← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Two

Nadira Alesha

POV: Nadira

Aku tahu waktuku mungkin tidak banyak.

Bukan karena Kenzo dan Tamara sudah balikan.

Belum.

Justru karena mereka belum, tapi cara Kenzo melihat Tamara mulai berubah lagi.

Aku mengenalnya cukup lama untuk tahu.

Raka juga.

Kami sedang makan ketika dia tiba-tiba bertanya, “Lo suka Kenzo?”

Aku hampir menjatuhkan sendok.

“Hah?”

“Gue nggak bego.”

“Debatable.”

“Dira.”

Aku menatap makananku.

Tidak ada gunanya bohong.

“Iya.”

Raka menghela napas.

“Dia tahu?”

“Nggak.”

“Bagus.”

Aku langsung menatapnya. “Maksud lo?”

“Dia baru berdiri lagi.”

“Gue tahu.”

“Makanya bagus.”

Aku meletakkan sendok.

“Gue nggak pernah mau manfaatin dia pas lagi hancur.”

Raka mengangguk. “Gue tahu.”

Jawaban itu mengurangi sedikit kesalku.

Kemudian dia berkata, “Gue juga bukan Team Tamara.”

“Terus?”

“Gue Team Kenzo.”

Aku tertawa kecil. “Norak.”

“Serius.”

“Aku juga.”

Itulah masalahnya.

Kalau aku hanya Team Nadira, semuanya gampang.

Aku bisa maju.

Kenzo sekarang single.

Kami dekat.

Dia nyaman denganku.

Aku tahu kapan dia capek. Tahu kopi yang dia suka. Tahu dia diam lebih banyak kalau sedang memikirkan sesuatu.

Dan aku tahu dia sekarang sudah jauh lebih baik.

Aku tidak lagi takut kalau mendekat berarti memanfaatkan luka.

Sore itu kami pulang berdua karena Raka ada urusan.

Hujan membuat kami berhenti di bawah kanopi gedung.

“Motor lo jauh?” tanyaku.

“Parkiran belakang.”

“Punya payung?”

Kenzo menatap hujan.

“Nggak.”

“Hebat.”

“Ramalan cuaca bilang cerah.”

“Percaya teknologi terus.”

“Anak SI.”

Aku tertawa.

Kami berdiri cukup dekat karena banyak orang ikut berteduh.

Bahu kami bersentuhan.

Normal.

Tapi hari itu aku terlalu sadar.

Kenzo menoleh ketika aku diam.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Semua orang suka jawab nggak ke gue.”

“Karena pertanyaan lo monoton.”

Dia tersenyum.

Seorang mahasiswa berlari melewati genangan dan air memercik ke arah kami. Kenzo refleks menarik lenganku sedikit ke belakang.

Tangannya memegang pergelangan tanganku.

Hanya sebentar.

Dia langsung melepas.

Tapi tubuhku bodoh.

Jantungku tidak tahu itu cuma refleks.

Aku melihat wajah Kenzo.

Dia sedang menatap hujan, tidak sadar.

Dan untuk pertama kalinya sebuah pikiran berbahaya muncul dengan sangat jelas.

Kalau aku maju sekarang, mungkin ada kemungkinan.

Bukan kepastian.

Tapi kemungkinan.

Kenzo tidak lagi hidup di masa breakup.

Dia tertawa.

Dia baik-baik saja.

Kadang dia bahkan melihatku dengan cara yang membuatku bertanya apakah dia mulai menyadari aku perempuan, bukan cuma teman yang berisik.

Saat hujan mengecil, kami berjalan menuju parkiran.

Aku terpeleset sedikit.

Kenzo menangkap siku.

“Pelan.”

“Iya, Pak.”

Dia melepaskan.

Di dekat motor kami berhenti.

Kenzo menatapku.

“Dira.”

“Hm?”

“Thanks.”

“Buat?”

“Waktu kemarin.”

Aku tahu maksudnya.

Masa recovery.

Aku mengangkat bahu. “Gue nggak ngapa-ngapain.”

“Justru.”

Sial.

Kalimat seperti itu seharusnya ilegal.

Aku tersenyum supaya tidak terlihat terlalu banyak.

“Traktir makan aja.”

“Boleh.”

Kenzo memakai helm.

Aku menatapnya.

Mungkin aku punya kesempatan.

Mungkin tidak.

Masalah terbesar bukan Tamara.

Bukan Raka.

Bukan masa lalu.

Masalahnya aku sudah cukup mengenal Kenzo untuk tahu kalau ada satu nama yang masih tinggal di bagian hatinya yang belum benar-benar diberikan kepada siapa pun lagi.

Dan aku tidak tahu berapa lama aku sanggup berdiri di samping sambil pura-pura tidak menginginkan tempat itu.