Chapter One
Perempuan yang Terlalu Jauh
POV: Kenzo
Kalau bukan karena Raka menepuk bahuku, mungkin aku akan terus melihat ke arah yang sama sampai ketahuan.
“Cantik?”
Aku memindahkan pandangan ke layar laptop. “Hm.”
“Cuma hm? Satu kantin nengok semua, respons lo cuma hm.”
“Mau gue tepuk tangan?”
Raka tertawa. “Nah. Berarti tadi lo memang lihat.”
Di seberang kantin, perempuan yang tadi menarik perhatian hampir semua meja sedang berdiri di dekat dispenser. Aku belum tahu namanya. Yang kutahu cuma dia mahasiswa baru juga, dari fakultas berbeda, dan wajahnya sudah cukup familiar meski masa orientasi baru berjalan beberapa hari.
Sulit tidak memperhatikan kalau setiap kali dia lewat selalu ada kepala yang ikut bergerak.
“Deket sana,” kata Raka.
“Ngapain?”
“Kenalan.”
“Buat?”
Raka menatapku seperti aku gagal memahami fungsi sosial dasar. “Ya buat kenalan, Zo.”
Aku menutup satu tab di laptop. “Nggak semua yang cantik harus dideketin.”
“Filosofis banget.”
“Realistis.”
Suara benda jatuh terdengar dari dekat dispenser. Seorang petugas kebersihan yang membawa tumpukan gelas plastik tersenggol mahasiswa yang lewat. Beberapa gelas berhamburan. Orang yang menyenggolnya sempat menoleh, lalu terus berjalan.
Perempuan tadi langsung jongkok.
Dia membantu memunguti gelas satu per satu. Tidak ada temannya di sana. Tidak ada dosen. Tidak ada orang penting yang perlu dibuat terkesan. Petugas itu terlihat mengatakan tidak perlu, tapi dia tetap mengambil gelas terakhir dan membantu menyusun kembali tumpukannya.
Setelah itu dia tersenyum dan kembali ke mejanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Raka mengikuti pandanganku. “Oh.”
“Apa?”
“Sekarang gue ngerti kenapa hm-nya lama.”
Aku menghela napas. “Makan.”
“Namanya Tamara.”
Tanganku berhenti sepersekian detik di atas touchpad.
Raka menyeringai.
“Gue nggak nanya.”
“Tapi lo denger.”
Aku kembali menatap layar. “Tamara siapa?”
Tawa Raka langsung pecah.
“Tamara Seindika. Anak Manajemen. Temennya anak SMA sepupu gue.”
“Informasi lo nggak penting.”
“Tapi disimpan.”
Aku tidak memberinya kepuasan dengan menjawab.
Sore itu kelas pengantar berlangsung hampir dua jam. Aku sempat mengira nama tadi akan hilang di antara diagram, jadwal, dan daftar tugas yang mulai memenuhi kepala.
Ternyata tidak.
Ketika keluar gedung, aku melihat Tamara lagi di ujung koridor. Dia sedang tertawa bersama dua perempuan. Seorang mahasiswa yang lewat sampai menoleh dua kali sebelum hampir menabrak tiang.
Aku menahan senyum.
Cantik banget.
Lalu ingatanku kembali pada gelas-gelas plastik yang dia pungut tanpa diminta.
Kayaknya orangnya juga baik.
“Zo!”
Raka sudah berjalan beberapa meter di depan.
Aku menyusul.
“Kenapa?” tanyanya.
“Apa?”
“Senyum sendiri.”
“Nggak.”
“Oh, nggak.”
Ada hal-hal yang lebih aman tidak dibicarakan, terutama kalau orang di sebelahmu bernama Raka Mahendra.
Malamnya notifikasi grup angkatan muncul. Nama-nama mahasiswa dibagikan berdasarkan kelas umum minggu depan.
Mataku turun tanpa tujuan khusus.
Lalu berhenti.
Tamara Seindika.
Kelas yang sama.
Aku menatap nama itu dua detik lebih lama dari yang diperlukan, kemudian mengunci layar.
Biasa aja, Zo.
Masalahnya, untuk pertama kalinya aku mulai curiga bahwa itu tidak akan sesederhana itu.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh reading
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku