← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirteen

Sedikit Lebih Jauh

POV: Kenzo

Perubahan kecil lebih mudah terlihat kalau kita sudah hafal kebiasaan seseorang.

Tamara biasanya meraih tanganku lebih dulu ketika keluar kelas.

Hari itu tidak.

Bukan masalah.

Tangannya memegang ponsel.

Aku berjalan di sebelahnya.

Di depan gedung Manajemen, Keisha dan Vanessa menunggu bersama beberapa teman lain.

Tamara berhenti.

“Mau ikut makan?” tanyanya.

“Gue ada kerja kelompok.”

“Oh iya.”

Aku menyentuh kepalanya pelan. “Nanti kabarin.”

Tamara tersenyum. “Iya.”

Biasanya dia akan menarik tanganku atau mencium pipi sebelum pergi.

Hari itu cuma senyum.

Aku tidak memikirkannya terlalu jauh.

Dua hari kemudian dia membatalkan rencana makan malam.

Tamara: Ken, sorry. Anak-anak ngajak gathering dadakan. Aku baru dikabarin.

Aku sedang menunggu di parkiran ketika pesan itu masuk.

Kenzo: Santai. Have fun.

Tamara: Kamu nggak marah?

Kenzo: Kenapa marah?

Tiga titik muncul.

Tamara: Nggak. Makasih ya.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan pulang.

Tidak ada yang salah dengan pacar punya hidup sendiri.

Aku tahu itu.

Yang membuatku mulai berpikir adalah ketika pola kecil itu terus muncul.

Tamara masih sama kalau kami berdua.

Di mobil, dia masih menyandarkan kepala ke bahuku.

Masih mengambil minumanku.

Masih menciumku ketika mengantar pulang.

Masih berkata sayang.

Tapi di sekitar teman-temannya, ada jarak yang dulu tidak ada.

Suatu siang aku menunggunya di depan kelas seperti biasa.

Tamara keluar bersama beberapa orang.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

Lalu ekspresinya berubah sepersekian detik ketika Vanessa mengatakan sesuatu di sampingnya.

Aku tidak mendengar.

Tamara menghampiri.

“Udah lama?”

“Baru.”

Kami berjalan.

Aku mengulurkan tangan secara natural.

Tamara mengambilnya.

Dua langkah.

Lalu ponselnya berbunyi.

Dia melepas tanganku untuk mengecek.

Setelah selesai, tangannya tidak kembali.

Aku memasukkan tangan ke saku.

“Ken.”

“Hm?”

“Besok nggak usah jemput aku dulu.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Aku ada urusan sama anak-anak. Nggak tahu selesai jam berapa.”

“Oke.”

Tamara menatapku.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku tersenyum. “Santai. Fokus aja.”

Ada sesuatu di wajahnya yang seperti rasa lega.

Kecil sekali.

Mungkin aku salah lihat.

Malamnya Raka datang ke kos temannya tempat kami mengerjakan proyek. Dia melihatku mengecek ponsel.

“Tamara?”

“Hm.”

“Berantem?”

“Nggak.”

“Lo dari tadi aneh.”

“Gue biasa aja.”

Raka mengunyah keripik. “Kalau lo bilang biasa aja biasanya justru ada apa-apa.”

“Gue belajar dari siapa?”

“Jangan bawa gue.”

Aku tertawa kecil.

Pesan Tamara masuk.

Tamara: Udah makan?

Kenzo: Udah. Lo?

Tamara: Udah.

Tamara: Kangen.

Aku menatap kata itu.

Rasa tidak nyaman yang sejak siang menempel langsung melemah.

Kenzo: Gue juga.

Tamara masih mencintaiku.

Aku tahu.

Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir.

Besoknya kami bertemu hanya berdua.

Tamara masuk ke mobil, langsung memelukku, lalu mencium pipiku.

“Capek.”

Aku mengusap rambutnya. “Tidur aja bentar.”

Dia bersandar padaku.

Semua terasa normal lagi.

Tapi ketika dua orang temannya lewat dekat mobil dan melambaikan tangan, Tamara otomatis duduk lebih tegak.

Gerakannya kecil.

Mungkin bahkan dia sendiri tidak sadar.

Aku sadar.

Aku selalu sadar hal-hal seperti itu.

Dan untuk pertama kalinya, kemampuan itu terasa seperti sesuatu yang tidak kuinginkan.