← Besok, Jam Tujuh

Chapter Nine

Kenzo yang Tidak Mereka Lihat

POV: Tamara

Aku baru tahu Kenzo marah dengan cara yang sangat tenang.

Bukan kepadaku.

Hari itu kelompok proyeknya sedang presentasi prototype untuk kegiatan kampus. Aku datang karena kelas selesai lebih cepat. Nadira duduk di sebelahku.

Lima menit sebelum presentasi, salah satu anggota kelompok terlihat panik.

“Zo, data testing-nya ilang.”

Kenzo yang sedang memasang laptop berhenti.

“Backup?”

“Nggak ada.”

“Yang kemarin gue bilang simpan?”

Anak itu menunduk. “Belum.”

Aku menunggu Kenzo meledak.

Dia cuma menarik napas.

“Oke. Panik nanti. Sekarang buka folder temp.”

Mereka bekerja cepat. Kenzo membagi tugas tanpa meninggikan suara. Nadira mengambil laptop lain. Raka mengecek koneksi. Dalam beberapa menit sebagian data berhasil dipulihkan.

Presentasi berjalan baik.

Setelah selesai, barulah Kenzo menoleh pada anggota kelompok tadi.

“Gue bantu beresin karena ini nilai kita semua. Tapi next time bagian lo, lo pegang. Kalau ada masalah bilang sebelum lima menit presentasi.”

“Sorry, Zo.”

“Ya. Udah.”

Tidak ada pidato. Tidak ada usaha membuat orang itu merasa bodoh.

Adrian, senior dari Manajemen yang menjadi panitia acara, menghampiri mereka.

“Yang recovery tadi lo yang nemu?”

Kenzo mengangguk.

“Nice. Thanks, Zo. Kalau nggak, demo kita bisa berantakan.”

“Santai.”

Adrian menepuk bahunya lalu pergi.

Aku memperhatikan Kenzo membereskan kabel.

Nadira menyenggolku. “Kenapa?”

“Nggak.”

“Pacarnya keren?”

Aku meliriknya.

Nadira tersenyum.

“Iya,” jawabku.

Kenzo menoleh seolah mendengar namanya meski tidak dipanggil.

Aku tersenyum padanya.

Malamnya kami makan berdua. Kenzo terlihat lebih lelah daripada biasanya.

“Kamu tadi keren.”

“Karena nemu folder?”

“Karena nggak panik.”

“Dalemnya panik.”

“Nggak kelihatan.”

“Berarti berhasil.”

Aku mengulurkan tangan di atas meja. Kenzo menyambutnya otomatis.

“Ken.”

“Hm?”

“Aku bangga sama kamu.”

Dia menatapku beberapa detik.

Aku hampir tertawa karena ekspresinya jauh lebih gugup mendengar itu daripada ketika sistem mereka hampir gagal.

“Kenapa?”

“Nggak biasa.”

“Dipuji?”

“Begitu.”

“Ya biasain.”

Kenzo tersenyum.

Setelah makan kami berjalan menuju mobil. Aku memeluknya dari belakang ketika dia berhenti mengecek pesan.

“Mar.”

“Hm?”

“Jalan.”

“Sebentar.”

Tangannya menyentuh lenganku yang melingkar di pinggangnya.

“Kamu manja banget sekarang.”

“Pacar sendiri.”

Dia tertawa.

Di mobil, sebelum aku menyalakan mesin, Kenzo menoleh.

“Mar.”

“Apa?”

Dia mendekat dan menciumku.

Tidak lama, tapi kali ini dia yang memulai tanpa bertanya dengan gugup seperti sebelumnya. Tangannya menahan pinggangku ketika aku mendekat.

Aku tersenyum ketika kami berpisah.

“Belajar cepat.”

“Guru gue galak.”

Aku mencubit lengannya.

Kenzo tertawa, lalu ekspresinya kembali lembut.

“Aku sayang kamu.”

Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum sempat kupikirkan terlalu jauh.

Kenzo diam.

Satu detik.

Dua.

“Ken?”

“Gue lagi proses.”

Aku hampir tertawa, tapi matanya membuatku berhenti.

Dia menggenggam tanganku.

“Gue juga sayang lo.”

Dadaku menghangat.

Kenzo tidak terlihat seperti laki-laki yang orang-orang bayangkan berdiri di sampingku.

Aku tahu itu.

Tapi malam itu aku tidak bisa membayangkan kenapa hal tersebut seharusnya penting.

Karena ketika aku melihatnya, yang kulihat hanya Kenzo.

Dan aku sangat menyukai laki-laki itu.