← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Eight

Pacar Gue

POV: Tamara

Aku mungkin sedikit berlebihan setelah balikan.

Sedikit.

“Mar.”

“Hm?”

“Lo bisa duduk sendiri.”

“Bisa.”

“Terus?”

“Nggak mau.”

Aku tetap menyandarkan kepala di bahu Kenzo.

Kami sedang makan bersama Raka, Nadira, Keisha, dan Vanessa. Meja cukup besar. Kursiku juga punya sandaran sendiri.

Tapi bahu Kenzo lebih nyaman.

Keisha menatapku.

“Parah banget.”

“Apa?”

“Baru balikan dua hari.”

“Terus?”

Raka menunjuk Kenzo. “Selamat. Privasi lo resmi meninggal.”

Kenzo tetap makan. “Udah lama.”

Aku merangkul lengannya.

“Pacar gue.”

Nadira yang sedang minum berhenti sebentar.

Aku langsung sadar.

Bukan karena takut dia marah.

Aku hanya tidak ingin affection-ku berubah menjadi pertunjukan untuk menyakiti orang lain.

Aku sedikit melonggarkan tangan.

Nadira melihatku, lalu memutar mata.

“Jangan lihat gue. Lanjut aja.”

Aku tertawa kecil.

“Sorry.”

“Jangan sorry juga. Males.”

Suasana kembali ringan.

Selesai makan, Kenzo dan aku berjalan menuju gedung pusat.

Tanganku menggenggam tangannya.

Dua orang yang kukenal menyapa.

Aku membalas tanpa melepaskan.

Tidak ada keberanian dramatis.

Aku bahkan hampir lupa dulu hal sesederhana ini pernah terasa berat.

“Ken.”

“Hm?”

“Kok diem?”

“Lagi jalan.”

“Biasanya juga bisa ngomong.”

Kenzo berhenti.

Aku ikut berhenti.

“Lagi kasih kesempatan.”

“Buat?”

“Kamu berhenti sendiri.”

Aku mengernyit. “Berhenti apa?”

Tatapannya turun sebentar ke bibirku.

Aku langsung tahu.

Sial.

Aku mendekat sedikit. “Kalau nggak?”

Kenzo menahan pinggangku dan menarikku satu langkah lebih dekat.

“Ya udah.”

Sekarang giliranku yang kehilangan jawaban.

Dia tersenyum.

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Katanya gue yang sering jawab gitu.”

Aku mendorong dadanya pelan. “Kita di kampus.”

“Lo yang mulai.”

“Aku cuma nanya.”

“Pertanyaannya bahaya.”

Aku mengenali kalimat itu dari kencan pertama kami.

Aku tertawa.

Kenzo melepas pinggangku, tapi tangannya langsung mencari tanganku lagi.

Sepanjang sore aku memikirkan satu hal.

Kenzo tidak berubah menjadi orang lain setelah kami putus.

Dia masih pendiam.

Masih suka menjawab hm.

Masih datang terlalu awal.

Masih memakai tas yang sama.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Dulu ketika aku menggoda, sering ada sepersekian detik seolah Kenzo masih bertanya apakah dia benar-benar boleh membalas.

Sekarang tidak.

Dia tahu aku menginginkannya.

Dan lebih penting lagi, dia tidak membutuhkan fakta itu untuk merasa berharga.

Anehnya justru itu membuatnya jauh lebih menarik.

Malamnya kami video call.

“Kamu sombong sekarang.”

Kenzo mengangkat alis. “Kenapa?”

“Tadi.”

“Tadi apa?”

Aku tidak mau memberinya kepuasan.

“Nggak ada.”

Sudut bibirnya naik.

“Tuh.”

“Apa?”

“Senyumnya.”

“Kenapa senyum gue?”

“Nyebelin.”

“Pacar sendiri.”

Aku langsung diam.

Kenzo tertawa.

“Itu kalimat aku.”

“Sekarang punya gue.”

“Balikin.”

“Nggak.”

Aku menatap layar.

Bahaya.

Relationship pertama kami banyak diisi aku yang membuat Kenzo kehilangan kata-kata.

Sekarang aku mulai curiga hubungan kedua akan jauh lebih melelahkan untuk harga diriku.

Masalahnya—

aku sangat menantikannya.