sebentar menatap langit-langit kamar, mendengarkan kipas oven di lantai bawah yang sudah dingin sejak semalam.
Sabtu, delapan Maret.
Seharusnya jam segini aku sedang duduk di depan cermin dengan perias yang menempelkan bulu mata palsu satu per satu. Seharusnya Ibu sudah datang dengan kebaya yang sudah dijahit pas, mengomel karena aku kurang tidur. Seharusnya Ayah sedang menghafal kalimat ijab kabul di ruang tengah rumah, dengan suara pelan supaya tidak ada yang mendengar dia gugup.
Aku turun ke dapur dan menyalakan lampu.
Lalu aku mulai membuat kue itu.
Empat puluh lembar daun pandan, dicuci, dipotong-potong, diblender dengan air sedikit, diperas lewat kain tipis sampai airnya hijau pekat dan wanginya memenuhi dapur. Dua ratus lima puluh gram gula aren dari Banyumas, diiris tipis, dilelehkan pelan-pelan dengan api paling kecil sampai jadi karamel yang cokelat gelap dan harum asap. Kelapa parut, disangrai di wajan besi sampai keemasan, diaduk terus supaya tidak gosong di satu sisi.
Bolu pandan untuk tiga tingkat. Loyang dua puluh, loyang lima belas, loyang sepuluh senti. Masing-masing dua lapis.
Aku sudah menghafal resepnya sejak bulan Oktober. Aku sudah membuat sampelnya tiga kali. Tanganku bergerak sendiri.
Jam empat, pintu belakang terbuka. Mbak Sum masuk dengan jaket dan helm, seperti setiap pagi.
Dia berhenti di ambang pintu. Dia melihat tiga loyang bolu pandan di atas rak pendingin. Dia melihat panci gula aren di atas kompor. Dia melihat aku, dengan celemek dan rambut digelung dan mata yang mungkin sudah merah sejak jam tiga.
Mbak Sum tidak bertanya apa-apa.
Dia melepas helm, menggantung jaket, mencuci tangan, mengikat celemeknya. Lalu dia mengambil mangkuk besar dan mentega dari kulkas, dan mulai mengocok buttercream gula aren tanpa sepatah kata pun. Dengan takaran yang tepat. Dia tahu resepnya. Dia ikut membuat sampelnya bulan Oktober.
Kami bekerja berdua dalam diam sampai matahari terbit.
Tegar datang jam enam tepat. Untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun bekerja di Remah, dia tidak terlambat satu menit pun.
Dia melihat kue itu di atas meja kerja, yang sudah setengah jadi, tingkat paling bawah sudah dilapisi buttercream dan kelapa sangrai. Tangannya langsung bergerak ke saku celana, ke HP-nya.
“Tegar.”
Dia membeku.
Aku mengulurkan tangan. Dia menatapku, menatap kue itu, lalu menyerahkan HP-nya ke telapak tanganku tanpa protes. Aku memasukkannya ke kotak roti kosong di rak atas dan menutup tutupnya.
“Hari ini Remah tutup,” kataku.
“Siap, Mbak.” Dia mengambil karton dan spidol dari meja kasir, menulis besar-besar, TUTUP, menempelkannya di pintu kaca. Lalu dia keluar dan berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, seperti satpam bank.
Dari dapur, aku mendengarnya bekerja sepanjang pagi.
“Tutup, Bu. Ovennya lagi patah hati.”
“Maaf, Pak, hari ini ada inspeksi. Dari BMKG.”
“Roti sobek? Hari ini sobeknya di hati, Mas. Besok aja, ya.”
Seorang abang ojol bertanya dengan serius apakah ovennya bisa diobati. Tegar menjawab dengan sama seriusnya bahwa ovennya sedang dirujuk ke spesialis.
Mbak Sum, yang sedang menyusun tingkat kedua di atas tingkat pertama dengan tusukan sedotan sebagai penyangga, mendengus. Satu dengusan kecil. Untuk Mbak Sum, itu sama dengan tertawa sampai sakit perut.
Jam tujuh, Tegar mengetuk kaca pintu dengan pelan.
“Mbak. Oma Lien.”
Aku keluar. Oma Lien berdiri di depan pintu dengan tongkat aluminium dan tas belanja kainnya, menatap tulisan TUTUP di kaca dengan dahi berkerut.
Aku membukakan pintu untuknya. Untuk Oma Lien, Remah tidak pernah tutup.
Aku memotongkan satu lembar roti tawar dari roti kemarin, membungkusnya dengan kertas minyak, memasukkannya ke kantong kertas kecil. Tanganku sudah meraih spidol untuk menulis catatan seperti biasa, tapi Oma Lien menahan tanganku.
“Hari ini harusnya hari kamu, ya, Nak?”
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu. Lalu aku ingat, bulan November, waktu dia bertanya kapan aku menikah, aku menjawab Maret, Oma. Dia ingat. Delapan puluh satu tahun, dan dia ingat.
Aku mengangguk.
Oma Lien mengangguk juga, pelan, lalu mengambil spidol dari tanganku. Dia menarik kantong kertas itu ke arahnya dan, dengan tulisan tangan yang gemetar dan miring, dia menulis sesuatu di atasnya. Lama. Huruf demi huruf.
Lalu dia memutar kantong itu supaya aku bisa membacanya.
Makan selagi hangat. Hidup juga gitu.
Kalimatku sendiri. Kalimat pertamaku, yang kutulis di kantong pelanggan pertama Remah waktu aku masih jualan di gerobak car free day.
“Saya dulu juga batal nikah, Nak,” kata Oma Lien. “Umur dua puluh tiga. Sama anak juragan batik di Pekalongan. Seminggu sebelum hari H, dia kabur sama penyanyi orkes.”
Aku menatapnya.
“Setahun kemudian, saya ketemu suami saya di antrean toko roti.” Dia memasukkan kantong itu ke tas belanjanya dengan hati-hati, seperti menyimpan surat. “Empat puluh tujuh tahun, Nak.”
Dia menepuk tanganku yang bertepung, lalu berjalan pulang dengan tongkatnya, pelan-pelan, di bawah matahari pagi.
Jam sepuluh, kue itu selesai.
Tiga tingkat. Bolu pandan yang hijau pucat, buttercream gula aren yang lembut seperti karamel yang dikocok, lapisan kelapa sangrai di antara setiap tingkat. Bagian luarnya krem gading, polos, hanya dihias daun pandan yang dipotong dan dibentuk seperti renda, melingkar dari tingkat paling atas sampai paling bawah.
Persis seperti sketsa versi dua puluh tiga. Persis seperti wallpaper HP seseorang yang tidak akan pernah melihatnya.
Lonceng pintu berbunyi. Tegar membukakan pintu tanpa mengusir.
Rangga masuk.
Jam sepuluh. Jam yang tertulis di undangan sebagai jam akad nikah. Aku tidak memberitahunya jam berapa. Dia tahu sendiri. Dia ikut melipat dua ratus kartu yang menyebut tanggal itu, dan undangan aslinya ada di salah satu kardus di lantai dua, dan Rangga adalah orang yang membaca semua dokumen sampai ke catatan kaki.
Kemeja biru muda, lengan digulung. Tidak membawa apa-apa.
“Saya nggak tahu harus bawa apa,” katanya di ambang pintu dapur, “ke pernikahan yang nggak jadi.”
“Nggak usah bawa apa-apa.”
Lalu dia melihat kue itu.
Dia berdiri diam lama sekali. Matanya bergerak dari tingkat paling atas sampai paling bawah, mengikuti renda daun pandan yang melingkar, seperti sedang membaca gambar kerja yang rumit.
“Ini,” katanya pelan, “persis gambarnya.”
Aku tidak tahu dia pernah melihat gambarnya. Lalu aku ingat, Daftar Batal, baris terakhir, kue pengantin, dan aku pernah menunjukkan sketsa itu padanya dari HP waktu menjelaskan kenapa baris itu tidak bisa dicoret.
“Saya bikin dari jam tiga,” kataku.
Dia membungkuk sedikit, memiringkan kepala, mengintip ke celah di antara tingkat pertama dan kedua.
“Ini pakai penyangga?”
“Sedotan.”
“Sedotan?” Dia menatapku dengan wajah seorang insinyur yang baru diberi tahu bahwa gedung dua puluh lantai ditopang tusuk gigi.
“Sedotan bubble tea. Yang gede. Delapan batang.” Aku melipat tangan. “Kenapa? Mas mau ngitung bebannya?”
Dia diam satu detik, sungguh-sungguh mempertimbangkannya. Lalu sudut bibirnya bergerak. “Nanti aja,” katanya. “Hari ini nggak usah dihitung.”
“Kita makan di bawah aja,” kataku.
Dia tidak bertanya kenapa. Dia membantuku mengangkat papan kue itu dengan sangat hati-hati, dua tangan di bawah, menurunkannya pelan-pelan seperti menurunkan balok dengan crane, sampai papan itu menapak di lantai dapur. Di depan rak loyang. Di tempat aku duduk tanggal tiga belas Desember, dan dia duduk tanggal empat Februari.
Aku mengambil dua garpu dari laci. Kami duduk di lantai, bersila, dengan kue pengantin tiga tingkat di antara kami.
“Kue pengantin itu harusnya dipotong berdua,” kataku. “Terus suap-suapan.”
“Iya.”
“Saya nggak mau motong.” Aku menusukkan garpu ke tingkat paling bawah, dari samping, mengambil sepotong kecil bolu, buttercream, dan kelapa. “Kita makan dari bawah aja.”
Dia mengangguk dan melakukan hal yang sama dari sisinya.
Kami makan dalam diam. Dari luar terdengar Tegar masih menolak pembeli. Maaf, Bu, ovennya cuti. Dari ambang pintu belakang, Mbak Sum melihat kami sebentar, lalu menghilang ke gang belakang dan menutup pintunya pelan.
“Ini makanan paling enak,” kata Rangga setelah suapan ketiga, “yang saya makan tiga bulan ini.”
“Mas makan roti saya terus tiga bulan ini.”
“Iya.” Dia mengunyah. “Ini yang paling enak.”
Aku tertawa. Lalu aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, sesuatu yang ringan, sesuatu tentang gula aren dari Banyumas yang harganya naik, dan yang keluar justru hal lain.
“Saya kira hari ini bakal berat. Ternyata—” Suaraku tersendat. Aku menelan. Aku mencoba lagi, dengan kalimat yang paling sering kuucapkan seumur hidupku, kalimat yang selalu berhasil, yang selalu menutup semua pintu. “Ternyata aku nggak apa-apa—”
Kalimat itu patah di tengah.
Aku tidak bisa menyelesaikannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kalimat itu tidak mau keluar sampai habis. Napasku terputus di antara apa dan apa, dan sesuatu di dadaku yang sudah tiga bulan kutekan dengan dua telapak tangan, seperti adonan yang tidak boleh mengembang, akhirnya naik.
“Nggak usah selesaiin kalimatnya,” kata Rangga.
Suaranya pelan. Dia meletakkan garpunya di lantai.
Lalu dia bertanya. Bukan memutuskan. Bertanya.
“Boleh saya peluk?”
Aku mengangguk.
Dia bergeser mendekat, di lantai yang dingin, melewati sudut papan kue, dan melingkarkan tangannya di bahuku. Pelukan yang hati-hati, seolah aku sesuatu yang baru keluar dari oven dan masih bisa kempis kalau dipegang terlalu keras. Aku menyandarkan kepala ke dadanya. Kemejanya bau sabun cuci dan sedikit semen.
Lalu aku menangis.
Untuk pertama kalinya sejak November. Sejak file 0347. Sejak tiga minggu roti keasinan dan cincin di mangkuk tepung dan dua ratus kartu yang kulipat dengan tangan yang tidak boleh gemetar. Aku menangis seperti orang yang selama ini selalu mengurus dan akhirnya ada yang mengurusnya. Keras, jelek, dengan suara, dengan bahu berguncang di dadanya.
Dia tidak bilang jangan nangis. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya memegangku, dengan satu tangan di punggungku dan satu tangan lagi di belakang kepalaku, sampai aku selesai.
Butuh waktu lama. Dia tidak sekali pun melonggarkan pelukannya sebelum aku yang lebih dulu bergerak.
Sesudahnya, kami duduk bersandar ke rak loyang, bahu bersentuhan, menatap kue yang sudah kami gali dari dua sisi tingkat paling bawah.
“Kuenya enak banget,” katanya. “Sayang nggak ada yang motong.”
Aku memandangi tiga tingkat hijau pucat dengan renda daun pandan, dan dua lubang kecil di dasarnya, bekas garpu kami.
“Nanti,” kataku. “Kalau ada yang pantas.”
Dia tidak bertanya siapa yang pantas. Aku juga tidak tahu jawabannya. Itu bukan janji. Itu hanya hal paling jujur yang bisa kukatakan hari itu.
Kue itu habis seperempat. Sisanya kupotong sore harinya, setelah Rangga pulang, menjadi potongan-potongan kecil di atas kertas minyak. Tegar mengantarkannya ke tetangga ruko satu per satu. Tukang fotokopi, warung kelontong, salon, bengkel motor di ujung jalan, satpam kompleks, Oma Lien.
Di setiap potongan, aku menulis di kertas kecil: Dari Remah. Makan selagi hangat.
Tidak ada yang terbuang.
Itu pertama kalinya aku berpikir, malam itu, sambil mencuci dua garpu di wastafel dapur yang sepi: mungkin aku juga tidak.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret reading
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai