← Besok, Jam Tujuh

Chapter Six

Boleh Berdiri di Sampingmu

POV: Tamara

Sabtu datang terlalu lambat buatku.

Aku sampai di kafe pukul satu lewat lima puluh dua. Aku memang lebih suka menunggu delapan menit daripada datang terlambat satu menit.

Tamara muncul pukul dua kurang tiga. Dia melihatku dari pintu dan tersenyum.

“Udah lama?”

“Delapan menit.”

“Kamu ngitung?”

“Jam gue yang ngitung.”

Dia tertawa. “Aku kira kamu bakal jawab baru sampai.”

“Kenapa harus bohong?”

“Biar kelihatan santai.”

“Gue nggak santai.”

Tamara mengangkat alis. Aku baru sadar apa yang keluar dari mulutku.

“Jujur banget.”

“Katanya jangan bohong.”

Kencan pertama kami tidak terasa seperti kencan selama dua puluh menit pertama. Kami bicara tentang kelas, dosen, Raka yang pernah tidur ketika rapat kelompok, dan Nadira yang punya hubungan personal dengan keterlambatan.

Lalu Tamara bertanya, “Kamu kenapa suka aku?”

Aku hampir menjatuhkan sedotan.

“Langsung?”

“Aku penasaran.”

“Awalnya karena lo cantik.”

Tamara tersenyum puas. “Lanjut.”

“Gue lihat lo bantu petugas kantin waktu orientasi.”

Senyumnya berubah. “Kamu lihat?”

“Hm.”

“Aku bahkan lupa.”

“Gue nggak.”

Dia diam beberapa detik.

Setelah makan kami berjalan di area pertokoan dekat kampus. Aku baru sadar sudah tidak terlalu gugup ketika hampir dua jam berlalu.

Sampai tangannya menyentuh tanganku.

Kami sama-sama menoleh.

Tamara tidak menjauh. Aku juga tidak.

Beberapa langkah kemudian aku menyentuh sisi tangannya dengan jari. Tamara langsung membalik telapak dan menyelipkan jemarinya di antara jemariku.

Aku menatap tangan kami.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kamu yang mulai.”

“Gue tahu.”

Dua mahasiswa berpapasan dan melihat kami. Refleks pertamaku adalah melonggarkan genggaman.

Tamara berhenti.

“Kenapa dilepas?”

Aku menatapnya. “Nggak kenapa-kenapa.”

Dia mengambil tanganku lagi, lebih rapat.

“Udah.”

“Apanya?”

“Jangan dilepas.”

Sesuatu di dadaku terasa terlalu penuh untuk kalimat sesederhana itu.

Aku menggenggam balik.

Menjelang sore aku mengantarnya ke mobil. Tamara tidak langsung masuk.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Kencannya.”

“Gue selamat.”

Dia memukul lenganku pelan. “Serius.”

Aku tersenyum. “Gue seneng.”

“Aku juga.”

Ada satu hal yang belum kami bicarakan.

“Mar.”

“Hm?”

“Gue nggak terlalu jago bagian beginian.”

“Kelihatan.”

“Tapi kalau lo mau, gue pengen jalanin ini serius.”

Tamara menatapku. “Sebagai?”

Aku hampir tertawa karena dia sengaja membuatku mengatakannya.

“Pacar.”

Senyumnya pelan-pelan muncul.

“Oke.”

“Oke?”

“Iya.”

“Segampang itu?”

“Mau aku kasih formulir?”

Aku tertawa.

Sebelum masuk mobil dia menoleh pada tangan kami yang masih bertaut.

“Ken.”

“Hm?”

“Kamu tadi sempat lepas.”

“Gue cuma belum biasa.”

Tamara mengusap ibu jarinya sekali di punggung tanganku.

“Biasain.”

Ponselku berbunyi sebelum aku sempat memakai helm.

Tamara: Udah resmi kan?

Kenzo: Setahu gue iya.

Tamara: Bagus.

Lalu satu pesan lagi.

Tamara: Hai pacar.

Aku menatap layar cukup lama.

Kenzo: Hai.

Tamara: Cuma hai???

Aku tertawa sendiri di parkiran.

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang selama ini terasa terlalu jauh berdiri tepat di sisiku.

Dan dia sendiri yang meminta agar aku tidak melepaskan tangannya.