Chapter Twenty
Tetap Kenzo
POV: Nadira
Aku mulai suka Kenzo jauh sebelum aku berani menyebutnya suka.
Masalahnya, tidak ada satu momen besar yang bisa kusalahkan.
Tidak ada adegan dia menyelamatkanku dari sesuatu.
Tidak ada hujan romantis.
Tidak ada kalimat yang membuat dunia berhenti.
Cuma hari-hari biasa.
Seperti hari ini.
Seorang junior datang ke meja kami dengan wajah panik.
“Kak Kenzo, boleh minta bantuan?”
Kenzo menutup laptop setengah. “Kenapa?”
“Project aku nggak bisa connect database.”
“Udah cek config?”
“Udah.”
Kenzo menggeser kursi. “Sini.”
Junior itu duduk.
Aku melanjutkan makan sambil mendengar mereka.
Kenzo tidak langsung mengambil alih laptop.
Dia bertanya.
“Error-nya muncul kapan?”
“Pas login.”
“Kalau register?”
“Bisa.”
“Berarti jangan cari di database dulu. Cek auth.”
Lima belas menit kemudian masalah ketemu.
Junior itu menghela napas lega. “Kak, makasih banget.”
“Jangan copy config punya temen lagi.”
Dia terlihat malu. “Ketahuan ya?”
“Nama project-nya beda.”
Raka tertawa dari sebelah.
Junior itu pergi.
Kenzo kembali membuka makanannya.
Aku menatapnya.
“Apa?” tanyanya.
“Nggak.”
“Kenapa semua orang kalau lihat gue jawabnya nggak?”
“Karena muka lo mengundang observasi.”
“Bahasa apa itu?”
Aku tertawa.
Beberapa menit kemudian seorang teman kelompok datang.
“Zo, bagian gue bisa lo bantu sekalian nggak?”
Kenzo melihat file yang dikirim.
“Ini bagian lo.”
“Gue nggak ngerti.”
“Kalau nggak ngerti gue jelasin.”
“Ya udah, kerjain aja sekalian. Lo lebih cepet.”
Kenzo menggeleng.
“Gue bantu kali ini kalau stuck. Tapi bagian lo tetap lo kerjain.”
Temannya mendesah. “Pelit.”
“Namanya pembagian tugas.”
Tidak marah.
Tidak kasar.
Tapi selesai.
Aku memperhatikan lagi.
Mungkin terlalu lama.
Kenzo menoleh.
“Dira.”
“Hm?”
“Lo belum makan dari tadi.”
Aku melihat piringku.
Benar.
“Aku makan.”
“Minum doang.”
“Kenapa merhatiin?”
“Lo kalau lapar makin berisik.”
“Fitnah.”
Raka menunjukku. “Valid.”
Aku mengambil sendok sambil menggerutu.
Hal-hal kecil.
Selalu hal-hal kecil.
Setelah kelas, kami bertiga berjalan menuju parkiran. Seorang staf kampus membawa dua kardus besar. Kenzo otomatis mengambil satu.
“Pak, sampai mana?”
“Depan ruang administrasi aja, Mas.”
Kenzo membawanya.
Tidak ada perempuan cantik yang melihat.
Tidak ada poin.
Tidak ada alasan selain kardus itu berat dan tangannya kosong.
Aku menunggu bersama Raka.
“Dia emang gitu ya?” tanyaku.
Raka mengangkat alis. “Kenzo?”
“Iya.”
“Dari dulu.”
“Nyebelin.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu.”
Raka menatapku sebentar terlalu lama.
Aku mengalihkan pandangan.
Ketika Kenzo kembali, dia menyerahkan botol minum yang tadi kutitipkan.
“Nih.”
“Makasih.”
Kami lanjut berjalan.
Di dekat parkiran aku melihat Tamara di seberang jalan.
Dia juga melihat kami.
Tatapannya sempat berhenti pada Kenzo.
Lalu padaku.
Aku tiba-tiba merasa bersalah padahal tidak melakukan apa-apa.
Kenzo hanya mengangguk kecil kepada Tamara.
Tamara membalas.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada percakapan.
Setelah itu Kenzo bertanya pada Raka soal tugas seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menatap sisi wajahnya.
Dulu aku pernah berpikir aku ingin punya pacar yang memperlakukan seseorang seperti Kenzo memperlakukan Tamara.
Kemudian, tanpa sadar, kalimat itu berubah.
Aku ingin dicintai Kenzo seperti dia mencintai Tamara.
Aku berhenti berjalan.
Raka menoleh. “Kenapa?”
“Nggak.”
Kenzo ikut berhenti. “Ketinggalan apa?”
Aku menggeleng lalu menyusul.
“Nggak ada.”
Aku bercanda sepanjang perjalanan setelah itu.
Lebih banyak dari biasanya.
Karena untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang akan jauh lebih mudah kalau tidak pernah kusadari.
Kenzo tidak menjadi menarik setelah putus.
Dia tidak berubah.
Dia masih laki-laki yang sama.
Aku saja yang sudah terlalu lama melihat.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo reading
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku