← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Thirty Three

Aku yang Jadi Rekamannya

POV: Citra

“Mbak.” Bagas memutar laptopnya ke arahku di meja makan, akhir Juli, jam sembilan malam. “Ini Mas Rangga bukan, sih?”

Dia sudah dua minggu menganggur sejak sidang dan menghabiskan waktunya di internet. Wajahnya bingung, bukan senang seperti orang yang menemukan gosip bagus.

Aku menatap layar.

Video tepung. Foto atap dengan terpal biru. Foto dari seberang jalan, dua orang di lantai dapur, seorang laki-laki memeluk seorang perempuan. Foto ambang pintu yang gelap dan buram, tangan seorang laki-laki di dekat wajah perempuan yang rambutnya digelung pensil.

Dan kalimat-kalimat di antaranya.

Rekaman itu NGGAK PERNAH ADA.

Sepupu gue dijebak.

Kalau ada, keluarin dong. 🙂

Akun yang mengunggahnya bernama tiarahartawan. Hartawan.

Aku membaca semuanya. Tiga ratus ribu penonton. Ribuan komentar. Ulasan Google Maps Remah yang sekarang dua koma satu, dengan kalimat-kalimat yang membuat perutku berputar. Roti pelakor. Rasanya kayak dosa. Tangkapan layar balasan anak laki-laki berkacamata itu, dengan huruf kapital dan typo, yang ditertawakan orang-orang yang belum pernah makan roti dari tokonya.

Lalu aku membaca bagian yang membuat tanganku berhenti di atas touchpad.

Coba tebak dia siapa? Mantan pacar cewek yang katanya “selingkuh” sama sepupu gue.

Cewek yang katanya selingkuh.

Aku. Tanpa nama. Tanpa wajah. Dalam cerita versi Tiara Hartawan, aku tidak pernah ada di mobil itu. Aku hanya korban fitnah dari dua orang yang sebenarnya main belakang.

Kalau aku diam, namaku bersih.

Kalau aku diam, semua orang yang membaca utas itu akan percaya bahwa tidak pernah ada hujan, tidak pernah ada titik merah kecil di dekat spion, tidak pernah ada tawa yang terlalu kencang dan rambut yang diselipkan ke balik telinga. Aku bisa tinggal di Salatiga, menulis kalimat jujur untuk kopi Pak Wagiman, dan tidak pernah ada yang tahu.

Bu Hesti pernah bilang, menghukum diri itu cara lain untuk menghindar.

Ternyata diam juga.

“Mbak?” Bagas menatapku. “Ini bener, Mbak? Mas Rangga sama orang ini... sebelum kalian putus?”

Aku menutup laptop itu pelan-pelan.

Satu-satunya bukti adalah benda yang kubuang ke selokan. Aku yang melemparnya. Aku yang membuat malam itu tidak bisa dibuktikan oleh siapa pun.

Sekarang dua orang yang tidak bersalah sedang membayar harga dari lemparan itu.

“Nggak, Gas,” kataku. “Itu nggak bener. Mbak yang salah.”


“Kamu mau menebus,” tanya Bu Hesti hari Kamis, di ruangan hijau pucat di atas toko kacamata, “atau mau dimaafkan?”

Aku sudah menceritakan semuanya. Utas itu. Ulasan bintang satu. Rencanaku.

“Bedanya apa, Bu?”

“Kalau mau dimaafkan, kamu melakukannya supaya ada yang bilang nggak apa-apa ke kamu. Supaya kamu merasa lebih ringan. Itu masih soal kamu.” Bu Hesti melipat tangannya di pangkuan. “Kalau mau menebus, kamu melakukannya walaupun nggak ada satu orang pun yang bakal maafin kamu. Walaupun rasanya lebih berat sesudahnya.”

Aku menatap kotak tisu di tengah meja. Tidak lebih dekat ke siapa pun.

“Menebus,” kataku. “Dia nggak harus maafin aku. Mereka nggak harus.”

Bu Hesti menatapku lama. Lalu dia bertanya hal-hal yang membuatku tahu dia benar-benar memikirkan keselamatanku. Siapa yang akan ada di sampingku kalau internet berbalik ke arahku. Apakah orang tuaku tahu. Apa yang akan kulakukan kalau kalimat-kalimat seperti roti pelakor mulai ditujukan padaku.

“Bapak sama Ibu belum tahu,” kataku.

“Mulai dari situ,” kata Bu Hesti.


Aku memberi tahu mereka di tepi kolam, sore hari, waktu Bapak sedang memberi makan Juragan dan Pak RT.

Aku menceritakan semuanya. Leon. Tangga darurat. Hujan. Dashcam. Selokan. Delapan tahun yang selesai dalam satu malam karena aku.

Bapak tidak berhenti menabur pelet sepanjang aku bicara. Ibu berdiri di ambang pintu dapur dengan lap di tangan.

Waktu aku selesai, Bapak meletakkan kantong pelet di bangku kayu dan menatap kolam lama sekali.

“Bapak nggak kaget,” katanya akhirnya. “Bapak cuma sedih kamu nanggung sendiri enam bulan.”

Aku menangis.

“Kamu mau ngaku ke semua orang?” tanya Bapak.

“Iya, Pak.”

Bapak mengangguk pelan. Dia mengambil kembali kantong peletnya, menabur segenggam ke kolam, dan menatap Juragan yang muncul pertama, seperti biasa.

“Bapak antar ke stasiun,” katanya.

Malam itu, Ibu membuatkan wedang ronde dan memasukkannya ke termos kecil berwarna biru. Dia meletakkan termos itu di atas koperku tanpa berkata apa-apa, seperti dia meletakkan semangkuk wedang di meja samping tempat tidurku setiap kali aku menangis sejak SD.


Bu Lastri memberiku cuti tiga hari tanpa bertanya alasannya. Waktu aku mencoba menjelaskan, dia mengangkat tangan.

“Saya udah baca utasnya,” katanya. “Seno yang kasih tahu. Itu kamu, kan? Cewek yang katanya itu?”

Aku mengangguk.

Bu Lastri menatapku lama dari balik meja kasir, dengan wajah yang sama yang dia pakai untuk menawar karung goni.

“Orang yang berani ngaku,” katanya, “itu yang mau saya pegang.” Dia menuang secangkir kopi dari teko tanah liat. “Kalau Jakarta nggak mau kamu lagi, lereng ini masih mau.”


Remah lebih kecil dari dekat.

Kamis, tiga puluh satu Juli, jam tiga sore. Aku berdiri di depan pintu kaca yang dulu hanya kulihat dari seberang jalan, dari bawah lampu di samping gerobak gorengan. Di dalam, anak laki-laki berkacamata itu sedang menata roti sobek di etalase.

Aku membuka pintu. Loncengnya berbunyi.

Anak itu mengangkat kepala. Dia menatapku sebentar dengan wajah ramah seorang kasir. Lalu wajahnya berubah. Pengenalan. Lalu sesuatu yang lebih keras.

“Mbak siapa?” Lalu, sebelum aku sempat menjawab: “Oh. Oh.” Dia meletakkan nampan roti sobek dengan bunyi keras. “Kami tutup.”

“Tegar.”

Suara itu datang dari pintu dapur. Ibu berumur empat puluhan dengan celemek, tangan bertepung, wajah datar.

“Gas habis,” katanya.

“Gasnya baru kemarin, Mbak Sum—”

“Habis.”

Tegar menatapku. Lalu menatap ibu bercelemek itu. Lalu dia melepas celemeknya dan berjalan keluar lewat pintu depan, melewatiku tanpa menoleh, dengan bahu yang tegang.

Ibu bercelemek itu menatapku. Dia tidak tersenyum. Dia hanya menyingkir dari ambang pintu dapur, satu langkah ke samping, cukup untuk aku lewat.


Raina berdiri di depan meja kerja dapur.

Kardigan krem. Rambut digelung pensil. Tepung di tulang pipi kiri. Dia sedang membentuk adonan, dan tangannya berhenti waktu dia melihatku.

Kami saling menatap. Dua perempuan di dapur toko roti di Cipete, dengan semua yang terjadi di antara kami tanpa pernah sekali pun kami bicara.

“Kamu pernah berdiri di seberang jalan itu,” katanya. Suaranya tenang. “Februari. Di samping gerobak gorengan.”

Aku menatapnya.

“Aku lihat kamu,” katanya.

“Iya,” kataku. “Aku tahu.”

Dia mengangguk. Lalu, dengan gerakan yang kelihatannya tidak dia sadari, dia mengelap tangannya di celemek dan bertanya:

“Kamu udah makan?”

Aku tidak bisa menjawab. Dari semua hal yang kubayangkan akan dia katakan padaku, dari semua kalimat yang sudah kusiapkan untuk mendengarnya, tidak ada satu pun yang berbunyi seperti itu.

“Belum,” kataku akhirnya.

Dia mengambil roti isi keju dari rak pendingin, membungkusnya dengan kertas minyak, dan meletakkannya di meja kerja di depanku. Lalu segelas teh.

Aku tidak menyentuhnya. Belum.

“Aku mau bilang yang sebenarnya,” kataku. “Ke semua orang. Di Instagram, di LinkedIn, pakai nama asli. Ke HR kantorku yang dulu. Ke ibumu.” Aku menarik napas. “Aku nggak minta izin. Aku cuma mau kamu tahu duluan. Supaya kali ini nggak ada yang kaget.”

Raina menatapku lama.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku sudah menyiapkan banyak jawaban di kereta dari Semarang. Semua jawaban itu panjang, dan semuanya tentang aku.

“Karena dulu aku buang rekamannya,” kataku. “Sekarang aku yang jadi rekamannya.”

Tangannya, yang masih memegang ujung celemek, mengencang.

“Kamu nggak harus,” katanya.

“Harus.” Suaraku bergetar, tapi tidak berhenti. “Kamu kirim paket itu karena dia berhak tahu. Sekarang semua orang berhak tahu.”

Dapur itu sunyi. Di rak proofing, tiga baskom adonan mengembang pelan di bawah kain basah.

Lalu aku mengambil roti isi keju itu. Aku membuka kertas minyaknya dan menggigitnya. Lembut. Asin dan manis. Masih sedikit hangat.

“Aku pernah nyimpen kartumu,” kataku dengan mulut penuh. “Dari kotak snack town hall bulan Oktober. Makan selagi hangat. Aku simpen di saku blazer karena kupikir orang yang nulisnya pasti hangat.” Aku menelan. “Malam itu, kartunya basah kena hujan. Di saku blazer yang sama.”

Raina menutup matanya sebentar.

Waktu dia membukanya lagi, dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mendorong gelas teh itu dua senti lebih dekat ke tanganku.


Rumah orang tua Raina di Rawamangun berpagar hijau dengan pot-pot anggrek di teras. Ibu Raina membuka pintu, melihat wajahku, dan aku tahu dari matanya bahwa dia sudah melihat utas itu cukup sering untuk mengenaliku dari foto Instagram Gemilang yang disertakan seseorang di kolom komentar.

Aku tidak masuk. Aku berdiri di teras dan mengatakannya di sana.

Ibu Raina mendengarkan dengan tangan mencengkeram kusen pintu. Waktu aku selesai, dia diam lama sekali.

“Kenapa kamu cerita ke saya?” tanyanya akhirnya.

“Karena Ibu yang dipermalukan di arisan,” kataku. “Ibu berhak tahu anak Ibu nggak salah apa-apa.”

Wajahnya runtuh. Ibu Raina menangis di ambang pintu rumahnya sendiri, di depan perempuan yang dia benci selama tiga minggu terakhir. Dia tidak menyuruhku masuk. Aku tidak mengharapkannya.

Dari dalam rumah, seorang laki-laki tua muncul di belakangnya, memegang sebuah jeruk yang setengah terkupas. Dia menatapku, lalu mengangguk sekali, pelan, seperti orang yang mengucapkan terima kasih tanpa suara.


Hari Jumat, di ruang rapat kecil di lantai dua puluh dua Menara Sentra, aku duduk lagi di depan Bu Rina.

“Saudari bukan karyawan lagi,” katanya hati-hati.

“Saya tahu, Bu. Tapi pernyataan saya bulan Desember masih ada di berkas.” Aku meletakkan tiga lembar kertas yang sudah kutandatangani di atas meja. “Waktu itu saya bilang saya nggak mau berdebat. Sekarang saya mau.”

Bu Rina membacanya. Halaman demi halaman. Wajahnya berubah di halaman kedua.

“Ini akan membuka kembali kasusnya, Citra.”

“Saya tahu, Bu.”


Sabtu malam, di apartemen studio Dinda di Kalibata, aku duduk di lantai dengan laptop di pangkuan dan Bagas di layar HP lewat panggilan video.

“Mbak, aku udah bikin draf,” katanya dengan bangga, mengangkat kertas ke kamera. “Formal. Biar wibawa.”

“Bacain.”

Dia berdeham. “Dengan hormat. Bersama ini kami sampaikan bahwa kakak saya, Saudari Citra Anindya, S.E., telah melakukan suatu tindakan yang kurang terpuji pada tanggal—”

Dinda, di sofa di belakangku dengan Mochi di pangkuan, tersedak tehnya.

“Gas,” kataku, tertawa untuk pertama kalinya dalam seminggu. “Ini bukan surat izin nggak masuk sekolah.”

Pada akhirnya aku menulisnya sendiri. Pendek. Tanpa dengan hormat. Tanpa kalimat yang tidak salah tapi juga tidak menjawab.

Saya Citra Anindya. Ini pernyataan saya.

Rekaman itu ada. Saya ada di dalamnya.

Pada 21 November tahun lalu, saya berciuman dengan Leon Hartawan di mobilnya. Saat itu saya masih berpacaran dengan Rangga Pramudia, dan Leon masih bertunangan dengan Raina Prameswari. Saya tidak tahu dia bertunangan. Itu tidak membuat yang saya lakukan jadi benar.

Rekaman dashcam itu dikirim Raina kepada Rangga. Saya yang membuangnya ke selokan, di depan Rangga, malam itu juga. Karena itu, sekarang tidak ada lagi yang bisa membuktikannya. Kecuali saya.

Raina dan Rangga tidak selingkuh. Mereka bertemu setelah semuanya hancur karena hal yang saya lakukan. Apa pun yang terjadi sesudahnya bukan urusan siapa pun selain mereka.

Remah tidak menjual roti pelakor. Remah menjual roti.

Saya tidak menulis ini supaya dimaafkan. Saya menulis ini karena dulu saya membuang buktinya, dan sekarang saya yang harus jadi buktinya.

Jam delapan malam, aku menekan tombol unggah. Di Instagram. Lalu di LinkedIn, dengan nama lengkap dan foto profil yang sama dengan yang dulu dipakai di kartu nama Gemilang.


Tiga jam kemudian, di antara ratusan notifikasi, ada satu pesan langsung dari akun yang tidak kukenal.

Kak, aku Nadira. Dulu di tim sales Gemilang, keluar dua tahun lalu.

Aku juga. Sama dia. Tangga darurat lantai 17.

Aku membaca dua kalimat terakhir itu sampai hurufnya kabur.

Tangga darurat lantai tujuh belas. Kosong tiap jam empat.

Aku bukan yang pertama. Aku tidak pernah istimewa. Aku hanya perempuan berikutnya yang menangis di tempat yang sudah dia tahu akan ada perempuan menangis.

Aku membalas dengan jari gemetar. Aku bertanya apakah dia mau ceritanya ikut diteruskan ke HR. Aku bilang dia boleh bilang tidak.

Lima menit kemudian: Mau, Kak. Aku udah nunggu dua tahun ada yang duluan.


HP-ku tidak berhenti bergetar sampai lewat tengah malam.

Komentar. Pesan. Tag. Orang-orang yang marah padaku, orang-orang yang membelaku, orang-orang yang memaki Tiara Hartawan, orang-orang yang tiba-tiba ingin membeli roti dari toko kecil di Cipete.

Aku membalik HP-ku. Layar menghadap ke lantai. Seperti di tangga darurat. Seperti di mobil yang wangi martabak. Seperti di meja kosnya, malam aku menangis di depan martabak keju-cokelat.

Tanganku masih di atasnya.

Lalu aku membaliknya lagi. Layar menghadap ke atas. Menyala, bergetar, penuh nama-nama orang asing.

Aku tidak menyembunyikan apa-apa lagi.

Bahkan layarnya.