Chapter Eight
File Nomor 0347
POV: Raina
Selama tiga minggu, roti tawarku keasinan.
Tidak banyak. Pelanggan tidak ada yang mengeluh. Oma Lien tetap membeli satu potong setiap pagi dan tetap membaca catatanku dengan kacamata yang menggantung di leher. Tapi Mbak Sum tahu. Hari ketiga, dia mencicipi sepotong kulit roti, mengunyah pelan, lalu tanpa bicara mengambil timbangan garam dari mejaku dan memindahkannya ke mejanya.
Sejak hari itu, Mbak Sum yang menakar garam.
Dia tidak pernah bertanya kenapa. Itu cara Mbak Sum menyayangi orang.
Semuanya dimulai tanggal dua puluh dua November, jam enam pagi, dengan bau kencur.
Alarm asap di dapur berbunyi nyaring. Aku turun dari lantai dua dengan rambut masih basah dan menemukan Tegar berdiri di depan oven kecil, mengipasi asap dengan nampan, sementara Mbak Sum menatapnya dari ambang pintu dengan wajah yang bisa membuat adonan berhenti mengembang.
“Ini apa?”
“Roti seblak, Mbak.” Tegar terbatuk. “Versi dua. Aku pikir kalau kerupuknya dimasukin ke adonan—”
“Kerupuknya gosong,” kata Mbak Sum.
“Kerupuknya karamelisasi, Mbak.”
Mbak Sum mengambil nampan berisi enam gumpalan hitam berbau kencur, membuangnya ke tempat sampah, lalu menunjuk pintu belakang. Tegar keluar dengan kepala tertunduk, membawa HP-nya yang ternyata masih merekam.
Aku masih tertawa waktu HP-ku berbunyi. Leon.
“Sayang.” Suaranya serak, seperti orang yang kurang tidur. “Jangan kaget, ya. Semalem aku nyerempet pembatas jalan di Gatsu. Ngantuk. Pulang lembur.”
Aku berhenti tertawa. “Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Cuma bemper. Tapi aku pagi ini ada presentasi Q4 dan—”
“Bawa mobilnya ke sini. Aku yang urus.”
Aku selalu yang urus.
Setengah jam kemudian, SUV hitamnya berhenti di depan Remah. Bemper depan penyok di sisi kiri. Leon turun, mencium keningku, menyerahkan kunci, lalu naik ojol ke kantor dengan kemeja yang sedikit kusut. Dia melambai dari jok belakang motor. Dia tertawa, seperti biasa, di saat yang tepat.
Waktu memeriksa kabin, aku melihat dashcam itu menggantung di kabelnya. Dudukannya retak karena benturan. Aku melepasnya dengan hati-hati dan membawanya ke dalam. Bengkel rekanan asuransi pasti minta rekaman kejadian. Lebih cepat kalau aku yang menyiapkannya.
Aku duduk di meja kecil di pojok dapur, tempatku biasa menghitung nota, dan memasukkan kartu memorinya ke laptop.
Foldernya tersusun rapi berdasarkan tanggal. Yang paling atas, file yang terkunci otomatis karena benturan: 23.40. Aku membukanya. Kamera depan, jalanan basah, lampu jalan, pembatas beton yang tiba-tiba terlalu dekat, suara Leon mengumpat. Lalu hening.
Aku menyalin file itu ke flashdisk untuk asuransi. Hanya satu file.
Lalu mataku turun ke daftar di bawahnya. Kanal kabin. File-file pendek dengan nama berurutan: 0345, 0346, 0347. Gambar kecil di sampingnya hampir sama semua: bagian dalam mobil, gelap, wiper bergerak di belakang. Tapi di gambar kecil file 0347, ada seseorang di kursi penumpang. Rambut sebahu. Kepala menoleh ke arah kemudi.
Aku tidak sedang mencari apa-apa. Aku bersumpah. Aku bukan tipe yang memeriksa.
Aku mengekliknya.
Aku lebih banyak mendengar daripada menonton. Hujan memukul atap mobil. Suara Leon menirukan seseorang, suara yang dia pakai kalau sedang ingin membuat orang tertawa, yang pernah dia pakai untuk menirukan ibunya di makan malam keluarga dan membuatku tersedak teh. Lalu perempuan di kursi penumpang itu tertawa.
Tawa yang besar, lepas, dan tidak malu. Tawa yang memenuhi kabin dan membuatnya membungkuk ke dasbor.
Hal pertama yang kupikirkan, entah kenapa, bukan siapa dia. Hal pertama yang kupikirkan adalah: Leon tidak pernah membuatku tertawa seperti itu.
Lalu perempuan itu menyelipkan rambut ke balik telinga. Lalu Leon mencondongkan badan.
Angka di pojok kanan bawah layar: 23.07.
Aku menutup laptop.
Aku menutupnya pelan, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur. Aku duduk di sana dengan kedua tangan rata di atas tutup laptop, dan di depanku, adonan roti tawar pagi itu mengembang di bawah kain basah, tenang, tidak peduli.
Empat menit dua belas detik. Itu panjang file-nya. Yang pertama kali, aku tidak menontonnya sampai habis.
Yang kedua kali, malamnya, sendirian di lantai dua, aku menontonnya sampai habis. Aku melihat perempuan itu menarik diri. Aku melihatnya membuka pintu dan berlari menembus hujan tanpa payung. Aku mendengar Leon memanggil, Cit, payung, dan aku mendengar perempuan itu tidak berhenti.
Cit.
Sesudahnya aku membuka buku gambar. Halaman terakhir, sketsa versi dua puluh tiga. Kue tiga tingkat, daun pandan seperti renda. Di pojok kanan bawah, tulisan tanganku sendiri: FINAL. 8 Maret. Untuk dua orang.
Aku menatap tiga baris itu lama sekali. Aku tidak mencoret apa pun. Aku tidak menambahkan apa pun. Aku hanya menutup buku itu, menyimpannya di bawah bantal, dan berbaring telentang menatap langit-langit, mendengarkan oven di lantai bawah berdetak pelan karena mendingin.
Dua orang. Waktu menulisnya, aku tidak tahu ada orang ketiga di mobil yang kubelikan dashcam.
Aku tidak mengonfrontasi Leon.
Aku ingin bisa bilang aku punya alasan yang bijak. Aku tidak punya. Aku hanya melakukan apa yang selalu kulakukan kalau sesuatu terlalu berat untuk diangkat sekaligus: aku menyimpannya, lalu mengangkat hal-hal kecil di sekitarnya. Aku memasukkan kartu memori dan dashcam itu ke kantong plastik berklip, lalu menaruhnya di laci meja kasir, di samping kartu garansi atas namaku. Aku mengurus klaim asuransi. Aku mengantar mobil ke bengkel. Aku membuat roti.
Roti yang keasinan.
Kamis berikutnya, Leon lembur lagi. Tegar berdiri di ambang pintu dapur dengan kemoceng dan berkata dengan wajah detektif yang sama, “Lembur lagi, Mbak? Kamis lagi? Ini arisan apa—”
Dia berhenti, karena aku tidak tertawa.
“Mbak?”
“Gar, tolong beliin gas, ya. Yang tiga kilo.”
Dia menatapku sebentar, lalu pergi tanpa bertanya. Dia membeli dua tabung, padahal aku cuma minta satu.
Hari Sabtu, Leon datang ke Remah membawa martabak manis. Aku bertanya sambil lalu, sambil menata roti di etalase, dengan nada yang kubuat seringan mungkin.
“Kamis yang kamu nyerempet itu, lembur sampai jam berapa?”
“Jam sebelasan. Langsung pulang, makanya ngantuk.” Dia mencium pelipisku. “Kenapa?”
Langsung pulang.
“Nggak,” kataku. “Biar aku tahu kamu harus tidur lebih cepet.”
Dia tertawa. Tepat waktu.
Mencarinya ternyata tidak sulit.
Gemilang mengunggah foto-foto town hall di Instagram kantor mereka. Foto bersama tim brand, dua belas orang tersenyum di depan banner. Di barisan depan, nomor tiga dari kiri, ada perempuan berambut sebahu dengan blazer abu-abu. Senyumnya paling kecil di foto itu.
Di tangannya ada kotak snack putih.
Kotakku. Dengan kartu kecil yang terselip di sela tutupnya. Makan selagi hangat. Mungkin itu kartu yang ditulis Tegar dengan tangan keram. Mungkin aku sendiri yang menulisnya.
Fotonya diberi tag. @citra.anindya.
Akun pribadinya tidak dikunci. Unggahan terakhirnya dari bulan Oktober: dua piring ayam penyet di meja plastik, kursi merah, sambal di cobek kecil. Dan seorang laki-laki.
8 tahun. Masih kamu.
Laki-laki itu tidak sedang melihat kamera. Dia sedang melihat perempuan di sampingnya. Rambut cepak, kulit gelap terbakar matahari, kemeja kerja yang lengannya digulung asal. Dia menatap perempuan itu seperti aku menatap adonan yang berhasil: bangga, dan sedikit tidak percaya bahwa itu hasil kerjanya sendiri.
Di kolom komentar, seseorang bernama Fauzan menulis: KAPAN SEBAR UNDANGAN WOY!!! Pidato best man gue udah karatan.
Delapan tahun.
Aku menatap foto itu sampai lampu dapur mati sendiri karena sensor gerak. Aku duduk dalam gelap dengan HP menyala di tangan, dan wajah laki-laki itu menyala bersamanya.
Dia tidak tahu.
Tiga minggu aku tahu, dan tiga minggu itu adalah waktu paling sepi dalam hidupku. Tapi aku membayangkan hal yang lebih sepi: tidak tahu. Menatap seseorang dengan cara seperti itu sementara semua orang di sekitarmu, termasuk orang asing di toko roti di Cipete, tahu sesuatu yang kamu tidak tahu.
“Mbak,” kataku pada Mbak Sum hari Selasa, tanggal sepuluh, waktu kami berdua sedang menguleni di meja yang sama. “Kalau Mbak tahu sesuatu yang bakal nyakitin orang, tapi orang itu berhak tahu, Mbak kasih tahu nggak?”
Mbak Sum tidak berhenti menguleni. Tangannya terus bergerak, mendorong, melipat, memutar.
“Roti gosong, Mbak,” katanya akhirnya, “kalau nggak dikasih tahu, ya tetap gosong. Bedanya cuma dia makan sambil tahu, atau makan sambil nggak tahu.”
Malam itu aku mencari namanya di LinkedIn. Rangga Pramudia. Structural Engineer, Wiratama Struktur. Alamat kantor di Jakarta Selatan.
Aku sempat berpikir menyimpan salinan file itu. Untuk berjaga-jaga. Untuk bukti, kalau suatu hari ada yang bertanya. Lalu aku melihat folder di laptop yang sama, folder berisi ratusan foto kue, roti, dan croissant yang kupotret untuk Instagram Remah, dan aku tidak sanggup membayangkan file itu tinggal di sebelah mereka.
Aku tidak menyimpan salinan. Aku mengirim semuanya: alatnya, kartunya. Aku tidak mau menyimpan apa pun yang berasal dari malam itu.
Catatannya kutulis di kertas HVS polos. Bukan kartu Remah. Aku tidak ingin dia tahu dari mana. Aku menulis lima versi. Semuanya terlalu panjang, terlalu menjelaskan, terlalu banyak maaf. Versi keenam hanya tiga kalimat.
Maaf. Saya juga baru tahu. Saya rasa Mas berhak tahu.
Aku ingin mengirimnya tanpa nama. Tapi tanganku, yang sudah ribuan kali menulis kartu untuk orang asing, tidak bisa berhenti tanpa tanda tangan. Jadi di bawahnya, kecil, tanganku menulis sendiri:
— R.
Jumat, 13 Desember, jam dua siang, kurir instan mengambil paket itu dari meja kasir Remah. Kotak kardus kecil, dibungkus kertas cokelat, alamat lobi kantor Wiratama Struktur. Kolom pengirim kubiarkan kosong.
Jam lima sore, Leon datang menjemputku. Kami seharusnya makan malam dengan ibunya untuk membahas denah tempat duduk keluarga.
Aku menunggunya di meja kecil di pojok dapur. Di depanku, di atas meja, kuletakkan satu benda: kartu garansi dashcam atas namaku.
Leon melihatnya. Lalu melihatku.
“File 0347,” kataku.
Aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu. Tidak ada tawa yang datang tepat waktu. Tidak ada tawa sama sekali.
“Kamu... buka?”
“Aku ngurus klaim asuransi kamu.”
“Raina. Itu nggak seperti—”
“Aku udah kirim.”
Dia diam. “Kirim apa?”
“Semuanya. Alatnya. Kartunya.”
“Ke siapa?” Suaranya naik untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku mengenalnya. “Kamu kirim ke siapa?!”
“Ke orang yang seharusnya kamu mintai maaf.”
Leon mundur satu langkah. Lalu dia mengeluarkan HP-nya dan berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Lonceng pintu berbunyi di belakangnya. Lewat kaca etalase, aku melihatnya mondar-mandir di trotoar di bawah gerimis, HP menempel di telinga, sebelah tangan mencengkeram rambut.
Aku tahu siapa yang sedang dia telepon. Dia tidak menelepon untuk menjelaskan apa pun padaku.
Aku melepas cincin dari jari manis kiri dan memasukkannya ke mangkuk kecil berisi tepung di rak atas, tempatnya setiap pagi.
Kali ini aku tidak mengambilnya lagi.
Lalu aku duduk. Bukan di kursi. Di lantai dapur Remah, di antara karung tepung dan rak loyang, punggung bersandar ke kaki meja kerja yang dingin.
Paket itu pasti sudah sampai sekarang. Di suatu tempat di Jakarta Selatan, seorang laki-laki yang menatap pacarnya seperti adonan yang berhasil sedang membuka kotak cokelat kecil dari orang yang tidak dia kenal.
Malam itu, ada dua orang lagi yang akan hancur.
Aku yang mengirim paketnya.
- 1 Delapan Tahun
- 2 Yang Naik Bukan Aku
- 3 Kue untuk Dua Orang
- 4 Retak Rambut
- 5 23.07
- 6 Martabak Keju-Cokelat
- 7 Udah Sampai
- 8 File Nomor 0347 reading
- 9 Empat Menit Dua Belas Detik
- 10 Tanpa Sisa
- 11 Kami Nggak Cocok
- 12 Tunangan
- 13 Pengirim R.
- 14 Daftar Batal
- 15 Yang Tidak Ditanyakan
- 16 Pelajaran Pertama Membatalkan
- 17 Cincin Bapak
- 18 Ragi Butuh Waktu
- 19 Pulang Bukan Kalah
- 20 Struktur Darurat
- 21 8 Maret
- 22 Aku Apa-Apa
- 23 Pengingat yang Tidak Kuhapus
- 24 Rasa yang Belum Ada Namanya
- 25 Kopi Lereng
- 26 Boleh?
- 27 Delapan Tahun Itu Rumah
- 28 Mundur Satu Langkah
- 29 Yang Kutanggung Sendiri
- 30 Maaf Bukan Jalan Pulang
- 31 Bintang Satu
- 32 Menjauh Supaya Kamu Aman
- 33 Aku yang Jadi Rekamannya
- 34 Remah
- 35 Tanpa Rencana
- 36 Yang Kutinggalkan di Selokan
- 37 Pukul Sebelas Lewat Tujuh
- 38 Daftar Mau
- 39 Boleh?
- 40 Kue yang Akhirnya Dipotong
- 41 Epilog — Udah Sampai