Chapter Forty Two
Pacarku
POV: Tamara
Beberapa bulan setelah kami balikan, Kenzo masih menyebalkan dengan cara yang sama.
Pagi itu aku mengirim pesan.
Tamara: Sayang.
Kenzo: Apa.
Tamara: Kangen.
Kenzo: Tadi malam ketemu.
Tamara: Terus?
Kenzo: Belum 12 jam.
Tamara: Ada aturan kangen minimal 12 jam?
Tidak dibalas.
Aku menggerutu dan masuk kelas.
Dua jam kemudian ketika keluar gedung, Kenzo berdiri dekat tangga.
Aku langsung tersenyum.
“Katanya belum dua belas jam.”
“Siapa bilang gue kangen?”
“Terus ngapain?”
“Lewat.”
Aku menunjuk gedung di seberang kampus. “Fakultas kamu di sana.”
Kenzo diam.
Aku mendekat. “Kangen ya?”
Dia mencubit pipiku ringan.
“Berisik.”
Aku menggandeng tangannya.
Kami makan di kantin belakang bersama Raka dan Nadira.
Aku duduk terlalu dekat dengan Kenzo.
Nadira akhirnya menghela napas.
“Mar.”
“Hm?”
“Gue udah move on.”
“Terus?”
“Nggak perlu demonstrasi.”
Aku malah menyandarkan kepala ke bahu Kenzo.
“Siapa yang demonstrasi?”
Nadira menatap Kenzo.
“Gue tarik lagi ucapan gue.”
“Apa?”
“Putusin aja.”
Kenzo tetap makan. “Capek.”
Raka hampir tersedak.
Kami semua tertawa.
Nadira juga.
Tidak ada luka yang perlu diumumkan sudah sembuh.
Hidup hanya bergerak sampai suatu hari hal yang dulu terasa berat bisa menjadi bahan bercanda.
Sore itu hujan turun.
Aku sudah berada di mobil ketika ingat Kenzo tidak membawa payung.
Jadi aku kembali ke gedungnya.
Dia keluar beberapa menit kemudian dan berhenti melihatku berdiri di bawah kanopi.
“Ngapain di sini?”
Aku mengangkat payung.
“Jemput pacarku.”
“Gue bawa motor.”
“Terus?”
“Lo bawa mobil.”
“Terus?”
Kenzo tertawa. “Nggak ada.”
Kami berjalan di bawah satu payung.
Aku memegangnya terlalu rendah sampai bahu Kenzo kena air.
“Sini.”
“Aku bisa.”
“Rambut gue basah.”
“Manja.”
Kenzo mengambil payung.
“Pacar sendiri.”
Aku berhenti setengah langkah.
“Nyolong.”
“Pacar sendiri.”
“Bukan itu.”
Dia tertawa.
Aku mencubit pinggangnya.
Kami masuk mobil ketika hujan semakin deras.
Aku tidak langsung menyalakan mesin.
Kenzo menatapku.
“Kenapa?”
“Lihat pacarku.”
“Udah puas?”
Aku menggeleng. “Belum.”
Dulu jawaban itu bisa membuatnya salah tingkah.
Sekarang Kenzo melepas seatbelt dan mendekat.
“Sini.”
Aku tersenyum.
Ciumannya hangat.
Familiar.
Tanganku menyentuh rahangnya. Tangannya berada di pinggangku.
Tidak terburu-buru.
Ketika dia mundur, aku menariknya lagi untuk satu ciuman pendek.
“Katanya mau pulang.”
“Sebentar.”
“Dari tadi sebentar.”
“Terus?”
Kenzo menggeleng sambil tersenyum.
Aku menyandarkan dahi ke dahinya.
“Aku masih suka kamu.”
“Syukurlah.”
Aku menjauh sedikit.
“Jawab yang bener.”
Dia tertawa.
Lalu tatapannya berubah lembut.
Tangannya mengusap sisi wajahku.
“Gue juga masih suka banget sama lo.”
Aku diam beberapa detik hanya untuk menikmati kalimat itu.
Kemudian mencium bibirnya sekali.
“Bagus.”
Aku menyalakan mobil.
Sebelum mulai jalan, tanganku terulur ke konsol tengah.
Tidak melihat Kenzo.
Tidak meminta.
Beberapa detik kemudian tangannya masuk ke tanganku.
Jemari kami otomatis bertaut.
Ada masa ketika Kenzo bahkan tidak berani membayangkan bisa menggenggam tanganku.
Ada masa ketika aku sendiri yang meraih tangannya dan berkata jangan dilepas.
Lalu aku melepaskannya.
Kenzo belajar berjalan tanpa tangan itu.
Aku belajar bahwa kehilangan bukan alasan untuk menuntut kembali.
Kami berdua belajar bahwa cinta tidak membuat seseorang otomatis berhak tinggal.
Sekarang tidak ada yang perlu dibuktikan.
Kenzo tidak membutuhkan tanganku untuk berdiri.
Aku juga tidak membutuhkan genggamannya untuk tahu aku berharga.
Kami menggenggam karena kami ingin.
Mobil bergerak meninggalkan kampus.
Hujan masih turun.
“Ken.”
“Hm?”
“Besok jemput aku?”
“Jam berapa?”
“Tujuh.”
“Oke.”
Sesederhana itu.
Tidak ada janji tentang selamanya.
Tidak ada sumpah bahwa kami tidak akan pernah saling menyakiti lagi.
Hanya besok jam tujuh.
Sebuah janji kecil.
Jenis janji yang sejak dulu selalu ditepati Kenzo.
Bedanya, sekarang aku juga sudah belajar bagaimana menjaganya.
Aku mengemudi dengan satu tangan.
Kenzo duduk di sampingku.
Tangan kami tetap bertaut di antara dua kursi.
Dulu Kenzo mengira kebahagiaan adalah ketika seseorang sepertiku akhirnya memilih laki-laki seperti dirinya.
Aku juga pernah mengira cinta bisa dinilai dari bagaimana dua orang terlihat berdampingan.
Kami sama-sama salah.
Kebahagiaan ternyata jauh lebih sederhana.
Mencintai seseorang yang memilihmu.
Dan menjadi seseorang yang memilihnya kembali.
Hari ini.
Besok jam tujuh.
Dan selama kami masih menginginkannya—
lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Tidak ada yang melepaskan.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku reading