Chapter Three
Kue untuk Dua Orang
POV: Raina
Ragi itu makhluk hidup. Orang suka lupa.
Mereka pikir roti itu soal tepung, soal mentega, soal oven yang mahal. Padahal yang paling menentukan justru yang paling kecil: butiran cokelat muda yang tidur di dalam bungkus, yang baru bangun kalau kamu kasih air hangat, sedikit gula, dan waktu.
Terutama waktu.
Jam empat pagi, Remah masih gelap kecuali dapurnya. Termometer di dinding menunjukkan dua puluh tujuh derajat. Kelembapan tujuh puluh lima persen. Adonan roti tawar di baskom besar sudah kuuleni dua belas menit, sampai bisa ditarik setipis jendela tanpa sobek. Sekarang dia harus istirahat enam puluh menit.
Bukan lima puluh. Enam puluh.
“Mbak,” kata Mbak Sum dari depan oven, tanpa menoleh. “Jangan dilihatin terus. Adonan itu kayak orang. Dilihatin terus, malu. Dipaksa, bantat.”
“Aku nggak maksa.”
“Mbak udah ngecek tiga kali.”
Aku menutup baskom dengan kain basah dan berhenti mengecek.
Remah menempati ruko dua lantai di Cipete yang kusewa dengan tabungan lima tahun dan pinjaman Ayah. Lantai satu untuk dapur dan etalase kaca besar yang menghadap jalan. Lantai dua tempatku tidur, di kamar sempit yang selalu wangi mentega karena panas oven naik lewat lantai. Atapnya bocor di dua tempat kalau hujan deras. Di gang belakang ada bangku kayu panjang di antara tumpukan karung tepung, tempat Mbak Sum minum teh jam sembilan pagi dan tempatku duduk kalau sedang tidak ingin dilihat siapa-siapa.
Kecil. Berantakan. Punyaku.
Mbak Sum sudah membuat roti sejak umur enam belas, di Klaten, di toko roti tua yang sekarang sudah jadi minimarket. Dia bicara sedikit, tapi setiap kalimatnya seperti adonan yang sudah dibanting: padat, tanpa udara yang sia-sia.
Aku melepas cincin dari jari manis kiri dan memasukkannya ke mangkuk kecil berisi sedikit tepung di rak atas, tempatnya setiap pagi. Berlian kecil, potongan bulat, ikatan emas putih. Pilihan ibu Leon. Cincin itu lebih sering tinggal di mangkuk itu daripada di jariku. Leon pernah tersinggung soal itu, setengah bercanda.
“Adonan nggak kenal tunangan,” kataku waktu itu.
Dia tertawa. Dia selalu tertawa di saat yang tepat.
Remah buka jam tujuh, tapi Tegar seharusnya datang jam enam untuk menata etalase.
Dia datang jam enam lewat dua puluh, rambut basah, HP sudah di tangan dalam posisi merekam.
“Good morning, bestie!” katanya ke layar, dengan suara yang terlalu riang untuk jam segini. “Tegar di sini, live dari dapur Remah, toko roti paling estetik se-Cipete. Hari ini kita mau lihat proses—”
“Kalau HP-mu masuk adonan,” kata Mbak Sum, “kamu yang kupanggang.”
Tegar menurunkan HP perlahan. “Bestie, sampai jumpa. Ada ancaman.”
Tegar sembilan belas tahun. Kasir, admin media sosial, dan, menurut pengakuannya sendiri, brand ambassador. Dia kuliah malam jurusan ilmu komunikasi dan menganggap Remah sebagai laboratorium kontennya. Tiga minggu lalu dia mengusulkan roti rasa seblak. Dua minggu lalu, croissant isi micin. Mbak Sum belum memaafkannya untuk dua-duanya.
“Mbak Raina,” katanya sambil menata roti sobek ke etalase, “Gemilang pesen lagi buat Jumat. Delapan puluh kotak.”
“Kartunya?”
Tegar mengerang panjang, seperti baru ditusuk. “Mbak. Minggu lalu aku nulis seratus dua puluh kartu buat town hall mereka. Tanganku keram sampai sekarang. Lihat.” Dia memamerkan jari telunjuk yang kelihatan sangat normal. “Kenapa nggak di-print aja sih?”
“Orang bisa ngerasain bedanya.”
“Orang kantor Gemilang makan roti sambil lihat Excel, Mbak. Mereka nggak ngerasain apa-apa.”
“Satu orang ngerasain, cukup.”
Tegar menghela napas seperti orang tua yang lelah dengan anaknya. Lalu dia mengambil pulpen biru dan setumpuk kartu dan mulai menulis: Makan selagi hangat.
Aku menulis kalimat itu pertama kali waktu umurku dua puluh tiga, di kantong kertas pelanggan pertama Remah. Waktu itu Remah masih gerobak di car free day, dan pelanggan pertamaku adalah seorang ibu yang anaknya sedang menangis. Aku menulis Makan selagi hangat. Hidup juga gitu. di kantong rotinya, karena aku tidak tahu harus bilang apa pada ibu yang kelihatan begitu lelah.
Dia datang lagi minggu depannya. Dan minggu depannya lagi.
Kata orang, nama tokoku aneh. Remah. Sisa. Yang jatuh dari meja. Waktu kecil, aku suka menyapu remah roti di meja makan ke telapak tangan, lalu memakannya. Ibu bilang jorok. Ayah bilang hemat. Aku cuma merasa sayang. Kenapa yang jatuh harus dibuang?
Remah itu yang orang sapu dari meja. Aku bikin toko dari yang orang sapu.
Jam tujuh tepat, lonceng pintu berbunyi. Pelanggan pertama, seperti setiap hari: Oma Lien, delapan puluh satu tahun, tongkat aluminium di tangan kanan, tas belanja kain di tangan kiri.
“Satu, Nak.”
Satu potong roti tawar. Bukan satu bungkus. Satu potong.
Dulu Oma Lien membeli satu bungkus setiap dua hari, untuk dia dan suaminya. Dua tahun lalu suaminya meninggal. Seminggu setelah pemakaman, Oma Lien datang dan berdiri lama di depan rak roti tawar. “Satu bungkus kebanyakan sekarang,” katanya. “Sisanya nanti cuma jadi remah.” Sejak hari itu, aku memotongkan satu lembar untuknya setiap pagi, membungkusnya dengan kertas minyak, dan memasukkannya ke kantong kertas kecil yang tidak pernah kucatat di mesin kasir.
Hari ini aku menulis di kantongnya: Oma, rotinya lebih empuk hari ini. Raginya lagi seneng.
Oma Lien membaca tulisan itu dengan kacamata yang menggantung di lehernya, tersenyum, lalu memasukkan kantong itu ke tas kain dengan hati-hati, seperti menyimpan surat.
“Kamu kapan nikahnya, Nak?”
“Maret, Oma.”
“Yang ganteng itu? Yang suka ketawa?”
“Iya, Oma.”
“Bagus. Laki-laki yang suka ketawa itu enak diajak tua.” Dia menepuk tanganku yang masih bertepung. “Asal ketawanya buat kamu.”
Tasting kue pengantin dijadwalkan jam tiga sore.
Aku mendesainnya sendiri, tentu saja. Sejak Leon melamar bulan Februari, sketsanya sudah berganti dua puluh tiga kali di buku gambarku. Versi terakhir: tiga tingkat. Bolu pandan yang lembap, buttercream gula aren yang tidak terlalu manis, lapisan kelapa sangrai yang renyah di antara setiap tingkat. Bagian luarnya polos, krem gading, hanya dihias daun pandan yang dibentuk seperti renda. Kue yang wangi rumah. Kue yang tidak pamer.
Aku memotong tiga sampel kecil, menatanya di piring putih, dan meletakkan dua garpu.
Jam dua lewat empat puluh lima, HP-ku bergetar.
Sayang, maaf banget. Lembur. Rapat sales Q4 dimajuin. Kamu pilih aja ya, aku percaya seleramu. Love you.
Aku membacanya dua kali. Lalu aku menyimpan satu garpu.
Aku mencicipi untuk dua orang. Satu suapan untukku. Satu suapan untuk Leon, sambil membayangkan apa yang akan dia katakan. Gula arennya pas. Pandannya kurang sedikit. Dia selalu bilang pandannya kurang sedikit, untuk semua kue pandan, seolah itu satu-satunya kritik yang dia hafal.
Tegar muncul di ambang pintu dapur membawa kemoceng.
“Mas Leon nggak dateng lagi, Mbak?”
“Lembur.”
“Lembur.” Tegar mengangguk, lalu berhenti mengangguk. “Mbak. Ini Kamis, kan?”
“Iya.”
“Minggu lalu Kamis, lembur. Dua minggu lalu Kamis, lembur.” Dia menghitung dengan jari. “Lembur kok tiap Kamis. Kayak jadwal arisan.”
Mbak Sum, tanpa menoleh dari adonan, memukul bokong Tegar dengan lap.
Aku tertawa. Tawa yang keluar begitu saja, karena Tegar mengatakannya dengan wajah detektif sinetron, dan karena Mbak Sum memukul dengan presisi seorang profesional.
“Mbak secantik ini,” kata Tegar sambil mengusap bokongnya, “masa kalah sama rapat Q4.”
“Rapat Q4 kan nggak bisa dinikahin.”
Tegar kembali ke depan. Mbak Sum menaburkan tepung ke meja, membanting adonan sekali, lalu bicara tanpa mengangkat kepala.
“Mas Leon itu kalau ketawa selalu pas, ya, Mbak.”
“Iya. Kenapa?”
“Nggak.” Dia membanting adonan lagi. “Orang yang ketawanya selalu pas itu biasanya ngitung.”
Aku tertawa, karena kupikir dia bercanda. Mbak Sum tidak pernah bercanda, tapi hari itu aku memutuskan dia sedang bercanda.
Aku melihat pantulanku di kaca oven. Rambut digelung asal dengan pensil 2B. Ada tepung di tulang pipi kiri yang tidak kusadari sejak pagi. Mataku, kata Ayah, selalu kelihatan seperti sedang menahan tawa, bahkan waktu aku marah. Itu yang membuat orang sulit menganggapku serius. Itu juga, kata Leon dulu, yang membuatnya kembali ke Remah untuk kedua kalinya.
Ibu menelepon jam lima.
“Pitanya mau sage atau dusty pink? Keluarga Hartawan maunya emas, tapi emas itu norak, Raina. Kita bukan toko perhiasan.”
“Terserah Ibu.”
“Kamu itu pengantinnya, kok terserah Ibu.” Ada bunyi gunting di latar belakang. Ibu sedang memotong sesuatu, mungkin kain contoh. “Undangan udah naik cetak. Enam ratus. Enam ratus, Raina. Jangan sampai ada yang salah nama. Terus kamu jangan nambah berat badan, kebayanya udah dijahit pas.”
“Iya, Bu.”
“Leon mana? Kok tasting-nya sendirian?”
“Lembur.”
Jeda. Guntingnya berhenti.
“Kamu kok suaranya capek?”
“Aku nggak apa-apa, Bu.”
Kalimat itu keluar sebelum aku memutuskan untuk mengatakannya. Itu kalimat yang paling sering kuucapkan dalam hidupku. Lebih sering dari selamat pagi. Lebih sering dari mau roti apa, Kak? Aku mengucapkannya waktu Remah kebanjiran tahun lalu. Waktu oven pertamaku korslet dan berasap. Waktu Ayah masuk rumah sakit, Ibu tidak bisa berhenti menangis, dan seseorang harus mengurus administrasi.
Seseorang selalu harus mengurus. Biasanya aku.
Setelah Ibu menutup telepon, aku membuka buku gambar dan menatap sketsa versi dua puluh tiga. Kue tiga tingkat, daun pandan seperti renda. Di pojok kanan bawah aku menulis FINAL, lalu menggarisbawahinya. Di bawahnya: 8 Maret. Lalu, setelah ragu sebentar, aku menambahkan satu baris lagi dengan huruf kecil.
Untuk dua orang.
Aku menutup buku gambar sebelum sempat bertanya pada diriku sendiri kenapa tanganku perlu menulis itu.
Malam itu, setelah Remah tutup, aku memotong satu irisan kue pengantin, memasukkannya ke kotak kecil, dan menulis di tutupnya: Buat yang lembur. Bagian tengahnya paling enak.
Besok pagi aku akan mengantarnya ke apartemen Leon, sebelum dia berangkat kerja.
Di laci meja kasir, di bawah tumpukan nota, ada kartu garansi dashcam yang kubeli bulan Agustus. Atas namaku. Dua kanal: kamera depan dan kamera kabin.
Bulan Agustus, Leon pulang dari klien di Bandung lewat Cipularang jam sebelas malam. Dia tertidur sepersekian detik di kilometer sembilan puluh. Mobilnya melayang ke bahu jalan, dan dia terbangun karena gemuruh garis kejut di bawah ban. Dia meneleponku jam satu pagi dengan suara gemetar.
Besoknya aku membeli dashcam itu dan memaksanya pasang.
“Kenapa kabin juga?” tanyanya.
“Biar kalau kamu ngantuk, ada yang lihat.”
Dia tertawa. “Kamu kayak satpam.”
“Satpam yang sayang.”
Dia mencium keningku dan bilang aku terlalu baik untuknya. Aku menganggapnya pujian.
Aplikasinya terpasang di HP-ku. Aku tidak pernah membukanya. Aku bukan tipe yang memeriksa. Aku tipe yang percaya.
Dulu kupikir itu hal yang sama dengan sayang.
Leon mengenalku dua tahun lalu, waktu dia memesan tiga ratus roti untuk acara kantornya dan datang mengambilnya sendiri, padahal bisa pakai kurir. Dia bertanya namaku. Minggu berikutnya dia datang lagi, dan dia masih ingat. Lalu dia bertanya kenapa tokoku bernama Remah.
Dia orang pertama yang bertanya.
Aku mematikan lampu dapur. Di kegelapan, adonan untuk besok sedang mengembang perlahan di bawah kain basah, tanpa diburu, tanpa dipaksa. Aku mengambil cincin dari mangkuk tepung, memasangnya kembali di jari, dan naik ke lantai dua.
Lembur kok tiap Kamis. Kayak jadwal arisan.
Aku tertawa waktu Tegar bilang begitu.
Aku masih bisa tertawa waktu itu.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang reading
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai