← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Three

Padahal Aku Sudah Mulai Percaya

POV: Kenzo

Aku menemukan tiket itu ketika mencari kartu memori.

Selembar kertas kecil yang sudah kusut, terselip di balik casing ponsel lama.

Tiket film.

Tanggalnya masih terbaca.

Hari pertama aku dan Tamara pergi menonton setelah resmi pacaran.

Aku hampir membuangnya.

Tanganku sudah berada di atas tempat sampah.

Lalu aku ingat Tamara keluar dari studio sambil mengeluh ending filmnya jelek.

Aku ingat dia mengambil popcorn dari tanganku meski punya sendiri.

Aku ingat tangannya masuk ke tanganku ketika kami berjalan.

Aku duduk di lantai.

Tidak ada alasan.

Kakiku cuma tiba-tiba tidak ingin berdiri.

Sudah beberapa minggu.

Aku sudah bisa makan normal.

Bisa tertawa.

Bisa mengerjakan tugas tanpa pikiranku lari setiap lima menit.

Aku bahkan sempat berpikir bagian terburuk sudah lewat.

Ternyata rasa sakit punya cara aneh untuk bersembunyi.

Tiket kecil itu membuka semuanya sekaligus.

Aku menunduk.

Napas terasa berat.

Aku tidak marah pada Tamara.

Aneh, tapi benar.

Aku marah pada diriku sendiri.

Bukan karena mencintainya.

Karena aku pernah membiarkan hubungan itu menjadi bukti bahwa mungkin aku cukup.

Sebelum Tamara, aku tahu posisiku.

Aku orang biasa.

Hidupku biasa.

Tidak ada masalah.

Lalu perempuan yang sejak awal terasa terlalu jauh itu memilihku.

Menggenggam tanganku.

Menciumku.

Bilang sayang.

Dan perlahan aku berhenti berpikir aku sedang beruntung.

Aku mulai percaya mungkin memang tidak ada yang aneh dengan kami.

Mungkin aku memang pantas berdiri di sampingnya.

Lalu Tamara mulai menjauh ketika orang lain melihat.

Aku menekan telapak tangan ke mata.

Air mata tetap keluar.

“Anjing.”

Suara sendiri terdengar bodoh di kamar yang kosong.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali menangis seperti ini.

Mungkin bertahun-tahun.

Aku membiarkannya.

Tidak ada yang perlu kulihat kuat.

Tidak ada yang perlu kubuat nyaman.

Aku menangis sampai kepala sakit.

Sampai tiket di tanganku basah sedikit di sudut.

Dan akhirnya kalimat yang selama ini tidak pernah berhasil kubentuk keluar begitu saja.

“Padahal gue udah mulai percaya.”

Suaraku pecah.

Itu ternyata lukanya.

Bukan cuma kehilangan Tamara.

Bukan cuma kangen.

Bukan komentar orang.

Aku sudah mulai percaya bahwa aku cukup, lalu perempuan yang membuatku percaya itu menjadi orang yang membuat ketakutan lamaku terasa benar.

Aku duduk lama.

Setelah tangis berhenti, rasa malu datang sedikit.

Kemudian hilang.

Ya sudah.

Aku patah hati.

Ternyata patah hati memang bisa bikin orang duduk di lantai karena tiket film.

Aku tertawa kecil dengan hidung masih mampet.

Konyol.

Ponselku berbunyi.

Raka.

Raka: Besok jam 9 jangan telat.

Aku melihat pesan itu.

Kenzo: Gue yang nggak pernah telat.

Raka: Sombong.

Lalu pesan Nadira.

Nadira: File yang tadi udah gue kirim.

Kenzo: Oke. Thanks.

Dunia masih ada di luar kamar.

Aku melihat tiket di tangan.

Kali ini aku tidak membuangnya.

Aku memasukkannya ke kotak kecil di laci.

Bukan untuk menunggu Tamara kembali.

Bukan juga karena ingin terus sakit.

Itu pernah terjadi.

Aku pernah bahagia hari itu.

Menghapus tiket tidak akan menghapusnya.

Aku mencuci muka.

Ketika melihat cermin, mataku merah.

“Bagus.”

Aku tertawa kecil lagi.

Malam itu aku tidur lebih cepat.

Besok pagi rasa sakitnya belum hilang.

Tapi ada sesuatu yang terasa lebih ringan.

Seperti selama ini aku menahan pintu yang sebenarnya perlu dibuka supaya semua yang menumpuk bisa keluar.

Aku masih mencintai Tamara.

Aku masih terluka.

Dua hal itu bisa benar.

Tapi ada satu hal yang mulai ingin kupelajari setelah malam ini.

Nilai diriku tidak boleh lagi bergantung pada siapa yang memilih berdiri di sampingku.

Bahkan kalau orang itu Tamara.