← Besok, Jam Tujuh

Chapter Eight

Segitu Doang?

POV: Tamara

Ada satu hal yang cepat kupelajari setelah pacaran dengan Kenzo.

Dia jauh lebih gampang digoda daripada yang dia kira.

Dan aku sangat menikmati fakta itu.

“Jangan lihat terus.”

Aku menopang dagu. “Siapa yang lihat?”

“Kamu.”

“Kok tahu kalau nggak lihat aku?”

Kenzo akhirnya mengangkat mata dari menu.

Aku tersenyum menang.

Dia menghela napas. “Mau makan apa?”

“Kamu.”

Kenzo diam.

Aku langsung tertawa. “Maksudku kamu pilih apa?”

“Tamara.”

“Apa?”

“Jangan mulai.”

Telinganya sedikit berubah warna.

Lucu.

Kami baru selesai menonton film. Hubungan kami baru berjalan beberapa minggu, tapi aku sudah mengenal beberapa pola Kenzo.

Kalau malu, jawabannya makin pendek. Kalau gugup, dia justru jadi terlalu tenang. Kalau senang, sudut bibir kirinya naik lebih dulu.

Dan kalau aku menyentuh tangannya di bawah meja, seperti sekarang, dia selalu membalik telapak dan menggenggam.

Aku suka itu.

Aku juga suka bahwa Kenzo tidak pernah memperlakukanku seperti sesuatu yang harus dipamerkan. Dia tidak pernah sengaja memelukku ketika ada laki-laki lain. Tidak pernah bertanya siapa yang mengirim pesan setiap ponselku berbunyi.

Dia cuma ada.

Setelah makan, aku mengantarnya ke parkiran kampus tempat motornya ditinggal. Hujan turun deras sebelum kami sempat keluar dari mobil.

“Kayaknya nunggu dulu.”

Kenzo melihat kaca depan. “Hm.”

“Hm lagi.”

“Setuju.”

“Jawab iya.”

“Iya.”

Kami diam.

Suara hujan memenuhi mobil. Lampu parkiran memantul samar di kaca basah.

Aku sadar dia melihatku.

“Kok lihat-lihat?”

Kenzo tidak langsung mengalihkan mata.

“Cantik.”

Sekarang giliranku yang diam.

Aku sudah terlalu sering mendengar kata itu. Tapi dari Kenzo, yang tidak membuang kata hanya untuk mengisi udara, satu kata itu terasa berbeda.

“Baru sadar?”

“Udah lama.”

Aku tersenyum. “Lumayan.”

“Apanya?”

“Jawabannya.”

Kenzo tertawa kecil.

Kami kembali diam.

Mataku sempat turun ke bibirnya.

Ketika aku mengangkat mata lagi, Kenzo masih melihatku.

Jarak kami mengecil.

“Mar.”

“Hm?”

“Boleh?”

Aku tahu persis apa yang dia tanyakan.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku mengangguk.

Kenzo mendekat dan menciumku.

Singkat.

Lembut.

Hampir terlalu hati-hati.

Lalu dia mundur.

Aku masih memegang kerah bajunya.

“Udah?” tanyaku.

Dia berkedip. “Apa?”

“Ciumannya.”

“Tamara.”

“Segitu doang?”

Untuk pertama kalinya malam itu Kenzo benar-benar kehilangan jawaban.

Aku menarik kerahnya dan mencium dia lagi.

Kali ini lebih lama.

Tangannya bergerak ke pinggangku, hati-hati pada awalnya, lalu lebih pasti ketika aku mendekat.

Ketika kami berpisah, napasku sedikit berantakan.

Kenzo menatapku.

“Apa?”

“Katanya segitu doang.”

Aku tertawa. “Nah. Belajar.”

“Guru lo bahaya.”

“Aku?”

“Hm.”

Aku memukul bahunya.

Beberapa menit kemudian Kenzo akhirnya turun ketika hujan mengecil. Sebelum menutup pintu, dia membungkuk sedikit.

“Mar.”

“Apa?”

“Makasih.”

“Buat?”

Dia menahan senyum. “Pelajarannya.”

“Kenzo!”

Dia menutup pintu sambil tertawa.

Kurang ajar.

Ponselku berbunyi saat dia sudah memakai helm.

Kenzo: Sampai rumah kabarin.

Aku mengetik.

Tamara: Iya pacar.

Tamara: Jangan senyum sendiri.

Dari balik kaca aku melihat Kenzo membaca ponselnya.

Sudut bibir kirinya naik.

Aku tertawa.

Ternyata aku sudah hafal.