← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Five

23.07

POV: Citra

Kalau kamu bertanya kapan semuanya dimulai, aku tidak bisa menjawab dengan satu tanggal.

Semuanya tidak dimulai dengan ciuman. Semuanya dimulai dengan kopi.

Minggu pertama, aku tidak datang ke tangga darurat. Kopinya yang datang ke mejaku, jam empat lewat lima, diletakkan tanpa kata di samping keyboard. Americano. Gelas kertas dengan tulisan tangan di sisinya: Buat yang terlalu sopan. Leon sudah berjalan pergi sebelum aku sempat mendongak.

Minggu kedua, aku yang datang. Hanya untuk mengembalikan gelas, kataku pada diri sendiri. Hanya untuk bilang terima kasih dan tolong berhenti. Aku duduk dua anak tangga di bawahnya dan tidak bilang tolong berhenti. Kami bicara empat puluh menit.

Dia bertanya. Itu yang membuatku kembali.

Dia bertanya aku dulu waktu kecil mau jadi apa. Dia bertanya kenapa aku memilih pemasaran. Dia bertanya apa yang paling kurindukan dari Salatiga, dan waktu aku menjawab bau tanah sehabis hujan di kebun Bapak, dia tidak tertawa. Dia mengangguk, seperti itu jawaban yang penting.

Rangga tahu semua jawaban itu. Rangga tahu aku dulu mau jadi pramugari, lalu penyiar radio, lalu penulis iklan. Rangga tahu tentang kebun Bapak. Rangga sudah tahu semuanya sejak tahun kedua kami pacaran, jadi Rangga tidak pernah bertanya lagi.

Bedanya bukan pada jawabannya. Bedanya pada pertanyaannya.

Suatu sore, minggu ketiga, Leon bertanya sesuatu yang membuatku diam terlalu lama.

“Pacar kamu pernah nanya, kamu maunya apa?”

“Dia nggak perlu nanya.” Aku menjawab terlalu cepat, seperti orang yang membela diri. “Dia udah tahu.”

Leon mengangguk pelan, menyesap kopinya, menatap anak tangga di bawah kakinya.

“Tahu sama melihat itu beda, ya,” katanya. Bukan padaku. Seperti pada dirinya sendiri.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab, karena kalimat itu adalah kalimatku sendiri. Kalimat yang pernah kupikirkan di dalam Jazz abu-abu yang wangi martabak, yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun. Dia mengucapkannya seolah dia sudah membaca isi kepalaku.

Belakangan aku mengerti, orang seperti Leon tidak perlu membaca isi kepala siapa pun. Mereka cukup menunggu di tempat orang-orang menangis, lalu mengucapkan kalimat yang paling ingin didengar.

Waktu itu aku tidak mengerti. Waktu itu rasanya seperti ditemukan.

Aku mencatat beberapa hal waktu itu, tapi tidak mau memikirkannya. Leon tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri. Setiap kali aku bertanya balik, dia tersenyum dan membelokkan pertanyaan itu kembali padaku, begitu halus sampai aku baru sadar setelah sampai di rumah. HP-nya selalu tertelungkup di anak tangga, layar menghadap beton.

Tidak lama kemudian, HP-ku juga mulai tertelungkup.

Aku belajar darinya. Aku murid yang cepat.

Dua kali dia mengantarku pulang, karena kebetulan searah. Dua kali aku turun satu blok sebelum gang kosku dan berjalan sisanya. Yang kedua kali, Rangga menelepon waktu aku masih di mobil Leon. Aku menatap nama di layar, Rangga dengan emoji helm proyek yang dia pasang sendiri di HP-ku tahun lalu, dan membiarkannya berdering sampai berhenti.

Lalu aku mengetik: Lagi di ojol, nanti aku telepon.

Aku tidak menghitung yang itu sebagai kebohongan. Itu cara pertamaku berbohong pada diri sendiri.

Malam itu Rangga datang ke kosku membawa obeng dan kunci pintu baru, karena seminggu sebelumnya aku mengeluh kunci lamaku seret. Dia berlutut di depan pintu selama empat puluh menit, memasang, mengencangkan, mencoba memutar kunci berkali-kali sampai bunyinya halus. Lalu dia menyerahkan dua anak kunci baru padaku, dan menyimpan anak kunci ketiga di gantungannya sendiri, di samping kunci kosnya dan kunci Jazz.

“Biar kamu nggak kekunci di luar lagi,” katanya.

Aku bilang makasih. Aku memeluknya. Dan di dalam pelukan itu aku tidak merasakan apa-apa, dan karena tidak merasakan apa-apa, aku merasa bersalah. Dan karena merasa bersalah, aku memeluknya lebih erat, supaya dia tidak tahu.


Kamis, 21 November, dimulai dengan bawang merah.

“Nangis, Jessy.” Pak Bonar berdiri di belakang kamera dengan kedua tangan terkepal di depan dada, seperti pelatih tinju di sudut ring. “Nangis. Kamu galau. Kamu putus. Kamu makan Kriuk Kala sendirian di kamar kos. Nangis!”

Jessy, influencer dengan dua juta pengikut yang kami bayar mahal untuk kampanye Kriuk Galau, duduk di ranjang properti dengan bungkus keripik di pangkuan, wajahnya sekering keripiknya.

“Nggak bisa, Pak. Aku orangnya ceria.”

“Pikirin mantan!”

“Aku belum pernah pacaran, Pak.”

Pak Bonar menoleh padaku dengan tatapan orang yang baru kehilangan rumah. Di sampingku, Dinda merekam behind the scene dengan bahu berguncang menahan tawa.

Akhirnya tim properti membawa sepiring bawang merah yang dikupas. Jessy menghirupnya dalam-dalam. Air matanya keluar deras, matanya merah, hidungnya beringus, dan di tengah semua itu dia harus menggigit keripik rendang-matcha dengan wajah patah hati.

“Bagus!” Pak Bonar memukul pahanya sendiri. “Itu! Itu galau!”

“Pak,” Jessy terisak, “ini pedes banget.”

“Itu juga galau!”

Aku tertawa sampai perutku sakit. Itu tawa jujur pertamaku dalam beberapa minggu, dan aku menyimpannya untuk diceritakan pada Rangga nanti malam. Lalu aku ingat: tidak ada nanti malam. Aku sudah membatalkan makan malam Kamis kami tadi siang.

Lembur, Ngga. Maaf ya.

Oke. Jangan lupa makan.

Aku memang lembur. Itu yang membuatnya lebih mudah. Aku memang di kantor sampai jam sembilan, memilih potongan video Jessy yang paling tidak beringus.

Jam setengah sembilan, aku mengirim pesan lagi.

Nanti aku pulang naik ojol aja ya. Kamu nggak usah jemput.

Oke. Hati-hati.

Jam sembilan lewat lima, Leon berhenti di samping mejaku dengan kunci mobil berputar di jari telunjuk.

“Masih lembur? Saya lewat Setiabudi.”

Di luar jendela lantai tujuh belas, hujan sudah turun sejak magrib. Hujan Jakarta di bulan November, yang tidak berhenti sampai orang lupa kapan mulainya.

Aku bilang iya.


Jalanan macet total. Air menggenang di Rasuna Said setinggi mata kaki. Butuh satu setengah jam untuk jarak yang biasanya dua puluh menit, dan waktu SUV hitam Leon akhirnya berbelok ke gang kosku, hujannya justru makin deras, memukul atap mobil seperti orang yang marah.

Leon mematikan mesin tapi membiarkan wiper menyala. “Tunggu reda dulu. Kamu nggak bawa payung.”

Aku tidak bawa payung. Rangga selalu bawa payung. Delapan tahun, aku tidak pernah perlu membawa payung sendiri.

Di dekat spion tengah, ada titik merah kecil yang berkedip pelan. Aku menunjuknya.

“Itu apa?”

“Dashcam.” Leon melirik sekilas, lalu kembali menatapku. “Biar urusan asuransi gampang.”

Dia tidak bilang siapa yang membelikannya. Aku tidak bertanya. Aku tidak memikirkannya lagi selama tiga minggu.

Kami bicara. Leon bertanya, kalau aku bisa jadi apa saja tanpa ada yang mengandalkanku, aku mau jadi apa.

“Penyiar radio,” jawabku, dan langsung malu. “Yang siaran tengah malam. Yang bacain surat pendengar sambil muter lagu galau.”

“Suara kamu cocok,” katanya. “Rendah. Kayak orang yang bisa dipercaya buat dengerin rahasia.”

Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku pura-pura sibuk mengeringkan ujung rambut dengan tisu. Lalu kami bicara tentang Jessy dan bawang merah. Tentang Pak Bonar. Leon menirukan Pak Bonar dengan sempurna, kedua tangan terkepal di depan dada, suara bergetar penuh perasaan.

“Menangislah, Jessy,” katanya. “Menangislah seperti matcha yang dipisahkan dari rendangnya.”

Aku tertawa.

Tidak, aku tidak sekadar tertawa. Aku meledak. Tawa yang keluar dari perut, yang membuatku membungkuk dan memukul dasbor, yang dulu di kantin FEB membuat ibu kantin menoleh. Tawa yang tidak kudengar dari diriku sendiri entah sejak kapan. Aku tertawa sampai air mata keluar, lalu mengusapnya dan menyelipkan rambut ke telinga kiri, masih terkekeh.

Waktu aku mengangkat kepala, Leon sedang menatapku.

“Nah,” katanya pelan. “Itu.”

“Apa?”

“Ketawa kamu yang itu. Saya nunggu yang itu dari bulan lalu.”

Lalu dia mencondongkan badan.

Dia tidak bertanya.

Aku tahu aku harus menjauh. Aku tahu itu dengan jelas, sejelas aku tahu jalan pulang. Tapi aku tidak menjauh. Dan aku harus jujur di sini, karena kalau aku tidak jujur di bagian ini, tidak ada gunanya aku menceritakan apa pun: tubuhku menginginkannya. Sudah berbulan-bulan tidak ada yang menatapku seperti aku sesuatu yang dicari. Seperti aku bukan jadwal. Seperti aku bukan orang yang terlalu bisa diandalkan. Mataku terpejam, tanganku mencengkeram ujung kursi, dan selama beberapa detik yang terasa sangat panjang aku membiarkan diriku menjadi perempuan yang dicium di mobil saat hujan, perempuan yang bukan siapa-siapa dan tidak berutang apa pun pada siapa pun.

Lalu, di tengah-tengahnya, seperti benda yang jatuh dari lantai atas, aku teringat sebuah wadah plastik bertutup biru di kulkas rumah Bekasi. Dengan namaku di atasnya. Huruf kapital. Digarisbawahi dua kali.

Aku menarik diri.

“Aku harus turun,” kataku. Suaraku terdengar seperti suara orang lain.

“Cit—”

Aku sudah membuka pintu. Hujan menyambar masuk.

“Cit, payung—”

Aku tidak mengambil payungnya. Aku berlari menembus hujan di gang yang tergenang, sepatu kerja basah sampai ke kaus kaki, blazer menempel di punggung. Aku tidak menoleh. Di belakangku, titik merah kecil itu masih berkedip, merekam punggungku yang menjauh, merekam hujan, merekam semuanya.


Kamar kosku gelap dan dingin. Aku berdiri di balik pintu dengan air menetes dari rambut ke lantai keramik, napasku pendek-pendek seperti habis dikejar. Pintu itu terkunci dengan kunci baru yang dipasang Rangga dua minggu lalu. Bunyinya halus sekali waktu kuputar.

Aku melepas blazer. Sesuatu jatuh dari sakunya ke lantai.

Kartu kecil. Kartu dari kotak snack town hall bulan lalu, yang kusimpan karena tulisan tangannya terlihat hangat. Sekarang kartu itu basah kuyup, kertasnya lembek, tinta birunya meluber ke mana-mana. Hanya dua kata yang masih terbaca.

Makan selagi

Sisanya sudah luntur oleh hujan. Aku memungutnya dan meletakkannya di meja, dan entah kenapa aku tidak sanggup membuangnya.

Aku mengambil HP. Jam di layar: 23.14.

Ada satu kebiasaan yang tidak pernah putus selama delapan tahun. Kebiasaan yang lebih tua dari kos ini, lebih tua dari kantorku, lebih tua dari Jakarta dalam hidupku. Kalau aku pulang sendirian, aku mengabari. Kalau aku tidak mengabari, Rangga akan menelepon. Kalau aku tidak mengangkat, Rangga akan datang.

Aku mengetik dengan jari yang basah dan gemetar.

Udah sampai. Langsung tidur ya.

23.15. Terkirim.

Aku tidak bohong. Aku memang sudah sampai. Itu yang membuatku ingin muntah.

Satu menit kemudian, balasannya masuk.

Istirahat ya. Besok kujemput. ❤

Aku menatap hati merah kecil itu lama sekali.

Rangga jarang memakai emoji. Delapan tahun, aku bisa menghitung dengan jari berapa kali dia mengirim hati. Waktu aku wisuda. Waktu aku diterima kerja. Waktu Ibu operasi usus buntu dan semuanya baik-baik saja.

Malam itu dia mengirimnya lagi.

Aku tidak tahu kenapa malam itu. Aku tidak tahu dia sedang bahagia tentang apa. Aku tidak bertanya. Mungkin pengecoran di proyeknya selesai lebih cepat. Mungkin Ibu memasak rendang. Mungkin dia hanya senang aku sampai dengan selamat di tengah hujan sederas itu. Aku memilih jawaban yang terakhir, karena itu yang paling menyakitkan, dan malam itu aku merasa pantas disakiti. Aku duduk di lantai di balik pintu, masih dengan blazer basah, dan memeluk HP itu di dada seperti sedang memeluk sesuatu yang sudah kucuri.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku memandangi pesan itu sampai layarnya mati sendiri. Setiap kali layarnya menyala lagi, ada sesuatu di dalam diriku yang ikut mati.